Sabtu, 02 Juni 2018

Ramadhan Bersama Al-Qur'an, Menata Diri Menuju Yang Maha Suci Bag 11


Berbuat Baik kepada kedua orang tua

Allah SWT berfirman:

وَقَضٰى رَبُّكَ اَ لَّا تَعْبُدُوْۤا اِلَّاۤ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا  ۗ  اِمَّا يَـبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَاۤ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَاۤ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيٰنِيْ صَغِيْرًا


"Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ah dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil" (QS. Al-Isra' [17]: 23-24)

Hadis-hadis  sangat menekankan sekali berbuat balk kepada ibu-bapak dan mengecam perbuatan menyakiti mereka. Pahala memandangi ibu-bapak dengan penuh kasih sayang adalah haji makbul. Keridaan mereka berdua adalah keridaan Allah dan kemarahan mereka berdua adalah kemarahan Allah. Berbuat balk kepada ibu-bapak akan memperpanjang umur dan akan menjadikan anak-anak kita juga berbuat baik kepada kita.

Dalam hadis dikatakan, bahkan jika mereka memukulmu, engkau jangan mengatakan "ah," jangan memandangi mereka dengan kemarahan, jangan mengangkat tangan kepada mereka, jangan berjalan di depan mereka, jangan memanggil mereka dengan menyebut nama, jangan melakukan sesuatu yang akan membuat orang lain mencela mereka, jangan duduk di depan mereka dan bantulah mereka sebelum mereka meminta bantuan kepadamu.

Seorang laki-laki menggendong ibunya   melakukan tawaf. Dalam keadaan itu, dia melihat kepada Rasulullah saw lalu bertanya, "Apakah aku telah menunaikan kewajiban kepada ibu-ku?' Rasulullah saw menjawab, 'Bahkan engkau belum membalas satu teriakan pun ketika dia melahirkanmu."

Dalam hadis dikatakan, "Bahkan jika orang tua memukul anaknya, si anak harus mengatakan, 'Semoga Allah mengampunimu,' dan inilah yang dimaksud qawlan kariman (perkataan yang baik)."'

Rasulullah saw ditanya, "Apakah setelah orang tua meninggal dunia masih ada perbuatan baik kepada mereka?' Rasulullah saw menjawab, 'Tentu, yaitu dengan salat untuk mereka, memohonkan ampun untuk mereka, memenuhi janji-janji mereka, membayarkan  utang-utang mereka dan menghormati teman-teman mereka.'"

Seorang  laki-laki  mengadu  kepada  Rasulullah  saw tentang ayahnya. Kemudian Rasulullah saw memanggil ayahnya dan menanyainya. Ayah yang sudah tua itu menjawab, 'Saat aku kuat dan banyak uang, aku membantu anakku, namun kini ketika dia telah banyak uang, dia tidak membantuku.' Mendengar itu, Rasulullah saw menangis lalu bersabda, 'Tidak ada satu batu pun yang mendengar kisah ini yang tidak menangis.' Kemudian Rasulullah saw berkata kepada anak itu, 'Engkau dan hartamu adalah milik ayahmu.'"

Berbuat baik kepada ibu-bapak termasuk sifat para nabi. Berkenaan dengan Nabi Isa as, al-Quran berkata, dan berbakti kepada ibuku (QS. Maryam [19]: 32). Sementara itu, berkenaan Nabi Yahya as, al-Quran berkata, dan berbakti kepada ibu-bapak-nya (QS. Maryam [19]: 14).

Dari ayat di atas, kita dapat mengambil kesimpulan: kesimpulan sebagai berikut,

1. Berbakti dan berbuat baik kepada ibu-bapak adalah termasuk sifat orang bertauhid sejati. itu dapat disimpulkan dari penggalan ayat, agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak.

2. Perintah untuk berbuat baik kepada ibu-bapak, seperti perintah untuk bertauhid, bersifat pasti dan tidak mungkin di-hapus. Dapat dipahami dari penggalan ayat, Dan Tuhanmu telah memerintahkan.

3. Perintah berbuat baik kepada ibu-bapak berbarengan datangnya dengan perintah untuk bertauhid dan taat kepada Allah Swt. Ini untuk menunjukkan bahwa berbuat baik kepada ibu-bapak di samping merupakan kewajiban akal dan kewajiban manusia, juga merupakan kewajiban agama. Hal itu dapat disimpulkan dari penggalan ayat, Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak.

4. Generasi baru harus berada di bawah naungan iman dan mempunyai hubungan dengan generasi sebelumnya. Hal itu dapat disimpulkan dari penggalan ayat , jangan kamu menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak.

5. Tidak ada syarat dalam berbuat baik kepada ibu-bapak. Hal itu dapat disimpulkan dari penggalan ayat, dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapakmu.

6. Dalam berbuat baik kepada ibu-bapak, tidak ada perbedaan di antara keduanya. Hal itu dapat disimpulkan dari penggalan ayat, dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak.

7. Berbuat baik kepada ibu-bapak harus kita sendiri yang melakukannya, tidak boleh pakai perantara . Hal itu dapat disimpulkan dari penggalan ayat, dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak.

8. lhsan (berbuat baik) lebih tinggi nilainya daripada memberi infak karena mencakup cinta, kesopanan, pendidikan, musyawarah, ketaatan, rasa terimakasih, memerhatikan dan lain sebagainya. Hal itu dapat disimpulkan dari penggalan ayat, dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapakmu.

9. Tidak ada batasan dalam berbuat baik kepada ibu-bapak (tidak seperti kepada orang fakir sampai dia kenyang, atau jihad sampai fitnah hilang, atau puasa sampai waktu buka).

10. Perintah berbuat baik ditujukan kepada si anak, bukan kepada ibu-bapak, dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak. Karena ibu-bapak tidak memerlukan perintah untuk berbuat baik kepada anaknya,  mereka pasti akan melakukannya sesuai dengan tuntutan fitrahnya.

11. Semakin besar kebutuhan fisik dan nonfisik ibu-bapak maka berbuat baik kepada mereka semakin mendesak. Hal itu dapat disimpulkan dari penggalan ayat, jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu.

12. Ibu-bapak yang sehat jangan kita bawa ke panti jompo, tetapi kita sendiri yang harus mengurusnya. Hal itu dapat disimpulkan dari penggalan ayat, di sisimu/dalam pemeliharaanmu.

13. Di samping berbuat baik kepada ibu-bapak, juga harus berkata dengan perkataan yang baik kepada mereka. Hal itu dapat disimpulkan dari penggalan ayat, berbuat baik dan ucapkanlah kepada mereka berdua perkataan yang baik.

14. Dalam berbuat baik kepada ibu-bapak dan berkata dengan perkataan yang baik kepada mereka, tidak disyaratkan ada-nya timbal balik. Artinya, kalaupun mereka tidak berkata dengan perkataan yang baik kepadamu, kamu tetap harus berkata dengan perkataan yang baik kepada mereka.

15. Seorang anak meski bagaimanapun keadaannya, dia tetap harus merendahkan diri di hadapan ibu-bapaknya, jangan sampai sikapnya melukai perasaan ibu-bapaknya. Hal itu dapat disimpulkan dari penggalan ayat, Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya.

16. Sikap merendahkan diri di hadapan ibu-bapak harus dilakukan secara tulus dan atas dasar kasih sayang, bukan pura pura dan dibuat-buat atau dengan tujuan untuk mengambil harta mereka. Hal itu dapat disimpulkan dari penggalan ayat,
Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang.

17. Seorang anak di samping harus merendahkan diri di hadapan ibu-bapaknya, dia juga harus memohonkan kasih sayang untuk mereka kepada Allah Swt. Hal itu dapat disimpulkan dari  penggalan ayat, Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya  dengan  penuh  kasih sayang  dan  ucapkanlah, "Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya..."

18. Doa seorang anak untuk ibu-bapaknya mustajab di hadapan Allah Swt karena kalau tidak, tentu Allah tidak akan menyuruhnya berdoa. Hal itu dapat disimpulkan dari penggalan ayat, Dan ucapkanlah, "Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya..."

19. Doa anak untuk ibu-bapaknya adalah perintah Allah Swt dan merupakan bentuk ucapan terimakasih kepada mereka. Hal itu dapat disimpulkan dari penggalan ayat, dan ucapkanlah, "Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya..."

20. Kasih sayang Allah merupakan pengganti kesulitan ibu-bapak dalam mendidik anaknya. Hal itu dapat disimpulkan dari penggalan ayat, Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah memeliharaku pada waktu kecil." Seolah-olah Allah Swt berkata kepada sang anak, "Jangan engkau pelit dengan kasih sayangmu, di samping itu juga minta tolonglah kepada Allah supaya engkau dapat menunaikan hak ibu-bapakmu."

21. Jangan engkau lupa dengan masa kecilmu dan masa lalumu, yang telah menyusahkan ibu-bapakmu. Hal itu dapat disimpulkan dari penggalan ayat, sebagaimana mereka berdua telah  memeliharaku pada waktu kecil.

22. Ibu-bapak harus mendidik anaknya atas dasar cinta kasih, Hal itu dapat disimpulkan dari penggalan ayat, Sayangilah kedua-nya sebagaimana mereka berdua telah memeliharaku.

23.  Manusia harus menghargai dan berterimakasih kepada para pendidiknya. Hal itu dapat disimpulkan dari penggalan ayat, Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah memeliharaku.

Dalam ayat 83, surah al-Baqarah, ayat 36, surah al-Nisa, ayat 151, surah al-An'am dan ayat 23, surah al-lsra, kita diperintahkan untuk berbuat baik kepada ibu-bapak. Namun dalam ayat 14, surah Luqman dijelaskan bahwa berbuat baik kepada ibu-bapak merupakan pesan Allah Swt,

وَوَصَّيْنَا الْاِنْسٰنَ بِوَالِدَيْهِ

Dan Kami berpesan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada ibu-bapaknya. (QS. Luqman [31]: 14)

Menghormati ibu-bapak termasuk kewajiban manusiawi bukan kewajiban Islami, kewajiban terus-menerus bukan kewajiban temporer. Dalam hadis-hadis kita mendapati bahwa berbuat baik kepada ibu-bapak itu wajib dalam semua keadaan, baik ibu-bapak itu orang yang baik maupun orang yang tidak baik, baik masih hidup maupun sudah meninggal dunia.


Para sahabat melihat Rasulullah saw lebih menghormati saudara perempuan sesusunya dibandingkan saudara laki-laki sesusunya. Lalu mereka bertanya alasannya. Rasulullah saw menjawab, "Karena saudara perempuan sesusuan ini lebih meng-hormati ibu-bapaknya." Rasulullah saw bersabda, "Setelah salat pada awal waktu, tidak ada amal yang lebih baik daripada hormat kepada ibu-bapak." [1]

Luasnya Arti Orang Tua

Dalam budaya Islam, pemimpin Ilahi, guru, pendidik dan bapak istri (mertua laki-laki), juga disebut ayah. Dalam beberapa hadis, Rasulullah saw dan Imam Ali as disebut bapak umat. Rasulullah saw bersabda, "Aku dan Ali adalah bapak umat ini." Begitu juga Nabi Ibrahim disebut bapak bangsa Arab, "Agama bapakmu Ibrahim."

Pada  hari-hari  terakhir umurnya,  Rasulullah saw ter-baring di tempat tidur. Kemudian Rasulullah saw berkata, "Pergilah ke tengah masyarakat dan katakan dengan lantang kepada mereka, 'Laknat Allah bagi siapa saja yang durhaka kepada kedua orang tuanya. Laknat Allah kepada hamba yang lari dari Tuannya. Laknat Allah kepada orang yang tidak membayar upah buruh dan pekerjanya.'"

Oleh karena itu, Imam Ali as datang ke tengah masyarakat lalu menyampaikan kalimat-kalimat di atas, kemudian kembali. Sebagian sahabat mengira enteng isi pesan ini dan berkata, "Kami sebelumnya telah mendengar pesan tentang hormat kepada   kedua orang tua, tentang budak kepada Tuan dan tentang pekerja. Pesan ini bukan pesan baru sehingga begitu pentingnya harus disampaikan Rasulullah saw ketika terbaring sakit di tempat tidur kepada kita." Rasulullah saw sadar bahwa masyarakat tidak memahami kandungan dalam isi pesan ini. Karena itu, sekali lagi beliau saw mengutus Imam Ali as dengan berkata, "Katakan kepada msyarakat..."

"Yang dimaksud durhaka kepada orang tua adalah durhaka kepada pemimpin Ilahi. Hai Ali! Aku dan engkau adalah bapak umat ini. Barangsiapa yang tidak menaati kita, berarti telah durhaka kepada kita. Aku dan engkau adalah Tuannya masyarakat ini. Barangsiapa yang lari dari kita, dia mendapat laknat Allah Swt. Aku dan engkau telah dipekerjakan untuk memberi petunjuk kepada msyarakat ini. Dan barangsiapa yang tidak memenuhi hak pekerja, dia dilaknat oleh Allah Swt.

Dari sini kita memahami bahwa meskipun taat dan berbuat baik kepada orang tua mempunyai makna yang sudah di-kenal. Namun dalam budaya Islam, ia mempunyai arti yang lebih luas.

Catatan Akhir

[1] Mizan al-Hikmah

Sumber: dikutip dari buku Ramadan bersama Al-Qur'an menata diri menuju yang maha suci, Mohsen Qira'ati, hal.69-76
Previous Post
Next Post

post written by:

0 komentar: