Minggu, 03 Juni 2018

Ramadhan Bersama Al-Qur'an, Menata Diri Menuju Yang Maha Suci Bag 17


Ketetapan Allah

Macam-macam ketetapan ilahi

Allah SWT berfirman:

يَمْحُوْا اللّٰهُ مَا يَشَآءُ وَيُثْبِتُ ۚ  وَعِنْدَهٗۤ اُمُّ الْكِتٰبِ

"Allah menghapus dan menetapkan apa yang Dia kehendaki. Dan di sisi-Nya terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuz)." (QS. Ar-Ra'd [13]: 39)

Berdasarkan ayat-ayat al-Quran dan hadis, ketetapan Allah Swt itu ada dua macam, yaitu sebagai berikut,

1. Ketetapan urusan yang pasti dan karena itu hukumnya pun pasti (tidak berubah). Seperti ayat, Keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah, dan Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Ku (QS. Qaf [50]: 29)

2. Ketatapan urusan yang tidak pasti, yang bergantung kepada amal perbuatan manusia, seperti bertobatnya seseorang akan diikuti diampuninya dosanya, memberi sedekah akan diikuti tercegahnya bencana, atau perbuatan zalim akan di-ikuti dengan datangnya siksa dari Allah, Artinya, dalam mengatur alam penciptaan Allah Swt tidak berlaku mutlak, dengan terjadinya perubahan kondisi, maka Dia dapat melakukan perubahan dalam alam penciptaan dan hukumnya. Tentu perubahan ini bukan karena kebodohan Allah, atau Dia memperbarui pandangan-Nya, atau Dia menyesal dengan keputusan yang pertama. Akan tetapi, perubahan itu didasarkan kepada hikmah dan perubahan kondisi, atau memang telah berakhir-nya masa urusan tersebut.

Tentang perubahan itu al-Quran memberikan banyak contoh, di antaranya sebagai berikut,


1. Allah Swt berfirman, Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku per-kenankan doamu (QS. al-Mukmin [40]: 60). Dengan berdoa dan merendahkan diri di hadapan Allah Swt, manusia dapat memperoleh kepentingannya dan mengubah takdirnya.

2. Allah Swt berfirman, barangkali sesudah itu Allah mengadakan sesuatu yang baru (QS. al-Thalaq [65]: 60) Hukum Allah tidak sama di semua tempat. Mungkin dengan munculnya syarat-syarat yang diperlukan, Allah mengadakan sesuatu yang baru.

3. Allah Swt berfirman, Setiap waktu Dia dalam keadaan tertentu (QS. al-Rahman [55]: 29).

4. Allah Swt berfirman, Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi (QS. al-A'raf [7]: 96).

5. Allah Swt berfirman, Maka tatkala mereka berpaling (dari ke-benaran), Allah memalingkan hati mereka (QS. al-Shall [61]: 5). Karena mereka memilih jalan yang menyimpang, Allah pun menyesatkan mereka.

6. Allah Swt berfirman, Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sehingga kaum itu mengubah nasib mereka sendiri (QS. al-Ra'd [13]: 11).

7. Allah Swt berfirman, Kecuali orang-orang yang bertobat, beriman dan mengerjakan amal saleh, maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan (QS. al-Furqan [25]: 70).

8. Allah Swt berfirman, Dan sekiranya kamu kembali kepada (kedurhakaan) niscaya Kami kembali (mengazabmu) (QS. al-Isra [17]: 8)

📝 Apa itu Bada?

Yang dimaksud bada dalam pandangan Syi'ah adalah munculnya sesuatu yang bertentangan dengan perkiraan kita sebelumnya, bukan perubahan dalam ilmu Allah dan munculnya sesuatu yang berbeda dengan ilmu Allah.

Bada  dalam penciptaan tidak ubahnya naskh dalam hukum. Misalnya, suatu hukum awalnya kita anggap akan berlaku selamanya, namun setelah beberapa waktu ternyata berubah. Akan tetapi, ini bukan berarti kebodohan atau penyesalan Allah sebagai Pembuat hukum, tetapi kondisilah yang menyebabkan terjadinya perubahan hukum. Persis seperti resep yang diberikan seorang dokter, merujuk kepada kondisi pasien, ketika kondisi pasien telah berubah, resep pun berubah.

Berikut ini kami ketengahkan beberapa contoh bada dalam al-Quran,

1. Kita menyangka bahwa Allah Swt yang memerintahkan Nabi Ibrahim as menyembelih putranya Nabi Ismail as, ingin darah Nabi Ismail as tertumpah, tetapi kemudian kita baru tahu  bahwa Allah tidak menghendaki itu. Allah hanya ingin menguji sang ayah, yaitu Nabi Ibrahim as.

2. Dari janji Allah kepada Nabi Musa as, kita tahu bahwa waktu munajat Nabi Musa as adalah 30 malam, Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam (QS . al-A'raf [7]: 142). Akan tetapi, kemudian kita tahu bahwa sejak awal program munajat Nabi Musa adalah 40 malam. Namun untuk menguji Nabi Musa as, Allah memberitahu Nabi Musa as dua kali, pertama 30 malam, lalu kedua sepuluh malam, Dan Kami sempur-nakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam (QS. al-A'raf [7]: 142).

3. Sebelumnya, kita berpikir bawha Kiblat kaum muslim selamanya menghadap Baitul Maqdis (Masjidil Aqsa), namun kemudian  datang  ayat yang  memerintahkan perubahan Kiblat, yaitu Kiblat kaum muslim selanjutnya adalah menghadap Ka'bah.

4. Ketika datang tanda-tanda akan turunnya azab Allah, Nabi Yunus as merasa yakin bahwa azab Allah pasti akan turun dan kaumnya pasti akan binasa. Karena itu, beliau lari dari tengah-tengah masyarakat. Namun kemudian, kaumnya ber- iman maka azab Allah pun tidak jadi turun. Allah Swt berfirman, Tatkala mereka (kaum Nabi Yunus) beriman, maka Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu (QS. Yunus [10]: 98).

Singkatnya, arti bada bukan berarti Allah bodoh atau ilmu-Nya berubah. Karena sejak awal Allah sudah tahu bahwa darah Ismail as tidak akan tertumpah, munajat Nabi Musa akan berlangsung 40 malam, Kiblat kaum muslim selamanya adalah Ka'bah dan kaum Nabi Yunus adalah kaum yang selamat dari azab. Namun, perintah dan peristiwa muncul dalam bentuk sedemikian rupa sehingga manusia salah mengira. Karena itu, perubahan bukan terjadi pada ilmu Allah, tetapi pada ilmu manusia.

Bada dalam arti tersebut memiliki efek yang mendidik. Di antaranya, manusia hingga akhir hidupnya tetap mempunyai harapan terjadinya perubahan keadaan, jiwa tawakal tetap hidup dalam dirinya, tidak tertawan hanya dengan sesuatu yang tampak, kepercayaan manusia kepada sesuatu yang gaib dan kepada kekuasaan Allah semakin bertambah. Dengan tobat, sedekah, doa dan usaha manusia dapat mengubah jalannya peristiwa dan turun-nya azab Allah.

Sumber: dikutip dari buku Ramadan bersama Al-Qur'an menata diri menuju yang maha suci, Mohsen Qira'ati, hal.11-115
Previous Post
Next Post

post written by:

0 komentar: