Sabtu, 02 Juni 2018

Ramadhan Bersama Al-Qur'an, Menata Diri Menuju Yang Maha Suci Bag 12


Bersyukur

Cara Bersyukur

Allah SWT berfirman:

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ  لَاَزِيْدَنَّـكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat." (QS. Ibrahim [14]: 7)

Imam Ja'far Shadiq as berkata, "Mensyukuri nikmat menjauhkan dari dosa." Beliau as juga berkata, "Bersyukur adalah seseorang mengakui bahwa nikmat itu berasal dari Allah (bukan dari kecerdikan, ilmu, akal dan usaha dirinya atau orang lain), serta merasa puas dengan apa yang diberikan Allah, dan tidak menjadikan nikmat dari Allah itu sebagai alat untuk berbuat dosa. Syukur yang sesungguhnya adalah menggunakan nikmat Allah di jalan-Nya."

Syukur manusia di hadapan nikmat yang Allah berikan tidak ada artinya. Sebagaimana yang dikatakan Sa'di,

Hamba Allah adalah orang yang memohon ampun kepada Allah Dari kekurangan-kekurangannya, Meskipun tidak ada seorang pun yang mampu bersyukur kepada-Nya yang layak bagi-Nya.

Dalam hadis kita mendapati Allah Swt berfirman kepada Musa, "Penuhilah hak syukur kepada-Ku.' Musa menjawab, 'Ini adalah sesuatu yang tidak mungkin dilakukan karena pada setiap kalimat syukur ada kewajiban syukur yang lain.' Lalu Allah Swt berkata, 'Pernyataanmu ini, dan pengakuan bahwa segala sesuatu berasal dari-Ku adalah sebaik-baiknya syukur kepada-Ku.' [1] Berterimakasih kepada manusia adalah berterimakasih kepada Allah Swt. Dalam hadis dikatakan, "Seseorang yang tidak berterimaka-sih kepada makhiuk Allah maka dia tidak berterimakasih kepada Allah."  [2]

jika kita menggunakan nikmat Allah di jalan yang tidak benar maka  itu  berarti  kufur  nikmat.  Sebagaimana  dikatakan dalam penggalan ayat, Tetapi jika kami mengingkari (nikmat-Mu). Atau dalam ayat lain, Orang-orang yang menukar nikmat Allah dengan ingkar kepada Allah (QS. Ibrahim: 28).

Bersyukur Kepada Allah

Allah Swt tidak butuh kepada ibadah dan syukur kita. Al-Quran berulang-ulang mengingatkan tentang hal ini. Al-Quran berkata, Sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Mahaterpuji. (QS. al-Naml: 40; QS Shad: 44). Allah tidak membutuhkan kita, justru perhatian kita kepada-Nya merupakan sumber kemuliaan dan kesempurnaan bagi kita. Seperti matahari tidak membutuhkan kita. Kita yang membangun rumah kita menghadap matahari, supaya kita memperoleh cahayanya.

Salah satu pujian yang Allah berikan kepada para nabi di dalam al-Quran adalah karena mereka mempunyai jiwa bersyukur.

Sebagai contoh, Nabi Nuh as, meski harus bersabar menghadapi istri yang tidak taat, anak yang durhaka dan umat yang membangkang, namun begitu dia selalu mengucapkan syukur kepada Allah Swt, dan karena itu Allah Swt menyebutnya sebagai hamba yang bersyukur,

اِنَّهٗ كَانَ عَبْدًا شَكُوْرًا

Sesungguhnya dia (Nuh) adalah hamba yang banyak bersyukur. (QS. al-lsra: 3)

Kita harus memohon kepada Allah Swt supaya dapat bersyukur kepada-Nya. Seperti permohonan yang diajukan Nabi Sulaiman as kepada Allah Swt

رَبِّ اَوْزِعْنِيْۤ اَنْ اَشْكُرَ  نِعْمَتَكَ الَّتِيْۤ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ

Ya Tuhanku! Anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku. (QS. al-
Naml: 19)

Kata awzi'niy dalam ayat ini, berarti "Anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu." Kita biasanya hanya menyadari nikmat-nikmat yang setiap hari menghampiri kita, tetapi lupa dengan banyak nikmat yang lain. Di antaranya nikmat yang datang melalui orang-orang baik atau melalui warisan, atau beri-bu-ribu bencana yang dijauhkan dari kita, atau nikmat-nikmat spiritual, seperti nikmat iman kepada Allah dan para wali-Nya dan nikmat benci kepada kekafiran, kefasikan, dan dosa. Sebagaimana yang dikatakan Allah Swt di dalam al-Quran,

 لٰـكِنَّ اللّٰهَ حَبَّبَ اِلَيْكُمُ الْاِيْمَانَ وَزَيَّنَهٗ فِيْ قُلُوْبِكُمْ وَكَرَّهَ اِلَيْكُمُ  الْكُفْرَ وَالْفُسُوْقَ وَالْعِصْيَانَ

Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan, dan menjadikan (iman) itu indah dalam hatimu, serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. (QS. al-Hujurat [49]: 7)

Sebagian doa-doa para Imam maksum juga memberi perhatian kepada nikmat Allah dan bersyukur atasnya, supaya menghidupkan dan menguatkan jiwa syukur pada diri manusia. Bersyukur kepada Allah terkadang dengan menggunakan lidah dan perkataan dan terkadang juga dengan amal perbuatan. Dalam hadis dikatakan,  bahwa  setiap  kali engkau mengingat nikmat Allah hendaknya engkau bersyukur dengan bersujud meletakkan wajahmu ke tanah. Bahkan, jika engkau sedang menunggang kuda, usahakan engkau turun lalu bersujud. Dan jika engkau tidak bisa, letakkan wajahmu ke punggung kuda. Kalaupun itu tidak bisa engkau lakukan, letakkan wajahmu ke telapak tanganmu dan bersyukurlah kepada Allah Swt." [3]

Contoh Syukur dalam Perbuatan

1. Salat

Salat adalah bentuk terbaik syukur kepada Allah Swt. Allah Swt berkata kepada Rasulullah saw, sebagai bentuk rasa syukur kepada Kami yang telah memberimu kebaikan yang banyak (kautsar), dirikanlah salat. Allah Swt berfirman,

اِنَّاۤ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَ ۞ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad saw) kebaikan yang banyak (kautsar). Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (QS. al-Kautsar [108]: 1-2).

2. Berpuasa

Sebagaimana para nabi Allah berpuasa dalam mensyukuri nikmat-nikmat Allah Swt." [4]

3. Melayani masyarakat

Al-Quran berkata, jika seorang yang buta huruf meminta tolong kepada orang yang melek huruf untuk menuliskan surah. Sebagai rasa syukur atas kemampuan baca-tulis yang dimilikinya, hendaknya dia bersedia menuliskan surah untuknya, Janganlah penulis menolak untuk menuliskannya sebagai-mana Allah telah mengajarkan kepadanya (QS. al-Baqarah [2): 282). Di sini, menuliskan surah yang merupakan satu bentuk pelayanan kepada masyarakat, adalah satu bentuk rasa syukur atas nikmat kemampuan baca-tulis.

4. Merasa cukup (kanaah)

Rasulullah  saw  bersabda,  "jadilah  orang  yang  merasa cukup dengan nikmat yang diberikan Allah (kanaah), niscaya engkau menjadi orang yang paling bersyukur." [5]

5. Menjamu anak yatim

Allah Swt berkata kepada Nabi-Nya saw, "Sebagai bentuk rasa syukur kepada Kami yang telah memberi perlindungan kepadamu ketika kamu yatim, janganlah engkau mengusir anak yatim, Maka terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang (QS. al-Dhuha [93]: 9)."

6. Menolong orang miskin dan yang membutuhkan

Allah Swt berkata kepada Nabi-Nya saw, "Sebagai bentuk rasa syukur yang dahulu kamu berkekurangan lalu Kami memberimu kecukupan, janganlah kamu menghardik orang miskin yang datang kepadamu, Dan terhadap orang yang meminta-minta, janganlah engkau menghardiknya (QS. al-Dhuha: 10)."

7. Berterimakasih kepada masyarakat

Allah Swt berkata kepada Nabi-Nya saw untuk berterimakasih dan memberi semangat kepada para pemberi zakat, "Maka kirimkanlah doa untuk mereka karena doamu akan memberikan ketenangan bagi mereka, Dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu menumbuhkan ketenteraman jiwa bagi mereka (QS. al-Taubah [9]: 102)."

Bersyukur pada Saat Mendapat Kesulitan

Al-Quran berkata,

 وَعَسٰۤى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْــئًا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّـکُمْ ۚ  وَعَسٰۤى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْــئًا وَّهُوَ شَرٌّ لَّـكُم

Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. (QS. al-Baqarah [2]: 216)

Betapa banyak hal yang tidak kita sukai, tetapi ia baik bagi kita, begitu juga sebaliknya, betapa banyak hal yang kita sukai, tetapi ia buruk bagi kita.

Kita  tetap  akan  bersyukur kepada  Allah  ketika  kita mendapat kesulitan karena beberapa hal berikut ini,


1. Jika kita tahu bahwa orang lain lebih banyak mendapat kesulitan dibandingkan kita.

2. Jika kita tahu bahwa kesulitan akan menambah lebih banyak perhatian kita kepada Allah,

3. Jika kita tahu bahwa kesulitan akan menghancurkan ke-lsombongan kita dan menghilangkan kekerasan hati kita.

4. Jika kita tahu bahwa kesulitan akan membuat kita menaruh perhatian kepada orang yang tidak beruntung.

5. Jika kita tahu bahwa kesulitan akan memaksa kita untuk kreatif.

6. Jika kita tahu bahwa kesulitan akan membuat kita mengingat dan menghargai nikmat-nikmat yang telah lalu.

7. Jika kita tahu bahwa kesulitan merupakan tebusan bagi dosa-dosa kita.

8. Jika kita tahu bahwa kesulitan akan menjadi sebab kita mendapat pahala akhirat.

9. Jika kita tahu  bahwa kesulitan merupakan peringatan akan dibangkitkannya kita pada Hari Kiamat.

10. Jika kita tahu bahwa kesulitan merupakan alat untuk mengetahui tingkat kesabaran kita dan teman-teman sejati kita.

11. Jika kita tahu bahwa kesulitan yang lebih besar akan datang kepada kita, segala kesulitan yang kita hadapi sekarang terasa manis. Bagi seorang anak kecil kurma itu manis sementara bawang dan cabal itu pedas dan tidak enak.  Namun bagi orang tua yang telah dewasa dan mempunyai pengetahuan yang lebih banyak, manisnya kurma dan pedasnya cabai sama-sama enak.

Dalam Perang Uhud, Imam All as berkata, "Ikut serta dalam perang termasuk sesuatu yang harus disyukuri." [6] Putri beliau Zainab, dalam menjawab rezim zalim Bani Umayah berkata, "Di Karbala, aku tidak melihat sesuatu yang lain kecuali sesuatu yang indah." [7]

Catatan Akhir

[1] Tafsir Namuneh
[2] Bihar al-Anwar jil.71, hadis ke-44
[3] Al-Kafi, bab Al-Syukr, hal.25
[4]Wasail al-Syi'ah jil.10, hal.446
[5] mustadrak al-wasail,  jil11, hadis ke-12676
[6] Nahj al-Balaghah, khotbah ke-156
[7] Bihar al-Anwar jil.45, hal.116

Sumber: dikutip dari buku Ramadan bersama Al-Qur'an menata diri menuju yang maha suci, Mohsen Qira'ati, hal.77-83
Previous Post
Next Post

post written by:

0 komentar: