Sabtu, 02 Juni 2018

Ramadhan Bersama Al-Qur'an, Menata Diri Menuju Yang Maha Suci Bag 14


hal-hal yang disucikan dalam Islam

Allah SWT berfirman:

يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَرْفَعُوْۤا  اَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوْا لَهٗ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ  بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ اَنْ تَحْبَطَ اَعْمَالُكُمْ وَاَنْـتُمْ لَا تَشْعُرُوْنَ


"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap yang lain, nanti (pahala) segala amalmu bisa terhapus sedangkan kamu tidak menyadari." (QS. Al-Hujurat [49]: 2)

Menghormati hal-hal yang disucikan

Diseluruh dunia, dengan berbagai macam keyakinan yang dimiliki, manusia menghormati tokoh-tokoh mereka. Mereka menamai kota-kota, jalan-jalan, universitas-universitas, bandar udara, sekolah-sekolah dan yayasan-yayasan dengan nama tokoh-tokoh mereka. Dalam Islam pun, beberapa orang, bahkan beberapa tumbuhan dan benda mati mempunyai nilai suci.

Dalam Islam, akar kesucian dan kemuliaan sesuatu terkait dengan hubungannya dengan Zat Yang Mahasuci, Allah Swt. Karena itu, semakin sesuatu mempunyai hubungan dekat dengan Allah Swt maka dia semakin suci dalam pandangan Islam dan kita wajib menghormatinya. Adapun hal-hal yang disucikan dalam Islam, yaitu sebagai berikut,

1 Allah Swt, yang merupakan sumber dari segala kesucian

Orang-orang musyrik yang menganggap ada sesuatu lain yang setara dengan Allah Swt, kelak pada Hari Kiamat akan mengakui kesesatan mereka, dan akan berkata kepada sesembahan mereka, "Sumber dari kesengsaraan kami adalah karena kami menyamakan kamu dengan Tuhan Pencipta alam semesta," karena kami mempersamakan kamu (berhala-berhala) dengan Tuhan seluruh alam (QS. al-Syu'ara [26]: 98).

Dalam al-Quran mulia banyak sekali pembicaraan tentang tasbih dan penyucian Allah Swt. Artinya, kita harus menghormati dan menyucikan Allah sedemikan rupa sehingga tidak ada satu pun kekurangan terbayangkan ada pada-Nya. Bukan hanya Zat-Nya, bahkan nama-Nya juga suci dan disucikan. Al-Qur'an berkata, Sucikanlah nama Tuhanmu yang Maha Tinggi (QS. al-A'la [87]: 1).

2. Kitab Allah juga sesuatu yang suci dan dimuliakan

Ketika Allah Swt mengatakan al-Quran itu sesuatu yang agung, (QS. al-Hijr [15]: 87) maka kita juga harus mengagungkannya. Ketika Allah Swt mengatakan al-Quran itu mulia, (QS. al-Waqi'ah [56]: 77), kita juga harus memuliakannya. Ketika Allah Swt mengatakan al-Quran itu sesuatu yang agung, (QS. Qaf [50]: 1), kita juga harus mengagungkannya.

3. Para pemimpin Ilahi

Seluruh nabi dan para penerusnya, terutama Nabi Muhammad saw dan Ahlulbaitnya, mempunyai kedudukan yang khusus. Sebagaimana dalam ayat di atas telah dijelaskan sebagian adab dan tata cara bergaul dengan Nabi saw. Kita jangan mendahuluinya dan jangan berbicara dengan suara yang lebih keras darinya. Sementara itu, dalam ayat lain kita diperintahkan untuk mengucapkan salawat kepada Nabi saw (QS. al-Ahzab [33]: 56).

Satu hal yang harus kita perhatikan, bahwa setelah wafatnya Rasulullah saw, kita tetap harus menziarahi Rasulullah saw serta menziarahi dan menghormati para penerus beliau dan keturunannya, dan seluruh orang yang mempunyai hubungan dengan beliau saw, terutama para ulama rabbani, para fukaha adil dan para marji' taklid, yang sebagaimana dikatakan hadis bahwa mereka adalah para penerus Nabi saw. Dalam hadis dikatakan, "Barangsiapa yang menolak perkataan seorang fakih yang adil sama dengan orang yang menolak perkataan Ahlulbait as, dan barangsiapa yang menolak perkataan Ahlulbait as sama dengan orang yang menolak perkataan Allah Swt" [1]

Yang suci dan mulia bukan hanya diri para nabi, tetapi juga segala sesuatu yang mempunyai hubungan dengannya. Dalam al-Quran kita membaca bahwa peti tempat Nabi Musa as diletakkan di dalamnya ketika kecil lalu dialirkan ke sungai, yang kemudian menjadi benda peninggalan Musa dan keluarganya, begitu sucinya sehingga dibawa para malaikat dan menjadi sebab kemenangan Bani Israil atas musuhnya (QS. al-Baqarah [2]: 248).

4. Dalam Islam, kedudukan ibu-bapak sedemikian suci dan mulia

Dalam al-Quran, sebanyak lima kali perintah untuk mengesakan Allah Swt diiringi dengan perintah untuk berbuat baik kepada ibu-bapak, dan rasa syukur kepada keduanya disebut-kan berbarengan dengan rasa syukur kepada Allah Swt (QS. Luqman [31]: 14). Begitu sangat diperintahkannya berbuat baik kepada ibu-bapak, sampai-sampai memandangi ibu-bapak dengan rasa cinta dihitung sebagai ibadah. Kita juga dipesankan untuk tidak berkata kepada mereka dengan suara yang lebih keras dari suara mereka, bahwa bepergian yang akan menyakiti mereka hukumnya haram sehingga salat yang kita kerjakan dalam perjalanan itu harus tamam (tidak dikasar),

5. Dalam Islam, sebagian waktu seperti malam Lailatul Qadar, sebagian tempat, seperti masjid, sebagian batu, seperti batu Hajar Aswad, sebagian air, seperti air zamzam, sebagian tanah, seperti tanah Imam Husain as (Karbala) dan sebagian pakaian, seperti pakaian ihram, bernilai suci dan mulia, dan karena itu kita harus memuliakannya

Nabi Musa as, karena menghormati lembah yang suci, ketika memasukinya dia menanggalkan terompahnya,

اِنِّيْۤ اَنَاۡ  رَبُّكَ فَاخْلَعْ نَـعْلَيْكَ ۚ  اِنَّكَ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًى

Maka lepaskan kedua terompahmu karena sesungguhnya engkau berada di tern pat yang suci, Thuwa. (QS. Thaha [20]: 12)

Masjidil Haram adalah tempat yang suci, yaitu orang musyrik tidak berhak memasukinya. Allah Swt berfirman, Sesungguhnya orang musyrik itu najis. Karena itu, janganlah mereka mendekati Masjidil Haram (QS. al-Taubah [9]: 28). Masjid dan tempat ibadah itu suci. Oleh karena itu, ketika seseorang pergi ke masjid, dia harus dalam keadaan suci dan indah. Allah Swt berfirman, Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid. (QS. al-A'raf [7]; 31). Seseorang yang dalam keadaan junub dan tidak suci, tidak boleh berhenti di masjid, Dan jangan pula (kamu menghampiri masjid ketika kamu) dalam keadaan junub, kecuali sekadar lewat saja (QS. al-Nisa [4]: 43).

Begitu mulia dan sucinya masjid sehingga orang-orang, seperti Ibrahim, Ismail, Zakariya dan Maryam as menjadi penanggung jawab penyucian masjid. Allah Swt berfirman, Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail, "Suci-kanlah Rumah-Ku" (QS. al-Baqarah [2]: 125). Bahkan ibunya Maryam karena menyangka anak yang dalam kandungannya laki-laki, dia bernazar bahwa kelak anaknya akan menjadi pelayan Masjidil Aqsa,

Allah SWT berfirman:

 اِنِّيْ نَذَرْتُ لَـكَ مَا فِيْ بَطْنِيْ مُحَرَّرًا

Sesungguhnya aku bernazar kepada-Mu bahwa janin yang ada dalam kandunganku kelak menjadi hamba yang mengabdi pada-Mu. (QS. Ali Imran: 35)

6. Manusia beriman juga mulia dan suci

Hingga  kehormatan  orang  beriman  lebih  besar daripada Ka'bah. Oleh karena itu, haram hukumnya menyakiti dan mengumpatnya, dan wajib membelanya, bahkan setelah dia meninggal dunia pun, kuburannya haram digali.

Penghinaan terhadap Nabi saw dan Pembelaan Allah Swt

Allah Swt berfirman,

اِنَّاۤ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَ  * فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ  * اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ

Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad saw) kebaikan yang banyak (al-Kautsar). Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah. Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus keturunannya (al-Abtar). (QS. al-Kautsar
[108]: 1-3)

Setiap kali serangan terhadap kesucian agama semakin keras maka pembelaan terhadap agama pun harus semakin kuat. Kaum musyrik begitu banyak melakukan kekurangajaran kepada Nabi Muhammad saw. Mereka menuduh Nabi saw sebagai penyihir, dukun, penyair dan orang gila. Semua itu termuat dalam al-Quran dan al-Quran menjawab semuanya. Mereka berkata kepada Nabi saw, Sesungguhnya engkau (Muhammad saw) benar-benar orang gila (QS. al-Hijr [15]: 6). Sehubungan dengan hal itu, Allah Swt menjawab, Dengan karunia Tuhanmu, engkau bukanlah orang gila (QS. al-Qalam [68]: 2). Mereka mengatakan kepada Nabi saw, Engkau (Muhammad saw) bukanlah seorang rasul (QS. al-Ra'd [13]: 43). Allah Swt menjawab mereka, Sungguh, engkau (Muham-mad saw) adalah salah seorang rasul (QS. Yasin [36]: 3). Mereka menuduh Nabi saw seorang penyair gila, Apakah kami harus meninggalkan sesembahan kami karena seorang penyair gila? (QS. al-Shaffat [37]: 36). Allah Swt menjawab mereka, Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad saw) dan bersyair itu tidak pantas baginya (QS. Yasin [36]: 69).

Mereka mengatakan Nabi Muhammad saw orang yang terputus keturunannya (al-Abtar) maka Allah menjawab, Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah orang yang terputus keturunanannya (al-Abtar). Jawaban yang diberikan kepada orang yang mengatakan Nabi Muhammad saw orang yang terputus keturunannya adalah, Allah memberinya al-Kautsar yang merupa-kan sumber seluruh kebaikan. Dari ayat terakhir surah al-Kautsar yang berbunyi, Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus keturunannya (al-Abtar), dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud al-Kautsar adalah lawan dari al-Abtar (orang yang terputus keturunannya). Orang Arab menyebut orang yang tidak mempunyai keturunan karena tidak mempunyai anak laki-laki atau anak laki-lakinya meninggal dunia sehingga keturunannya lenyap, sebagai Abtar. Bukti terbaik bagi Kautsar adalah keturunan Nabi saw, berupa para Imam dari keturunan Fathimah.

Sehubungan dengan itu, kata Kautsar mempunyai arti umum yang mencakup semua kebaikan yang banyak, tetapi tidak semua kebaikan yang banyak itu adalah Kautsar. Al-Quran berkata,

فَلَا تُعْجِبْكَ اَمْوَالُهُمْ وَلَاۤ اَوْلَادُهُمْ ۗ  اِنَّمَا يُرِيْدُ اللّٰهُ لِيُعَذِّبَهُمْ بِهَا فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَتَزْهَقَ اَنْفُسُهُمْ وَهُمْ كٰفِرُوْنَ


"Maka janganlah harta dan anak-anak mereka membuatmu kagum. Sesungguhnya maksud Allah dengan itu adalah untuk menyiksa mereka dalam kehidupan dunia dan kelak akan mati dalam keadaan kafir." (QS. At-Taubah [9]: 55)

Pada peristiwa penaklukan (fath) Mekkah ketika orang-orang musyrik berbondong-bondong masuk Islam, Allah hanya memerintahkan Nabi saw untuk bertasbih, Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah, maka bertasbihlah (QS. aI-Nashr: 1-3). Namun, untuk memberi al-Kautsar, Allah memerin-tahkan kepada Nabi saw untuk salat karena-Nya dan berkurban, Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah (QS. al-Kautsar [108]: 2). Seolah-olah pentingnya al-Kautsar bagi Islam lebih penting daripada masuknya orang-orang muysrik ke dalam Islam.

Catatan Akhir:

[1] Bihâr al-Anwar, jil.27, hal.238

Sumber: dikutip dari buku Ramadan bersama Al-Qur'an, menata diri menuju yang maha suci, hal.89-95
Previous Post
Next Post

post written by:

0 komentar: