Minggu, 03 Juni 2018

Ramadhan Bersama Al-Qur'an, Menata Diri Menuju Yang Maha Suci Bag 16


Tafsir Surah al-Qadr

Malam Lailatul Qadar

Allah SWT berfirman

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ ۞  وَ مَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ ۞ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ ۞ تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ ۞ سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ

"Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al Qur'an) pada malam kemulian ۞ Dan tahukah kamu apakah malam kadar itu? ۞ Malam kadar itu lebih baik dari seribu bulan ۞ Pada malam itu turun para  malaikat dan Roh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan ۞ salam sejahteralah (Malam itu) sampai terbit fajar" (QS. al-Qadr [97]: 1-5)

Kata qadar dalam Al-Qur'an digunakan dalam beberapa arti,

1. Berarti maqam dan kedudukan

Sebagaimana Allah Swt berfirman,

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ

Mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana kedudukan Allah. (QS. al-An'am [6]: 91)

2. Takdir dan ketetapan

Sebagaimana firman Allah Swt,

ثُمَّ جِئْتَ عَلَىٰ قَدَرٍ يَا مُوسَىٰ

Engkau datang ke tempat suci ini atas takdir Allah, hai Musa. (QS. Thaha [20]: 40)

3. Kesempitan dan kesulitan

Sebagaimana firman Allah Swt,

وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ

dan orang yang sulit rezekinya. (QS. al-Thalaq [65]: 7)

Dua makna pertama sesuai dengan makna malam Lailatul Qadar karena malam Lailatul Qadar di samping malam yang mempunyai kedudukan juga malam penentuan takdir. Pada malam Lailatul Qadar Allah Swt menetapkan urusan selama setahun. Pada ayat lain di dalam al-Quran Allah Swt berfirman, Pada (malam itu) dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah (QS. al-Dukhan [44]: 4). Karena itu, malam Lailatul Qadar tidak hanya terbatas pada malam turunnya al-Quran pada masa Nabi saw saja, tetapi ada pada setiap bulan Ramadan. Pada malam itu urusan selama setahun ke depan hingga malam Lailatul Qadar berikutnya ditetapkan.

Bangun pada malam Lailatul Qadar dan menghidupkan-nya dengan doa, salat dan membaca al-Quran, sangat dianjurkan oleh Rasulullah saw dan Ahlulbait. Malam Lailatul Qadar itu yang paling masyhur, yaitu malam ke-19, malam ke-21 dan malam ke-23. Di antara tiga malam itu, sangat ditekankan sekali malam ke-23. Seorang sahabat berkata kepada Rasulullah saw, "Rumah kami jauh dari Madinah. Karena itu, tentukan satu malam supaya kami datang ke kotamu.' Rasulullah saw kemudian menjawabnya, 'Datanglah ke Madinah pada malam kedua puluh tiga.'' [1]

Dalam keadaan sakit, Imam Shadiq as minta supaya beliau dibawa ke masjid pada malam ke-23. [2] Pada malam ke-23, Sayidah Zahra memercikkan air ke muka anak-anaknya supaya tidak tidur. [3]

Dalam banyak riwayat dikatakan bahwa pada malam sepuluh akhir Ramadan, Rasulullah saw melipat tempat tidurnya untuk menghidupkan sepuluh malam tersebut. [4]

Dalam sebuah hadis panjang dan Rasulullah saw, kita membaca Nabi Musa as berkata kepada Allah Swt, "Ya Allah! Aku memohon maqam kedekatan dengan-Mu.' Allah Swt menjawab, 'Maqam kedekatan dengan-Ku adalah bagi orang yang bangun pada malam Lailatul Qadar.'

Nabi Musa as kembali berkata, 'Ya Allah! Aku menginginkan rahmat-Mu.' Allah Swt menjawab, 'Rahmat-Ku bagi orang yang mengasihi orang-orang miskin pada malam Lailatul Qadar.'

Nabi Musa as berkata lagi, 'Ya Allah! Aku menginginkan dapat melewati jembatan sirath.' Allah menjawab, 'Kemampuan melewati jembatan sirath adalah bagi orang yang bersedekah pada malam Lailatul Qadar.'

Kemudian Nabi Musa as berkata, 'Ya Allah! Aku memohon surga dan segala kenikmatan di dalamnya.' Allah menjawab, 'Itu semua bagi orang yang bertasbih pada malam Lailatul Qadar.'

Nabi Musa as kembali berkata, 'Ya Allah! Aku menginginkan selamat dari api neraka Jahanam.' Allah Swt menjawab, 'Itu bagi orang yang beristigfar pada malam Lailatul Qadar.'

Nabi Musa as berkata, 'Ya Allah! Aku memohon keridaan-Mu.' Allah Swt menjawab, 'Rida-Ku bagi orang yang salat dua rakaat pada malam Lailatul Qadar.'' [5]

Di antara keajaiban sejarah adalah, Imam Ali as disabet pedang pada malam Lailatul Qadar, di mihrab ibadah ketika salat. Makhluk Allah termulia, mati syahid di tempat termulia, waktu termulia dan dalam keadaan termulia.

Malam Lailatul Qadar berlangsung semalam penuh bulatan bumi, berarti selama 24 jam. Tidak khusus untuk tempat tertentu yang waktu malamnya hanya delapan jam saja. Sebagaimana yang dimaksud Hari Raya Idul fitri adalah satu hari penuh bulatan bumi, yang mencakup semua kawasan yang ada di bumi.

Sezamannya malam penetapan takdir dengan malam al-Quran, mungkin mengandung arti bahwa takdir manusia terkait dengan al-Quran. jika dia mengikuti al-Quran, dia akan bahagia dan jika dia jauh dari al-Quran, dia akan sengsara.

Abu Dzar berkata, "Saya bertanya kepada Rasulullah, 'Apakah malam Lailatul Qadar juga ada pada masa nabi-nabi sebelumnya, dan pada mereka turun perintah, lalu setelah mereka tiada malam Lailatul Qadar berhenti?' Rasulullah saw menjawab, 'Malam Laila-tul Qadar ada sampai Hari Kiamat.'"

Mungkin, mengapa malam Lailatul Qadar itu tersembunyi adalah supaya manusia beribadah pada banyak malam, bukan hanya satu malam saja, Orang-orang yang mendapati satu malam tidak akan sombong, sementara orang-orang yang tidak mendapati satu malam tidak merasa putus asa karena masih ada malam-malam yang lain.

Dalam riwayat dikatakan, "Perbuatan baik yang dilakukan pada malam Lailatul Qadar lebih baik daripada perbuatan baik yang dilakukan selama seribu bulan." [6]

Penetapan urusan pada malam Lailatul Qadar dilakukan dengan kehadiran para malaikat, Pada malam itu turun para malaikat dan Roh (jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Yang dimaksud salam dalam surah al-Qadr ini adalah perhatian khusus Allah Swt kepada hamba pada malam Lailatul Qadar yang diiringi dengan keselamatan, rahmat dan keberkahan, serta ditutupnya pintu neraka (siksa). Karena itu, pada malam itu tipu daya setan tidak berdaya. Pada malam Lailatul Qadar para malaikat turun ke bumi lalu memberi salam kepada setiap laki-laki dan perempuan yang sedang beribadah. Sebagaimana juga pada Hari Kiamat mereka menyambut para ahli surga dengan ucapan salam,

سَلَامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ

Salam sejahtera atas kalian, berbahagialah kalian! Maka masuklah, kalian kekal di dalamnya. (QS. al-Zumar [39]: 73)

Wajah Para Malaikat dalam al-Quran

1. Para malaikat adalah hamba Allah yang mulia, Sebenarnya mereka (para malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimuliakan (QS. al-Anbiya [21]: 26).

2. Maksum dan taat kepada Allah Swt, Mereka tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan (QS. al-Tahrim [66]: 6).

3. Pengaturan urusan ada dalam tanggung jawab mereka, Dan (para malaikat) yang mengatur urusan (QS. al-Nazi'at [79]: 5); Dan (para malaikat) yang membagi-bagi urusan (QS. al-Dzariyat [51]: 4).

4. Pengawas perkataan dan ucapan, Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat) (QS. Qaf [50]: 18).

5. Pencatat amal perbuatan, Dan utusan-utusan Kami (malaikat) selalu mencatat di sisi mereka (QS. al-Zukhruf [43]: 80).

6. Pemberi kabar gembira kepada para pejuang di medan perang, Maka Allah menurunkan ketenangan kepadanya dan (malaikat-malaikat) yang membantu dengan bala tentara tidak terlihat olehmu (QS . aI-Taubah [9]: 40). Pemberi kabar gembira tentang dikabulkannya doa dalam mempunyai anak, Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan seorang anak laki-laki, namanya Yahya (QS. Maryam [19]: 7). Pemberi kabar gembira saat orang mukmin meninggal dunia,

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang berkata, "Tuhan kami adalah Allah," kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), 'Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati, dan bergembiralah kamu dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu." (QS. Fushshilat [41]: 30)

7. Petugas pemberi siksa Allah kepada orang-orang yang berdosa, Dan ketika para utusan Kami (para malaikat) itu datang kepada Luth, dia merasa curiga dan dadanya merasa sempit karena (kedatangan)nya (QS. Hud [11]: 77).

8. Penjaga manusia, Dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat peniaga (QS. aI-An'am [6]: 61).

9. Pemohon ampunan  bagi orang-orang mukmin, (Malaikat-malaikat) yang memikul Arsy dan (malaikat) yang berada di sekelilingnya bertasbih dengan memuji Tuhannya dan mereka memohonkan ampunan untuk orang-orang beriman (QS. al-Mukmin [40]: 7).

10. Memberi syafaat, Dan betapa banyak malaikat di langit, syafaat mereka sedikit pun tidak berguna, kecuali apabila Allah telah mengizinkan (dan hanya) bagi siapa yang Dia kehendaki dan Dia ridai (QS. at-Najm [53]: 26).

11. Petaknat orang-orang kafir, Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati dalam keadaan kafir, mereka itu mendapat laknat Allah, para malaikat dan manusia seluruhnya (QS. Al-Baqarah [2]: 161).

12. Pemberi bantuan di medan perang, jika kamu bersabar dan bersiap-siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda (QS. Ali Imran: 125).

13. Menyiksa orang yang berbuat kejahatan ketika matinya, Bagaimanakah (keadaan mereka) apabila malaikat mencabut nyawa mereka seraya memukul-mukul muka mereka dan punggung mereka? (QS. Muhammad [47]: 27)

14. Menyambut ahli surga, (Para malaikat menyambut sambil mengucapkan) ""Keselamatan atasmu berkat kesabaranmu" (QS. al-Ra'd [13]: 24).

15. Penanggung jawab siksa neraka, Dan di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga) (QS. al-Muddatstsir [74]: 30).

16. Penanggung jawab pencabut nyawa, Sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, dia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami (QS. al-An'am [6]: 61).

17. Mempunyai derajat dan tingkatan, Tiada seorang pun di antara kami (malaikat) melainkan mempunyai kedudukan yang tertentu (QS. al-Shaffat [37]: 164).

18. Penanggung jawab turunnya wahyu, Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya (QS. al-Nahl [16]: 2).

19. Terkadang berwujud dalam bentuk manusia, Maka dia (jibril) menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna (QS. Maryam [19]: 17).

20. Tidak jemu dalam beribadah, Maka mereka (malaikat) yang disisi Tuhanmu bertasbih kepada-Nya di malam dan siang hari, sedang mereka tidak jemu jemu (QS. Fushshilat [41]: 38).

21. Juga berbicara kepada selain Nabi, Dia (jibril) berkata, sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci (QS. Maryam [19]: 19).

22. Sebagian malaikat terpilih, Allah memilih utusan-utusan-(Nya) dari malaikat dan dari manusia; sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat (QS. aI-Hajj [22]: 75).

23. Wajib percaya kepada keberadaan para malaikat, Demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya (QS. al-Baqarah [2]: 285); Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya (QS. al-Nisa [4]: 136).

Dalam hadis-hadis dikatakan, "Berargumentasilah dengan surah al-Qadr kepada orang yang mengingkari imamah. Karena berdasarkan surah itu, setiap tahun para malaikat turun pada malam Lailatul Qadar. Pada zaman Nabi Muhammad saw, para malaikat turun kepada beliau. Lalu pada zaman setelah beliau saw, para malaikat turun kepada siapa?" Tidak setiap orang dapat menjadi tuan rumah bagi para malaikat. Orang itu harus seperti Nabi saw, maksum dan penanggung jawab urusan manusia. Dan itu tidak lain adalah Imam maksum, yang pada zaman kita adalah Imam Mandi as, yang setiap malam Lailatul Qadar para malaikat datang menemuinya.

Catatan Akhir:

[1] Wasail al-Syi'ah, jil.3, hal.307
[2] Bihar al-Anwar, jil.95, hal.169
[3] Bihar al-Anwar, jil.94, hal.10
[4] Tafsir Majma' Al-Bayan
[5] Wasail al-Syi'ah, jil.8, hal.20
[6] Man La Yahdhuruhu al-Faqih, jil.2, hal.158

Sumber: dikutip dari buku Ramadan bersama Al-Qur'an menata diri menuju yang maha suci, Mohsen Qira'ati, hal.103-110
Previous Post
Next Post

post written by:

0 komentar: