Jumat, 01 Juni 2018

Ramadhan Bersama Al-Qur'an, Menata Diri Menuju Yang Maha Suci Bag 5


Pentingnya Doa

 Allah SWT berfirman:

قُلْ مَا يَعْبَـؤُا بِكُمْ  رَبِّيْ لَوْلَا دُعَآ ؤُكُمْ ۚ  فَقَدْ كَذَّبْتُمْ فَسَوْفَ يَكُوْنُ لِزَامًا

"Katakanlah (Muhammad, kepada orang-orang musyrik), Tuhanku tidak akan mengindahkan kamu, kalau tidak karena doamu. (Tetapi bagaimana kamu berdoa kepada-Nya), padahal sungguh, kamu telah mendustakan-Nya? Karena itu, kelak (azab) pasti (menimpamu)." (QS. Al-Furqan [25]: 77)

Kata 'aba' berarti beban atau muatan, sedangkan kalimat ma ya'ba'u bikum Rabbi, berarti Allah tidak mengindahkanmu, kecuali ketika kamu berdoa atau beribadah.

Adapun arti dari kata du'a'ukum (doamu) ada dua, yaitu sebagai berikut: pertama berarti rintihan doa yang menyebabkan datangnya pertolongan Allah Swt. Dalam hadis dikatakan,

"Orang yang suka berdoa tidak akan binasa." [1]  Karena itu, kepada kelompok yang tidak suka berdoa dikatakan, kalian telah mendustakan kebenaran , dan sebagai ganti dari berdoa kalian malah pergi ke patung. Karena itu, kalian pasti akan mendapatkan siksa. Kedua, berarti seruan Allah kepada manusia. Karena sudah merupakan sunah Ilahi menyeru manusia kepada kebenaran dan menyempurnakan hujah atas mereka. Yang menjadikan manusia makhluk yang paling baik adalah karena mau menerima seruan Allah. Akan tetapi, karena kalian tidak mau menerima seruan Allah dan mendustakannya, tidak ada harapan kebaikan pada kalian dan kalian pasti akan mendapatkan azab.

Dalam satu ayat Allah Swt berfirman, Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah (kepada-Ku) (QS. al-Dzariyat [51]: 56). Di sini dikatakan bahwa manusia diciptakan untuk beribadah. Sementara itu, pada ayat di atas dikatakan, jika manusia tidak berdoa, dia tidak bernilai. Karena itu, dapat disimpulkan bahwa doa adalah rohnya ibadah.

Meskipun Allah Swt mengetahui segala sesuatu, namun berdoa tetap merupakan kewajiban kita. Berdoa di mana saja dan kapan saja itu bermanfaat. Karena Allah Swt berkata, fa inni qarib (sesungguhnya Aku dekat). Kalaupun terkadang kita mendapat siksa, itu karena kita jauh dari Allah Swt dan banyaknya dosa kita.

Perhatian Allah kepada Orang yang Berdoa

Allah SWT berfirman:

وَاِذَا  سَاَلَـكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ ۗ  اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad Saw) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh kebenaran." (QS. Al-Baqarah [2]:  186)

Begitu besarnya Allah mencintai orang yang berdoa, hingga dalam ayat ini tujuh kali Allah menyebut kata 'Aku', untuk menunjukkan perhatian-Nya kepada orang yang berdoa, "jika hamba-hamba-Ku bertanya tentang Aku, maka katakanlah kepada mereka, sesungguhnya Aku dekat kepada mereka, dan setiap kali mereka berdoa kepada-Ku maka Aku akan kabulkan doa mereka. Karena itu, berimanlah kepada-Ku dan penuhilah seruan-Ku. Hubungan yang dipenuhi kecintaan ini dapat berlangsung sekiranya manusia mau berdoa kepada Allah Swt."

Pertanyaan: Kenapa terkadang doa kita tidak dikabulkan?

Jawab: Dalam Tafsir al-Mizan dikatakan, "Dalam ayat ini Allah Swt berkata, Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Artinya, Aku akan kabulkan doa orang yang berdoa hanya kepada-Ku, dengan keikhlasan yang penuh dan doa orang yang meminta kebaikan kepada-Ku. Karena itu, jika doa kita tidak dikabulkan, itu bisa saja karena kita tidak meminta kebaikan kepada Allah Swt, tetapi justru yang kita minta adalah sesuatu yang buruk bagi kita. Namun, jika yang kita minta itu benar-benar sesuatu yang baik bagi kita, itu berarti kita tidak benar-benar ikh-las dalam meminta kepada Allah Swt, tetapi disertai juga dengan meminta kepada selain Allah Swt. Atau bisa juga pengabulan doa kita itu tidak sejalan dengan kemaslahatan kita, maka sebagai gantinya —seperti yang disebutkan dalam hadis— dijauhkan bala bencana dari kita, atau dijadikan sebagai tabungan bagi masa depan kita atau anak-cucu kita, atau akan diganti pada hari akhirat."

Di dalam kitab Ushul al-Kafi dikatakan, "Seseorang yang memakan makanan yang haram, atau tidak melakukan amar makruf dan nahi mungkar, atau berdoa dengan hati yang lalai dan malas, maka doanya tidak akan dikabulkan."

Doa bukan berarti meninggalkan usaha, tetapi berarti tawakal kepada Allah yang disertai dengan usaha. Karena itu, dalam hadis dikatakan, "Doa orang yang nganggur tidak akan dikabulkan."

Mungkin, diletakkannya ayat tentang doa di atas di antara ayat-ayat tentang puasa adalah karena adanya hubungan yang erat antara bulan Ramadan dengan doa.

Pertanyaan: Perbuatan Allah Swt didasarkan kepada faktor-faktor dan hukum-hukum permanen (sunatullah). Lantas, kalau begitu, apa peran doa di sini?

Jawab: Sebagaimana orang yang sedang dalam perjalanan mempunyai hukum salat dan puasa yang berbeda dengan orang yang tidak sedang dalam perjalanan (berada di kampung halamannya), begitu juga orang yang suka berdoa berbeda dengan orang yang tidak suka berdoa. Merupakan sunah Ilahi, perhatian (luthf) Allah menyertai orang yang berdoa. Dengan begitu, doa memperbesar kapasitas manusia untuk dapat memperoleh perhatian Allah Swt. Sebagaimana juga tawasul dan menziarahi para wall Allah, dapat mengubah keadaan manusia untuk dapat memperoleh perhatian Allah Swt yang lebih besar. Seperti, jika seorang anak bertamu bersama ayahnya, tentu dia akan mendapat perhatian yang lebih besar dari tuan rumah, dibandingkan jika dia bertamu sendirian. Dengan begitu, doa, ziarah dan tawasul dapat menyebabkan berubahnya keadaan, bukan menghancurkan hukum Allah yang pasti.

Adab dan Tata Cara Berdoa

Allah SWT berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْۤ اَسْتَجِبْ لَـكُمْ ۗ  اِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ

"Dan Tuhanmu berfirman, Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk ke Neraka Jahanam dalam keadaan hina dina." (QS. al-Mukmin [40]: 60)

Doa mempunyai serangkaian adab dan syarat, di antaranya sebagai berikut,

1. Doa harus disertai iman dan amal saleh. Allah Swt berfirman, Dan Dia memperkenankan doa orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh (QS. aI-Syura [42]: 26).

2. Dengan penuh keikhlasan. Allah Swt berfirman, Maka berdoalah kepada Allah dengan tulus ikhlas (QS. al-Mukmin [40]; 14)

3. Dengan penuh rendah hati dan suara perlahan. Allah Swt berfirman, Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut (QS. al-A'raf [7]: 55).

4. Dengan rasa cemas dan harap. Allah Swt berfirman, Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap (QS. al-A'raf [7]: 56).

5. Pada waktu-waktu khusus. Allah Swt berfirman, Orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari (QS. al-An'am [6]: 52).

6. Dalam berdoa, menggunakan nama-nama  Allah Swt. Allah Swt berfirman, Dan Allah mempunyai nama-nama yang terbaik, maka serulah Dia dengan nama-nama itu.

Sehubungan hal di atas, harus diketahui pula bahwa beberapa perbuatan, seperti dosa, berbuat zalim dan tidak memaafkan orang yang meminta maaf kepada kita akan menjadi penghalang dikabulkannya doa. Selain itu, dikabulkannya doa kita akan menyebabkan berantakannya hukum alam. Misalnya, seorang pelajar yang dalam ujian geografi salah dalam menjawab apakah yang lebih tinggi itu permukaan air laut atau gunung. Dia menjawab permukaan air laut lebih tinggi daripada gunung. Karena salah, dan supaya jawabannya benar, lalu dia memohon kepada Allah Swt supaya permukaan air laut dijadikan lebih tinggi dari pada gunung. Jelas Allah tidak akan mengabulkan permohonan seperti itu karena di samping Mahakuasa, Allah juga Maha bijaksana.

Alhasil, pemenuhan seruan harus dari kedua belah pihak. Maksudnya, jika manusia berharap doanya dipenuhi oleh Allah Swt, maka dia juga harus memenuhi seruan Allah Swt. Allah Swt berfirman,

Allah SWT berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَجِيْبُوْا لِلّٰهِ وَلِلرَّسُوْلِ اِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيْكُمْ ۚ

"Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul, apabila dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu." (QS. Al-Anfal [8]: 24)

Artinya, kapan saja Allah dan Rasul menyeru kamu kepada ajaran yang memberi kehidupan, penuhilah, supaya Allah juga memenuhi doamu.

Nama-Nama Allah yang Terbaik

Allah SWT berfirman:

وَلِلّٰهِ الْاَسْمَآءُ الْحُسْنٰى فَادْعُوْهُ بِهَا  ۖ  وَذَرُوا الَّذِيْنَ يُلْحِدُوْنَ فِيْۤ اَسْمَآئِهٖ  ۗ  سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ 

"Dan Allah memiliki Asmaul Husna (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaul Husna itu." (QS. Al-A'raf [7]: 180)

Meskipun semua nama Allah itu baik dan Allah mempunyai semua kesempurnaan, tetapi dalam hadis ditekankan 99 nama Allah, yang sekiranya seseorang berdoa dengan menyebut nama itu, doanya akan dikabulkan. Kesembilan puluh sembilan nama Allah itu adalah sebagai berikut,

Al-Rahman (Yang Maha Pengasih), al-Rahim (Yang Maha Penyayang), al-Malik (Maharaja), al-Quddus (Yang Mahasuci), al-Salam (Yang Mahasejahtera), al-Mukmin (Yang Maha Tepercaya), al-Muhaimin (Yang Maha Memelihara), al-Aziz (Yang Mahamulia), al-jabbar (Yang Mahakuasa), al-Syakur (Yang Maha Memiliki Kebesaran), al-Khaliq (Yang Maha Pencipta), al-Bari (Yang Maha Mengadakan), al-Mushawwir (Yang Maha Membentuk), al-Ghaffar (Yang Maha Pengampun), al-Qahhar (Yang Maha Memaksa), al-Wahhab (Yang Maha Pemberi), a!-Razzaq (Yang Maha Pemberi) al-Razzaq (Yang maha pemberi Rezeki), al-Fattah (Yang Maha Pembuka), al-Alim (Yang Maha Mengetahui), al-Qabidh (Yang Maha Menyempitkan), al-Basith (Yang Maha Melapangkan), al-Khafidh (Yang Maha Merendahkan), al-Rafi' (Yang Maha Meninggikan), al-Mu'izz (Yang Maha Memuliakan), al-Mudzill (Yang Maha Menghinakan), al-Sami' (Yang Maha Mendengar), al-Bashir (Yang Maha Melihat), al-Hukm (Yang Maha Memutuskan Hukum), al-'Adl (Yang Mahaadil), al-Lathif (Yang Mahalembut), al-Khabir (Yang Maha Mengetahui), al-Halim (Yang Maha Penyantun), al-Azhim (Yang Mahaagung), al-Ghafur (Yang Maha Pengampun), al-Syakur (Yang Maha Menerima Syukur), al-Aliy (Yang Mahatinggi), al-Kabir (Yang Mahabesar), al-Hafizh (Yang Maha Pemelihara), al-Muqit (Yang Maha Menjaga), al-Hasib (Yang Maha Membuat Perhitungan) al-Jalil (Yang Mahaluhur), al-Karim (Yang Mahamulia), al-Raqib (Yang Maha Mengawasi), al-Mujib (Yang Maha Memperkenankan Doa), al-Wasi' (Yang Mahaluas), al-Hakim (Yang Mahabijaksana), al-Wadud (Yang Maha Mencintai), al-Majid (Yang Mahamulia), al-Ba'its (Yang Maha Membangkitkan), al-Syahid (Yang Maha Menyaksikan), al-Haqq (Yang Mahabenar), al-Wakil (Yang Maha Mewakili), al-Qawiyy (Yang Mahakuat), al-Matin (Yang Mahakukuh), al-Waliyy (Yang Maha Melindungi), al-Hamid (Yang Mahaterpuji), al-Muhshi (Yang Maha Menghitung), al-Mubdi'u (Yang Maha MemuIai), al-Mu'id (Yang Maha Mengembalikan), al-Muhyi (Yang Maha Menghidupkan), al-Mumit (Yang Maha Mematikan), al-Hayy (Yang Mahahidup), al-Qayyum (Yang Maha Berdiri Sendiri), al-Wajid (Yang Maha Menemukan), al-Majid (Yang Mahamulia), al-Wahid (Yang Maha Tunggal), al-Ahad (Yang Maha Esa), al-Shamad (Yang Maha Dibutuhkan), al-Qadir (Yang Mahakuasa), al-Muqtadir (Yang Maha Berkuasa), al-Muqaddim (Yang Maha Mendahulukan), al-Muakhkhir (Yang Maha Mengakhirkan), al-Awwal (Yang Mahaawal), al-Akhir (Yang Mahaakhir), al-Zhahir (Yang Mahanyata), al-Bathin (Yang Maha Tersembunyi), al-Waliy (Yang Maha Memerintah), al-Muta'aliy (Yang Mahatinggi), al-Barr (Yang  Maha Dermawan), al-Tawwab (Yang Maha Penerima Tobat), al-Aliyy (Yang Maha Mengancam), al-Afuwwu (Yang Maha Memaafkan), al-Ra'uf (Yang Maha Pelimpah Kasih), Malik al-Mulk (Yang Maha Memiliki Kerajaan), Dzul Jalali wal Ikram (Yang Maha Memiliki Keluhuran dan Kemurahan), al-Muqsith (Yang Mahaadil), al-jami' (Yang Maha Mengumpulkan), al-Ghaniyy (Yang Mahakaya), al-Mughni (Yang Maha Pemberi Kekayaan), al-jaIil (Yang Maha Mencegah), al-Dharr (Yang Maha Pemberi Mudarat), al-Nafi' (Yang Maha Pemberi Manfaat), al-Nur (Yang Maha Memiliki Cahaya), al-Hadiy (Yang Maha Pemberi Hidayah), al-Badi' (Yang Maha Pencipta Pertama), al-Baqi (Yang Mahakekal), al-Warits (Yang Maha Mewarisi), al-Rasyid (Yang Maha Membimbing) dan al-Shabur (Yang Maha Penyabar). [2]

Dalam al-Quran terdapat 145  nama Allah, sedangkan jumlah 99 berasal dari hadis. Dalam arti bahwa sebagian nama dapat dimasukkan ke dalam nama yang lain, atau nama ini juga ada dalam al-Quran. Bukan berarti hanya terbatas sejumlah ini. Pada sebagian hadis dan doa, seperti Doa jausyan al-Kabir, di-terangkan juga nama-nama Allah yang lain. Sebagian dari nama-nama Allah itu mempunyai pengaruh, keberkahan dan keistimewaan tersendiri

Imam Ali Ridha as berkata, "Demi Allah! Kami Ahlulbait adalah nama-nama Allah yang terbaik, yang dengan tanpa mengenal kami, Allah tidak akan menerima amal seseorang." [3] Imam Ali Ridha as juga berkata, "Setiap kali engkau menghadapi kesulitan, maka mintalah pertolongan kepada Allah dengan perantaraan kami." Kemudian beliau as berkata, "Dan Allah mempunyai nama-nama yang terbaik, maka serulah Dia dengan nama-nama itu (QS. al-A'raf [7]: 180)."

Juga diriwayatkan bahwa Imam Ali Ridha as berkata, "Sesungguhnya Pencipta tidak dapat disifati, kecuali dengan sifat yang Dia Sendiri menggambarkan Dirinya." Artinya, kita tidak bisa memanggil Allah dengan nama yang kita berikan, seperti kita menamakan bahwa Dia 'Afif dan Syuja' [4]

Catatan Akhir

[1] Tauhid syekh shaduq, tafsir Majma' Al-Bayan dan tafsir Nur al-Tsaqalain
[2] tafsir itsna 'Asyar
[3] tafsir al-furqan

Sumber: Dikutip dari buku Ramadan bersama Al-Qur'an, menata diri menuju yang maha suci, Mohsen Qira'ati, hal.29-36
Previous Post
Next Post

post written by:

0 komentar: