Jumat, 01 Juni 2018

Ramadhan Bersama Al-Qur'an, Menata Diri Menuju Yang Maha Suci Bag 7


Amar Makruf Dan Nahi Mungkar

Allah SWT berfirman:

وَلْتَكُنْ  مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ  وَاُولٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

"Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Ali 'Imran [3]: 104)

Amar Makruf, yaitu menyuruh kepada kebaikan, sedangkan nahi mungkar adalah mencegah dari keburukan. Pelaksanaan dia kewajiban itu tidak mengenal batas usia. Karena Luqman telah berkata kepada anaknya, wahai anakku! Dirikanlah salat dan perintahkanlah yang makruf...

Perbuatan amar makruf adalah bukti kecintaan kepada agama, kecintaan kepada masyarakat dan kecintaan kepada keselamatan masyarakat, disamping juga menunjukkan kebebasan berekspresi, semangat beragama dan hubungan yang tulus di antara masyarakat. Selain itu juga, bukti adanya kesadaran fitrah, hadirnya pengawasan dan aktifnya masyarakat.

Amar makruf dan nahi mungkar akan menjadi motivasi bagi pelaku-pelaku kebaikan, pemberitahuan kepada orang-orang ha h tidak tahu, peringatan untuk menghindari pelanggaran, dan membentuk kedisiplinan masyarakat. Al-Qur'an berkata,

Allah SWT berfirman:

كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ  بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ

"Kalian orang-orang muslim  adalah umat terbaik. karena kalian menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran" (QS. Ali 'Imran [3]: 110)

Imam Ali as berkata " Amar makruf dan nahi mungkar adalah kemaslahatan umum " [1] dalam hadis yang lain juga dikatakan " orang yang tidak mencegah perbuatan yang mungkar, seperti orang yang membiarkan seseorang yang terluka ditengah jalan hingga mati " [2]

Rasulullah Saw, sebagaimana juga Nabi Daud as dan Nabi Isa as, melaknat orang yang tidak mau melakukan amar makruf dan nahi mungkar (QS. al-Maidah [5]: 78)

Kebangkitan imam Husein as adalah untuk amar makruf dan nahi mungkar " (dengan kebangkitan ini) aku ingin merintahkan yang makruf dan mencegah yang mungkar " [3]

Bersikap diam dan tidak peduli terhadap perbuatan dosa akan menyebabkan perbuatan dosa menjadi biasa, dan pelaku dosa menjadi berani, dan itu akan menjadikan kita sedih, setan senang dan Allah murka pada kita. Al-Qur'an berkata, jika dalam satu pertemuan ayat-ayat Allah dilecehkan, sebagai protes, kalian harus meninggalkan pertemuan itu, supaya pembicaraan berubah. Jika kita mengajak seseorang melakukan perbuatan yang baik, kita pun memperoleh pahala perbuatan baik itu. Akan tetapi, jika kita bersikap diam di depan kerusakan, penyimpangan dan kesesatan, secara perlahan kerusakan akan bertambah besar dan orang-orang yang rusak dan merusak akan berkuasa atas masyarakat. Orang muslim harus merasa tidak suka di dalam hati terhadap perbuatan dosa, juga melarangnya dengan lidah dan mencegahnya dengan menggunakan kekuatan dan hukum.

Amar makruf dan nahi mungkar adalah dua kewajiban dari Allah Swt. Terkadang timbul sangkaan sangkaan salah, seperti berikut: Dosa orang lain tidak ada hubungannya dengan kita, dengan amar makruf dan nahi mungkar, kita telah mencabut kebebasan masyarakat, saya penakut, tidak mungkin menjadi musim semi hanya dengan satu bunga, biarkan Isa dengan agamanya dan Musa dengan agamanya, kita kan tidak akan dikuburkan dalam liang lahat yang sama, teman-teman dan pelanggan kami akan lari, masih ada yang lain, mengapa kami yang harus melakukan amar makruf dan nahi, dan sangkaan sangkaan lainnya. Sangkaan sangkaan itu tidak akan melepaskan kewajiban amar makruf dan nahi mungkar dari pundak kita.

Tata cara dan syarat-syaratnya

Amar Makruf Dan Nahi Mungkar harus dilakukan dengan cerdas, penuh kasih dan sedapat mungkin dilakukan dengan diam-diam. Terkadang kita sendiri yang harus mengatakannya, dan ketika kita tahu perkataan kita tidak akan dideng, kewajiban kita tetep tidak gugur, kita harus meminta orang lain untuk mengatakan kepada mereka. Meski yang kita lakukan hanya. Isa mencegah kemungkaran untuk sesaat, tetap kita harus melakukannya. Dan kalaupun untuk memperoleh keberhasilan harus dilakukan berkali-kali, kita harus melakukannya dengan berkali-kali.

Perbuatan amar makruf dan nahi, dapat dilakukan dalam dua bentuk, yaitu sebagai berikut,

1. Sebagai kewajiban umum, yaitu setiap orang harus melakukannya hingga sebatas kemampuannya

2. Sebagai kewajiban sebuah lembaga atau institusi yang mengurusinya, dengan wewenang yang dimilikinya, seperti berikut ini. Jika di jalan raya seorang sopir menjalankan kendaraannya dengan sembr, sopir-sopir yang lain harus memperingatkan nya dengan lampu sein dan kelak, dan polisi harus turun ke jalan untuk dengan tegas menindak pelanggaran.

Amar Makruf Dan Nahi Mungkar, Bukti Umat Terbaik

Allah SWT berfirman:

كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ  بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ ۗ

"Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah" (QS. Ali 'Imran [3]: 110)

Dalam ayat di atas disinggung tingkatan umum amar makruf dan nahi mungkar, yang mempunyai syarat-syarat dan poin-poin sebagai berikut,

1. Kedudukan sebagai umat terbaik diperoleh bukan dengan slogan, tetapi dengan imam dan melakukan amar makruf dan nahi mungkar. Hal itu dapat dilihat dari firman Allah Swt, Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar.

2. Ditengah umat tidak boleh ada sikap diam dan takut. Hal itu dapat dilihat dari penggalan ayat, Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar

3. Begitu pentingnya perbuatan amar makruf dan nahi mungkar sehingga pelaksanaannya menjadi ukuran untuk menjadi umat terbaik. Hal itu dapat dipahami dari penggalan ayat, Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik

4. amar makruf dan nahi mungkar dapat terlaksana jika kaum muslim menjadi satu umat, yaitu mempunyai kekuasaan. Hal itu dapat dipahami dari penggalan, Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik

5. Kaum muslim adalah penanggung jawab perbaikan seluruh masyarakat manusia. Hal itu dapat dipahami dari penggalan ayat, umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia

6. Memerintahkan kebaikan dengan tidak disertai memerangi kerusakan, sedikit hasilnya. Hal ini dapat dipahami dari penggalan ayat, kamu menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar

7. Setiap anggota masyarakat harus melakukan amar makruf dan nahi mungkar (anak wanita berumur sembilan tahun juga punya kewajiban melakukan amar makruf dan nahi mungkar terhadap presiden)

8. Kewajiban melakukan amar makruf, tidak mengenal batasan umur, daerah tempat tinggal, etnis, keilmuan, kedudukan ekonomi dan kedudukan sosial. Hal itu dapat dipahami dari penggalan ayat, Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar

9. Kaum muslim harus melakukan amar makruf dan nahi mungkar dari posisi kuat, bukan posisi lemah, dan memohon. Hal itu dapat dipahami dari penggalan ayat, kamu menyuruh

10. Amar Makruf harus lebih dulu dari nahi mungkar. Ini dapat dipahami dari penggalan ayat, kamu menyuruh yang makruf dan mencegah yang mungkar

11. Perbuatan amar makruf dan nahi mungkar akan memberikan efek jika bersumber dari iman. Hal itu dapat dipahami dari penggalan ayat, kamu menyuruh yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar

Efek dan berkah amar makruf dan nahi mungkar

Berikut ini kami jelaskan efek dan berkah dari perbuatan amar makruf dan nahi mungkar, meskipun efeknya tidak terlihat saat itu juga,

1. Mungkin saja amar makruf dan nahi mungkar yang kita lakukan tidak memberikan efek langsung saat itu, tetapi mempunyai pengaruh pada sejarah, fitrah dan penilaian orang lain. Imam Husein as yang mati syahid di jalan amar makruf dan nahi mungkar merupakan salah satu contoh untuk itu, yaitu kesyahidannya dapat menyadarkan nurani manusia sepanjang sejarah

2. Terkadang amar makruf dan nahi mungkar dapat menjaga suasana penghormatan hukum. Sebagimana teriak azan berguna meski tidak ada yang mendengarkan, begitu berhenti ketika lampu merah bagi pejalan kaki menyala meski tidak ada mobil. Hal itu dilakukan karena menjaga hukum dan suasana penghormatan hukum itu merupakan suatu keharusan

3. Bisa saja pelaku dosa tidak dapat dicegah dari perbuatan dosanya. Akan tetapi, perkataan yang disampaikan terus dapat menghilangkan kelezatan perbuatan dosanya sehingga paling tidak dia tidak merasa nyaman dalam berbuat dosa, hingga suatu hari nanti nuraninya sadar dan dia pun meninggalkan dosanya. Dengan begitu, amar makruf dan nahi memberikan efek

4. Untuk menjaga kebebasan, perlu dilakukan amar makruf dan nahi mungkar karena jika tidak ada suara yang menyuarakan amar makruf dan nahi mungkar, masyarakat akan berubah menjadi masyarakat yang tidak acuh dan penakut

5. Amar Makruf nahi mungkar dan sendiri adalah suatu yang baik bagi seseorang. Meski orang lain tidak mendengarkan. Allah Swt berfirman, Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah (QS. Fushshilat [41]: 33)

6. Meski tidak memberi pengaruh kepada orang , setidaknya kita telah melakukan taqarrub (pendekatan) kepada Allah Swt, belajar menyampaikan, belajar berani dan menampakkan komitmen

7. Ketika datang azab Allah, orang yang melakukan amar makruf dan nahi mungkar akan selamat

8. Melakukan amar makruf dan nahi mungkar akan menentramkan nurani seseorang. seseorang akan berkata kepada dirinya, saya telah melaksanakan kewajiban saya. Ketentraman nurani itu mempunyai nilai, meskipun orang lain tidak mendengarkan

Amar Makruf nahi mungkar adalah perbuatan para nabi, meskipun orang lain tidak mendengarkan. Al-Qur'an berkali-kali mengatakan, mereka tidak mendengarkan perkataan dan bimbingan para nabi, dan memalingkan wajah dari mereka. Mereka (para nabi) mati syahid di jalan kewajiban amar makruf dan nahi mungkar, supaya kebenaran tidak lenyap dan Tidka terhapus dari muka bumi.

Catatan Akhir

[1] Nahj al-Balaghah, hikmah ke-252
[2] Kanz al-Ummal, jilid.3, hal.170
[3] Bihar al-Anwar, jilid.44, hal.328

Sumber: dikutip dari buku Ramadan bersama Al-Qur'an, menata diri menuju yang maha suci, Mohsen Qira'ati, hal.43-49
Previous Post
Next Post

post written by:

0 komentar: