Sabtu, 02 Juni 2018

Ramadhan Bersama Al-Qur'an, Menata Diri Menuju Yang Maha Suci Bag 10


Dua kewajiban yang terlupakan

Allah SWT berfirman:

اِنَّمَا الصَّدَقٰتُ لِلْفُقَرَآءِ  وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْعٰمِلِيْنَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّـفَةِ قُلُوْبُهُمْ وَفِى  الرِّقَابِ وَالْغٰرِمِيْنَ وَفِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَابْنِ السَّبِيْلِ ۗ  فَرِيْضَةً  مِّنَ اللّٰهِ ۗ  وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ

"Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, yang dilunakkan hatinya (mualaf), untuk (memerdekakan) hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang yang berutang, untuk jalan Allah, dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana." (QS. At-Taubah [9]: 60)

Hukum zakat turun di kota Mekkah. Namun karena ketika itu jumlah kaum muslim masih sedikit dan harta zakat juga sedikit, maka masyarakat sendiri yang menyalurkannya. Akan tetapi, setelah terbentuknya pemerintahan Islam di Madinah, pengambilan zakat dari masyarakat dan penyetorannya ke baitulmal (kas negara) serta pemusatannya, dilakukan oleh penguasa Islam, Allah Swt berfirman, Ambillah zakat dari harta mereka (QS. al- Taubah [9]: 103).

Zakat bukan hanya ada di agama Islam. Dalam agama-agama sebelumnya juga ada. Nabi Isa as ketika berada dalam buaian berkata,

وَاَوْصٰنِيْ بِالصَّلٰوةِ وَالزَّكٰوةِ مَا دُمْتُ حَيًّا   

Dan Dia berpesan kepadaku untuk mengerjakan salat dan menunaikan zakat selama aku hidup. (QS. Maryam [19]: 31)

Nabi Musa as berkata kepada Bani Israil, Dirikanlah salat dan tunaikanlah zakat (QS. al-Baqarah [2]: 34). Berkenaan dengan para nabi secara umum, dalam al-Quran dikatakan,

وَجَعَلْنٰهُمْ اَئِمَّةً يَّهْدُوْنَ بِاَمْرِنَا وَاَوْحَيْنَاۤ اِلَيْهِمْ فِعْلَ  الْخَيْرٰتِ وَاِقَامَ الصَّلٰوةِ وَاِيْتَآءَ الزَّكٰوةِ

Dan Kami menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan Kami wahyukan kepada mereka agar berbuat kebaikan, melaksanakan salat dan menunaikan zakat. (QS. al-Anbiya [21]: 73)

Dalam al-Quran, ada empat ungkapan yang digunakan untuk menyebut zakat, yaitu sebagai berikut,

1. Memberikan harta, Dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat dekat (QS. al-Baqarah [2]: 177).

2. Sedekah, Ambillah sedekah (zakat) dari harta mereka (QS. al-Taubah [9]: 103).

3. Infak, Mereka mendirikan salat dan mengeluarkan infak (zakat).

4. Zakat, Mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat.

Pentingnya Zakat

Dalam al-Quran, zakat biasanya disebutkan berbarengan dengan salat. Tidak ada satu pun kewajiban agama yang disebut berbarengan sedemikian rupa dengan salat. Menurut hadis bahwa syarat dikabulkannya  salat adalah mengeluarkan zakat. lni memberi pesan supaya terjalinnya hubungan dengan Allah dan hubungan dengan manusia.

Zakat haram bagi kalangan Sayid. Sekelompok dari kalangan Bani Hasyim meminta kepada Rasulullah saw untuk menjadi petugas pengumpul zakat binatang ternak sehingga dengan begitu mereka akan mendapat bagian sebagai amil zakat. Menjawab hal itu, Rasulullah saw bersabda kepada mereka, "Zakat haram bagiku dan bagimu, kecuali jika yang memberi dan yang menerima kedua-duanya adalah Sayid."

Hukum zakat bukan berarti bahwa Islam cenderung kepada adanya kelompok masyarakat fakir penerima zakat dan kelompok masyarakat kaya pemberi zakat. Akan tetapi, merupakan satu jalan keluar bagi realitas masaiah yang ada di masyarakat. Orang  kaya  pun terkadang  mengalami pencurian, kebakaran, tabrakan, peperangan dan menjadi tawanan, yang menurut sistem Islam mereka harus mendapat bantuan dari kas negara.

Dalam hadis-hadis dikatakan, "Allah Swt menetapkan bahwa pada harta orang kaya terdapat hak orang miskin." Jika masyarakat  memberikan hak-hak orang miskin tentu semua lapisan masyarakat mempunyai kehidupan yang baik. Jika orang-orang kaya membayar zakat, tidak akan ada lagi orang miskin. [1]

Berbeda dengan sebagian paham yang menghalangi dan membatasi bertambahnya pendapatan individu, Islam mempunyai keyakinan memberikan kebebasan relatif kepada manusia. Oleh karena itu, dengan usaha dan kreativitasnya itu, kekayaannya bertambah, tetapi dia harus membayar zakat.

Fakir bukan syarat penggunaan zakat pada fi sabilillah (untuk jalan Allah), tetapi digunakan pada segala hal yang akan membantu tetap tegaknya sistem Islam. Untuk menyelamat-kan masyarakat dari kejahatan orang-orang yang buruk, dapat menggunakan zakat, dan ini termasuk kelompok wal mu'allafatu qulubuhum (orang yang dilunakkan hatinya). Jika seseorang harus membayar denda yang tidak sanggup dia bayar, kita dapat membantunya dengan zakat, dan ini termasuk kelompok wal gharimin (orang yang pailit). Mungkin ungkapan wa firriqab (untuk memerdekakan hamba sahaya) termasuk juga penggunaan zakat untuk membebaskan para tawanan, sekaligus untuk memenuhi kebutuhan pengeluaran mereka. Pembagian zakat kepada delapan kelompok di atas tidak harus sama, tetapi berdasarkan pengawasan penguasa Islam dapat dibagi sesuai kebutuhan.

Zakat merupakan faktor penyeimbang kekayaan. Zakat adalah suatu bentuk rasa syukur terhadap pemberian Allah Swt. Zakat menghidupkan semangat kedermawanan dan kasih sayang pada diri manusia dan mengurangi kecintaan kepada dunia dan keterikatan kepada materi. Zakat adalah jaring pengaman sosial bagi orang-orang miskin. Zakat berkata kepada orang miskin," Jangan sedih." Kepada orang yang putus pengharapan berkata. "Semangat dan kembali berusaha! Kepada orang yang dalam perjalanan, "Jangan takut untuk terus melanjutkan perjalanan." Kepada karyawan berkata, "Jangan khawatir bagian kamu terjaga," Memberi harapan pembebasan kepada hamba sahaya dan membuat orang di luar Islam cenderung kepada Islam.

Zakat adalah obat bagi penyakit lalai kepada Allah, penyakit keras hati, penyakit suka kehidupan hedonis dan penyakit menumpuk-numpuk harta.

Zakat, di samping dapat membantu mengurangi kemiskinan, juga dapat menumbuhkan kecenderungan kepada Islam, atau setidaknya dapat mencegah orang-orang untuk mau bekerja sama dengan musuh-musuh Islam. Sebagaimana dalam hadis dikatakan, terkadang seorang yang lemah imannya, dengan bantuan keuangan dan dekat dengan Islam, imannya menjadi kuat.

Zakat yang merupakan cerminan dari sistem Islam, adalah alat untuk menc iptakan keadilan sosial, mengurangi kemiskinan, jaminan bagi para karyawan, menumbuhkan kecintaan antarkomunitas dunia, membebaskan hamba sahaya dan orang yang berada dalam tawanan, menggerakkan energi masyarakat, menjaga keyakinan dan eksistensi kaum muslim, dan menyebarkan pelayanan sosial.

Khumus

Sesuai hadis dan keyakinan Syi'ah, bahwa ayat 41, surah al-Anfal mencakup seluruh pendapatan, baik pendapatan dari perolehan, bekerja dan berdagang. Dalam ayat ini satu tempat kewajiban khumus dijelaskan, sementara tempat-tempat kewajiban khumus lain-nya dijelaskan dalam hadis-hadis. Al-Quran berkata,

وَاعْلَمُوْۤا اَنَّمَا غَنِمْتُمْ مِّنْ شَيْءٍ فَاَنَّ لِلّٰهِ خُمُسَهٗ

Dan ketahuilah, sesungguhnya segala yang kamu peroleh sebagai pampasan perang maka seperlimanya untuk Allah. (QS. al-Anfal [8]: 41)

Dalam hadis-hadis, khumus mendapat perhatian yang sangat besar. Salah satu hadis mengatakan, "Barangsiapa yang belum mengeluarkan khumus hartanya, hartanya tidak halal dan dia tidak boleh menggunakannya, serta salat dengan pakaian yang belum dikeluarkan khumusnya maka salatnya bermasalah." [2]

Para fukaha mengatakan bahwa khumus wajib dikeluarkan pada tujuh barang, (1) keuntungan usaha dan pendapatan tahunan, (2) harta terpendam, (3) barang tambang, (4) mutiara yang diperoleh penyelam, (5) harta halal yang bercampur dengan harta haram, (6) tanah yang dibeli oleh kafir zimmi dan (7) harta pampasan perang. [3]

Jelas, Allah tidak membutuhkan khumus, karena itu, bagian Allah digunakan untuk berkuasanya hukum Allah, kepemimpinan Rasulullah, untuk menyampaikan seruan Islam ke seluruh dunia, untuk membebaskan orang-orang tertindas dan untuk mencegah berkuasanya orang-orang yang melakukan kerusakan.

Berdasarkan hadis, bagian Allah diserahkan kepada Rasulullah Saw dan saham Rasulullah Saw sepeninggal beliau diserahkan kepada imam. Ketiga bagian ini ( yaitu Allah, Rasul dan imam ) pada masa ghaib nya imam zaman as diserahkan kepada wakil khusus lalu wakil umum imam, yaitu para Mujtahid yang memenuhi persyaratan dan para marji' [4]

Dalam hadis dijelaskan, bahwa di antara tempat pengeluaran khumus lainnya adalah orang miskin dari kalangan Sayid Bani Hasyim. Karena menerima zakat itu Karam bagi kalangan Sayid, kebutuhan mereka disediakan dari khumus [5] Alhasil, untuk mengatasi kemiskinan sosial, Islam telah mewajibkan dua hal: Pertama, zakat yang terkait dengan seluruh orang miskin yang ada di masyarakat. Kedua, khumus yang sebagiannya khusus terkait dengan orang miskin dari kalangan Sayid. Serta zakat dan khumus diberikan kepada orang miskin seukuran satu tahun kebutuhan mereka, tidak boleh lebih.

Catatan Akhir

[1] Wasail al-Syi'ah jilid 6 hal.4
[2] kitab-e khums
[3] tafsir al-Shafi
[4] tafsir-e Namuneh
[5] Wasail al-Syi'ah jilid 6, kitab khumus

Sumber: dikutip dari buku Ramadan bersama Al-Qur'an menata diri menuju yang maha suci, Mohsen Qira'ati, hal.63-68
Previous Post
Next Post

post written by:

0 komentar: