Minggu, 03 Juni 2018

Ramadhan Bersama Al-Qur'an, Menata Diri Menuju Yang Maha Suci Bag 15


Hijrah

Hijrah untuk mengetahui agama

Allah SWT berfirman:

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُوْنَ لِيَنْفِرُوْا كَآ فَّةً   ۗ  فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌ لِّيَـتَفَقَّهُوْا فِى الدِّيْنِ وَ لِيُنْذِرُوْا قَوْمَهُمْ اِذَا رَجَعُوْۤا اِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُوْنَ

"Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya jika mereka telah kembali agar mereka dapat menjaga dirinya." (QS. At-Taubah [9]: 122)

Mendalami agama adalah berusaha memperoleh pengetahuan mendalam tentang agama, keyakinan dan hukum-hukum Islam. Bisa jadi, seseorang mendalami agama dengan tujuan untuk dunia, kedudukan, kesenangan belajar dan meneliti, mencari kesibukan, atau supaya tidak tertinggal dari teman. Bisa juga dengan tujuan semata-mata untuk agama, Tuhan dan menyela-matkan umat. Tujuan yang kedua itulah yang bernilai, yaitu untuk memberi peringatan kepada masyarakat dan menyeru mereka ke jalan Tuhan, untuk memberi peringatan kepada kaumnya.

Imam Ali as berpesan kepada putranya, "Perdalamlah agama karena para fukaha (orang yang mengetahui agama secara mendalam) adalah pewaris para nabi." [1] Pada malam Asyura, Imam Husain as dalam pujiannya kepada Allah Swt mengatakan, "Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kami memahami agama."" [2]

Imam Shadiq as ditanya, "Jika terjadi sesuatu pada Imam, apa kewajiban masyarakat?' Imam Shadiq membacakan ayat di atas, lalu berkata, 'Dari setiap kota harus ada sekelompok orang yang  bergerak untuk mengenal Imam.'' [3] Dari setiap negeri harus ada sekelompok orang yang pergi ke pusat-pusat ilmu untuk mengetahui Islam. Setelah itu, mereka kembali ke negeri masing-masing sehingga di setiap negeri ada ulama dalam jumlah yang cukup.

Hijrah adalah tuntutan iman. Baik Anda berhijrah untuk membela agama atau untuk mendalami agama. Karena itu, mendalami agama, lalu kemudian mengajarkan agama kepada masyarakat, terutama masyarakat yang ada di negerinya, hukumnya adalah wajib kifayah. Karena itu, bagi para pelajar hawzah dituntut melakukan dua hijrah: pertama, hijrah ke hawzah, dan kedua hijrah dari hawzah ke berbagai kota. Karena itu, tidak dibolehkan para ustaz tetap tinggal di hawzah.

Mendalami agama bukan hanya sebatas mempelajari hukum-hukum agama (fikih), tetapi mempelajari seluruh pengetahuan agama yang diperlukan. Pemahaman itu dapat disimpulkan dari penggalan ayat, untuk memperdalam pengetahuan agama. Memahami agama secara mendalam, baru bernilai manakala seorang fakih mengetahui kondisi zaman dan jalan-jalan yang digunakan oleh musuh untuk melakukan penyimpangan. Pemahaman itu dapat disimpulkan dari penggalan ayat, untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan.

Para ulama harus mendatangi masyarakat dan tidak boleh menunggu undangan mereka. Pemahaman itu dapat disimpulkan dari penggalan ayat, apabila mereka telah kembali kepada kaumnya.  Para ulama jangan mengharapkan ketaatan mutlak semua masyarakat karena pasti ada sekelompok orang yang tidak mau menerima agama Allah Swt. Pemahaman itu dapat disimpul-kan dari penggalan ayat, agar mereka dapat menjaga dirinya (dari dosa).

Hijrah Nabi saw Yang Bersejarah

Allah SWT berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَهَاجَرُوْا وَجَاهَدُوْا بِاَمْوَالِهِمْ وَاَنْفُسِهِمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَالَّذِيْنَ اٰوَوْا وَّنَصَرُوْۤا اُولٰٓئِكَ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَآءُ بَعْضٍ ۗ  وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَلَمْ يُهَاجِرُوْا مَا لَـكُمْ مِّنْ وَّلَايَتِهِمْ مِّنْ شَيْءٍ حَتّٰى يُهَاجِرُوْا 

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada Muhajirin), mereka itu satu sama lain saling melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikit pun bagimu melindungi mereka, sampai mereka berhijrah." (QS. Al-Anfal [8]: 72)

Pada tahun ke-13 dari diangkatnya Nabi saw sebagai Rasul Allah (mab'ats) dan setelah sepuluh tahun dakwah Nabi saw secara terang-terangan, kaum musyrik Mekkah masih belum melepaskan gangguannya kepada Nabi saw dan kaum muslim. Bahkan, hari demi hari gangguan dari mereka semakin bertambah keras hingga mereka mengambil keputusan untuk melakukan makar yang terencana guna membunuh Nabi saw dan dan menghapus Islam sama sekali dari bumi Mekkah.

Nabi saw mengetahui rencana makar itu, lalu pada malam hari dengan pengorbanan Ali as dipersiapkanlah sarana untukhijrah. Pada awal bulan Rabiul Awal, pertama-tama Nabi saw pergi ke Gua Tsur. Di sana beliau bersumbunyi selama tiga hari. Dalam rentang waktu tiga hari itu, Imam Ali as yang menyediakan makanan bagi Rasulullah saw dan membawakan kabar berita di luar gua kepada beliau saw. Hingga akhirnya, setelah berpesan kepada Imam Ali supaya mengumumkan kepada kaum muslim untuk hijrah ke Yatsrib dan untuk membawa bersamanya Ahlulbait Nabi, maka Rasulullah saw pun berangkat ke kota Yatsrib. Setelah menempuh perjalanan sejauh 400 km, pada hari ke-12 Rabiul Awal Rasulullah saw pun tiba di Quba. Lalu sebagian kaum muslim yang berhijrah pun bergabung bersama beliau saw di sana.

Penduduk Yatsrib menyambut hangat kedatangan kaum Muhajirin, lalu mengubah nama Yastrib menjadi Kota Nabi (Madinah al-Nabi) atau kota Rasul (Madinah Al-Rasul). Kemudian untuk menghindari perpecahan, Nabi saw mempersaudarakan kalangan Muhajirin dan Anshar yang berjumiah kurang lebih 300 orang, Nabi saw mengikat persaudaraan di antara dua orang dari mereka dan membangun Masjid Quba. Kalangan Muhajirin adalah orang yang beriman kepada Nabi saw ketika masih di Mekkah. Karena di Mekkah mendapat tekanan, akhirnya mereka meninggalkan rumah mereka dan berhijrah ke Madinah bersama Nabi saw. Sementara itu, kalangan Anshar adalah kaum muslim penduduk asli Madinah yang membantu dan memberi tempat kepada Nabi saw dan kaum Muhajirin.

Pada umumnya, bangsa-bangsa menjadikan peristiwa paling penting dalam kehidupan sosial, keilmuan dan agama mereka sebagai permulaan sejarah mereka. Sebagai contoh, hari lahir Nabi Isa al-Masih bagi kalangan orang-orang Kristen atau Tahun Gajah (tahun ketika pasukan Abrahah menyerang kota Mekkah dan kemudian hancur) bagi kalangan bansa arab. Karena agama samawi paling sempuma dan mandiri dari agama-agama lain, kaum muslim tidak menjadikan hari lahir Nabi Muhammad saw sebagai permulaan tahun mereka, begitu juga Tahun Gajah, meskipun Nabi Muhammad saw lahir pada tahun itu. Namun, dengan hijrahnya Nabi saw ke Madinah sehingga mempunyai pemerintahan yang merdeka di sana, dan kaum muslim dapat bebas beraktivitas di sana, Nabi Muhammad saw secara langsung menetapkan tahun hijrah sebagai permulaan kalender bagi kaum muslim. Sebagaimana makna itu dapat disimpulkan dari ungkapan sejak hari pertama dalam ayat, Sungguh, masjid yang didirikan atas dasar takwa, sejak hari pertama adalah lebih pantas engkau melaksanakan salat di dalamnya (QS. al-Taubah [9]: 108), yang sedang berbicara tentang dibangunnya Masjid Quba, yang menjadi permulaan tahun Hijriyah, Karena yang pertama dilakukan Nabi Muhammad saw ketika hijrah ke Madinah adalah membangun Masjid Quba. Sekiranya tidak ada hijrah, mungkin Islam hanya ada di Mekkah dan mungkin juga sirna.

Pada permulaan Islam telah dilakukan dua hijrah. Pertama, pada tahun kelima kenabian, sekelompok kaum muslim hijrah ke negeri Habasyah, lalu pada tahun ke-13 kenabian, kaum muslim hijrah dari Mekkah ke Madinah.

Efek dan Berkah Hijrah

Sebagian besar bencana yang menimpa kita disebabkan oleh tenggelamnya manusia dalam kehidupan nyaman dan meninggalkan hijrah yang membangun. Jika seluruh cendekiawan dan para ahli kaum muslim yang tinggal di negeri Barat, mau hijrah ke nege-ri mereka maka itu akan menjadi pukulan bagi musuh Islam dan sekaligus memperkuat Islam dan negeri-negeri Islam.

Hijrah bukan hanya khusus untuk Nabi Muhammad saw. Diperlukan juga hijrah dari lingkungan syirik, kekufuran dan dosa, untuk menjaga iman dan agama, atau untuk kembali dari ketidaktaatan kepada Allah Swt. Sebagaimana kepada orang-orang yang menyatakan bahwa berlumurnya diri mereka dengan dosa disebabkan lingkungan yang tidak baik dan mengatakan, kami orang-orang yang tertindas, Allah Swt berkata, Mereka (para malaikat) bertanya, "Bukankah bumi Allah itu luas sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?" (QS. al-Nisa [4]: 97). Namun, dengan memerhatikan kata mustadh'afin (orang-orang yang tertindas), dapat diketahui jika kita mempunyai kemampuan untuk melakukan amar makruf dan nahi mungkar, kita harus melakukannya dan tidak boleh meninggalkan masyarakat tersebut untuk memperbaiki mereka.

Imam Shadiq as berkata, "Ketika di tempat engkau tinggal masyarakat melakukan maksiat kepada Allah, hendaknya engkau berhijrah ke tempat lain." [4] Begitu juga, hijrah untuk belajar dan hijrah untuk mengajarkan ilmu-ilmu yang diperoleh kepada orang lain juga penting (QS. al-Taubah [9]: 122)

Catatan Akhir

[1] Bihar al-Anwar, jil.1, hal.216
[2] Mawsu'ah Kalimat al-aimam
[3] Tafsir Nur al-Tsaqalain
[4] Bihar al-Anwar, jil.19, hal.35

Sumber: dikutip dari buku Ramadan bersama Al-Qur'an menata diri menuju yang maha suci, Mohsen Qira'ati, hal.97-102
Previous Post
Next Post

post written by:

0 komentar: