Minggu, 03 Juni 2018

Ramadhan Bersama Al-Qur'an, Menata Diri Menuju Yang Maha Suci Bag 19


Mencintai Ahlulbait

Upah Risalah

Allah SWT berfirman:

 قُلْ لَّاۤ اَسْئَـــلُـكُمْ عَلَيْهِ اَجْرًا اِلَّا الْمَوَدَّةَ فِى الْقُرْبٰى ۗ  وَمَنْ يَّقْتَرِفْ حَسَنَةً نَّزِدْ لَهٗ فِيْهَا حُسْنًا   ۗ  اِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ شَكُوْرٌ


"Katakanlah (Muhammad), Aku tidak meminta kepadamu sesuatu imbalan pun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan. Dan barang siapa mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan kebaikan baginya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Mensyukuri." (QS. Asy-Syura [42]: 23)

Berulang kali di dalam al-Quran disebutkan bahwa para nabi tidak meminta upah kepada masyarakat. Dalam surah al-Syu'ara, ayat 100 hingga 180 perkataan itu disebut berulang-ulang dari mulut para nabi yang berbeda. Rasulullah saw juga tidak meminta upah materi kepada masyarakat, tetapi dua kali disisi Allah dengan kata qul (katakanlah) diperintahkan untuk meminta upah maknawi kepada masyarakat, yang manfaatnya kembali kepada mereka.

Upah maknawi ini dinyatakan dengan menggunakan dua ungkapan. Sekali waktu dengan mengatakan, aku tidak meminta upah apa pun , kecuali aku ingin setiap orang memilih jalan Allah, Aku tidak meminta upah apa pun atas risalah yang aku sampaikan kecuali mengharapkan agar orang-orang mengambil jalan kepada Tuhan (QS. al-Furqan [25]: 57). Di waktu lain dengan mengatakan, Aku tidak meminta kepadamu upah apa pun atas risalahku kecuali kecintaan kalian kepada keluarga dekatku. Sementara di dalam surah Saba, ayat 47 dikatakan bahwa manfaat permintaan Nabi saw untuk mencintai keluarganya adalah untuk kepentingan ma-syarakat sendiri,


قُلْ مَا سَاَ لْـتُكُمْ مِّنْ اَجْرٍ فَهُوَ لَـكُمْ  ۗ  اِنْ اَجْرِيَ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ   ۚ  وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيْدٌ

"Katakanlah (Muhammad), upah apa pun yang aku minta kepadamu, maka itu untuk kamu. Upahku hanyalah dari Allah, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. Saba' 34: Ayat 47)

Karena itu, Nabi Muhammad saw mengumumkan, aku meminta upah kepada kalian dan mengatakan bahwa kalian harus mencintai keluargaku, sesungguhnya keuntungan upah itu kembali kepada kalian, fahuwa lakum (maka itu untuk kalian). Penyebabnya yaitu bahwa ketika orang yang mencintai Ahlulbait Nabi saw tentu dia akan mengikutinya dan orang yang mengikuti Ahlulbait Nabi maka dia mengikuti jalan Allah Swt, illa man sya'a ayyat takhidza ila rabbihi sabila (kecuali mengharapkan agar orang-orang mengambil jalan kepada Tuhan). Seperti guru yang berkata kepada murid-muridnya, saya tidak meminta upah kepada kalian, kecuali kalian benar-benar belajar. Artinya, manfaatnya kembali kepada murid-murid tersebut. Karena itu, upah risalah ada dua hal, yaitu pertama mengikuti jalan Allah dan kedua mencintai keluarga Nabi saw. Yang menarik pada dua ungkapan di atas sama-sama menggunakan kata illa (kecuali), yang berarti upah saya hanya ini.

Dengan sedikit berpikir saja kita dapat memahami bahwa jalan Allah dan mencintai Ahlulbait itu satu. Mengapa demikian? Jika dua, maka akan terjadi tanaqudh (pertentangan). Artinya, kita tidak mungkin mengatakan, "Saya hanya belajar pada musim panas" sementara di lain waktu kita mengatakan, "Saya hanya
belajar pada musim dingin." Pembatasan dengan kata 'hanya' itu, harus satu.

Rasulullah saw suatu waktu mendapat perintah dari Allah Swt untuk mengatakan kepada masyarakat, "Upahku adalah hanya memilih jalan Allah." Sementara itu, di lain waktu Rasulullah saw diperintahkan untuk mengatakan kepada masyarakat, "Upah-ku adalah hanya mencintai keluarga dekatku." Pada kenyataannya, dua permintaan ini harus satu, yakni jalan Allah adalah mencintai keluarga Nabi saw.

Di sisi lain, mencintai menuntut dua hal, yaitu mengenal dan menaati. Kita perlu mengenal karena sebelum manusia mengenal tidak mungkin dia dapat mencintai. Begitu juga dengan menaati karena mencintai tanpa menaati adalah dusta. Karena itu, orang yang mengambil hukum Allah dari selain Ahlulbait, pada hakikatnya dia tidak meniti jalan Allah Swt. Hal itu menurut pandangan al-Quran.

Sehubungan dengan hal di atas, menurut pandangan akal, upah harus seimbang dengan pekerjaan. Risalah hanya seimbang dengan imamah yang merupakan kelanjutannya. Upah dari risalah adalah berlanjutnya hidayah, upah seorang manusia maksum adalah dilanjutkannya pekerjaan oleh orang maksum lainnya. Upah seorang yang adil adalah usahanya dilanjutkan oleh orang adil lainnya.

Akal mengatakan, selama karunia ada maka wajib di-syukuri. Jika hari ini karunia Nabi saw meliputi kita sehingga kita mendapat petunjuk menjadi seorang muslim, kita wajib membayar upah risalahnya. Jika yang menjadi upah risalah adalah mencintai keluarga Nabi saw, hari ini kita harus mencintai dan mengikuti keluarga Nabi saw. Karena itu, masa sekarang ini kita harus mencintai Imam Zaman as dan menaatinya. Kita tidak dapat mengatakan

bahwa kaum muslim pada masa awal Islam diperintahkan untuk membayar upah risalah, sementara kaum muslim pada masa sekarang tidak mempunyai kewajiban itu, atau tidak harus mencintai keluarga Nabi saw yang merupakan upah risalah. Adapun mencintai Imam Zaman as pada masa gaib adalah mengamalkan pesan-pesannya dan mengikuti jalan orang-orang yang menyampaikan kita kepada Imam Zaman as, yaitu para fukaha yang adil dan tidak mengikuti hawa nafsu.

Ketika mencintai keluarga Nabi saw menjadi upah Rasulullah saw yang telah mengantarkan berjuta-juta manusia kepada petunjuk, kebahagiaan dan karunia besar Ilahi, maka akal memahami bahwa keluarga Nabi saw (al-qurba) adalah manusia terbaik dan maksum. Tidak mungkin mencintai orang yang berdosa menjadi upah Rasulullah saw. Dan tidak mungkin mencintai orang-orang yang berdosa diwajibkan atas seiuruh kaum muslim sepanjang masa. Tidak ada satu pun dari kelompok Islam (kecuali, Syi'ah) yang me-ngatakan bahwa pemirnpin mereka adalah harus maksum. Dan tidak ada seeorang pun atau satu kelompok pun hingga saat ini yang meriwayatkan bahwa para Imam maksum as pernah melakukan dosa atau menyebutkan bahwa mereka telah berguru kepada seseorang.

Akal mengatakan bahwa berbaiat kepada orang yang tidak maksum bukan hanya zalim kepada kemanusiaan, tetapi juga zalim kepada seluruh alam. Karena alam diciptakan untuk manusia (seluruh ayat yang berbunyi khalaqa lakum (menciptakan bagimu) atau sakhkhara lakum (menundukkan untukmu) adalah petunjuk bahwa alam diciptakan untuk manusia). Dan manusia diciptakan untuk mencapai kesempurnaan hakiki dan maknawi. Lantas, apakah menyerahkan manusia yang mempunyai tujuan yang begitu mulia kepada orang yang tidak maksum, bukan sebuah kezaliman kepadanya dan kepada alam?

Jika dalam hadis dikatakan bahwa Imam maksum as dan keimamahannya merupakan pondasi agama, "Islam dibangun atas lima perkara... yang kelima adalah imamah." [1] Jika Imam Ali as dikatakan sebagai pembagi antara manusia ahli surga dan manusia ahli neraka, "Ali adalah pembagi surga dan neraka." [2] Jika salat tidak diterima tanpa penerimaan imamah. [3] Jika mencintai Ahlulbait itu sebuah kebaikan." [4] Jika ziarah dan tawasul kepada Ahlulbait as dianjurkan, semua itu disebabkan esensi kimiawi cinta kepada mereka."

Zamakhsyari dan Fakhrurrazi, dua tokoh besar Ahlusunah meriwayatkan di dalam kitab tafsirnya bahwa Rasulullah saw bersabda, "Barangsiapa yang mati dalam keadaan mencintai keluarga Muhammad saw, dia mati syahid. Barangsiapa yang mati dalam keadaan mencintai keluarga Muhammad saw, dia mati dalam keadaan bertobat. Barangsiapa yang mati dalam keadaan mencintai keluarga Muhammad saw, dia mati dalam keadaan sempurna imannya. Barangsiapa yang mati dalam keadaan mencintai keluarga Muhammad saw, dia mati di atas sunnah dan jamaah." Lalu timbul pertanyaan, apakah cinta yang tidak disertai dengan ketaatan dapat sebanding dengan syahadah, ampunan dan iman yang sempurna?

Masih dalam kitab-kitab tafsir yang sama, pada pembahasan ayat di atas disebutkan hadis dari Rasulullah saw, "Ingat-lah! Barangsiapa yang mati dalam keadaan membenci keluarga Muhammad saw, dia akan dibangkitkan pada Hari Kiamat dalam keadaan tertulis di antara dua mata, orang yang putus asa dari rahmat Allah Swt. Ingatlah! Barangsiapa yang mati dalam keadaan membenci keluarga Muhammad saw, dia mati dalam keadaan kafir. Ingatlah! Barangsiapa yang mati dalam keadaan membenci keluarga Muhammad, ia tidak akan dapat mencium bau harum surga."

Fakhrurrazi  meriwayatkan di dalam  kitab tafsirnya, bahwa ketika ayat al-Mawaddah ini turun, orang-orang bertanya kepada Rasulullah saw, "Siapakah orang-orang yang kami diwajibkan mencintainya itu?' Rasulullah saw menjawab, 'Ali, Fathimah dan kedua orang putranya.' Kemudian Rasulullah saw menambah-kan, 'Fathimah bagian dariku, siapa yang menyakitinya, dia menyakitiku.

Di dalam al-Quran dikatakan,

اِنَّ الَّذِيْنَ يُؤْذُوْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ لَعَنَهُمُ اللّٰهُ فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِ وَاَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُّهِيْنًا

"Sesungguhnya (terhadap) orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah akan melaknatnya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan azab yang menghinakan bagi mereka." (QS. Al-Ahzab [33]: 57)

Dalam hadis kita menemukan bahwa di bawah ayat yang berbunyi, Dan barangsiapa mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan kebaikan baginya (QS. al-Syura [42): 23), Imam Hasan as berkata, "Yang dimaksud mengerjakan kebaikan adalah mencintai kami, Ahlulbait." [5]

Catatan Akhir

[1] Al-Kafi, jil.2, hal.18
[2] Bihar al-Anwar, jil.7, hal.186
[3] ibid. Jil.27, hal.167
[4] ibid. Jil.43, hal.362
[5] Tafsir-e Namuneh dan Tafsir al-Shafi

Sumber: dikutip dari buku Ramadan bersama Al-Qur'an menata diri menuju yang maha suci, Mohsen Qira'ati, hal.121-126
Previous Post
Next Post

post written by:

0 komentar: