Jumat, 01 Juni 2018

Ramadhan Bersama Al-Qur'an, Menata Diri Menuju Yang Maha Suci Bag 3


mendalami dan menghayati Al-Qur'an


Allah SWT berfirman:

وَقَالَ الرَّسُوْلُ يٰرَبِّ اِنَّ قَوْمِى اتَّخَذُوْا هٰذَا الْقُرْاٰنَ مَهْجُوْرًا

"Dan rasul (Muhammad) berkata, Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur'an ini diabaikan." (QS. Al-Furqan [25]: 30)

Kata Hijr berarti meninggalkan dengan perbuatan, jasmani lidah dan hati. Karena itu, hubungan manusia dengan kitab langit (Al-Qur'an) harus terus menerus dan dalam segala bidang. Hal itu disebabkan oleh karena kaya Hijr (meninggalkan) digunakan ada satu tempat ketika antara manusia dan sesuatu mempunyai hubungan. Oleh karena itu, kita harus melakukan segenap upaya agar Al-Qur'an tidak terabaikan dan menjadikannya sebagai poros ilmu dan amal dalam segenap dimensi kehidupan kita. Dengan demikian, kita dapat memperoleh keridaan Nabi kita Saw.

Tidak membaca Al-Qur'an, mengutamakan yang lain atas Al-Qur'an, tidak menjadikannya sebagai sentral kehidupan, tidak merenungkannya, tidak mengajarkannya kepada yang lain dan tidak mengamalkannya, adalah termasuk bentuk dari pengabaian Al-Qur'an. Begitu juga orang yang mempelajari Al-Qur'an, namun kemudian meletakkan nya di sisi, tidak menolehnya kembali dan tidak terikat dengannya, maka dia juga termasuk orang yang mengabaikan Al-Qur'an.

Ayat di atas menceritakan keluhan Rasulullah Saw. Karena Rasulullah Saw adalah Rahmat bagi semesta alam, belia Saw tidak sampai melaknat orang yang mengabaikan Al-Qur'an. Salah seorang yang mengadukan (hal ini) pada hari kiamat adalah Rasulullah Saw. Karena itu, terabaikannya Al-Qur'an dan keluhan Rasulullah Saw ini harus menjadi tanggung jawab kita. Hanya membaca Al-Qur'an secara lahir saja tidak cukup, kita harus mengeluarkan Al-Qur'an dari pengabaian.

Imam Ridha As berkata " Alasan dalam salat kita membaca Al-Qur'an adalah supaya Al-Qur'an tidak terabaikan "

Dalam hadis dikatakan " hendaknya setiap hari kalian membaca 50 ayat. Jangan jadikan akhir surah sebagai tujuanmu. Bacalah Al-Qur'an dengan perlahan dan gerakkan hari kalian dengan bacaan Al-Qur'an. Dan ketika fitnah yang seperti malam yang kelam menyerangmu, maka berlindunglah kepada Al-Qur'an " [1]

Berikut ini saya kemukakan pengakuan beberapa tokoh tentang terabaikannya Al-Qur'an

1. Mulla Shadra di dalam mukadimah tafsir surah Al-Waqi'ah Berkata " saya banyak mengkaji buku-buku para filsuf hingga sampai tingkatan saya merasa menjadi orang besar. Namun, ketika sedikit saja mata hati saya terbuka, saya mendapati diri tidak mempunyai ilmu apa-apa. Pada akhir-akhir umur saya, saya berpikir untuk merenungi Al-Qur'an dan hadis hadis Muhamamad Saw dan keluarga Muhammad. Saya menemukan keyakinan bahwa apa yang telah saya lakukan selama ini tidak mempunyai dasar karena sepanjang umur saya, saya hanya berdiri dibawah bayangan, bukan dibawah cahaya. Hati saya hancur dan sedih. Supaya Rahmat Allah menggapai tanganku dan menjadikanku mengenal rahasia-rahasia Al-Qur'an, sehingga dapat memahami dan menafsirkan Al-Qur'an, maka saya mengetuk pintu rumah Wahyu. Kemudian pintu-pintu terbuka, dan tirai tirai tersingkir, lalu saya melihat para malaikat berkata kepadaku " salam sejahtera untukmu. Sungguh beruntung kamu. Masuklah kedalam, kamu kekal didalamnya " [2]

2. Faidh Kasyani berkata " saya telah menulis berbagai kitab dan risalah dan telah melakukan berbagai penelitian, namun saya tidak menemukan dalam ilmu-ilmu itu obat yang dapat menyembuhkan penyakitku dan air yang dapat memuaskan dahagaku. Saya diliputi rasa takut, lalu saya kembali kepada Allah Swt dan meminta kepada Nya supaya memberi petunjuk kepadaku melalui jalan mengkaji Al-Qur'an dan hadis " [3]

3. Imam Khomeini dalam satu pernyataan nya mengatakan, dia menyesal karena tidak menghabiskan seluruh umurnya untuk mempelajari Al-Qur'an. Karena itu dia menyarankan kepada hawzah dan perguruan tinggi supaya menjadikan Al-Qur'an dengan segenap dimensinya sebagai tujuan tertinggi dalam semua jurusan, supaya jangan sampai para pemuda menyesal pada kemudian hari [4]

Pentingnya mendalami Al-Qur'an

Allah SWT berfirman:

كِتٰبٌ اَنْزَلْنٰهُ اِلَيْكَ مُبٰرَكٌ لِّيَدَّبَّرُوْۤا اٰيٰتِهٖ وَلِيَتَذَكَّرَ اُولُوا الْاَلْبَابِ

"Kitab (Al-Qur'an) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran." (QS. Sad [38]: 29)

Dalam ayat di atas, wajah Al-Qur'an digambarkan sebagai berikut,

1. Isi Al-Qur'an telah ditulis ( dapat dipahami dari kata kitab )

2. Al-Qur'an bersumber dari Wahyu dan ilmu Allah yang tidak terbatas ( dapat dipahami dari kata anzalnahu )

3. Penerima Al-Qur'an dari Allah Swt adalah seorang Maksum ( dapat dipahami dari kata ilayka )

4. Kandungannya penuh berkah ( dapat dipahami dari kata Mubarak )

5. Tujuan diturunkannya Al-Qur'an, supaya direnungi dan dihayati ( dapat dipahami dari kata liyudabbaru )

6. pengetahuan tentang isi dan kandungannya adalah mukadimah untuk melakukan gerak spiritual dan mendekatkan diri kepada Allah Swt ( dapat dipahami dari kata liyatadzakkara )

7. Orang yang akan berhasil mendapat pelajaran dari Al-Qur'an adalah orang-orang yang berakal.

Merenungi dan menghayati Al-Qur'an sangat penting. Seseorang yang tidak merenungi dan menghayati ayat-ayat Al-Qur'an pantas mendapat celaan Dari Allah Swt. Allah Swt berfirman, maka tidakkah mereka menghayati Al-Qur'an, ataukah hati mereka sudah terkunci (QS. Muhammad [47]: 24). Dalam pandangan al-Qur'an, seorang alim Rabbani adalah orang yang pekerjaannya berkaitan dengan belajar dan mengajarkan Al-Qur'an. Dalam Al-Qur'an dikatakan,

 وَلٰـكِنْ كُوْنُوْا رَبَّانِيّٖنَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُوْنَ الْكِتٰبَ  وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُوْنَ


"Jadilah kamu pengabdi-pengabdi Allah, karena kamu mengajarkan Kitab dan karena kamu mempelajarinya!" (QS. Ali 'Imran [3]: 79)

Berkenaan dengan tidak terbatas nya pengetahuan pengetahuan yang ada dalam Al-Qur'an, Imam Ali as berkata " lautan yang tidak diketahui dasarnya "

Biasanya, ucapan dan tulisan seorang manusia mengalami perubahan dan penyempurnaan seiring dengan perjalanan waktu. Namun Al-Qur'an yang turun dalam waktu 23 tahun tidak mengalami perubahan dan pertentangan dalam kondisi apapun. Baik dalam kondisi perang dan damai. Kondisi terasing dan ternama, kondisi kuat dan lemah, dan itu pun Tidka dipelajari dari bahasa seseorang. Itu menunjukkan bahwa Al-Qur'an adalah firman Allah, bukan sesuatu yang dipelajari dari manusia. Karena itu, Al-Qur'an memperingati sebagai berikut,

اَفَلَا يَتَدَبَّرُوْنَ  الْقُرْاٰنَ ۗ  وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللّٰهِ لَوَجَدُوْا فِيْهِ اخْتِلَافًا  كَثِيْرًا

"Maka tidakkah mereka menghayati (mendalami) Al-Qur'an? sekiranya (Al-Qur'an) itu bukan dari Allah, pastilah mereka menemukan banyak hal yang bertentangan di dalamnya." (QS. An-Nisa' [4]: 82)

Adapun rahasia perintah mendalami Al-Qur'an untuk semua kalangan dan untuk seluruh masa dan generasi, adalah karena setiap pemikir di setiap zaman akan dapat sampai kepada satu titik kesimpulan.

Sdnagn sedikit saja mendalami ayat di atas kita akan sampai kepada kesimpulan kesimpulan berikut,

1. Tidak berpikir tentang Al-Qur'an mendapat kecaman dari Allah

2. Mendalami Al-Qur'an dapat menjadi obat yang menyembuhkan sifat munafik

3. Jalan menuju Islam dan Al-Qur'an adalah dengan berpikir dan mendalami bukan dengan taklid (buta)

4. Al-Qur'an mengajak semua orang untuk mendalaminya dan pemahaman manusia akan sampai kepada pengetahuan pengetahuan yang terkandung dalam Al-Qur'an

5. Dugaan adanya pertentangan di dalam Al-Qur'an adalah akibat tidak mengkafani mendalami Al-Qur'an

6. Tidak adanya pertentangan di antara ayat-ayat nya menunjukkan bahwa Al-Qur'an bersumber dari zat yang tidak mengalami perubahan. Karena segala sesuatu yang datang dari Allah adalah benar, permanen dan jauh dari pertentangan.

Catatan Akhir

[1] Tafsir Nur al-Tsaqalain
[2] mukadimah tafsir surah Al-Waqi'ah
[3] risalah al-Inshaf
[4] shahifeh-e Nur, jil.20. hal.20

Sumber: Dikutip dari buku Ramadan bersama Al-Qur'an menata diri menuju yang maha suci, Mohsen Qira'ati, hal.15-20
Previous Post
Next Post

post written by:

0 komentar: