Jumat, 01 Juni 2018

Ramadhan Bersama Al-Qur'an, Menata Diri Menuju Yang Maha Suci Bag 2


Puasa

Pengaruh dan berkah puasa

Allah SWT berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْکُمُ الصِّيَامُ کَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِکُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa," (QS. Al-Baqarah [2]: Ayat 183)

Takwa berarti menjauhkan diri dari dosa. Sebagian besar dosa bersumber dari akar marah dan syahwat. Nah, puasa menghalangi dorongan kedua gharizah (insting) ini. Karena itu, puasa dapat mengurangi kerusakan dan menambah ketakwaan. [1]

Takwa dan penyembahan Tuhan, secara lahir dan batin, adalah pengaruh puasa yang paling penting. Puasa adalah satu-satunya ibadah yang tidak kelihatan. lbadah salat, jihad, zakat dan khumus dapat dilihat orang, sedangkan puasa tidak dapat dilihat. Puasa menguatkan kehendak (ibadah) manusia. Seseorang yang selama satu bulan dapat menghindari roti (makanan) dan istrinya, tentunya dia dapat mengontrol dirinya untuk tidak menginginkan harta dan (mencemarkan) kehormatan orang lain. Puasa dapat memperkuat rasa sayang kepada sesama. Seseorang yang selama satu bulan merasakan rasa lapar, tentu dia dapat mengenal dan merasakan kesulitan yang dirasakan orang-orang yang kelaparan.

Rasulullah saw bersabda, "Puasa adalah setengah dari sabar." [2]

Puasa masyarakat umum adalah dengan menghindari roti, air dan nasi. Sementara itu, puasa kalangan khusus (kha-wash), di samping harus menghindari hal-hal yang membatalkan puasa, juga harus menghindari dosa. Lebih dari itu, puasa orang super khusus (khawash al-khawash), di camping harus menghindari hal-hal yang membatalkan puasa, juga harus menghindari dosa dan mengosongkan hati dari segala sesuatu seiain Allah Swt. [3] Puasa menjadikan manusia seperti malaikat, karena malaikat jauh dari perbuatan makan, minum dan syahwat.

Rasulullah saw bersabda, "Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadan karena Allah Swt, maka seluruh dosanya diampuni." Di dalam hadis Qudsi, Allah Swt berfirman, "Puasa itu untuk-Ku, dan Aku Sendiri yang akan memberi ganjarannya." [4]

Begitu besarnya  keutamaan puasa sehingga dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa pahala puasa sebanding dengan pahala hampir semua ibadah. Meskipun ibadah puasa juga diwajibkan atas umat-umat terdahulu, puasa Ramadan hanya dikhususkan untuk para nabi, sedangkan bagi umat Islam puasa Ramadan diwajibkan bagi semua. [5]

Rasulullah saw telah bersabda, "Segala sesuatu ada zakatnya dan zakat badan adalah puasa." [6]

Adab dan syarat-syarat berpuasa 

Allah SWT berfirman:

اَيَّامًا مَّعْدُوْدٰتٍ ۗ  فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ  وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهٗ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍ ۗ  فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهٗ  ۗ  وَاَنْ تَصُوْمُوْا خَيْرٌ لَّـکُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

"(yaitu) beberapa hari tertentu. Maka barang siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. Tetapi barang siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itu lebih baik baginya, dan puasamu itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (QS. Al-Baqarah [2]: 184)

Untuk setiap individu dalam segala kondisi, Islam memberikan hukum yang sesuai. Dalam ayat ini, dijelaskan hukum orang yang dalam perjalanan, orang yang sakit dan orang yang sehat. Jika dalam kondisi tertentu seseorang tidak dapat berpuasa, dia harus mengada puasa itu pada hari-hari yang lain, supaya dia juga dapat memperoleh manfaat dari puasa.

Tunduk kepada perintah Tuhan itulah yang bernilai. Jika Allah Swt memerintahkan kita berpuasa, kita berpuasa, dan jika Dia meme-rintahkan kita untuk berbuka, kita harus membatalkan puasa kita. Dalam kitab Tafsir Majma' aI-Bayan disebutkan, "Sekelompok sahabat Rasulullah saw tetap berpuasa meski sedang dalam perjalanan, mereka tidak mau membatalkan puasanya.

Maka Rasulullah saw menyebut mereka sebagai orang yang berbuat dosa. Imam Shadiq as berkata, 'Jika seseorang tetap berpuasa dalam perjalanan, aku tidak akan menyalati jenazahnya.'

Alhasil, jika seseorang yang sedang dalam perjalanan atau sedang sakit tetap berpuasa, maka puasanya batal dan dia tetap harus mengadanya. [7] Imam Shadiq as berkata, "Bahkan jika seorang ibu merasa khawatir dalam menyusui anaknya atau merasa khawatir dengan janinnya, dia wajib berbuka. Dan ini merupakan bentuk kasih sayang Allah Swt ." [8]

Berbuka Puasa

Rasulullah saw bersabda, "Barangsiapa yang memberi makanan atau minuman berbuka kepada orang yang berpuasa dari pendapatan yang halal, maka pada setiap jam para rnalaikat dan pada malam Lailatul Qadar jibril menyampaikan salawat kepadanya." [9]

Berbuka  puasa  adalah  suatu  bentuk  ibadah, namun dengan syarat ikhlas semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt,

اِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ  لِـوَجْهِ اللّٰهِ لَا نُرِيْدُ مِنْكُمْ جَزَآءً وَّلَا شُكُوْرًا

"Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridaan Allah, kami tidak mengharap balasan dan terima kasih dari kamu." (QS. Al-Insan [76]: 9)

Memberi makanan berbuka kepada orang-orang mukmin, sebagaimana perkataan Imam Shadiq as, adalah seperti salat malam, merupakan alat untuk menggapai keselamatan dan kebahagiaan. [10] Memberi makanan berbuka, adalah suatu bentuk pemuliaan terhadap orang mukmin dan membahagiakan mereka. Memberi makanan berbuka, akan menyatukan hati, memperbaiki hubungan kekeluargaan (silaturahmi) dan menghilangkan kedengkian dan kemunafikan. Memberi makanan berbuka, akan menyebabkan diampuninya diri dan keluarga dan merupakan suatu bentuk perbuatan baik kepada kedua orang tua.

Memberi makanan berbuka, merupakan suatu bentuk cara berdakwah dan memberi bimbingan. Tidak boleh tujuan dari menjamu dan memberi makanan berbuka untuk pamer dan kesombongan. Tidak boleh hanya orang kaya dan orang yang mempunyai kedudukan yang diundang. Tidak boleh jamuan makan menjadi ajang maksiat, berbuat dosa, menyepelekan orang dan mengumpat. Tidak boleh menyepelekan tamu dan memperiakukan mereka dengan tidak hormat dan tidak sopan. Tidak boleh jamuan dilakukan dengan pemaksaan diri, dipenuhi dengan proto-koler dan dihiasi kedengkian. Tidak boleh jamuan disertai dengan perbuatan menyakiti istri, keluarga dan orang lain. Dalam hadis dikatakan, pahala orang yang memberi makanan berbuka kepada orang yang berpuasa sama dengan pahala orang yang berpuasa.

Catatan Akhir:

[1] Al-Kafi jil.2, hal.18
[2] Tafsir al-Manar
[3] Tafsir Ruh al-Bayan
[4] Tafsir al-Maraghi
[5] Tafsir Nur al-Tsaqalain
[6] Bihar al-Anwar jil.60, hal.380
[7] Tafsir Nur al-Tsaqalain
[8] Tafsir Al-Burhan
[9] Kanz al-Ummal jil.8, hal.459
[10] Al-Kafi jil.4, hal.51

Sumber: dikutip dari buku Ramadan bersama Al-Qur'an menata diri menuju yang maha suci, Mohsen Qira'ati, hal.9-13
Previous Post
Next Post

post written by:

0 komentar: