Selasa, 05 Juni 2018

Mengapa Imam Ali as yang terbunuh dan syahid di Kufah, namun dikuburkan jenazahnya yang mulia di Najaf ?


Oleh: Ust Abdullah Ali Assegaf

Masih dalam rangka memperingati syahadah Imam Ali as, ada satu pertanyaan, "Mengapa Imam Ali as yang terbunuh dan syahid di Kufah, namun dikuburkan jenazahnya yang mulia di Najaf, yang berjarak kurang lebih 15 km dari Kufah?"

Dan hal itu dijadikan landasan dr para pembenci Ahlulbait Nabi untuk meragukan makam Imam Ali as benar2 berada di Najaf.

Maka jawabannya dapat kita telusuri dr peristiwa sejarah itu sendiri, khususnya dr karakter musuh2 Ahlulbait Nabi dan terutama dr dinasti Umayyah.

Telah kita ketahui bahwa Umayyah dikenal kedengkiannya dan permusuhannya terhadap Hasyim, maka keturunan Umayyah juga bersikap serupa dengki dan memusuhi keturunan Hasyim, seperti Abu Sufyan yg dengki dan memusuhi Nabi Muhammad saww, Muawiyah yg dengki dan memusuhi Imam Ali as dan Imam Hasan as, Yazid yg dengki dan memusuhi Imam Husain as, Hisyam bin Abdul Malik yg dengki dan memusuhi Imam Ali Zainal Abidin as dan Imam Muhammad Al-Baqir as serta Usman bin Anbasah (Sufyani) yg dengki dan memusuhi Imam Mahdi as.

Begitu juga para Takfiri pengikut bani Umayyah hingga saat ini terus menyimpan kebencian dan permusuhan terhadap Ahlulbait Nabi, dan diantaranya salah satu bentuk kebencian dan permusuhan mereka adalah menuduh bahwa makam Imam Ali as yg ada di Najaf, Irak adalah bukan makam Imam Ali as yg sebenarnya, dan menurut mereka bahwa makam Imam Ali as tidak ada dan tidak diketahui keberadaannya.

Benarkah tuduhan mereka Takfiri tersebut?

Didalam kitab Muntakhab al-Tawarikh disebutkan bahwa Imam Ali as telah berwasiat kepada putra-putranya agar beliau dikuburkan pada malam hari, bukan siang hari dan secara sembunyi2, tidak terang2an. Dan para Ahlulbait Nabi menyembunyikannya dan merahasiakannya dr khalayak. Hal itu berlangsung hingga ke khalifahan Harun Al-Rasyid atau pada masa Imam Musa Al-Kadzim as.

Dan wasiat Imam Ali as tersebut memang terbukti kebenarannya, karena dinasti zalim Umayyah musuh Ahlulbait Nabi ingin membongkar makam Imam Ali as, maka pada masa kerajaan bani Umayyah Abdul Malik bin Marwan bin Hakam memerintahkan gubernur Basrah dan Kufah si Nashibi Al-Hajjaj bin Yusuf Al-Tsaqafi yg sangat kejam terhadap Ahlulbait dan dzuriyah Nabi Muhammad saww untuk mencari kuburan Imam Ali as, maka Al-Hajjaj menggali ribuan kuburan di sekitar Kufah untuk mencari jasad Imam Ali as dan tidak berhasil menemukan kuburan Imam Ali as.

Pada suatu hari, Harun Al-Rasyid pergi berburu ke lembah Najaf di pinggiran Kufah, disana terdapat belukar dan sarang hewan.

Abdullah bin Hazim berkata : Ketika kami berjalan menuju tepi belukar itu, kami melihat seekor rusa betina. Kemudian kami melepaskan burung elang dan anjing untuk memburunya. Segera hewan2 pemburu itu mengejarnya. Tetapi rusa itu lari ke sebuah bukit dan berlindung disitu. Burung elang dan anjing pun kembali. Melihat peristiwa itu, Harun Al-Rasyid merasa heran.

Kemudian rusa betina itu turun dr bukit. Karena itu burung elang dan anjing segera mengejarnya. Maka rusa itu pun kembali lagi. Hal itu berlangsung terus menerus sebanyak tiga kali.

Harun berkata, "Pergilah ke kampung terdekat. Siapa saja yg engkau temui disana, bawalah dia kesini."

Maka kami bertemu dengan seorang tua dr bani Asad dan membawanya ke tempat itu.

Kepada orang tua itu, Harun Al-Rasyid bertanya, "Bukit apa ini?"

"Jika anda memberikan keamanan kepadaku, aku akan memberitahukannya kepada anda" ,ujar orang tua itu.

Harun menjawab, "Engkau berada dalam jaminan Allah. Aku tidak akan menyakiti dan mencelakakanmu."

Orang tua itu berkata, "Aku pernah datang kesini bersama ayahku. Disini kami berziarah dan shalat. Kemudian aku bertanya kepada ayahku tentang tempat ini. Ayahku menjawab, 'Ketika aku berziarah ke tempat ini bersama Imam Ja'far Ash-Shadiq as, beliau as berkata, 'Ini adalah kuburan kakekku, Ali bin Abi Thalib as, tidak lama lagi Allah akan menampakkannya."'

Harun Al-Rasyid turun dr kudanya, lalu meminta diambilkan air. Kemudian dia berwudhu dan shalat diatas bukit itu dan dia pun mulai menangis. Setelah itu Harun memerintahkan agar dibangun Kubah diatas kuburan tersebut. Sejak hari itu, bangunan tersebut terus menerus direnovasi. Sungguh hari itu merupakan hari terindah yg keindahannya tak dapat lagi diungkapkan.

Di dalam kitab-kitab sunni seperti Ibnu Sabth Al-Jauzi dalam Tadzkirah Al-Khawas 163, Khatib Al-Khawarizmi dalam Manaqibnya, Khatib Baghdadi dalam Tarikhnya, Muhammad bin Thalhah Asy-Syafi'i dalam Mathalib al-Su'ul, Al-Firuzabadi dalam Al-Qamus dan Ibnu Abi Al-Hadid Al-Mu'tazili dalam Syarh Nahjul Balaghah menuliskan bahwa kuburan Imam Ali as terletak di Najaf ditempat yg telah dikenal dan diziarahi hingga sekarang.
Previous Post
Next Post

post written by:

0 komentar: