Minggu, 03 Juni 2018

Imam Ali Sang Syahid Mihrab



Kejahatan telah menguasai Dunia Islam. Kebenaran tidak lagi dapat mengibarkan panji (kejayaan)nya, tidak ada tangan yang diulurkan untuk melakukan perbaikan, tidak ada suara yang dapat diteriakkan guna menyingkap kejahatan orang-orang zalim. Kemarin, Abu Sufyan melakukan muslihat untuk membunuh Nabi Muhammad saw agar risalah Ilahiah terkubur untuk selama-lamanya. Namun semua usaha itu tidak dikehendaki oleh Allah Swt. Kehendak Allah hanyalah menyempurnakan cahaya-Nya.

Sekarang, dengan memanfaatkan penyimpangan yang berlangsung sejak peristiwa Saqifah, Muawiyah berusaha menyempurnakan apa yang telah dimulai oleh ayahnya dalam rangka menghancurkan Islam. Dibantu oleh potensi kebodohan dan kesesatannya, dia menyiapkan rencana untuk membunuh jantung umat Islam, sang penyambung lisan kebenaran, pembawa panji Islam dan penghidup syariat.

Kesesatan yang telah lama menuntun kaki mereka sekali lagi menyeret mereka untuk mematikan cahaya hidayah dan melanggengkan kegelapan demi menyiapkan penyelewengan dan kejahatan. Kemudian, tangan-tangan setan itu berjabatan tangan dengan Ibnu Muljam di kegelapan malan. Pedang itu menebas kepala seorang yang telah lama membelakangi dunia dan menghadap Rumah Allah dalam keadaan sujud. Ia pun dibiarkan begitu saja.

Sekelompok orang-orang sesat telah berkumpul untuk membunuh Ali bin Abi Thalib. Tidak sulit untuk menyimpulkan bahwa aktor intelektualnya adalah Muawiyah bin Abi Sufyan. Kesepakatan mereka adalah membunuh Imam Ali as ketika beliau melaksanakan salat Subuh. Karena, tidak satu pun dari mereka yang berani berhadap-hadapan langsung dengan sang Singa Allah ini.

Pada waktu itu, tepat malam ke-19 dari bulan Ramadan. Ali bin Abi Thalib banyak melakukan perenungan dengan melihat-lihat angkasa. Ia senantiasa mengulang-ulang kalimat ini "Engkau (wahai Rasulullah) tidak berbohong dan tidak pernah membohongi orang lain. Malam ini adalah waktu yang engkau janjikan."

Ali bin Abi Thalib menghabiskan malamnya dengan berdoa dan bermunajat kepada Allah Swt. Setelah itu, beliau keluar dari rumah menuju mesjid untuk menunaikan salat Subuh. Sesampainya di mesjid, ia membangunkan orang-orang yang terbiasa beribadah di sana lalu terbawa tidur. Beliau membisikkan, "Salat... Salat...!"

Setelah itu, Ali bin Abi Thalib menunaikan salatnya. Ketika beliau tengah asyik bermunajat kepada Allah, tiba-tiba seorang durjana lagi celaka bernama Abdurrahman bin Muljam mengucapkan semboyan kelompok Khawarij dengan suara lantang: La hukma illa lillah; tiada hukum kecuali milik Allah. Secepat kilat, dia mengayunkan pedangnya dan menghujam tepat di kepala Ali. Kepala Ali merekah akibat tebasan itu. Seketika itu pula, Ali bin Abi Thalib mengucapkan kalimat: Fuztu wa Rabbul Ka‘bah; sungguh aku menang, demi Tuhan Pemilik Ka'bah!

Terdengarlah suara riuh di dalam mesjid. Orang-orang cepat berlarian mendekati Ali bin Abi Thalib. Mereka mendapatkannya tergeletak di mihrabnya lalu membawanya pulang ke rumahnya dalam kedaaan kepala diikat balut, sementara masyarakat dari belakang mengikuti sambil menangis.

Orang-orang berhasil menangkap Ibnu Muljam. Ali bin Abi Thalib berwasiat kepada anak tertuanya, Imam Hasan as, juga kepada anak-anaknya yang lain serta keluarganya; agar berlaku baik terhadap tahanan. Beliau berkata, "Nyawa dibalas dengan nyawa. Maka, bila aku mati, kalian harus mengisasnya. Dan bila aku hidup, aku akan mengambil keputusan sesuai dengan pertimbanganku."

Sumber: Teladan abadi imam Ali bin Abi Thalib, hal.357-359
Previous Post
Next Post

post written by:

0 komentar: