Kamis, 31 Mei 2018

Latar belakang sejarah Islam Syiah Bag 2


Sebab Perpisahan Kaum Minoritas Syi'ah dari Kaum Mayoritas Sunni

Para sahabat dan pengikut Ali percaya bahwa setelah kematian Nabi, kekhalifahan dan otoritas agama (marjaiiyyah al-'ilm) menjadi milik Ali. Kepercayaan ini datang dari pemikiran mereka tentang posisi Ali dalam kaitan dengan Nabi, kaitannya dengan terpilihnya di antara para sahabat, dan kaitannya dengan kaum muslim umumnya. Namun, terdapat peristiwa-peristiwa tragis yang terjadi menjelang wafatnya Nabi yang mengindikasikan adanya penentangan terhadap pandangan mereka [1]

Berbeda dengan harapan mereka, justru ketika Nabi menghembuskan napas terakhirnya, dan jasadnya masih terbaring belum disemayamkan, para anggota Ahlulbait dan beberapa sahabat setia sibuk menyiapkan upacara penguburan Nabi saw, para sahabat dan pengikut Ali mendengar berita adanya kegiatan kelompok lain yang telah pergi ke masjid tempat umat berkumpul menghadapi hilangnya pimpinan yang tiba-tiba. Kelompok ini, yang belakangan menjadi golongan mayoritas bertindak lebih jauh, dan dengan sangat tergesa-gesa memilih seorang khalifah bagi kaum muslim dengan tujuan untuk menjamin kesejahteraan umat dan menyelesaikan persoalan-persoalan urgennya. Mereka melakukan ini tanpa melibatkan Ahlulbait Nabi, kerabat-kerabatnya atau banyak sahabatnya, yang sibuk dengan persiapan upacara pemakaman Nabi, dan sedikit pun tidak memberitahu mereka. Dengan demikian, Ali dan para sahabatnya berhadapan dengan keadaan yang sudah tidak dapat berubah lagi (fait accompli) [2]


Setelah selesai dengan penguburan jasad Nabi, Ali dan para sahabatnya—seperti Abbas, Zubair, Salman, Abu Dzar, Miqdad, dan  Ammar—mulai mengetahui tentang cara-cara sang khalifah dipilih. Mereka melancarkan protes terhadap cara pemilihan khalifah melalui musyawarah atau pemilihan, dan juga terhadap "panitia" yang bertanggung jawab atas pelaksanaan pemilihan tersebut. Mereka bahkan mengajukan dalil-dalil dan argumen-argumen mereka sendiri, tetapi jawaban yang mereka terima adalah bahwa kesejahteraan kaum muslim dipertaruhkan dan solusinya terletak pada apa yang telah dilakukan. [3]

Protes dan kecaman inilah yang memisahkan golongan minoritas pengikut Ali dari golongan mayoritas, dan menjadikan para pengikutnya dikenal oleh masyarakat sebagai "para pendukung" atau "Syiah" Ali. Kekhalifahan pada waktu itu sangat waspada terhadap sebutan yang diberikan kepada minoritas Syi'ah, karena hal itu berarti memecah belah masyarakat muslim ke dalam dua golongan: mayoritas dan minoritas. Para pendukung khalifah menganggap kekhalifahan sebagai persoalan konsensus umat (ijma') dan menamakan orang-orang yang berkeberatan sebagai "para penentang baiat." Mereka menyatakan bahwa berdirinya Syi'ah, sebagai penentangan terhadap masyarakat muslim. Bahkan, adakalanya  Syi'ah  diberi  nama-nama lain yang melecehkan dan merendahkan. [4]

Islam Syi'ah dikecam dari saatpeitama muncul disebabkan situasi politik waktu itu dan karenanya tidak dapat melakukan apa-apa hanya melalui protes politik belaka. Untuk melindungi kesejahteraan kaum muslim, dan juga disebabkan kurang memadainya kekuatan, Ali  tidak  berusaha  memulai  perlawanan  menentang  tatanan politik yang ada, karena beliau tahu hal ini akan menyebabkan pertumpahan darah. Namun, orang-orang yang melancarkan protes terhadap kekhalifahan yang ada, menolak untuk tunduk kepada mayoritas dalam persoalan-persoalan tertentu keimanan dan terus menganggap bahwa penggantian Nabi serta otoritas agama menjadi hak Ali. [5] Mereka percaya bahwa segala persoalan spiritual dan keagamaan harus merujuk kepadanya. [6] Sebab, beliau merupakan khalifah yang sah karena ditunjuk langsung oleh Nabi.

Catatan Akhir:

[1] Sewaktu  mengalami  penyakit  yang  membawa  kepada  kematiannya, (Nabi) Muhammad saw mengatur sepasukan tentara di bawah komando Usamah bin Zaid dan menekankan agar setiap orang harus berpartisipasi dalam perang ini dan pergi keluar dari Madinah. Sejumlah orang tidak mematuhi Nabi termasuk Abu Bakar dan Umar dan ini sangat merisaukan Nabi. (Syarh lbnu Abil Hadid, Kairo, 1329 H., jil. 15, hal. 53). Pada saat kematiannya, Nabi saw bersabda, "Siapkanlah tinta dan kertas agar aku dapat menulis sepucuk surat untuk kalian yang akan menjadi sebab petunjuk bagi kalian dan mencegah kalian dari kesesatan." Umar, yang mencegah tindakan ini, berkata, "Penyakitnya telah semakin parah dan ia mengigaul" (Tarikh Thabari, jil. VII, hal. 436: Shahih Bukhari, jil. III dan Shahih Muslim, Kairo, 1349 H., jil. V; al-Bidayah wal Nihayah, jil. V, hal. 227; Ibnu Abil Hadid, jil. I, hal. 133.) Situasi agak serupa terjadi lagi pada waktu sakit, yang membawa kepada kematian Khalifah Pertama. Pada wasiat terakhirnya, Khalifah Pertama memilih Umar dan bahkan pingsan sewaktu membuat wasiat, tapi Umar tidak mengatakan apa-apa dan tidak menganggapnya mengigau, walaupun ia telah pingsan sewaktu wasiat sedang ditulis. Nabi tidak berdosa dan benar-benar sadar ketika beliau meminta mereka untuk menuliskan sepucuk surat petunjuk. (Rawdhat al-Shafa, Mir Khwand Lucknow, 1332 H., jil. II, hal. 260).

[2] Ibnu Abil Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah, jil. I, hal. 58 dan hal. 123-135; Tarikh Ya'qubi, jil.II ,hal. 102; Tarikh Thabari, jil. II, hal. 445-460.

[3] Tarikh Ya'qubi, jil. II, hal. 103-106; Tarikh Abu al- Fidha', jil. I, hal. 156 dan 166; Muruj al-Dzahab, jil. II, hal. 307 dan 352; Ibnu Abil Hadid, jil. I, hal. 17 dan 134. Dalam menjawab protes lbnu Abbas, Umar berkata, "Aku bersumpah demi Allah, Ali adalah yang paling pantas dari semua orang untuk menjadi khalifah, tapi karena tiga alasan kami menyingkirkannya: (1) ia terlalu muda, (2) ia berasal dari keturunan Abdul Muthalib, (3) manusia tidak ingin masalah kenabian dan kekhalifahan berkumpul dalam satu keluarga." (lbnu Abil Hadid, jil. 15, hal. 134.) Umar berkata kepada Ibnu Abbas, "Aku bersumpah demi Allah bahwa Ali berhak atas kekhalifahan, tapi Quraisy tidak akan dapat menerima kekhalifahannya, karena seandainya ia menjadi khalifah, ia akan memaksakan manusia untuk menerima kebenaran sejati dan mengikuti Jalan Lurus. Di bawah kekhalifahannya, mereka tidak akan dapat melanggar batas-batas keadilan dan karenanya mereka akan berusaha memeranginya." (Tarikh Ya'qubi, jil. II, hal. 137).

[4] Amr bin Harits berkata kepada Sa'id bin Zaid, "Adakah orang yang menentang berbaiat kepada Abu Bakar?" la menjawab, "Tidak ada orang yang menentangnya kecuali orang-orang yang telah menjadi murtad atau ingin menjadi murtad." Tarikh Thabari, jil. II, hal. 447.

[5] Dalam hadis terkenal Tsaqalain—dua hal (pusaka) berharga—Nabi bersabda, "Aku tinggalkan dua hal (pusaka) berharga di tengah-tengah kalian, jika kalian berpegang teguh pada keduanya, kalian tidak akan pernah sesat: al-Quran dan Ahlulbaitku; keduanya tidak akan pernah berpisah hingga hari kiamat." Hadis ini telah diriwayatkan melalui lebih dari seratus jalur oleh lebih dari tiga puluh lima sahabat Nabi. ('Abaqat, jil. tentang hadis Tsaqalain, Ghayat al-Maram, hal. 211). Nabi bersabda, "Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintu gerbangnya. Karenanya siapa pun yang mencari ilmu maka ia harus masuk melalui pintunya." (al-Bidayah wal Nihayah, jil. VII, hal. 359)

[6] Tarikh Ya'qubi, jil. II, hal. 105-150, bahwa hal ini sering disebutkan.

Sumber: Mazhab Kelima, hal.60-63, karya Muhamamad Husain Thabathaba'i
Previous Post
Next Post

post written by:

0 komentar: