Kamis, 31 Mei 2018

Latar belakang sejarah Islam Syiah Bag 1


ASAL MULA DAN PERKEMBANGAN SYI'AH

Mazhab Ahlulbait—atau yang lebih dikenal  dengan  Islam Syi'ah—berawal  dengan  sebutan  yang  dibuat  untuk  pertama kalinya kepada para pendukung Ali bin Abi Thalib (Syi'ah Ali), yaitu pemimpin pertama dari Ahlulbait Nabi" [1] pada masa kehidupan Nabi. [2] Senarai peristiwa pada awal kelahiran Islam dan perkembangan Islam selanjutnya, selama rentang dua puluh tiga tahun kenabian, menimbulkan pelbagai keadaan yang mengharuskan kemunculan kelompok seperti kelompok Syi'ah di antara para sahabat Nabi.

Pada hari-hari pertama kenabiannya, sesuai dengan teks al-Quran, Nabi saw diperintahkan mengundang kerabat terdekatnya untuk  masuk  agamanya. [3] Kemudian  beliau menginformasikan mereka dengan jelas bahwa siapa pun orang pertama yang menerima ajakan beliau akan menjadi pengganti dan pewarisnya. Ali adalah orang pertama yang tampil ke depan dan memeluk Islam. Nabi saw menerima ketundukan Ali kepada keimanan dan dengan demikian memenuhi janji beliau [4]

Dari perspektif Syi'ah, sepertinya tidak mungkin  bahwa pemimpin sebuah gerakan pada hari-hari pertama aktivitasnya harus mengenalkan kepada orang-orang asing seorang koleganya sebagai calon pengganti dan wakilnya kepada pihak luar, tetapi justru tidak memberitahukannya kepada para pendukung dan sahabatnya yang benar-benar setia dan ikhlas. Juga kurang masuk akal, jika pemimpin seperti itu menunjuk seseorang sebagai wakil dan penggantinya serta memperkenalkannya kepada orang lain, tetapi kemudian selama masa hidup dan dakwahnya is merintangi wakilnya dari tugas-tugasnya selaku wakil, tidak menghargainya sebagai calon pengganti dan tidak membedakannya dengan orang lain.

Menurut hadis-hadis yang tidak diragukan dan benar-bena sahih, baik dalam Sunni dan Syi'ah, Nabi saw dengan jelas menegaskan bahwa Ali terpelihara dari kesalahan dan dosa dalam perbuatan-perbuatan dan ucapan-ucapannya. Apa pun yang Ali katakan dan lakukan sangatlah sesuai dengan ajaran-ajaran agama. [5] Ali juga merupakan manusia yang sangat alim perihal ilmu-ilmu Islam dan perintah-perintahnya. [6]

Selama periode kenabian, Ali menjalankan  pengabdian-pengabdian yang bernilai dan melakukan pengorbanan-pengorbanan luar biasa. Ketika orang-orang kafir Mekkah memutuskan untuk membunuh Nabi dan mengepung rumah beliau, Nabi memutuskan untuk melakukan hijrah ke Madinah. Beliau berkata kepada Ali, "Maukah engkau tidur di ranjangku malam nanti sehingga mereka akan mengira bahwa aku tertidur dan aku akan aman dari pengejaran mereka?" [7]

Ali menerima penugasan berbahaya ini dengan tangan terbuka. Ini diriwayatkan dalam berbagai sejarah dan kumpulan hadis. Ali juga mengabdi dengan berjuang dalam berbagai peperangan, seperti Badar, Uhud, Khaibar, Khandaq, dan Hunain yang kehadirannya sangat menentukan kemenangan Islam. Bahkan, bisa dikatakan jika Ali tidak ikut berperang, kemungkinkan besar musuh akan menumbangkan kaum muslim, sebagaimana diriwayatkan dalam buku-buku referensi sejarah biasanya (Tarikh), biografi Nabi (Sirah), dan kumpulan hadis.

Menurut kaum Syi'ah, bukti utama dari legitimasi Ali sebagai pengganti Nabi adalah peristiwa Ghadir Khum. [8] Ketika itu, Nabi memilih Ali untuk posisi "perwalian umum" (wilayah 'ammah) dari manusia dan menjadikan Ali seperti diri beliau, "wali" [9] mereka.

Merupakan sesuatu yang jelas bahwa  keistimewaan yang Ali miliki disebabkan pengabdian-pengabdian khusus Ali yang dinyatakan oleh semua orang [10] dan besarnya cinta Nabi saw terhadapnya. [11] Bahkan, beberapa sahabat Nabi yang mengenal Ali dengan baik, pasti akan menjadi mencintainya. Mereka berkumpul di sekitar Ali dan mengikutinya sehingga banyak orang lain mulai menganggap cinta mereka berlebihan dan menyebabkan beberapa orang cemburu terhadapnya. Selain itu, kita juga dapat melihat banyak perkataan Nabi berkenaan dengan "Syi'ah Ali" dan "Syi'ah Ahlulbait Nabi " [12]

Catatan Akhir:

[1] Secara khusus, dalam perspektif Syi'ah, yang disebut Ahlulbait adalah Nabi saw, Fathimah Zahra, Ali bin Abi Thalib, Hasan bin Ali, Husain bin Ali dan sembilan orang dari keturunan Husain as—penerj.

[2] Penunjukan pertama yang telah muncul pada masa hidup Nabi saw adalah syi'ah dan Salman, Abu Dzar, Miqdad dan Ammar dikenal dengan nama ini. Lihat Hadhir al-'Alam al-Islami, Kairo, 1352, jil. I, hal. 188.

[3] QS. al-Syu'ara [26]:214.

[4] Menurut hadis ini, "Ali berkata, 'Aku adalah yang paling muda dari semua orang yang tunduk  hingga  aku  adalah  wazirmu'  Nabi  meletakkan  tangannya  seputar leherku dan berkata, 'Orang ini adalah saudaraku, pewaris dan wazirku. Kalian harus mematuhinya.' Orang banyak menertawai dan mengatakan kepada Abu Thalib, 'la telah memerintahkanmu untuk mematuhi anakmu!" Thabari, al-Tarikh, Kairo, 1357, jil. II, hal. 63; Abu al-Fida', al-Tarikh, Kairo, 1358, jil. Ill, hal. 39; Bahrani, Ghayat al-Maram, Tehran, 1272, hal. 320, [Catatan Editor: Pembaca dapat memerhatikan bahwa hadis ini dan hadis-hadis tertentu lainnya yang dikutip lebih dari sekali muncul setiap kali dalam bentuk yang sedikit berbeda. Ini karena penulis telah menggunakan versi-versi yang diriwayatkan dalam setiap tempat.]

[5] Ummu Salamah meriwayatkan  bahwa  Nabi  bersabda,  "Ali selalu bersama kebenaran (haqq) dan al-Quran, serta kebenaran dan al-Quran selalu bersamanya hingga hari kiamat, mereka tidak akan berpisah satu sama lain." Hadis ini telah diriwayatkan nnelalui lima betas jalur dalam sumber-sumber Sunni dan tujuh jalur dalam sumber-sumber Syi'ah. Ummu Salamah, Ibnu Abbas, Abu Bakar, Aisyah, Ali, Abu Sa'id Khudri, Abu Laila, Abu Ayyub Anshari termasuk di antara para perawinya. Ghayat al- Maram, hal. 539-540. Nabi saw bersabda, "Allah memberkati Ali karena kebenaran selalu bersamanya." AI-Bidayah wal Nihayah, jil. VII, hal. 36.

[6] Nabi saw bersabda, "Arbitrasi (tahkim) terbagi menjadi sepuluh bagian. Sembilan bagian diberikan kepada Ali dan satu bagian dibagikan di antara semua manusia." AI-Bidayah wal Nihayah, jil. VII, hal. 359. Salman Farisi telah meriwayatkan perkataan ini dari Nabi, "Setelah aku, manusia yang paling alim adalah Ali." Ghayat hal. 528. Ibnu Abbas mengatakan bahwa Nabi bersabda, "Ali adalah orang yang paling kompeten dalam mengadili." Dari kitab, Fadhail al-Shahabah, disebutkan dalam Ghayat al- Maram, hal. 528, "Umar mengatakan, 'Semoga Allah tidak pernah membebankanku dengan tugas yang sulit ketika Ali tidak ada." Al-Bidayah wal Nihayah, jil. VII, hal. 359.

[7] Perpindahan dari Mekah ke Madinah menandai tanggal asal mula kalender Islam, dikenal sebagai hijrah.

[8] Catatan Editor: Menurut kepercayaan Syi'ah, ketika kembali dari melaksanakan ibadah haji ke Mekah di jalan menuju Madinah di tempat yang dinamakan Ghadir Khum, Nabi saw memilih Ali sebagai penggantinya di hadapan kerumunan massa yang sangat banyak yang menyertai beliau. Kaum Syi'ah merayakan peristiwa ini hingga hari ini sebagai hari raya keagamaan utama yang menandai hari ketika hak Ali atas penggantian (Nabi) dinyatakan secara universal.

[9] Hadis Ghadir dalam berbagai versinya merupakan salah satu hadis yang sudah pasti tidak dapat diingkari di kalangan Sunni dan Syi'ah. Lebih dari seratus sahabat telah meriwayatkannya dengan sanad dan ungkapan-ungkapan berbeda serta telah tercatat dalam kitab-kitab Sunni dan Syi'ah. Mengenai detail-detailnya, silakan merujuk ke kitab Ghayat al-Maram, hal. 79, 'Abaqat karya Musawi, India, 1317 H (Jil. tentang Ghadir) dan al-Ghadir karya Amini, Najaf, 1372 H.

[10] Tarikh Ya'qubi, Najaf, 1358 H., jil. II, hal. 137 dan 140; Tarikh Abil Fidha, jil. I, hal. 156; Shahih Bukhari, Kairo, 1315 H., jil. IV, hal. 207; Muruj al-Dzahab karya Mas'udi, Kairo, 1367 H., jil. II, hal. 437, jil. III, hal. 21 dan 61.

[11] Shahih Muslim, jil. XV, hal. 176; Shahih Bukhari, jil. IV, hal. 207; Muruj al-Dzahab, jil. III, hal. 23 dan jil. II, hal. 437; Tarikh Abu al-Fidha, jil. I, hal. 127 dan 181.

[12] Jabir mengatakan, "Kami berada di majelis Nabi ketika Ali muncul dari jauh. Nabi berkata, 'Aku bersumpah demi Dia yang menggenggam kehidupanku di tangan-Nya, orang ini dan para pendukung (Syi'ah) nya akan memperoleh keselamatan di hari kiamat!" Ibnu Abbas berkata, "Ketika ayat 'Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, mereka itulah sebaik-baik makhluk' (QS al-Bayyinah [98]:7) diwahyukan, Nabi berkata kepada Ali, 'Ayat ini turun berkenaan denganmu dan para pendukung (Syi'ah)mu yang akan memperoleh kebahagiaan di hari kiamat dan Allah juga akan rida terhadapmu." Dua hadis ini dan beberapa hadis lainnya tercatat dalam kitab al-Durr al-Mantsur karya Suyuthi, Kairo, 1313 H., jil. VI, hal. 379 dan Ghayat al-Maram, hal. 326.

Sumber: Mazhab Kelima, hal.57-60, karya Muhamamad Husain Thabathaba'i
Previous Post
Next Post

post written by:

0 komentar: