Selamat Jalan Putra Fathimah


Tubuh-tubuh syuhada Karbala terbujur tanpa kepala di Karbala. Panas matahari di sahara tandus itu mengeringkan jasad-jasad penyanggah agama Muhammad. Tiada lagi lelaki di barisan Ahlulbait, kecuali Imam Husain dan putranya yang sakit, Ali Zainal Abidin.

Setelah berulang kali Imam Husain mengingatkan tentara Kufah, kini dia berteriak sekali lagi kepada kawanan serigala yang mengaku manusia itu, "Wahai kalian, adakah seseorang yang akan melindungi kehormatan Rasulullah dari bencana ini? Adakah pentauhid yang takut kepada Allah karena mendengar berita tentang kami? Adakah orang yang akan menyambut permohonan kami demi ridha Allah? Adakah orang yang menyisakan belas kasih Adakah seorang penolong? [1]

Mendengar itu, perempuan-perempuan di tenda menangis parau. Pemuda yang berbaring lemah karena sakit keras di dalam tenda itu berusaha bangkit. Ali Zainal Abidin putra Husain berteriak, "Aku siap. Akan kukorbankan jiwaku, wahai ayah."

Meski terhuyung lalu jatuh, dia berusaha bangkit. Kemudian dia raih pedangnya, tapi itu terlalu berat baginya. Dia lantas meraih tombak, satu-satunya senjata yang bisa menjadi tongkat untuk menyanggah tubuhnya yang lemah itu. Dengan sisa-sisa tenaga, dia keluar tenda.

Melihat putranya itu, Imam Husain memerintah Ummi Kultsum mencegahnya. Tapi Ali Zainal Abidin menolak dan berkata lirih, "Lepaskan aku bibi. Aku akan menolongnya."

Imam Husain akhirnya turun dari kudanya dan memeluknya lalu memapahnya masuk ke dalam tenda. Dia yakinkan putranya, "Tetaplah di sini. Biarkan aku sendiri menghadapi pedang. Bagimu, belenggu telah menunggu.

Putraku, kamu harus kembali ke Madinah. Sampaikan salamku kepada kakek, ibu dan saudaraku. Sampaikan

salamku kepada saudarimu, Fathimah. Sampaikan salamku kepada para pengikut kita; agar mereka selalu mengingat bibirku yang kering kehausan saat mereka meneguk air, agar mereka selalu mengingat keterasingan dan syahadahku saat mereka bicara keterasingan seorang syahid."

Kepada putri-putrinya, beliau berkata, "Wahai pelipur hatiku. Allah tidak akan berpisah dengan kalian di dunia dan akhirat. Ketahuilah dunia ini tidaklah abadi. Akhiratlah hunian abadi." Lalu beliau menoleh kepada putranya sambil berkata, "Pusaka para nabi, washi dan kitab suci, aku titipkan kepada Ummi Salamah. Sepulang dari Karbala, setelah engkau tiba di kota kakekmu, semua itu akan diserahkan kepadamu.

Imam Husain meminta Zainab mengambil pakaian usang. Setelah mengenakannya, beliau kenakan baju perangnya. Sorban kakeknya dililitkan perlahan di kepalanya. Dzulfikar yang menjadi saksi peperangan sejak zaman Nabi Muhammad saw, erat di pinggangnya. Dia peluk putri-putrinya sambil mencium kening mereka satu persatu. Ditatapnya putra penerus garis kepemimpinan yang berbaring sakit di atas alas kulit domba.

Bayi berusia enam bulan di pangkuan Zainab menangis tapi suaranya tak terdengar. Dia meronta-ronta kehausan, Ali Asghar namanya. Dialah putra bungsu Imam Husain.

Dahaga mencekik lehernya sejak ibunya dihauskan selama berhari-hari oleh pasukan bayaran Yazid.

Imam Husain lalu menggendong putra bayinya dan membawanya keluar tenda. "Hai para pengikut keluarga Abu Sufyan, jika kalian menganggapku pendosa, tapi bukankah bayi ini tak berdosa. Mengapa setetes airpun tak kalian beri untuknya yang mengerang kehausan," ujar Imam Husain di hadapan pasukan Kufah sambil mengangkat bayinya sejajar dagu.

"Cras" Sebuah anak panah menjawab seruan Imam Husain. Tepat menembus leher bayi yang menangis tanpa suara di tangan ayahnya itu. Seketika tangisnya terhenti. Mulutnya pun tak bergerak. Demikian kaki dan tangannya. Darah segar mengucur memerahkan tangan ayahnya.

Jerangkong Kufah bernama Harmalah bin Kahil al-Asadi tertawa terbahak-bahak. Dia puas. Sambil mengacung-acung busurnya, dia pamerkan keberhasilannya. Anak panah yang di lepasnya tepat mengenai sasaran yang dıkehenddakinya.

Imam Husain menggendong jasad mungil itu dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya menghambur darah bayinya ke arah langit. Tak setetespun darah itu jatuh ke bumi. [2]

Imam membawa jenazah bayinya menuju kemah karena dan memberikannya kepada Zainab. Beliau tahu, ibunya tidak akan mampu menyaksikan kondisi bayi yang tenggorokannya ditembus anak panah. Tubuh Zainab berguncang dahsyat saat menggendong Ali Asghar. "Kakakku, tutupilah anak ini. Aku tak mampu menyaksikan keadaannya." Imam Husain menutupi bayi itu dengan sepotong kain. Kemudian beliau menggali kubur kecil dan memakamkan bayinya tanpa mencabut anak panah yang menancap di lehernya. Setelah prosesi pemakaman itu, Imam Husain masuk ke tenda keluarganya.

"Kenakanlah gaun duka kalian. Bersiaplah menanggung bencana. Ketahuilah, Allah adalah Penjaga dan Pelindung kalian. Dia akan menyelamatkan kalian dari keburukan musuh, mendatangkan kebaikan dari persoalan yang kalian hadapi, mengazab musuh dengan berbagai siksa dan mengganti bencana kalian dengan berbagai kenikmatan dan kemuliaan. Maka janganlah mengeluh dengan rintih dan kata-kata yang dapat mengurangi keagungan kalian." [3]

Imam menatap wajah keluarganya satu persatu sambil berkata, "Wahai Sukainah, wahai Fathimah, wahai Zainab, Wahai Ummi Kultsum, wahai kalian semua, salamku atas kalian. Inilah akhir kebersamaan kita dan segera tiba saat kalian dirundung nestapa."[4]

Mereka semua menangis. Imam Husain kembali berkata, "Bersiaplah menghadapi banyak musibah besar setelah ini. Wahai keluarga kenabian, Allah adalah sebaik-baik Penolong kalian. Dialah Penjaga kalian dari gangguan mereka. Allah telah menentukan akhir yang baik bagi kalian dan mengazab musuh-musuh itu dengan siksa pedih. Ingatlah bahwa setiap musibah yang kalian alami akan diganti dengan kenikmatan-kenikmatan yang tak terkira. Karena itu, jangan lemahkan diri kalian dengan jerit tangis." Kelopak mata manusia suci itu tak mampu membendung bulir-bulir hangat yang tumpah di pipi.

Melihat kakaknya menangis, Zainab bertanya, "Mengapa engkau menangis?"

"Bagaimana bisa kutahan tangis, sementara tak lama lagi kalian digiring musuh sebagai tawanan? [5] ujar Imam Husain sambil sesenggukan. Hujan tangis di tenda yang menaungi keluarga suci Rasulullah Muhammad saw itu.

seolah suara lonceng zaman menandakan munculnya kembali era barbar.

Sukainah menubruk lalu memeluk ayahnya dan berkata, "Ayah, apakah engkau akan menyerah kepada kematian?" [6]

Sembari membelai kepalanya, Imam Husain berkata, "Bagaimana tidak, wahai putriku Sukainah, tak kudapati penolongku!"

"Kalau begitu, antarkan kami pulang ke tanah suci kakek,[7] pinta Sukainah.

Imam Husain menjawab, "Mana mungkin aku bisa memulangkan kalian? Andai mereka mau melepasku, tak mungkin aku jerumuskan diriku ke kebinasaan." [8]

Sejurus kemudian Husain memandang gerombolan musuh di hadapannya. Perlahan pelukan Sukainah dilepaskan. Dia peluk putri-putrinya. Dia ucap sekali lagi salam perpisahan. Di pintu tenda, langkahnya tertahan jerit tangis bocah-bocahnya yang menahan dahaga Lalu beliau kembali dan berkata kepada, Zainab, "Zainab, aku titipkan anak-anak dan kaum wanita ini kepadamu. Jadi ibu mereka sepeninggalku. Jangan menjambak-jambak rambut karena kepergianku. Bila anak-anak yatimku merindukanku, biarlah Ali putraku sebagai ayah mereka." Beliau peluk sekali lagi putri-putri dan adiknya sambil mengujar salam perpisahan, Άlwida, Άlwida, alfiraaq, alfiraaq. "[9]

Manusia suci yang disebut "Putraku" oleh Nabi Muhammad saw, harus menghadapi puluhan ribu tentara,seorang diri. Segera dia tunggangi Dzul Janah, kuda perang Sang nabi saw. "Ayah! Ayah!" jerit putri-putri beliau sambil memeluk kaki kuda putih itu. "Aku haus, aku haus! Hendak kemana engkau ayah? Lihatlah aku, ayah. Aku kehausan."

Zainab meraih putri putri Imam Husain dan membawanya ke dalam tenda. Tali kekang kudanya dihentak.

Kini perlahan dia menuju tentara Ibnu Sa'ad sambil berseru, "Adakah pentauhid yang masih takut kepada Allah? Adakah penolong kami? Adakah pembela keluarga Rasulullah?"

Tiada jawaban, kecuali ledakan tangis para wanita keluarganya. Imam Husain benar-benar sendirian. Imam Husain menyaksikan mayat-mayat syuhada pengikutnya di padang tandus itu.

Tiba-tiba Umar bin Sa'ad berteriak kepada pasukannya, "Hai! Serang dan habisi dia. Jika tidak, dia pasti akan mengobrak-abrik barisan kalian."

"Hai putra Sa'ad! Kuajukan tiga pilihan untukmu," ujar Imam Husain sebelum tentara Umar bin Sa'ad menyerang

"Katakan apa maumu?"

"Pertama, bebaskan aku untuk kembali kembali ke tanah suci kakekku dan menetap di sana, ujar Imam Husain.

"Itu tidak mungkin!" jawabnya sombong.

"Kedua, berilah kami air, karena keluargaku tercekik dahaga." pinta Sang Imam.

"Itu mustahil !" ujar bajingan itu

"Jika demikian, kalian tahu aku seorang diri. Aku minta satu diantara kalian maju berduel denganku," ujar Sang Imanm

Gampang! Kuterima permintaanmu duel."

Semula duel terjadi. Semua lawan tanding cucu Rasulullah itu tersungkur. Puluhan prajurit Umar bin Saad tersungkur mati. Umar pun cemas. Dia tak menjawab saat Sang Imam menantangnya.

"Keparat, tak seorangpun mampu menjatuhkan Husain Jika begini terus, tak satupun pasukanku tersisa," ujarnya.

Dia lantas berteriak kepada pasukannya, "Tahukah kalian dengan siapakah kalian hendak bertarung?"

Imam Husain pun dikeroyok. Ketangkasan Ali bin Abu Thalib, kepiawaian Jafar at-Thayar menjelma di sosok Sang Imam. Kawanan serigala Kufah yang menunggang kuda itu pun tak berani mendekat. Bergelimpangan bangkai-bangkai manusia biadab asal Kufah akibat tetakan Dzulfikar di genggaman putra Ali itu. Tiba-tiba, bak ribuan peluru berpacu, panah-panah beracun melesat cepat menghujani putra Fathimah. "La haula wa la quwwata illa billahi al-aliyyil adzhim." Husain masih mampu menangkisnya. Semua musuh yang mendekat pasti roboh dan mati. Tiba-tiba dari arah sebuah anak panah tapat menancap di dada kanannya. Kontan Imam Husain jatuh tersungkur. Sambil mengerang, "Ya Allah, saksikanlah apa yang dilakukan kaum ini terhadapku. Ya Allah binasakanlah mereka. Jangan Engkau biarkan seorangpun dari mereka hidup di bumi ini. Tuhanku jangan Engkau ampuni kesalahan mereka. Hai kalian, betapa buruk perlakukan kalian kepada keluarga Nabi kalian. Demi Allah, aku selalu mengharapkan kemuliaan syahadah. Allah yang kelak menuntut balas darahku, dengan cara yang tidak kalian duga."

"Hai Hlusain, bagaimana bisa Tuhan menuntut balas darahmu dari kami?" sela Hushain bin Umair.

Imam menjawab, "Allah akan menghukum kalian dengan kejahatan di antara kalian sendiri. Saat itulah, Dia akan menurunkan azab-Nya atas kalian."

Tiba-tiba dari arah belakang seorang durjana menghantamkan batu besar ke bagian belakang kepala Sang Imam. Darah segar kembali mengucur dari wajah suci itu. Tak lama berselang anak panah bermata tiga menembus punggung Sang Imam suci yang digelari "penghulu pemuda surga" oleh Rasulullah saw. "Bismillah wabillah wa dla millati rasululillah," putra Rasulullah itu roboh menyamping setelah sebelumnya duduk dengan menancap Dzulfikar di tanah. "Ya Allah, saksikanlah, mereka telah membantai satu-satunya cucu Nabi-Mu di muka bumi ini," ujar Sang Imam kesakitan.

Beliau lalu berusaha mencabut anak panah dari punggungnya. Darah segar mengalir deras. "Ya Allah, mudahkanlah kematian ini," ujarnya. Lalu beliau berujar, "Aku ingin segera bertemu Allah dan Rasul-Nya dalam keadaan seperti ini." Dia tak berdaya. Luka-luka memaksanya terduduk di pasir-pasir panas Karbala.

Terdengar teriakan Ummi Kulsum, "Oh, Husainku." Disusul kemudian Zainab meratap, "Oh Husain, setelah kepergianmu, dunia ini tak berarti lagi. Oh Muhammad! Oh Ayah! Oh Ali! Oh Ja'far:[10] Oh...andai langit ini runtuh menimpa bumi! Oh, andai saja langit runtuh ke bumi ini. Duhai kakakku Husain, duhai imamku, seandainya langit runtuh ke bumi dan gunung-gunung tercerabut." [11]

Anak panah itu masih tertancap di dada dan punggungnya. Sambil tersengal-sengal Imam Husain berkata, "Wahai umat paling bejat, kalian telah memperlakukan Muhammad dengan cara terburuk, menganiaya putra-putrinya. Ketahuilah, setelah kematianku kalian tak mungkin semakin ganas membunuh manusia. Demi Allah, aku sangat mendamba kemuliaan dari Allah dengan syahadah, lalu Dia menuntut balas darahku dari kalian tanpa kalian sadari. [12] Bismillahi wa billahi wa 'ala millati rasulillah. Tuhanku, sesungguhnya Engkau tahui, mereka telah membunuh seseorang di muka bumi putra Nabi. [13]

Keadaan ini aku bertemu dan mengadu kepada kakekku Rasullah." [14] Tak lama berselang Imam Husain pingsan karena kehabisan darah.

Para penjahat Kufah semakin antusias untuk menghabisi nyawa putra Fathimah itu. Beberapa tentara berkuda menginjak-injak tubuh suci cucu Rasulullah itu. Imam Husain terjaga akibat tapal-tapal kaki kuda meremukkan dada dan kakinya.

Zainab yang menyaksikan itu di pintu tenda, segera berbalik memeluk Ali Zainal Abidin. "Wahai bibi, bagaimana keadaan ayahku?" tanya putra Imam Husain.

Atas permintaan Ali Zainal Abidin, Zainab membuka pintu tenda agar dapat melihat ayahnya. Ali putra Husain pingsan melihat kerumunan pasukan berkuda mengitari ayahnya yang tergeletak tak berdaya. Ali Zainal Abidin tersadar dan melihat ayahnya diinjak dadanya oleh Syim bin Dzil Jauzan.

Syimr bin Dzil Jausyan membalik tubuh Imam Husain. Lalu, punggung suci Husain diinjaknya. Kepala Imam Husain ditendang-tendang. Setelah puas, dia duduki punggung Imam Husain. Dijambak-jambaknya rambut yang sering dielus dan dikecup Rasulullah Muhammad saw itu dengan tangan kirinya. Lalu, tangan kanan si biadab itu mengeluarkan pedang dari sarungnya. Seraya melotot dan gigi bergemeretak seperti tikus mengerat kayu, perlahan Syimr memutus urat-urat dan tulang leher lelaki yang lahir dari rahim Fathimah Zahra itu. Setelah menyempurnakan kekejiannya; memotong leher yang sering dikecup Rasulullah Muhammad saw itu, dia tertawa terbahak-bahak sambil melempar kepala itu ke langit lalu menangkapnya lagi.

Tentara-tentara Kufah bergairah turun dari kuda, bergegas menuju tubuh suci tanpa kepala itu. Baju perang putra Fathimah dilucuti paksa. Cincinnya dirampas dengan memotong jari manis kanannya karena tak bisa dilepas. Sepatunya dilepas. Tak ada lagi yang tersisa melekat di tubuh suci yang sering digendong Rasulullah saat bocah itu, kecuali baju usang. Lalu kepala suci beliau ditancapkan ke ujung tombak oleh Syimr, disusul kepala-kepala syuhada yang lain.

Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.

Zainab keluar dari pintu kemah. Dia raup tanah Karbala di depan tenda lalu melepasnya perlahan sambil berujar "Ya Allah, terimalah persembahan kami ini...Oh Muhammad kakekku... Oh... Husain terasing di Padang Karbala. Oh.... Husain berlumur darah, tercabik-cabik tubuhnya. Ya Allah mereka berkehendak menjadikan putri-putri Rasul-Mu sebagai tawanan. Oh Muhammad! Salam sejahtera dari Tuhan penguasa langit untukmu. Lihatlah ini Husainmu terbujur di padang tandus bersimbah darah. Badannya dicincang. Oh... Sungguh malang! Kini putri-putrimu menjadi tawanan musuh Allah. Hanya kepada Allah dan Rasul-Nya, Muhammad Musthafa, Ali Murtadha, Fathimah Zahra dan Hamzah Sayyidus Syuhada, kuadukan penderitaan ini. Oh... Muhammad kakekku Husainmu terbaring tanpa kepala di padang kering, setelah dikhianati orang-orang celaka. Oh... betapa malang.. betapa berat deritamu... Oh... Aba Abdillah, hari inilah hari kematian kakekku Rasulullah Saw. Hai para sahabat Muhammad, lihatlah! Cucu-cucu Nabi kalian digiring sebagai tawanan." [15]

Terlalu mudah melumpuhkan Husain putra Ali bin Abu Thalib. Karena tragedi Karbala pada 10 Muharram bukan pertempuran. Tapi pembantaian.

Imam Husain dan sahabat-sahabatnya yang berjumlah puluhan orang harus menghadapi pasukan yang dipimpin Umar bin Sa'ad yang berjumlah ratusan ribu orang. Apalagi sebagian pendukung Imam Husain di Karbala masih sangat belia itu dan tanpa pengalaman bertempur.

Pasukan Ibnu Ziyad mengepung kemah perempuan Ahlulbait. Musuh-musuh Allah itu merampas semua yang ada di kemah putri-putri Rasulullah saw. Maka, berlarianlah putri-putri Zahra, sambil menangis dan menjerit, "Oh... Husainku... Oh Husainku.."

Seorang tentara Ibnu Ziyad menarik jilbab Ummi Kultsum lalu mencerabut paksa anting-anting cucu Nabi Muhammad saw itu. Daun telinganya robek. Darah mengalir deras. Seluruh wanita Ahlulbait yang suci dan ditegaskan Rasulullah saw sebagai penghuni surga dan pemilik telaga al-Kautsar itu menjerit-jerit menyaksikan Ummi Kultsum diinjak-injak kehormatannya.

Wanita-wanita persembahan suwarga itu diseret keluar sebelum kemudian tenda mereka dibakar. Putri-putri Ali bin Abu Thalib menggigil ketakutan. Zainab maju sambil mendekap Ummi Kultsum dan Atikah seraya berkata, "Belum cukupkah kekejaman kalian dengan meyatimkan gadis-gadis ini? Mengapa kalian harus menyempurnakan kekejaman dengan membakar kemah-kemah kami dan merampas harta serta kehormatan kami?"

"Beruntunglah kalian karena kami tak membunuh kalian. Ketahuilah, hai para wanita! Yazid dan Ibnu Ziyad memerintah kami agar membasmi Husain serta seluruh rombongannya, termasuk kalian para wanita!" hardik seorang komandan pasukan Kufah.

"Jika demikian, biarkan kami di sini mengurus jasad Husain dan para pengikutnya," balas Zainab.

"Hai... kami akan menggiring kalian semua dan menancapkan kepala Husain di ujung tombak lalu menyerahkannya kepada Ubaidillah sebagai bukti, sebagai mana perintah gubernur sebelum kami meninggalkan Kufah!" jawabnya.

Zainab menengadahkan wajahnya ke langit seraya berdoa, "Ya Allah... gandakan kekuatan dan ketabahan kami, sebagai ganti Husain dan para pengikutnya."

Kemudian, tentara-tentara bayaran Ubaidillah bin Ziyad itu melihat Ali bin Husain yang terbaring sakit. Terdengar teriakan seorang dari mereka, "Hai teman-teman, masih tersisa putra Husain. Jangan biarkan dia tersisa!"

"Jangan tergesa-gesa membunuhnya, kita bawa dia ke Amir Umar bin Saad," sergah yang lain.

Syimr menghunus pedangnya hendak membunuh Ali putra Husain. Humaid bin Muslim berkata, "Subhânallah, apakah engkau hendak membunuh pemuda sakit ini?"

Syimr menyergah, "Ibnu Ziyad memerintah kami membunuh semua putra Husain!"

Melihat serigala berwajah manusia itu bergairah menghunus pedang dan menghampiri Ali Zainal Abidin, secepat kilat Zainab menghadang dan menyambar Syimr dengan berkata, "Cukup! Langkahi mayatku sebelum kau bunuh dia...

Mendengar ucapan dan sorot mata tajam Zainab, mereka urungkan niat. Ibnu Sa'ad mencegah Syimr setelah mendengar bentakan putri Ali itu. Meski demikian, salah seorang dari mereka masih menyempatkan diri merampas alas tidur Ali Zainal Abidin yang lemah tergeletak karena sakit, hingga putra imam Husain bergulung-gulung di tanah.

Langit senja meratap sedih. Berwarna darah, bukan rona lembayung senja. Awan hitam menggantung duka di langit kelam. Padang Karbala, merebak anyir darah dan tawa biadab para tentara Ibnu Ziyad. Kepulan asap kemah-kemah Ahlulbait yang dibakar membumbung ke langit.

Zainab memapah Ali Zainal Abidin. Kepada bibi-nya dia berkata, "Wahai bibiku, ayahku telah dibunuh. Bersamanya berakhir pula mata air kedermawanan dan kemuliaan. Beritahu para wanita, serta mintalah mereka bersabar dan tabah. Beritahu mereka agar bersiap menghadapi penjarahan dan penawanan."

Zainab sadar. Kini bukan waktunya untuk menangis. Perjuangan belum selesai.

Mentari senja semburat warna darah di langit Karbala.
Tubuh-tubuh suci tergeletak mengorbankan nyawanya.
Air mata berlinang ditinggal sang kekasih.
Oooh betapa malangnya

Tapi biarlah dia pergi ke haribaan Ilahi
Bukankah dia telah bergembira bertemu datuknya
Ayah, ibu dan kakaknya juga telah menanti
Biarkan dia pergi, dan biarkan air mata ini terusmengalir
Malam kelam tak berbintang ruh-ruh suci menjadicahaya.
Nyalakanlah wahai Husain, keputusanmu sangat indah
Kalian kini telah menjadi bintang-bintang itu,
Cahayamu sepanjang masa.


Matahari surut ke peraduannya membawa duka. Langit gelap tanpa bintang. Awan hitam menyelimuti lembah duka Karbala. Keluarga Imam Husain sepanjang malam menangis hingga kering air matanya.

Seorang tentara Ibnu Saad memberi mereka minum. Ketika hendak menenggak air itu, Ibu Ali Asghar; Rabab, menangis sambil berkata, "Ke mana anakku, Ali Asghar? Dia kehausan. Anakku, ini ada sedikit air. Di mana engkau anakku...?"

Hari itu juga, Umar bin Sa'ad menggiring putri-putri Rasulullah saw laksana kawanan domba menuju Kufah.

Wanita-wanita suci itu harus menyaksikan kepala Imam Husain serta seluruh kepala syahid dari Ahlulbait Nabi saw dan seluruh sahabat beliau ditancap diujung tombak.

Kepala-kepala tentara imam Husain berjumlah tujuh puluh delapan, semuanya ditancap di ujung tombak dan dibagi-bagi di antara kabilah-kabilah pasukan Kufah. Dengan berbuat itu, mereka ingin mendapat hadiah dari Ubaidillah bin Ziyad dan Yazid bin Muawiyah. Bani Kindah membawa tiga belas kepala syuhada, dipimpin oleh Qais bin Asy'ats. Bani Hawazin membawa dua belas kepala syuhada, komandan mereka Syimr bin Dzil Jausyan. Bani Tamim membawa tujuh belas kepala syuhada. Bani Asad membawa enam belas kepala syuhada Bani Midzhaj membawa tujuh kepala syuhada. Tiga belas kepala syuhada dibawa selain mereka. Tentara Umar bin Sa'ad bangga mempertontonkan kepala Imam Husain dan para prajuritnya.

catatan kaki 

[1] Qiyam Salar-e Syahidaan hal.225. Idem.
[2] Anwar Assyahadah hal. 165 Idem.
[3] Jala Al'Uyun hal.213. Idem.
[4] Tazkiah Assyahadah hal. 307. Idem
[5] Ibid.
[6] Qiyam-e Salare Syahidan hal.214. Idem
[7] Biharul Anwar juz 45 hal.47. Idem
[8] Dzariayat Annajah hal.138. Idem.
[9] Tazkiah Assyuhada hal.307. Idem.
[10] Biharul Anwar juz 45 hal.54. Idem
[11] Lama'at AlHusain hal.75. Idem
[12] Ibid hal. 358. Idem.
[13] Anwar Assyahadah hal. 196 Idem
[14] Biharul Anwar juz 45 hal. 53 Idem.
[15] Sayid Ibnu Thawus, Tragedi Pembantaian Keluarga Nabi SAW, hal.

Sumber : The Heroic Grand Daughter of Prophet Muhammad Saw , Zainab, karya Muhamamad Amin, halaman. 113-128




0 Comments


EmoticonEmoticon