Ibadah para imam suci Ahlulbayt as [ seri keempat ]



Ibadah imam Ali Zainal Abidin as

Pada waktu ibadah rasa takut menyelimuti Imam Zainal Abidin sehingga rona wajahnya berubah menjadi pucat.

Kondisi seperti ini berlangsung terus dari awal salat hingga selesai. Pada waktu berwudu juga terjadi kondisi serupa. Suatu ketika seseorang menanyakan alasannya Imam as menjawab, "Saat ini aku sedang berdiri di hadapan Kerajaan Ilahi Yang adalah Sang Pencipta semua dunia, yang di Tangan-Nya terdapat pahala dan siksa setiap makhluk. Apa yang mengherankan bila kondisiku seperti ini adalah karena rasa takutku kepada-Nya?"

Suatu hari beliau pergi haji. Ketika sampai, para jamaah mengenakan pakaian ihram dan beliau mengucapkan talbiyah (labbaik) serta mengenakan pakaian ihram dan tiba-tiba saja rona wajahnya berubah serta tubuhnya mulai gemetar. Akhirnya beliau bahkan tidak dapat mengucapkan kata labbaik.

Orang-orang bertanya padanya, kenapa beliauau tidak mengucapkan kalimat talbiyah Beliau berkata, "Aku takut mengucapkan labbaik (inilah aku datang melayani-Mu) kalau sekiranya Allah menjawab: la-labbaik (Aku tidak menerima pelayananmu)." Sambil mengatakan ini beliau menangis sejadinya sampai pingsan.

Semua ritual beliau laksanakan dalam kondisi takut. Imam Zainal Abidin as menunaikan salat seribu rakaat selama 24 jam dan dalam setiap salat tubuh beliau selalu gemetaran.

Imam Muhammad Baqir as berkata bahwa setiap ayah nya memuji Allah, beliau bersujud syukur, setiap dibacakan ayat al-Quran beliau selalu dalam kondisi seperti ini, baik sujud itu wajib atau sunah, beliau kerjakan dalam berbagai bentuk. Demikian juga, ketika lepas dari kesulitan tertentu Beliau bersujud. Beliau bersujud setelah melaisaaka saat wajib. Bekas sujudnya tampak di keningnya. Itulah kenapa beliau memperoleh julukan as-Sajjad (orang yang banyak bersujud). Kebiasaan ini membuat keningnya menjadi seperti lutut unta (menghitam dan mengeras)

Suatu ketika ada api di dalam rumahnya. Saat itu beliau sedang sujud dan orang mulai berteriak memberitahukan beliau. Tetapi beliau tidak mengangkat kepala sedikit pun.

Akhirnya api itu berhasil dikuasai. Seseorang bertanya kepadanya, "Apa Anda tidak tahu ada api di dalam rumah? Apa yang membuatmu bisa melupakan segalanya?"

Imam as menjawab, "Api akhirat.”

Suatu ketika Imam Muhammad Baqir jatuh ke dalam sumur. Imam Zainal Abidin as sedang menunaikan salat.

Ibu Imam Baqir berteriak, "Ya Putra Rasulullah! Putra kita jatuh ke dalam sumur."

Namun, seperti biasa, beliau tetap khusyuk dalam salat.

Ketika selesai salat, beliau langsung pergi ke sumur dan menarik Imam Baqir ke luar serta berkata kepada istrinya "Jika aku lalai dari Allah, Dia tidak akan mengembalikan anak ini dan mendengarkan aku.

Setelah lewat tengah malam, beliau masuk ke dalam ruang khusus untuk salat dan membaca doa berikut keras keras, "Wahai Tuhanku. Rasa takutku bertemu dengan-Mu pada Hari Pengadilan tidak mengizinkan aku untuk tetap berada di ranjang dan tidur."

Sambil mengucapkan ini beliau menempelkan pipinya ke tanah dan menangis pilu.sampai tanah menjadi basah dengan air matanya. Melihat kondisi seperti ini anggota keluarganya berkumpul mengelilinginya, tetapi beliau tidak menghiraukannya. Beliau terus menangis dan bermunajat dengan kesedihan.

"Wahai Tuhanku. Inilah aku yang tidak beristirahat, tetapi pada Hari aku dipanggil dalam Kehadiran-Mu, tolong pandanglah aku dengan Kasih-Mu."

Thawus Yamani meriwayatkan bahwa Imam Zainal Abidin as terlihat selama musim haji sedang menggesekkan pipinya ke tanah di dekat Hajar Aswad dan membaca doa kepada Tuhannya.

"Ya Tuhanku. Budakmu telah datang ke Rumah-Mu. Hamba-Mu yang miskin telah datang ke Rumah-Mu. Pengemis-Mu telah datang ke Rumah Mu. Pemohon-Miu telah datang ke Rumah-Mu."

Imam berkata bahwa ada tiga jenis ibadah manusia di dunia ini: Pertama, ibadah karena takut. Ia adalah ibadahnya budak. Kedua, ibadah demi ganjaran. Ia adalah ibadahnya pedagang. Ketiga, ibadah dengan syukur. Inilah ibadah sesungguhnya dari hamba-hamba Allah.

Beliau membiasakan mengekang dirinya. Suatu hari Imam Baqir as bertanya kepadanya, kenapa beliau mempraktikkan pengekangan diri?

Beliau menjawab, "Tidakkah engkau suka bila aku memperoleh kedekatan dengan-Nya?"


Sumber : mencontoh para wali hal.159-162, oleh Mz Hasan Amruhi

0 Comments


EmoticonEmoticon