Fikih Al-Qur'an bagian 2



Oleh : ust Muhammad Taufiq Ali Yahya

PELAJARAN 2: MENGUSAP

A. Mengusap Kepala

Kegiatan dalam berwudu yang ketiga yang dijelaskan dalam ayat itu adalah mengusap kepala, dalam firman-Nya: وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ .Frase masaha secara bahasa berarti menarik sesuatu di atas sesuatu yang lain. Sebagian pakar bahasa yang lain juga menambahkan masaha juga dapat memiliki arti membasuh. [1]

Dalam hal ini juga perlu disampaikan, walaupun masaha juga dapat diartikan sebagai membasuh, tapi karena pertentangan dengan membasuh (yang sudah dibahas di awal) maka lebih cocok kalau ia diartikan dengan mengusap.

Ibnu Arabi dalam mendefinisikan mengusap, berkata, “Mengusap adalah menjalankan tangan atas sesuatu yang diusap dan di dalam wudu, berarti menyampaikan air kepada benda yang diusap. Sedang membasuh adalah menyampaikan air kepada sesuatu yang dibasuh.” [2]

Atas dasar definisi di atas, perbedaan antara mengusap dan membasuh dapat dijelaskan sebagai berikut: Membasuh adalah menyampaikan air kepada anggota tubuh yang dibasuh tanpa perantara, sedangkan mengusap adalah menyampaikan air kepada anggota tubuh yang diusap dengan alat bantu sebuah benda.

Ukuran Mengusap

Terdapat perdebatan yang cukup tajam di antara para fukaha mengenai ukuran dan seberapa jauh mengusap itu harus dilakukan.

a. Pendapat-pendapat

1. Imamiyah dan Syafi’iyah berkeyakinan cukup hal itu dianggap sebagai usapan. [3]

2. Hanafiyah berkata, “Mengusap seperempat kepala yang berarti sama dengan luas telapak tangan dan dimana pun diusap sudah mencukupi, alias sah.”

3. Malikiyah dan Hanbaliyah meyakini mengusap harus dilakukan di seluruh kepala. Hanbaliyah menambahkan telinga juga harus dibasuh serta harus dimulai dari awal tumbuhnya rambut hingga belakang kepala. [4]

Ibnu Arabi dan Qurthubi dalam menafsirkan ayat tersebut, menuliskan bahwa ada sebelas pendapat tentang ukuran mengusap. [5]

b. Ulasan
Malikiyah dalam rangka menguatkan pendapat mereka berkata sebagai berikut, “Kepala yang dibahas dalam pembahasan wudu merupakan organ tubuh yang terkenal, yang sebagiannya berupa wajah/muka, dan mengingat wajah sudah dibasuh, sisa kepala yang ada (tentunya) harus diusap pula.” [6]

Fakhrurrzi dalam rangka menjustifikasi pendapat Syafi’iyah menulis sebagai berikut: Ada perbedaan antara ungkapan masahtu yadiy bi al-mindil dengan masahtu al-mindil. Karena yang pertama bermakna aku mengusap seluruh handuk, sedangkan yang kedua bermakna mengusap sebagian saja dari handuk tersebut. [7]

Shabuni juga dalam rangka membela pendapat Hanafiyah dan Syafi’iyah (pendapat tersebut hampir sama dengan pendapat Imamiyah) menulis sebagai berikut: Kata ba’ itu berarti sebagian dan tidak tepat jika itu dianggap sebagai ba’ zaidah (tambahan). Oleh karena itu, kesimpulannya adalah usaplah sebagian dari kepala kalian. Kendati dalam lanjutan tulisannya, Shabuni menulis bahwa mengusap sebagian saja darinya sudah mencukupi, tapi mengusap seluruh kepala itu merupakan tindakan berhati-hati. [8]

Para fukaha Imamiyah untuk menetapkan pendapat mereka yang mengatakan bahwa cukup mengusap sebagian dari kepala telah mengajukan beberapa dalil berikut,

1. Kemutlakan ayat wa-msahu bi ru’usikum yang berarti kewajiban mengusap kepala, tentunya juga mencakup sebagian dari kepala tersebut.

2. Riwayat-riwayat, di antaranya hadis dari Zurarah yang mengatakan, “Aku bertanya kepada Imam Shadiq as, ‘Dari mana awal mengusap kepala dan kaki?’ Beliau menjawab, ‘Wahai Zurarah! Rasulullah saw telah mengatakannya dan telah diturunkan dalam kitab Allah Swt, bahwa Allah Swt berfirman, … maka basuhlah wajah kalian…, maka darinya kita ketahui bahwa wajah seluruhnya itu harus dibasuh. Kemudian beliau melanjutkan, … dan tangan-tangan kalian hingga siku-siku…, maka tangan disambungkan dengan siku-siku dengan wajah, maka darinya kita ketahui bahwa yang harus dibasuh dari tangan adalah sampai siku-siku. Kemudian ungkapan-Nya dipisah dan berfirman, … dan usaplah sebagian kepala kalian…, maka darinya kita ketahui bahwa hanya sebagian kepala sajalah yang harus diusap karena huruf ba’ yang ada pada kata tersebut. Kemudian menyambung kedua kaki dengan kepala sebagaimana menyambungkan tangan dengan wajah. Maka, Allah berfirman, … dan kaki-kaki kalian hingga kedua mata kaki (ka’bain). Maka, tahulah kita ketika keduanya disambungkan dengan kepala bahwa sesungguhnya, kita hanya diharuskan mengusap atas sebagian saja darinya.’” [9]

Dalam riwayat ini dengan menegaskan mengusap sebagian kepala, Imam as menisbatkan penjelasannya dari hadis Nabi saw dan apa yang disimpulkan dari ayat al-Quran.

3. Ba’ yang ada dalam ayat tersebut bermakna tab’idh, yaitu sebagian.

Jika seseorang berkata, “Sesungguhnya, ba’ yang ada dalam ayat ini bermakna melekat, kita dapat menjawabnya bahwa maksud ayat tersebut akan tetap seperti apa yang kita harapkan. Karena sangat berbeda saat kita mengatakan masahtu yadiy bi al-mindil dengan masahtu al-mindil. Sesuai redaksi pertama mengusap sebagian handuk dan yang kedua mengusap sebagian darinya saja.

4. Sanggahan Ibnu Arabi

Ibnu Arabi menulis jika seseorang sedikit saja mengenal bahasa Arab, maka dia tidak akan mengatakan hal ini dan tidak mungkin huruf ba’ bermakna sebagian. Karena jika tidak, maka hal itu juga harus dilakukan untuk kasus tayamum. Mengingat Allah Swt berfirman, fatayammamu sha’ida(n) thayyiba(n), famsahu biwujuhukim wa aidiykum (QS. al-Nisa [4]: 44), dia menambahkan huruf ba’ bermakna penjelasan terhadap sesuatu yang akan diusapkan (air). Artinya, usapkanlah air ke atas kepala kalian. [10]

5. Ba’ dan arti sebagian

Dengan mencermati sanggahan Ibnu Arabi tentang arti huruf ba’ dan dia menuduh mereka yang mengatakan ba’ bermakna tab’idh sebagai orang yang tidak tahu apa-apa, di antara mereka tentunya ada Imam Ja’far Shadiq as. Oleh karena itu, sangat tepat jika kita sedikit mengkaji tentang hal ini supaya hakikatnya dapat kita singkap.

Perlu disampaikan bahwa ungkapan tersebut merupakan pendapat pakar bahasa, seperti Ashmu’i, Farisi, Qutaibi dan pakar sastra lainnya dari kota Kufah.

Fayyumi dalam al-Mishbah mengatakan bahwa ba’ bermakna tab’idh (sebagian) dan tidak berkonotasi secara keseluruhan. Dan hanya cocok untuk yang ada hubungannya dengan sebagian (bukan keseluruhan). Ini merupakan pendapat ulama Kufah. [11]

Sesuai penukilan Fayyumi para pakar bahasa yang setuju dengan pendapat ini, di antaranya Abdullah Qutaibi, [12] Abu Ali Farisi, [13] Ashmu’i [14] dan Ibnu Junnah [15] yang keseluruhannya pakar bahasa dan ahli sastra. [16]

Dari sisi yang lainnya adalah Ibnu Malik [17], Ibnu Sikkit [18], Abu Zaid Anshari [19] dan Imam Syafi’i yang juga pakar bahasa mengatakan bahwa ba’ yang ada dalam ayat yang dibahas bermakna sebagian.

6. Perbandingan mengusap dalam wudu dan tayamum

Adapun perkataan Ibnu Arabi bahwa tayamum juga harus diperlakukan sama. Jawaban Imamiyah, bahwa memang demikian pendapat kita (hanya sebagian saja yang diusap), tetapi jawaban ulama Ahlusunnah adalah bahwa kata famsahu biwujuhikum itu merupakan ganti dari mandi, dan mengingat yang diganti adalah mandi, maka sudah cukup. Dengan demikian, penggantinya juga bersifat umum. [20]

7. Penentuan benda untuk mengusap

Adapun jika ba’ untuk menegaskan benda untuk mengusap, perlu dipertanyakan jika ada kata masaha, kemudian tidak disebutkan ba’ seperti ila al-mirfaqain tsumma masaha ra’sahu bi yadihi, [21] apakah Ibnu Arabi yang sastrawan ini sanggup mengatakan bahwa karena tidak ada huruf ba’, bahwa sesuatu untuk mengusap itu adalah selain air? Di sini huruf ba’ tidak ada hubungannya dengan benda apa yang akan digunakan untuk mengusap. Serta tidak perlu dilupakan jika ba’ dalam kata bi yadihi bermakna isti’anah dan tidak perlu didiskusikan kembali.

Apakah menafsirkan huruf ba’ dengan benda untuk mengusap itu lebih umum dibandingkan penentuan kadar yang diusap?

Oleh karena itu, lebih baik kita katakan bahwa di tempat-tempat ketika ba’ tidak disebutkan, hal itu untuk sebuah tujuan, yaitu menjelaskan mengusap itu sendiri. Adapun jika disebutkan ba’-nya, berarti bermaksud penentuan ukuran dan batas usapan.

c. Dua hal

Hal pertama: Apakah ketika mengusap kepala itu harus yang tanpa penutup atau boleh juga mengusap kepala yang ada penutupnya? Fakhrurrazi mengatakan bahwa Ahmad Auza’i [22] dan Tsauri berkeyakinan mengusap ‘imamah (penutup kepala untuk laki-laki-editor) itu juga dibolehkan.

Yang benar adalah zahir dan konteks kalimat wa-msahu bi ru’usikum tidak dapat digunakan untuk mengusap kepala yang berpenutup ‘imamah.

Hal kedua: Syafi’iyah dan Hanbaliyah berkeyakinan bahwa tidak apa-apa mengganti mengusap itu dengan membasuh. [23]

Tanpa diragukan lagi ungkapan yang terdapat dalam ayat ini adalah mengusap, bukan membasuh dan di antara keduanya sangat jelas berbeda.

Hadis-hadis pengikut Ahlulbait as dan Ahlusunnah juga menjelaskan hal yang sama, sebagaimana kita membaca hadis marfuk, dari Muhammad bin Yahya, dari Imam Shadiq as yang mengatakan, “Tidak boleh sehelai rambut pun terkena tetesan air.” [24] Dan di dalam riwayat yang juga disebutkan, “Wudu itu (memiliki) dua kegiatan membasuh dan dua kegiatan mengusap.” [25]

B. Mengusap Kaki

Kegiatan keempat wudu yang disinggung oleh ayat mulia ini adalah mengusap kaki. Allah berfirman, … dan kaki-kaki kalian sampai kedua mata kaki (ka’bain). Seluruh ahli fikih Ahlusunnah, di antaranya Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanbaliyah berkeyakinan bahwa harus membasuh kaki sampai kedua mata kaki (ka’bain). [26]

Adapun Thabari dan para fukaha Imamiyah berkeyakinan yang dimaksud adalah mengusap kaki sampai kedua mata kaki (ka’bain), bukan membasuh, dengan sebuah perbedaan, Thabari menyatakan mengusap secara umum. [27]

1. Bacaan kata “arjul” penentu dibasuh dan diusapnya kaki

Sumber perbedaan dalam penafsiran masalah arjul adalah perbedaan bacaan pada frase arjul, karena kata tersebut dapat dibaca dengan tiga bentuk:

a. Dibaca nashab yang merupakan bacaan populer. Ini merupakan bacaan Nafi, Ibnu Amir dan Kasa’i dengan dalil di-athaf-kan kepada aydiyakum atau men-taqdir-kannya kepada kata faghsilu.

b. Bacaan jar yang merupakan bacaan Ibnu Katsir, Hamzah dan ulama lainnya. Ada beberapa sebab bacaan ini,

1. athaf kepada kata ruusikum secara lafal dan makna yang hasilnya kaki harus diusap.

2. majrur karena huruf jar yang dikira kirakan yang hasilnya juga mengusap.

3. Athaf kepada aydiyakum, tetapi karena berdekatan dengan sesuatu yang majrur, akhirnya ikut dibaca jar juga. Seperti إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ أَلِيمٍ (QS. Hud: [11]: 26) dan ujung-ujung kaki pun, juga harus dibasuh. [28]

Zamakhsyari juga mengajukan sebuah kemungkinan: Posisi jar yang ada pada kata arjul disebabkan oleh sebuah peringatan. Artinya adalah dimungkinkannya penggunaan air akan membuat israf (berlebihan dalam pemakaian air) sehingga harus di-athaf-kan kepada sesuatu yang diusap. [29]

c. Bacaan rafa’, yang menjadi bacaan Hasan, Walid bin Muslim dan Sulaiman A’masy dengan men-taqdir-kan sifat dari sesuatu yang dibasuh yang intinya sama dengan bacaan nashab.[30]

2. Ulasan 

Yang benar adalah bacaan nashab, tetapi dengan di-athaf-kan kepada maknanya atau mahal jar-majrur. Yang contoh hal ini banyak dijumpai dalam obrolan orang-orang Arab, karena i’rab dengan mujawarah banyak dipungkiri oleh para ahli nahwu, seperti Nuhas, [31] Abul Baqa’ Hanafi, [32] Ibnul Jani dan Shairafi. [33] Mereka yang membolehkan juga memberikan beberapa persyaratan, di antaranya tidak membuat kerancuan pemahaman.

Adapun bacaan nashab dengan di-athaf-kan kepada wujuhakummenurut ungkapan Fadhil Miqdad adalah athaf yang ngawur atau menurut ungkapan Thabari mendahulukan atau mengakhirkan yang tidak tepat, karena kalau disusun ayat tersebut akan berbunyi sebagai berikut,

فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ

Adapun bacaan rafa’, pertama, ia perlu pada sesuatu yang dikira kirakan, yang itu bertentangan dengan dasar asal pembicaraan. Kedua, jika memang ada yang dikira-kirakan antara sifat sesuatu yang dibasuh atau yang diusap, sebagai sifat yang kita ambil.

Berdasarkan apa yang sudah disampaikan, hal yang wajib dilakukan adalah mengusap bukan membasuh. [34] Sebagaimana yang telah dipilih oleh Ibnu Abbas dan Anas bin Malik dari kelompok para sahabat dan Ikrimah, dan Amir bin Syarahil Sya’bi dari kelompok tabiin, serta Dawud bin Ali Isfani Dahiri yang bermazhab Syafi’i dan terakhir adalah Nashirul Haq yang bermadzhab Zaidiyah.[35]

Mungkin saja disampaikan bahwa banyak riwayat yang berkaitan dengan masalah ini yang menafsirkan maksud ayat tersebut yang bisa jadi menghapus hukum yang sudah jelas di atas (mengusap menjadi membasuh).

Jawaban klaim ini begitu jelas mengingat Imamiyah juga memiliki riwayat yang begitu banyak dari para Imam Ahlulbait as, di antaranya adalah riwayat Ghalib bin Hudzail yang bertanya tentang mengusap kaki kepada dari Imam Shadiq as. Imam menjawab, “Itulah yang dibawa oleh Jibril as.” Atau Muhammad bin Abi Nashr Bazanthi yang menuturkan, “Saat Imam Ali Ridha as ditanya tentang tata cara mengusap, dan beliau mempraktikkan kegiatan berikut ini. Beliau meletakkan tangannya di jari-jemari kaki, kemudian beliau mengusapnya sampai ke kedua mata kaki (ka’bain).” [36]

3. Arti ka’bain

Secara bahasa, ka’b bermakna tonjolan dan ketinggian. [37] Adapun berkaitan dengan kata tersebut, diartikan sebagai tulang yang ada di tubuh manusia masih terdapat pro-kontra dan perbedaan di antara ulama fikih. Berikut ini ada tiga pendapat yang mengemuka tentang makna ka’bain.

a. Tonjolan yang ada di dua samping kaki

Ibnu Faris mengatakan bahwa ka’b adalah tulang yang ada di dua sisi kaki, yang terletak di persendian antara kaki dengan betis. Fayyumi juga menukil arti tersebut dari Abu Amr bin Ala’, Ashmu’i dan Azhari.

Para pemuka empat ulama fikih Ahlusunnah meyakini hal semacam ini dan mengatakan ka’bain adalah dua tulang yang menonjol di bawah betis dan di atas telapak kaki. [38] Dan hasilnya setiap kaki memiliki dua ka’b.

b. Tonjolan di atas telapak kaki

Jauhari menulis maksudnya adalah tulang yang menonjol di atas telapak kaki.[39] Fayyumi menukil arti ini dari Ibnu Arabi [40] dan beberapa pakar bahasa lainnya.

c. Persendian antara betis dan kaki

Sebagian ahli fikih berkeyakinan bahwa maksud ka’b adalah persendian antara betis dan kaki. [41]

Adapun para fukaha Imamiyah menerima pendapat kedua dari makna kebahasaannya dan mengatakan bahwa maksud dari ka’b adalah tonjolan yang ada di atas telapak kaki yang berada di depan betis dan di antara persendian dan bagian akhir dari jari-jari. Pengarang kitab al-Jawahir mengatakan bahwa Muhammad bin Hasan Syaibani adalah salah satu dari ulama Ahlusunnah yang sepakat dengan pendapat Imamiyah. [42]

Oleh karena itu, setiap kaki memiliki satu ka’b. Dan ungkapan وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ menjelaskan mengusap ka’b yang ada pada dua kaki.

Ungkapan yang disampaikan oleh Allamah Hilli sama sekali tidak selaras dengan bahasa dan juga tidak sesuai dengan lahir ayat, karena persendian tidak memiliki ketinggian dan tonjolan. Bisa jadi, ungkapan beliau itu hanya dalam rangka menjelaskan batas akhir dari yang harus diusap.

4. Ukuran yang Harus Diusap

Sangat jelas penjelasan pendapat dalam penentuan arti ka’b secara tidak langsung sudah menentukan ukuran dan batas yang harus diusap. Oleh karena itu, sesuai ahli fikih Ahlusunnah yang harus dibasuh sampai tulang menonjol yang berada di sisi-sisi kaki, sedang fatwa para fukaha Imamiyah adalah mengusap sampai tonjolan yang ada di punggung kaki.

5. Akhir Usapan

Mengingat ayat al-Quran di atas membatasi usapan dengan kata ila dan mengatakan: وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ berarti ada dua pembahasan yang perlu dijelaskan: Apakah ungkapan ini memiliki mafhum atau tidak? Dan apakah ka’bain itu masuk dalam objek yang harus diusap atau tidak?

Jawaban kedua soal ini sudah disinggung dalam ungkapan: إِلَى الْمَرَافِقِ Namun secara lahiriah, ayat ini hanya menjelaskan bahwa jika sebuah kegiatan sudah dikatakan mengusap, itu sudah mencukupi. Hal itu juga dikuatkan oleh beberapa riwayat, di antaranya riwayat dari Zurarah dan Bukait dari Imam Bagir as, yang bersabda, “Jika kegiatan mengusapkan sesuatu kepada kepala dan kaki di antara ka’bain sampai sisi-sisi jari-jemari telah dilakukan, maka itu sudah mencukupi.” [43]

6. Mengusap dengan Air Baru

Mengingat Ahlusunnah berkeyakinan bahwa maksud dari masahadalam ayat tersebut adalah membasuh, sangat lumrah kalau basuhan tersebut harus menggunakan air baru. Dan air sisa itu tidak dapat digunakan untuk melakukan pengusapan (lagi).

Adapun para fukaha Imamiyah yang meyakini harus mengusap kepala dan kaki, mengharuskan hal tersebut dilakukan dengan air sisa dari wudu itu sendiri. [44] Dan ini dikuatkan oleh beberapa hadis yang menjelaskan wudu Rasulullah saw dan para Imam as. Di antaranya riwayat Bukair dan Zurarah dari Imam Bagir as, yang dalam riwayat tersebut ditanyakan tata cara wudu. Beliau menjawab dengan mempraktikannya langsung. Beliau mengusap kepala dan kedua kakinya hingga ka’bain dengan air sisa wudu yang terdapat ditelapak tangan beliau dan tidak mengambil air baru. [45]

Dari konteks ayat : إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ juga dapat disimpulkan, karena mengusap kepala dan kaki di-athaf-kan kepada kata ghusl dengan tanpa pemisah.

7. Mengusap Kedua Sepatu dan Kaos Kaki

Ungkapan wamsahu menjelaskan bahwa mengusap harus mengenai kulit kaki. Para fukaha Imamiyah juga berpendapat demikian. Dengan menggunakan beberapa riwayat dari para Imam maksum as, mereka telah memfatwakan ketidakbolehan mengusap sepatu dan kaos kaki, kecuali jika dalam keadaan darurat yang menuntut hal tersebut, seperti karena balutan luka, cuaca dingin, serta takut musuh menghancurkan agama dan dunia kita. [46]

Adapun para fukaha Ahlusunnah bersikeras akan dibolehkannya mengusap sepatu bahkan dianggap oleh mereka hal tersebut merupakan salah satu simbol agama Islam (yang syariatnya mudah). Ibnu Arabi menyatakan pendapatnya bahwa mengusap sepatu atau penutup kaki merupakan syariat yang mendasar dan menjadi tanda dan bukti pembeda antara Ahlusunnah dan ahli bid’ah. [47] Jazairi juga menuliskan pendapatnya sebagai berikut: Kendati al-Quran mewajibkan membasuh kaki, akan tetapi syariat membolehkan mengusap sepatu sebagai sebuah keringanan. Hal itu telah dinukil oleh lebih dari 40 orang sahabat, bahkan 70 orang menukil langsung dari Rasulullah saw. [48]

Dalil paling pokok dalam masalah ini adalah riwayat Humam dari Jarir. [49] Humam berkata, “Kemudian Jarir berwudu dan mengusap atas kedua sepatunya. Maka dia ditanya, ‘Mengapa kamu melakukan hal ini?’ Dia berkata, ‘Ya! (Karena) aku melihat Rasulullah saw membuang air kecil lalu berwudu dan mengusap bagian atas sepatunya.’” Dan keislaman Jarir itu terjadi setelah turunnya surah al-Maidah. [50]

Dalil Abu Hanifah adalah ayat yang mengatakan, Allah menginginkan kemudahan untuk kalian dan tidak menghendaki kesulitan bagi kalian (QS. al-Baqarah [2]: 148). Dan, riwayat Huzaimah bin Tsabit, dari Rasulullah saw, yang bersabda, “Mengusap bagian atas sepatu (diperkenankan) untuk seorang musafir selama tiga hari, sedangkan bagi yang tidak bepergian (hanya) sehari-semalam saja.” [51]

a. Ulasan

Dari permasalahan ini tampaknya dalil mereka adalah memberi kemudahan kepada umat. Pada awalnya hukum tersebut adalah kaki dalam wudu harus dibasuh, tetapi syariat untuk kemudahan membolehkan mengusap di atas sepatu. Permasalahan ini juga telah membuat para fukaha Ahlusunnah membuat satu bab tersendiri dan hukum-hukumnya yang khusus. [52]

Kalau diperhatikan pendapat ini beserta dalilnya dapat dipatahkan, dengan beberapa dalil berikut ini.

1) Tidak ada kecocokan dengan redaksi ayat dan ungkapan imsahu, entah itu bermakna membasuh atau mengusap. Karena ungkapan tersebut sebuah simbol bahkan sebuah penegasan terhadap mengusap.
2) Ayat yang sedang dibahas termasuk ayat muhkamat. Selain itu, tidak ada dalil yang meyakinkan akan terhapusnya hukum tadi atau yang mengkhususkannya. Anggap saja ada beberapa riwayat yang menegaskan bahwa Rasulullah saw juga mengusap sepatu beliau, maka kita dapat mengatakan beberapa kemungkinan.

a) Berkaitan dengan sebelum turunnya ayat ini.
b) Tipe dan model sepatu beliau tidak membuat air tercegah untuk sampai ke kulit.
c) Hal tersebut dilakukan pada kasus-kasus genting dan terdesak.

Oleh karena itu, ungkapan yang disampaikan oleh Jaziri bahwa munculnya riwayat yang membolehkan setelah turunnya surah al-Maidah tentunya tidak terlalu tepat.

3) Ungkapan Jarir dan keislamannya saling tumpang tindih, Mas’udi dalam Muruj al-Dzahab menyebutkan keislaman Jarir terjadi sebelum turunnya surah al-Maidah, sedangkan ungkapan Thabrani di dalam kitab al-Ishabah dikatakan: (keislamannya sezaman dengan) meninggalnya Najjasyi dan kematiannya terjadi sebelum turunnya surah al-Maidah. [53]

Selain itu, menurut penuturan Ibnu Qutaibah dinukil bahwa Jarir memisahkan diri dari Imam Ali as dan ucapannya sudah tidak dapat dijadikan pegangan.

4) Banyak riwayat-riwayat yang menafikan riwayat di atas. Di antaranya, “Mengusap kulit keledai lebih aku sukai daripada aku harus mengusap di atas sepatu.”[54] Dan mungkin atas dasar riwayat inilah Imam Malik dan Fakhrurrazi yang bermazhab Syafi’iyah masih meragukan hal tersebut.[55]

Di dalam riwayat Imamiyah juga terdapat riwayat yang melarang hal itu. Di antara hadis tersebut adalah riwayat Halabi. Dia berkata,“Aku bertanya kepada Abu Abdillah as tentang mengusap bagian atas sepatu? Beliau menjawab, ‘Jangan lakukan!’ Dan beliau melanjutkan,‘Sesungguhnya, kakekku berkata, ‘Sesungguhnya, al-Quran telah lebih dahulu (turun) daripada (keberadaan) kedua sepatu.’” [56]

5) Justifikasi dengan menghilangkan kesulitan tampaknya kurang maksimal dan tidak ada yang perlu diperselisihkan lagi. Jika maksud dari tashil (memudahkan) adalah mukalaf dapat memilih hal yang paling mudah. Mengapa hanya sehari atau tiga hari? Tidakkah seorang musafir yang sudah berjalan sebanyak tiga hari tidak lebih pantas untuk mendapatkan bonus/diskon itu?

b. Kesimpulan

Berkaitan dengan tema mengusap sepatu telah terjadi persaingan dan cekcok antara pengikut Imamiyah dan Ahlusunnah sehingga sampai pada sebuah batas dimana Imam Shadiq as tidak memberikan restu dan izin untuk ber-taqiyah terhadap masalah ini. Insya Allah, hal itu akan kita lanjutkan pada pembahasan taqiyah.

catatan akhir

[1] Dikatakan masaha al-syai’ bi al-ma’ bermakna menjalankan/menggerakkan tangan
di atasnya, sedangkan al-mashu bisa bermakna mengusap dengan tangan atau
membasuh. Ibnu Faris, Maqayis al-Lughah; al-Mishbah al-Munir; al-Nihayah fi Gharib
al-Hadits wa al-Atsar, kata Masaha.

[2] Muhammad bin Abdullah Ibnu Arabi, Ahkam al-Quran, jil.1, hal.568.

[3] Muhammad Hasan Najafi, Jawahir al-Kalam, jil.2, hal.170.

[4] Abdurrahman Jaziri, al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah, jil.1, hal.54-61.

[5] Muhammad bin Abdullah Ibnu Arabi, Ahkam al-Quran, jil.1, hal.568. Muhammad bin Ahmad Qurthubi, al-Jami’ li Ahkam al-Quran, jil.6, hal.87. Sebagian pendapat itu mengatakan: Mengusap satu helai rambut, tiga helai rambut, mengusap ubun-
ubun, mengusap seperempat, mengusap dengan satu jari, mengusap dengan semua jari.

[6] Tafsir al-Qurthubi, jil.6, hal.87.

[7] Muhammad bin al-Husain Fakhrurrazi, Tafsir al-Kabir, jil.11, hal.160.

[8] Muhammad Ali Shabuni, Tafsir Ayat al-Ahkam min al-Quran, jil.1, hal.539.

[9] Wasail al-Syi’ah, Bab-Bab Wudu, hal.23, hadis ke-1.

[10] Muhammad bin Abdullah Ibnu Arabi, Ahkam al-Quran, jil.2, hal.571.

[11] Ahmad bin Muhammad Fayyumi, Mishbal al-Munir, kata Ba’dh; lihat juga: Ibnu Hisyam, Mughni al-Labib, huruf Ba’

[12] Abu Muhammad, Abdullah bin Qutaibah seorang ahli nahu, sastrawan, sejarawan,
seorang muhadi dan seorang fakih, pengarang kitab Adab al-Katib dan Misykilat
Ma’an al-Quran.

[13] Abu Ali, Hasan bin Ali Farisi, salah seorang pakar nahu tersohor pengarang kitab,
Idhah fi al-Nahw wa al-Takmilah.

[14] Abu Sa`id, Abdul Malik Ashmu’i, murid Khalil bin Ahmad dan Abu Amr bin ‘Ala
dan termasuk tokoh bahasa dan sastra Arab, pengarang kitab al-Addad (Lawan
Kata), Ashma’iyah dan lain-lain.

[15] Usman bin Janni, pengarang kitab Lam’ fi al-Nahw.

[16] Abu Abdillah bin Muhammad, ibnu Malik, pengarang kitab Kafiyah wa Syafiyah,
Alfiyah, Syarh Tashil.

[17] Ya’qub bin Yusuf yang dikenal dengan sebutan Ibnu Sikkit, salah seorang pakar
bahasa, sastra Arab dan pengarang kitab Ishlah al-Mantiq, al-Alfazh, dan al-Addad.

[18] Sa`id bin Aus, seorang pakar nahu dan bahasa yang sangat terkenal, pengarang
kitab Nawadir fi al-Lughah.

[19] Muhammad Ali Shabuni, Tafsir Ayat al-Ahkam min al-Quran, jil.1, hal.539.

[20] Ibid.

[21] Sunan Nasa’i, jil.1, hal.71-72.

[22] Abu Amr, Abdurrahman bin Amr bin Ahmad, wafat 157 Hijriah.

[23] Abdurrahman Jaziri, al-Fiqih ‘ala Madzahib Al-Arba’ah, jil.1, hal.54-61.

[24] Wasa’il al-Syi’ah, Bab-Bab Wudu, bab ke-37, hadis ke-1.

[25] Jalaluddin Suyuthi, al-Durr al-Mantsur, jil.3, hal.28.

[26] Abdurrahman Jaziri, al-Fiqih ‘ala Madzahib Al-Arba’ah, jil.1, hal.54-61.

[27] Jawahir al-Kalam, jil.2, hal.206; Muhammad bin Jarir Thabari, Tafsir Thabari, jil.4,
hal.466.

[28] Samin Halabi, Abu Abbas bin Yusuf, Durr al-Mashun fi ‘Ulum Kitab al-Makmun,
jil.2, hal.493-497.

[29] Mahmud bin Umar Zamakhsyari, Tafsir al-Kasysyaf, jil.1, hal.611.

[30] Muhammad bin Ahmad Qurthubi, al-Jami` li Ahkam al-Quran, jil.6, hal.91; Ahmad
Mukhtar Umar dan Abdul Salim Mukarram, Qira’ah Quraniyah, jil.2, hal.194.

[31] Abu Ja’far, Ahmad bin Muhammad Ismail, wafat tahun 338 Hijriah. Dia adalah
murid Zujaj, Akhfasy dan Mubarrad.

[32] Ayyub bin Musa, wafat tahun 1095, seorang tokoh nahwu.

[33] Abu Sa`id, Hasan bin Abdullah (284-368), pengarang kitab Syarah Kitab Sibaweih.

[34] Muhammad bin Hasan Thusi, Tibyan fi Tafsir al-Quran, jil.3, hal.352; Fadhl bin
Hasan Thabarsi, Majma’ al-Bayan, jil.2, hal.165; Miqdad bin Abdullah Sayuri, Kanz
al-`Irfan, jil.1, hal.6; Muhammad Husain Thaba’thaba’i, al-Mizan, jil.5, hal.222.

[35] Tafsir al-Qurthubi, jil.6, hal.92; Tafsir al-Kabir, jil.11, hal.161.

[36] Wasail al-Syi’ah, Bab-Bab Wudu, bab ke-24, hadis ke-4.

[37] Mishbah al-Munir, Maqayis al-Lughah, kata ka’aba.

[38] Abdurahman Jaziri, al-Fiqih `ala al-Madzahib al-Arba’ah, jil.1, hal.81.Di antara ulama
Imamiyah, hanya pengarang kitab Tahqiq fi al-Kalimat al-Quran yang pendapatnya
sama dengan Ahlusunnah.

[39] Shihah al-Lughah, kata Ka’b.

[40] Muhammad bin Ziyad Kufi Abu Abdillah, wafat 331 Hijriah. Sastrawan kota
Kufah yang merupakan salah satu murid Kasa’i, serta guru Tsa’lab dan Ibnu
Sikkit.

[41] Hasan bin Yusuf Allamah Hilli, Mukhtalaf al-Syi’ah, jil.1, hal.125.

[42] Muhammad bin Muhammad Nu’man Mufid, al-Miqni’ah, hal.44; Jawahir al-Kalam,
jil.2, hal.215.

[43] Wasail al-Syi’ah, Bab-Bab Wudu, bab 15, hadis ke-3.

[44] Jawahir al-Kalam,jil.2, hal.181.

[45] Wasail al-Syi’ah, Bab-Bab Wudu, bab 15, hadis ke-1, 2, 3, 4, 7, 8 dan 11.

[46] Jawahir al-Kalam, jil.2, hal.241.

[47] Ahkam al-Quran, jil.1, hal.579; Qurthubi juga menyinggung tentang mengusap
atas sepatu; Jami’ li Ahkam al-Quran, jil.6, hal.93.

[48] Abdurrahman Jaziri, Fikih ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah, jil.1, hal.135.

[49] Dia adalah Jarir bin Abdullah Bajli.

[50] Shahih Muslim, jil.1, hal.156, hadis ke-401.

[51] Sunan Tirmizi, hadis ke-88; Syafirurrahman Nadwi, al-Fiqh al-Muyassar ‘ala
Madzhab al-Imam al-A’zham Abu al-Hanifah, bagian Ibadah, hal.55.

[52] Sebagian dari hukum ini adalah sucinya sepatu menurut Hanafiyah dan Syafi`iyah.
Malikiyah dan Hanbaliyah boleh mengusap bagian atas sepatu yang najis. Begitu
juga sah mengusap bagian atas sepatu curian dan hasil gasab. Tidak lebih dari
tiga jari yang dikatupkan. Batalnya mengusap dengan merobek sepatu. Air tidak
boleh masuk ke dalam. Masa diperbolehkannya mengusap bagian atas sepatu
untuk seorang mukim (sedang tidak bepergian) sehari-semalam, sedangkan untuk
seorang musafir tiga hari-tiga malam. Al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah, juz 1,
hal.81.

[53] Ali bin Husain Mas’udi, Muruj al-Dzahab, jil.2, hal.382.

[54] Abu Muhammad Abdullah Qutaibah, Kitab al-Ma’arif, hal.127, sesuai penukilan dari Kanz al-’Irfan, jil.1, hal.19.

[55] Tafsir al-Kabir, jil.11, hal.163; Musnad Ahmad, hadis ke-2821 dengan sedikit
perbedaan redaksi.

[56] Wasail al-Syi’ah, Bab-Bab Wudu, bab ke-37, hadis ke-1.




0 Comments


EmoticonEmoticon