Fikih Al-Qur'an Bagian 1


Oleh ust Muhammad Taufiq Ali Yahya

bab 1

TAHARAH (BERSUCI)

pelajaran 1 Wudu

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ ۚ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا ۚ وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَىٰ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ ۚ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَٰكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur. [QS. al maidah: 6]

Ayat al-Quran ini menjelaskan disyaratkannya (penegakan) salat dengan wudu. Dan dengannya dipaparkanlah tiga cara taharah, yaitu wudu, mandi dan tayamum, serta tata cara pelaksanaannya. Dan, di sela-sela ayat tersebut juga dipaparkan kaidah umum yang mengatakan: Tidak ada kesulitan (dalam penerapan hukum Islam).

A. Penjelasan Ayat-Ayat [1]

1. Arti qiyam

Dalam ungkapan إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ ,para pakar bahasa mengatakan, bahwa qiyam memiliki dua pengertian/penggunaan, [2] yaitu qiyam li al-syai’ yang bermakna pelaksanaan sesuatu dan qiyam ila al-syai’, yaitu keinginan untuk melakukan sesuatu.[3]

Para ahli fikih juga mengatakan bahwa qiyam al-shalah ada dua, yaitu qiyam li al-dukhul (berdiri untuk memasuki salat) dan qiyam li al-tahayyu’ laha (berdiri untuk bersiap-siap melaksanakannya). Hampir semua fakih bersepakat bahwa maksud qiyam di sini adalah makna yang kedua, kendati ungkapan mereka satu sama lain berbeda-beda.

Fakhrurrazi, Qurthubi dan Muqaddas Ardabili berkeyakinan bahwa arti إِذَا قُمْتُمْ dalam ayat ini adalah jika kalian berkeinginan/berkehendak untuk melaksanakan salat. Hal ini senada dengan ayat lain yang mengatakan bahwa pada hakikatnya motivator kehendak menempati tempat kehendak tersebut [4] (QS. al-Nahl [16]:98).


Fadhil Miqdad mengatakan konsekuensi ungkapan ini adalah kata ila hanya sekadar metafora saja. Dia menambahkan arti hakiki dari kata ila adalah akhir dari sebuah waktu atau sebuah tempat, dan lebih baik dalam hal ini arti asli tersebut tetap dipertahankan sehingga dengan demikian dapat dikatakan اذا قمتم زمانا ينتهي الى الصلاة jika kamu berkehendak pada suatu waktu yang berakhir kepada pelaksanaan salat. [5]

Tampaknya, dari dua pandangan di atas tidak memiliki nilai ilmiah dan amaliah, mengingat dua pandangan ini sama berakhir pada sebuah kesimpulan, yaitu sebelum pelaksanaan salat diharuskan bersuci terlebih dahulu, bukan setelah masuk dan memulai salat. Karena, jika demikian halnya, berarti akan menjadikan keterlambatan (pelaksanaannya) dari waktu yang telah ditentukan.

2. Para mukhathab (objek) ayat

Tidak dapat diragukan lagi jika di dalam ayat itu orang-orang yang beriman menjadi mukhathab atau objeknya. Namun, ada sebuah pertanyaan, apakah tanggung jawab pelaksanaan tugas yang terdapat  dalam ayat ini dan dalam ayat-ayat yang lain, khusus bagi kaum mukmin saja atau juga mencakup kaum kafir?

Untuk menjawab soal di atas, dapat dikatakan, walaupun orang-orang kafir juga memiliki taklif yang sama (mereka juga mukalaf, karena balig dan berakal, pent), tetapi dalam ayat ini dan ayat-ayat yang lain objek aslinya adalah kaum mukmin, bukan yang lain. Oleh karena itu, perlu dicari dalil lain untuk menetapkan bahwa kaum kafir juga termasuk mukalaf dalam hal ini.

3. Kesamaan mukmin dan kafir dalam tugas dan tanggung jawab

Sebagian ahli fikih dan tafsir berkeyakinan bahwa orang-orang kafir juga terkena tugas dan taklif, seperti mukmin. Dalilnya terdapat dalam sebuah ayat (QS. al-Baqarah [2]: 22), karena dalam ayat tersebut kata yang digunakan adalah al-nas dan tentunya mukmin dan kafir sama-sama manusia. [6]

Selain itu, ada ayat-ayat lain yang mendukung dan menjelaskan secara umum atau khusus persamaan taklif yang harus dilaksanakan oleh mukmin dan kafir. Di antara ayat-ayat tersebut, yaitu (QS. Ali Imran [3]: 98); (QS. al-Muddatstsir [74]: 44); dan (QS. Fushshilat [41]: 7-8).

Di dalam riwayat juga terdapat dukungan terhadap klaim ini, di antaranya ungkapan iftharadha ala al-’ibad. Seperti riwayat yang dinukil oleh Sulaiman bin Khalid, dari Imam Ja’far Shdiq as, dia berkata kepada Imam, “Beritahukan aku tentang kewajiban-kewajiban yang diwajibkan kepada para hamba?” Imam menjawab, “Bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusan-Nya, mendirikan salat, membayar zakat, puasa pada bulan Ramadan dan ber-wilayah. Barangsiapa yang melaksanakannya, memenuhinya (dengan baik), bersahaja (tidak berlebih-lebihan) dan menjauhi segala hal yang memabukkan niscaya dia akan masuk surga.” [7]

4. Mengapa masih menggunakan khithab (tujuan) kepada kaum mukmin?

Mengapa kaum mukmin yang menjadi objek? Hal itu bisa disebabkan oleh beberapa hal, yaitu sebagai berikut,

a. Keutamaan dan kemuliaan yang terdapat dalam keimanan.
b. Adanya janji penghambaan dan ketuhanan antara Allah dan kaum mukmin.
c. Pelaksanaan perintah-perintah Ilahi, karena hanya mukmin (orang yang percayalah) yang akan melaksanakannya.
d. Karena Islam merupakan syarat diterimanya amal perbuatan.

Atas dasar ini, hanya mukmin saja yang dijadikan objek dalam ayat ini dan perintah-perintah yang lain.

5. Mutlak dan umum

Ayat ini selain membahas hal-hal yang umum, juga mengkaji hal-hal khusus. Contohnya, lahir ayat menunjukkan bahwa siapa pun yang menginginkan untuk melaksanakan salat, tidak peduli dia sedang berhadas atau tidak, harus bertaharah terlebih dahulu. Kemutlakan dan keumumannya tidak dapat dibatasi dan dikhususkan, kecuali oleh Rasul saw dan para Imam as. Dan pengkhususan semacam ini pernah terjadi. Sebagaimana diceritakan oleh Nasa’i dalam Sunan-nya, Muslim dalam Shahih-nya, Buraidah menuturkan, bahwa “Nabi saw telah melaksanakan salat beliau yang lima waktu pada Fatuh Makkah (Penaklukan kota Mekah) dengan satu wudu dan beliau mengusap bagian atas sepatu/sandal beliau. Maka, Umar berkata, ‘Anda telah melakukan sesuatu yang belum Anda lakukan sebelumnya.’ Beliau menjawab, ‘Aku sengaja melakukannya, wahai Umar.’” [8] Dengan mencermati sabda dan sejarah Nabi saw dan para khalifah ini, Ahlusunnah berfatwa keumuman kata اذا قمتم telah dibatasi dan berkata, «Sebenarnya, ungkapan ini bermakna اذا قمتم الى الصلاة وانتم محدثون jika kalian berkeinginan untuk menegakkan salat dan kalian dalam keadaan berhadas).” Dan atas dasar ini mereka mencukupkan wudu satu kali saja untuk beberapa salat. [9]

Di dalam hadis-hadis Imamiyah juga demikian sebagai ganti dari pelaksanaan salat yang banyak terdapat ungkapan cukup dengan satu wudu. Di antara riwayat itu adalah bahwa Zurarah bertanya kepada  Imam Muhammad Baqir as, “Apakah (cukup) seorang salat dengan satu  wudu untuk salat malam dan salat siang seluruhnya?” Imam Menjawab, “Ya, selama tidak berhadas.” [10]

B. Perincian Hukum-Hukum

Di dalam ayat ini terdapat beberapa hukum, yang di antaranya sebagai berikut,

1. Taharah sebagai syarat sah salat

Ungkapan اذا قمتم الى الصلاة فاغسلوا وجوهكم adalah kalimat syarat yang terdiri dari syarat berupa اذا قمتم الى ,sedangkan jawabannya adalah فاغسلوا وجوهكم Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa kapan pun Anda ingin melaksanakan salat, maka bersucilah.

Poin yang perlu diperhatikan di sini adalah dari segi kaidah bahasa qiyam untuk salat menjadi syarat, sedangkan membasuh dan mengusap (wudu) merupakan masyruth-nya (sesuatu yang bergantung kepada syarat). Akan tetapi, dari sudut pandang fikih dan tafsir sebaliknya, yaitu bersuci dan wudu merupakan syarat, sedangkan salat adalah masyruthnya (sesuatu yang bergantung kepada syarat).

2. Urutan kewajiban taharah

Kalimat اذا قمتم الى الصلاة فاغسلوا وجوهكم menjelaskan sebuah fakta bahwa kewajiban wudu dan bersuci akibat dari diwajibkannya salat, karena ini sudah merupakan konsekunsi dari disyaratkannya bersuci. Hal ini juga dapat diambil dari riwayat, seperti dalam riwayat sahih dari Zurarah yang dinukil dari Imam Muhammad Baqir as, yang bersabda, “Jika waktu telah masuk, wajib bersuci dan salat. Dan tidak sah salat kecuali dengan bersuci.” [11] Waw athaf yang ada antara bersuci dan salat bermakna maiyah, artinya harus bersamaan.

3. Apakah wudu merupakan permintaan independen?

Bisa jadi hal ini dapat ditangkap dari firman Allah Swt, … akan tetapi Dia (Allah) berkehendak untuk menyucikan kalian. Dan menjelaskan bahwa taharah adalah permintaan tersendiri (bukan wajib karena salat). Dan tidak ada yang didapatkan dari wudu kecuali taharah itu sendiri. Adapun dari ayat ini dapat disimpulkan bahwa syariat menginginkan agar salat dilakukan dengan bertaharah, namun apakah Allah juga menginginkan wudu yang tanpa salat, tidak dapat disimpulkan dari ayat tersebut.

Meskipun ungkapan ini cukup kuat, tetapi kita jangan sampai salah memahaminya. Bagian ayat yang tadi dinukil disebutkan tentang masalah jenabat dan mandi, sedangkan yang ingin kita bahas di sini adalah tentang wudu. Dan, jelas ada perbedaan antara taharah secara mutlak dan permintaan agar berwudu.

Di samping itu, dengan konteks yang ada dalam ayat itu, hanya taharah untuk salat saja yang dimaksudkan. Allah Swt mengharapkan agar orang yang salat dalam keadaan suci. Namun konteks tersebut tidak menunjukkan perintah wudu untuk selain keperluan salat.

Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa pensyariatan awal untuk wudu itu mengikuti kewajiban salat. Kemudian, pada tahap selanjutnya dijadikan sebagai keabsahan atau syarat pembolehan dan syarat kesempurnaan ibadah-ibadah yang lain, seperti tawaf, menyentuh tulisan dan membaca al-Quran. Allah berfirman, Tidak (boleh) menyentuhnya kecuali orang-orang yang telah bersuci (QS. al-Waqi’ah [56]: 79).

4. Sebab-sebab yang mengharuskan wudu dan yang membatalkannya

Sepintas lalu dari ayat yang sedang dibahas, tidak ada singgungan sama sekali tentang sebab-sebab wudu dan pembatalnya. Akan tetapi, jika sedikit direnungkan dan diamati lagi, dapat dilihat adanya indikasi hal tersebut. Karena berkaitan dengan tayamum yang menjadi ganti dari wudu, Allah Swt berfirman, atau kembali dari tempat buang air (kakus). Dengan demikian, apa yang terdapat dalam pengganti tentunya ada juga dalam perkara yang diganti. Alhasil, secara global, sebab-sebab dan yang membatalkan wudu juga disinggung dalam ayat di atas.

Batalnya wudu dengan menyentuh dan meraba

Salah satu permasalahan yang dibahas dalam penafsiran ayat tadi adalah batalnya wudu karena menyentuh dan meraba. Berikut ini akan disajikan beberapa pendapat tentang batalnya wudu, karena menyentuh dan meraba.

1. Pendapat para fukaha Ahlulbait as

Mayoritas fakih Imamiyah berkeyakinan sentuhan fisik tidak membatalkan wudu, baik dengan syahwat atau tidak. Di antara mereka, hanya Ibnu Junaid saja yang menyatakan bahwa yang membatalkan wudu itu adalah menyentuh bagian dari kemaluan depan atau belakang. menurut ihtiyath, menyentuh kemaluan dengan bagian luar tangan jika dibarengi dengan syahwat juga membatalkan wudu, baik kemaluan yang haram atau halal. Dan menyentuh bagian dalam kemaluan orang lain juga demikian.

2. Pendapat para fukaha Ahlusunnah

Adapun dalam Ahlusunnah ada empat pendapat: Jazairi dalam bagian kedua dari hal yang membatalkan puasa menulis sebagai berikut,

.Hanafiyah mengatakan bahwa menyentuh dengan bagian apa pun terhadap anggota mana pun itu dapat membatalkan wudu.
b. Syafi’iyah mengatakan bahwa setiap anggota badan bersentuhan dengan bagian perempuan, baik dengan syahwat atau pun tidak, itu dapat membatalkan wudu.
c. Malikiyah mengatakan, jika yang wudu itu adalah orang yang sudah balig dan untuk tujuan menikmati, maka sentuhan kepada badan yang tak berbusana atau pakaiannya yang tipis itu dapat membatalkan wudu.
d. Hanbaliyah mengatakan bahwa secara keseluruhan menyentuh badan perempuan jika tidak tanpa penghalang dan untuk tujuan kenikmatan, membatalkan wudu, jika tidak, tidak membatalkan. [12]

Qurthubi juga membawakan pendapat-pendapat di atas dalam menafsirkan ayat, Atau menyentuh wanita kemudian kalian tidak mendapatkan air maka bertayamumlah. [13]

Perlu diperhatikan di sini bahwa antara Syafi’iyah dan Hanbaliyah ada titik kesamaan dan kesepakatan, yaitu menurut keduanya frase lamsmass itu satu. Akan tetapi, Malikiyah berpandangan bahwa maksud lams adalah sentuhan badan sedang mass hanya sekedar sentuhan dengan tangan dan menyentuh dengan tangan ini ada syaratnya menurut mereka, yaitu yang menyentuh kemaluannya dengan telapak tangan. Adapun Hanafiyah yang tidak meyakini perbedaan antara lamasa dan massa maka dari segi fatwa tidak ada perbedaan. [14]

3. Ulasan

Qurthubi yang bermazhab Malikiyah dalam rangka menguatkan pendapat mazhab tersebut mengatakan, “Ayat ini menjelakan tiga hukum; pertama, hukum bersetubuh dan junub: و لا جنبا kedua, hukum hadas أو جاء أحد منكم من الغائط dan ketiga hukum لمس Jika kata yang terakhir ini diartikan mengumpuli/menggauli, bukan menyentuh dengan tangan akan berkonsekuensi pengulangan pembahasan. Selain itu, Umar al-Faruq tidak setuju dengan hal itu.” [15]

Di hadapan pendapat ini, Ibnu Jarir Thabari berkata, “Antara dua arti لمس :menyentuh dan menggauli, yang kedua lebih kuat.”[16] Shabuni juga menguatkan pandangan mazhab Hanafiyah dan menulis, “Maksud dari kata لمس adalah bersetubuh, karena arti ini yang populer digunakan, kata tersebut dinisbatkan/di-mudhaf ilaihkan kepada nisa’(perempuan) yang tidak akan bermakna apa-apa selain bersetubuh.”

Tampaknya, ungkapan Thabari dan Shabuni lebih mendekati hakikat dan kebenaran, mengingat hal ini sesuai dengan bahasa al-Quran, riwayat dan bahasa.

Pakar bahasa mengatakan, مس pada dasarnya bermakna mengharap sesuatu kemudian kata مس dan لمس memiliki arti metafora, yaitu bersetubuh.” [17]

Di dalam al-Quran, arti ini juga digunakan. Allah berfirman, Maryam as berkata, “Wahai Tuhanku! Bagaimana mungkin aku akan memiliki anak, sedangkan aku tidak pernah disetubuhi oleh manusia mana pun” (QS. Ali Imran [3]: 48; QS. Maryam [19]: 20) dan firman-Nya, Maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami-istri itu bercampurnya(QS. al-Mujadalah [58]: 4-5). Dan firman-Nya, Jika kalian menceraikan mereka sebelum kalian menyetubuhi mereka (QS. al-Baqarah [2]: 238).

Qurthubi dalam menafsirkan ayat-ayat di atas, massa dan lamasa itu diartikan menggauli wanita. [18]

Riwayat-riwayat yang beragam dari dua kelompok juga dapat dijadikan dukungan untuk pendapat ini. Di antara riwayat dari Ibnu Abbas yang mengatakan, “Al-lamsu, al-massu dan al-ghasyyanu bermakna jimak atau bersetubuh. [19] Aisyah juga mengatakan, ‘Sesungguhnya, Rasulullah saw mencium sebagian istrinya, kemudian keluar untuk salat dan tidak berwudu (lagi).’” [20]

Riwayat melalui jalur Imamiyah, Ibnu Abi Umair meriwayatkan dari Imam Shadiq as, “Tidak perlu wudu untuk (keluarnya) madzi karena birahi, juga dari ereksi, juga dari cumbuan (ciuman), juga dari menyentuh kemaluan dan juga dari berbaring bersama perempuan.” [21]

Dari apa yang sudah disebutkan, jelaslah antara bacaan lamastumdengan mad di huruf lam atau tanpa mad, tidak ada perbedaan. Kendati, ada beberapa orang yang mengatakan yang tanpa mad itu tidak menunjukkan arti bersetubuh.

4. Kegiatan-kegiatan yang wajib dilakukan dalam wudu

Sebelum masuk kepada kegiatan-kegiatan yang diwajibkan dalam wudu, perlu diingatkan terlebih dahulu bahwa al-Quran hanya menjelaskan membasuh muka dan tangan serta mengusap kepala dan kaki. Dan tidak memberi nama apa pun kepada kegiatan-kegiatan tersebut. Penamaan amalan ini dilakukan oleh Rasulullah saw sendiri, sebagaimana sabda beliau, “Sesungguhnya, aku diperintahkan untuk berwudu jika aku ingin mendirikan salat.” [22] Kemudian, istilah itu populer di kalangan kaum mukmin. [23]

Dalam ayat di atas terdapat empat kegiatan yang gabungan kegiatan-kegiatan tersebut dinamakan dengan wudu.

a. Membasuh wajah

Kegiatan pertama untuk wudu yang telah disebut dalan ayat ini adalah membasuh wajah. Di sini bisa jadi muncul sebuah pertanyaan, yaitu apakah batasan dari wajah yang harus dibasuh? Masalah ini merupakan salah satu titik perbedaan antara Imamiyah dan Ahlusunnah.

1. Batasan wajah

Imamiyah berkeyakinan batasan wajah, yaitu dari atas dimulai dari tumbuhnya rambut kepala sampai bagian bawah, yaitu ujung dagu, sedangkan batas sisi kiri dan kananya, yaitu dua sisi seukuran dua jari, ibu jari dan jari tengah. Adapun Ahlusunnah dengan bersandarkan pada arti bahasa muwajahah yang menjadi sumber kata wajah mengatakan sebagai berikut, “Batasan wajah dari atas dimulai dari jidat sampai ke dagu, dan sisi kanan dan kiri adalah dari telinga ke telingan.” [24] Sufyan Tsauri, Syafi’i, Ahmad dan sebagian yang lain mengatakan bahwa yang di depan telinga adalah bagian dari muka, sedangkan yang di belakang telinga termasuk bagian kepala. [25]

Ulasan

Ketika Ahlusunnah mengatakan wajah diambil dari kata muwajahah, yang berarti berhadap-hadapan sehingga bagian depan kepala termasuk telinga masuk di dalamnya, maka harus dikatakan sebagai berikut,

Pertama, kata muwajahah diambil dari kata wajh dan bukan sebaliknya.

Kedua, untuk kejelasan arti muwajahah, terlebih dahulu arti wajah harus dijelaskan, jika tidak, akan terjadi daur (sirkel) sebagaimana yang terjadi dalam mu’anaqah (berpelukan-pelukan) dan mushafahah (bersalam-salaman).

Ketiga, jika berhadap-hadapan menjadi penjelas dari arti wajah, adakah ulama Ahlusunnah yang menerima leher, dada dan perut sebagian dari wajah dengan dalil hal-hal tadi tampak dalam muwajahah, dan pelipis tidak masuk dalam wajah karena tidak tampak dalam muwajahah?

Tampaknya, arti wajah, batasan dan cara basuhannya adalah masalah uruf dan tidak perlu kepada definisi dan batasan lain. Bukti klaim ini adalah seperti uruf yang dapat dipahami dalam ayat, Maka hadapkanlah seluruh badanmu ke arah Masjidil Haram (QS. al-Baqarah [2]: 150), dengan arti seluruh badan. Dan dari ayat lain, Bawalah gamisku ini dan usapkan ke wajah ayahku (QS. Yusuf [12]: 93), yang arti wajah dalam ayat tersebut lebih sempit.

Dan juga apakah dengan satu tangan atau dua tangan harus dibasuh? Dari atas atau dari bawah? Semuanya harus dikembalikan kepada uruf dan kebiasaan. Akan tetapi, di dalam riwayat, hal ini sudah dibatasi dan ditentukan karena wudu adalah sebuah ibadah agar tidak ada orang yang menambahi atau menguranginya.

Oleh karena itu, dalam riwayat Zurarah ketika beliau bertanya tentang batasan wajah kepada Imam Shadiq as. Beliau bersabda, ”Wajah yang difirmankan oleh Allah Swt dan diperintahkan untuk dibasuh serta tidak boleh ada yang menambahi atau menguranginya, jika ditambah dia tidak akan diberi pahala dan jika dikurangi dia akan berdosa. Wajah itu adalah apa yang tercakup dalam jari tengah dan ibu jari dari awal munculnya rambut kepala sampai ke dagu dan juga apa yang dibasuh oleh dua jari tersebut dari wajah secara bulat maka itulah wajah yang dimaksud.’ Zurarah bertanya, ‘Apakah pelipis termasuk bagian dari wajah?’ Beliau menjawab, ‘Tidak.’” [26] Dalam riwayat ini Imam as telah menentukan batasan wajah dan secara tegas mengeluarkan pelipis (antara mata dan telinga) dari batasan wajah.

1. Kulit atau rambut?

Di sini mungkin juga muncul sebuah pertanyaan, apakah dalam wudu kulitkah yang harus dibasuh atau hanya cukup membasuh bulu alis saja? Jawablah adalah semua fakih, baik pengikut Ahlulbait as atau dari Ahlusunnah sepakat bahwa jika kulit yang di bawah bulu/atau di bawah rambut tampak, wajib untuk dibasuh. [27] Memang, Fakhrurrazi menulis bahwa rambut atau bulu-bulu yang jarang wajib dibasuh sesuai fatwa Syafi’iyah, sedangkan Hanafiyah tidak mewajibkannya. Dalil Syafi’iyah menurutnya lahir dari فاغسلوا وجوهكم karena wajah itu identik dengan seluruh kulitnya. [28]

Yang benar adalah kata wajah tidak memiliki arti yang disampaikan oleh Fakhurrazi tadi, karena wajah juga dapat dikatakan kepada kulit yang ditutupi oleh rambut atau bulu. Oleh karena itu, dalam riwayat Imamiyah hal ini sudah ditegaskan, seperti dalam riwayat Zurarah yang dinukil dari Imam Shadiq as, yang bersabda, “Setiap sesuatu yang ditutupi oleh rambut/bulu, maka tidak ada kewajiban bagi manusia untuk membasuhnya dan tidak dicari-cari (disela-sela agar sampai ke kulit), tetapi cukup dijalankan air di atasnya.” [29]

2. Membasuh tangan

Kegiatan wudu kedua yang disinggung oleh ayat di atas adalah membasuh kedua tangan. Allah berfirman, … dan (basuhlah) tangan kalian sampai siku-siku. Asal kata rafaqa bermakna kesepakatan tanpa kesulitan, siku-siku disebut mirfaq dalam bahasa Arab, karena ia merupakan sarana kemudahan untuk bertumpu bagi manusia. Sebagian lagi mengatakan, marfiq atau mirfaq adalah tempat persambungan antara hasta dan lengan atas. [30]

Di sini ada dua pembahasan, yaitu pertama, apakah siku-siku termasuk dari objek yang harus dibasuh atau tidak? Kedua, awal basuhan dari siku-siku ataukah dari ujung jari?

3. Arti kata “ila”

Tanpa diragukan lagi, kata “ila” termasuk dari huruf yang menunjukkan arti akhir dan siku adalah batas akhir dari basuhan. [31]

Pertanyaan paling mendasar adalah apakah siku-siku termasuk yang harus dibasuh ataukah tidak? Para fukaha Imamiyah bersepakat akan wajibnya membasuh siku baik sebagai kewajiban asal atau sebagai kewajiban pengantar saja. [32]

Qurthubi sebagai salah satu mufasir fikih Ahlusunnah menulis bahwa mayoritas ulama berkeyakinan bahwa siku-siku masuk dalam objek basuhan, karena apa yang jatuh setelah kata ila merupakan bagian atau sejenis dengan apa yang ada di sebelumnya. [33] Sebagian yang lain juga berkeyakinan bahwa kata ila di sini sama seperti ayat yang mengatakan, … dan janganlah kamu memakan harta mereka bersama hartamu (QS al-Nisa [4]: 2), yang bermakna bersama. Dengan demikian, siku-siku juga harus dibasuh.[34] Memang, dari Ahlusunnah hanya sebagian dari Malikiyah, juga Daud Isfahani yang bermazhab Syafi’iyah serta Zufar [35] dari mazhab Hanafiyah yang menyatakan siku-siku tidak wajib dibasuh. [36]

Yang benar adalah ila dalam hal ini bermakna ujung atau batas akhir, namun demikian tidak bisa secara serta-merta batas akhir dan apa yang setelahnya dimasukkan. Hal itu diperlukan qarinah/konteks lain. Karena dalam ayat seperti ini, Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba- Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa (QS. al-Isra [17]: 1), ghayah masuk dalam mughayyah. Akan tetapi, dalam ayat, … maka tunggulah sampai kondisinya lapang (QS. al-Baqarah [2]: 281). Dalam hal ini ghayah tidak masuk dalam mughayyah. Dan di sini, karena konteks yang muttashil tidak ada, haruslah kita cari qarinah munfashil-nya. Dan dari kompilasi riwayat yang ada tentang wudu, dapat disimpulkan bahwa membasuh siku-siku itu hukumnya wajib.

4. Awal basuhan

Mayoritas ulama Imamiyah memfatwakan wajib memulai basuhan dari siku-siku, walaupun Sayid Murtadha mengganggapnya sebagai sunah. Ibnu Idris meyakini bahwa mengakhiri basuhan hingga siku hukumnya makruh. [37] Akan tetapi, fatwa ulama Ahlusunnah adalah memulai dari ujung jari. Fakhrurrazi menulis bahwa sunah menuntut air dialirkan dari telapak tangan menuju siku-siku dan jika melakukannya terbalik, mayoritas ulama berkata bahwa hal ini tidak merusak keabsahan wudu, kendati sebagian dari mereka juga mengatakan tidak boleh. [38]

Dalam kasus ini, tidak banyak perbedaan yang muncul. Sebab, perbedaan itu muncul dari pengartian kata ila yang menunjukkan akhir dari tujuan (basuhan).

Faktanya adalah bahwa ila ini sama sekali tidak memiliki konotasi untuk mengatakan apakah wajib dimulai dari siku dan diakhiri di ujung jari atau sebaliknya. Karena itu adalah masalah uruf/kebiasaan saja. Yang mungkin dapat dipastikan dari kata ila tersebut adalah ia membatasi hal yang dibasuh bukan akhir basuhan. Dan untuk menentukan akhir/ujung ini perlu kembali kepada uruf. Dan sangat gamblang jika merujuk kepadanya, maka pandangan Imamiyah lah yang bisa dibenarkan, karena seperti sebuah contoh dalam uruf dan sosial saat seseorang disuruh untuk mengecat sebuah dinding: Catlah dinding ini dari bawah ke atas, perintah ini secara uruf bukan berarti orang itu harus betul-betul mengecat dari bawah ke atas.

catatan akhir


[1] Ayat ini dimulai dengan ungkapan, Wahai orang-orang yang beriman! Ungkapan ini selain menjelaskan kelembutan dan perhatian Allah kepada hamba-hamba-Nya yang mukmin, juga menjelaskan sebuah fakta, yaitu setiap orang yang mukmin dipastikan akan sanggup melaksanakan perintah apa yang ada setelah ungkapan tersebut. Dan orang yang tidak memiliki itikad untuk melaksanakannya, berarti tidak memiliki keimanan yang sebenarnya. Hal itu tentunya sarat akan poin moral dan pendidikan yang mengajarkan kepada kita, agar dalam mengeluarkan hukum dan perintah selalu dibarengi oleh kelembutan dan cinta.

[2] Kata qiyam juga digunakan untuk arti lain, seperti Qama bi al-amr dan Qama ‘ala amr yang keduanya bermakna menjaga hal tersebut.

[3] Raghib Isfahani, al-Mufradat, kata Qawama.

[4] Fakhrurrazi, Tafsir al-Kabir, jil.11, hal.150; Muhammad bin Ahmad Qurthubi, al-Jami` li Ahkam al-Quran, jil.6, hal.82; Ahmad Muqaddas Ardabili, Zubdah al-Bayan, hal.15.

[5] Miqdad bin Abdullah Sayuri, Kanz al-‘Irfan, jil.1, hal.6.

[6] Sa`id bin Hibatullah Rawandi, Fiqh al-Quran, jil.1, hal.8; Miqdad bin Abdullah Sayuri, Kanz al- ‘Irfan, jil.1, hal.6.

[7] Wasail al-Syi’ah, bab-bab mukadimah ibadah, bab 1, hadis ke-17. Perlu diperhatikan, kendati sebagian ulama Ahlusunnah satu keyakinan dengan para ahli hadis dan fikih pengikut Ahlulbait, tetapi sebagian dari mereka dan sebagian dari ulama Imamiyah, seperti pengarang kitab al-Hadaiq, Muhaqiq Kasyani memiliki pendapat yang berbeda. Lihat: Miqdad bin Abdullah Sayuri, Kanz al-‘Irfan, jil.1, hal.7, catatan kaki.

[8] Sunan Nasa’i, jil.1, hal.86; Shahih Muslim, jil.1, hal.160.

[9] Muhammad Ali Shabuni, Tafsir Ayat al-Ahkam min al-Quran, jil.1, hal.537.

[10] Wasail al-Syi’ah, Bab-bab Wudu, bab ke-7, hadis ke-1.

[11] Ibid., bab ke-4, hadis ke-1.

[12] Abdurrahman Jazairi, al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah, jil.1, hal.81; Muhammad Ali Shabuni, Tafsir Ayat al-Ahkam min al-Quran, jil.1, hal.537.

[13] Muhammad bin Ahmad Qurthubi, al-Jami’ li Ahkam al-Quran, jil.5, hal.223.

[14] Ibid., jil.6, hal.82; Muhammad Ali Shabuni, Tafsir Ayat al-Ahkam min al-Quran, jil.1, hal.487.

[15] Muhammad bin Ahmad Qurthubi, al-Jami’ li Ahkam al-Quran, jil.6, hal.225.

[16] Muhammad bin Jarir Thabari, Jami’ al-Bayan, jil.4, hal.108.

[17] Shihah al-Lughah, Maqayis al-Lughah, kata massa dan lamasa

[18] Muhammad bin Ahmad Qurthubi, al-Jami’ li Ahkam al-Quran, jil.17, hal.283.

[19] Ibid., jil.6, hal.104.

[20] Sunan Tirmidzi, jil.1, hal.57.

[21] Wasail al-Syi’ah, Bab-bab yang Membatalkan Wudu, bab ke-9, hadis ke-2.

[22] Sunan Nasa’i, jil.1, hal.86.

[23] Para pakar bahasa meyakini kata wudu adalah masdar, yang arti aslinya kebaikan dan kebersihan. Dan kata wadhu’ bermakna air yang dari situ wudu diciptakan. Lihatlah al-Misbah al-Munir, Shihhah al-Lughah dan Maqayis al-Lughah, kata wadha’a; akan tetapi para fakih berkeyakinan bahwa wudhu’ adalah isim masdar, sedang masdar-nya adalah tawadhdhu’. Lihatlah: Syahid Tsani, al-Lum’ah al-Damasyqiyah. (Syarah al-Lum’ah), jil.1, hal.79. Alhasil, karena persamaan antara wadhu’ dan wudhu’, akhirnya syariat menamakan pekerjaan-pekerjaan khusus yang menyebabkan kebersihan lahiriah dan batiniah dengan nama wudu.

[24] Muhammad bin Husain Fahrurrazi, Tafsir al-Kabir, jil.11, hal.157; Muhammad bin Ahmad Qurthubi, al-Jami’ li Ahkam al-Quran, jil.6, hal.83.

[25] Sunan Tirmizi, kitab Taharah , hadis ke-35.

[26] Wasail al-Syi’ah, Bab-Bab Wudu, bab ke-17, hadis ke-1.

[27] Al-Fiqh `ala al-Madzahib al-Arba’ah, jil.1, hal.63; Jawahir al-Kalam, jil.2, hal.156; Ruhullah Musawi Khomeini, Tahrir al-Wasilah, jil.1, hal.21; Muhammad bin Husain Fakhrurrazi, Tafsir al-Kabir, jil.11, hal.158.

[28] Muhammad bin Husain Fakhrurrazi, Tafsir al-Kabir, jil.11, hal.158.

[29] Wasail al-Syi’ah, Bab-Bab Wudu, bab ke-46, hadis ke-3.

[30] Ibnu Faris, Mu’jam Maqayis al-Lughah; Jauhari, Shihah al-Lughah, kata Rafaqa.

[31] Dalam hal ini ada dua sisi pembahasan; pertama, dari sisi masuknya ghayah dalam mughayyi yang sebagian mengatakan: Jika ghayah termasuk dalam jenis mughayyi, maka ghayah termasuk dalam mughayyi. Berbeda jika ghayah-nya menggunakan kata haja. Kedua, pembahasan dari sisi arti ghayah; ada yang mengatakan jika batas akhir itu untuk hukum, maka selain ghayah itu tidak masuk dalam mughayyi, ia juga tidak terkena hukum apa pun. Berbeda jika ghayah sebagai batasan dari mudlu’. Muhammad Ridha Muzhaffar, Ushul al-Fikih, jil.1, hal.124; Akhund Khurasani, Kifayah al-Ushul, hal.208.

[32] Muhammad Hasan Najafi, Jawahir al-Kalam, jil.2, hal.159.

[33] Muhammad bin Ahmad Qurthubi, al-Jami’ li Ahkam al-Quran, jil.6, hal.86.

[34] Ibid.

[35] Abul Hudail, Qais bin Salim, salah satu fakih mazhab Hanafiyah wafat tahun 185 H.

[36] Muhammad bin Ahmad Qurthubi, al-Jami’ li Ahkam al-Quran, jil.6, hal.86; Muhammad Hasan Najafi, Jawahir al-Kalam, jil.2, hal.160.

[37] Allamah Hilli, Hasan bin Yusuf bi Muthahhar, Mukhtalaf al-Syi’ah, jil.1, hal.109; Muhammad Hasan Najafi, Jawahir al-Kalam, jil.2, hal.162.

[38] Muhammad bin Husain Fakhrurrazi, Tafsir al-Kabir, jil.11, hal.158.

0 Comments


EmoticonEmoticon