Ucapkan belasungkawa atas hari syahadahnya rasulullah saw bagian 4 [ terakhir ]



Wafatnya Nabi saw dan Upacara Pemakaman

Tak ada orang di sekitar Nabi saw di saat-saat akhir kehidupan beliau kecuali Ali bin Abi Thalib as dan Bani Hasyim serta istri-istri mereka. Dan umat mengetahui kabar wafat Nabi saw melalui teriakan dan suara riuh yang membumbung dari rumah Rasulullah saw, karena mereka bersedih atas perpisahan dengan sang kekasih. Hati bergetar karena meninggalnya makhuk termulia Allah Swt.

Berita wafatnya Nabi saw dengan begitu cepat tersebar di Madinah. Masyarakat pun larut dalam kesedihan dan kelesuan, meskipun beliau telah mempersiapkan hal itu dan telah menyampaikan kabar dekatnya kepergian ruhnya yang suci, serta telah mewasiatkan kepada umat agar menaati pemimpin mereka dan khalifah mereka sesudahnya, yaitu Ali bin Abi Thalib.

Wafat Nabi saw merupakan goncangan hebat yang memukul emosi kaum Muslim. Penduduk Madinah pun bergoncang. Dan yang menambah keheranan orang-orang yang berkumpul di sekitar rumah Rasulullah saw adalah apa yang dikatakan oleh Umar bin Khaththab. Sambil mengancam dengan pedang, ia berkata, "Sesungguhnya kaum munafik mengira bahwa Rasulullah saw telah mati Demi Allah, ia tidak mati, namun ia pergi ke Tuhannya sebagaimana Musa bin Imran." [1]

Meskipun tidak ada kemiripan antara kepergian Musa dan wafat Nabi saw, namun sikap Umar itu seolah-olah menunjukkan bahwa ia bersikeras untuk membandingkan kedua hal yang berbeda ini.


Umar belum juga merasa tenang sehingga Abu Bakar datang lalu masuk ke rumah Rasulullah saw. Abu Bakar membuka wajah Nabi saw lalu segera keluar sambil berkata, "Wahai manusia, barangsiapa yang menyembah Muhammad, maka Muhammad telah mati dan barangsia yang menyembah Allah, maka Allah Mahahidup dan tidak pernah mati. Lalu ia membaca firman-Nya, Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul."Maka emosi Umar pun mereda, dan ia menyatakan bahwa ia tidak perhatian terhadap ayat seperti ini dalam al-Quran [2]



Abu Bakar dan Umar bin Khaththab beserta sebagian pendukung mereka segera pergi menuju Saqifah Bani Saidah setelah mereka berdua tahu bahwa di sana ada pertemuan darurat yang membicarakan kepemimpinan umat (khilafah) setelah wafatnya Rasulullah saw. Rupanya, mereka melupakan pengangkatan Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah, begitu juga pembaiatan mereka terhadapnya. Mereka seolah tidak mengerti bahwa sikap mereka ini meremehkan kehormatan Rasulullah saw dan jasadnya yang terbujur kaku.


Sedangkan Ali bin Abi Thalib as dan keluarganya sibuk mempersiapkan pemakaman Nabi saw. Ali memandikan Nabi saw tanpa melepas bajunya, dibantu oleh Abbas bin Abdul-Muththalib dan putranya, Fadhil. Ali as berkata, "Demi ayah dan ibuku, engkau begitu harum baik di waktu hidup maupun di saat meninggal." [3]

Kemudian mereka meletakkan jasad Rasulullah saw di atas ranjang dan Ali berkata, "Sesungguhnya Rasulullah saw adalah pemimpin kita, baik hidup maupun meninggal dunia. Hendaklah sekelompok demi sekelompok masuk lalu hendaklah mereka menyolatinya tanpa imam lalu membubarkan diri. Dan orang yang pertama kali menyolati Nabi saw adalah Ali dan Bani Hasyim. Sesudah mereka kaum Anshar pun menyolatinya. [4]

Ali berdiri di hadapan Rasulullah saw sambil berkata, "Salam kepadamu wahai Nabi saw serta rahmat Allah dan Berkah-Nya semoga tercurah padamu. Ya Alah, kami bersaksi bahwa ia telah menyampaikan apa yang diturunkan


kepadanya, dan ia telah menasihati umatnya dan berjuang di jalan Allah, sehingga Allah memuliakan agama-Nya, dan kalimat-Nya menjadi sempurna. Y Allah, jadikan kami termasuk orang-orang yang mengikuti apa yang diturunkarn kepadanya, teguhkanlah kami setelahnya,dan kumpulkan kami kembali dengannnya (di akhirat). Orang-orang yang hadir di situ mengamini doa Ali. Kemudian kaum pria menyolatinya lalu kaum wanita dan selanjutnya anak-anak." [5]

Nabi saw dikebumikan di kamar yang disana beliau meninggal dunia. Dan ketika Ali hendak menurunkan beliau ke kuburan, kaum Anshar memanggil dari belakang dinding, "Ya Ali, kami ingatkan engkau akan Allah dan hak kami hari ini dari Rasulullah saw. Masukkanlah seseorang dari kami sehingga ia mendapat bagian untuk mengebumikan Rasulullah. Ali berkata, 'Biarkan Aus bin Khuli masuk ke sini." Aus adalah veteran perang yang berasal dari Bani Auf

Ali turun ke makam lalu ia membuka wajah Rasulullah saw dan meletakkan pipinya di atas tanah, kemudian menguburkannya.

Dan tak seorang pun dari mereka yang pergi ke Saqifah menghadiri acara pemakaman Nabi saw.

innalillahi wa inna ilaihi raji'un

ya rasulullah isyfa'lana indallah

Salam bagimu ya Rasulullah di hari engkau dilahirkan, di hari engkau meninggal dunia dan di hari engkau dibangkitkan kembali dalam keadaan hidup.


catatan akhir


[1] Al-Kamil fit-Tarikh, jil.2, hal.323; ath-Thabaqat al-Kubra, jil.2, hal.266; Zaini Dahlan, as-Sirah an-Nabawiyyah, jil.2, hal.306.
[2] Ath-Thabaqat al-Kubra, jil.2, bagian kedua, hal.53-65
[3] Ibnu Katsir, as-Sirah an-Nabawiyyah, jil.4, hal.518.
[4] Al-Irsyad, jil.1, hal. 187; A'yanusy-Syi'ah, jil.1, hal.295
[5] Ath-Thabaqat al-Kubra, jil.2, hal.191




0 Comments


EmoticonEmoticon