Ucapkan belasungkawa atas hari syahadahnya Rasulullah Saww bagian 1



Hari-Hari Terakhir Nabi saww

📓 Menghalangi Penulisan Wasiat

Meskipun demam dan sakit yang diderita Nabi saw semakin parah, beliau keluar dengan bersandar pada Ali dan Al-Fadhl bin Abbas untuk melaksanakan salat bersama masyarakat. Dengan cara demikian, beliau ingin membuntu jalan orang orang yang berencana untuk menguasai khilafah dan kepemimpinan yang mereka impikan dari sebelumnya di mana mereka berani dengan enteng membangkang perintah Rasulullah saw untuk keluar bersama pasukan Usamah.

Setelah salat, Nabi saw menoleh ke arah para sahabatnya dan berkata, "Wahai manusia, api telah berkobar dan fitnah telah datang bak potongan malam yang gelap gulita. Dan aku demi Allah, mengapa kalian tidak percaya padaku. Aku tidak menghalalkan kecuali sesuatu yang dihalalkan oleh Allah dan tidak mengharamkan kecuali sesuatu yang diharamkan oleh Allah." [1]

Pernyataan beliau ini merupakan bentuk peringatan lain agar mereka tidak kembali menentangnya, meskipun
indikasi-indikasi konspirasi buruk telah tampak di mana umat akan mendapatkan bencana ketika dipimpin oleh orang-orang yang jahil.

Kondisi fisik Nabi saw bertambah gawat. Para sahabat berkumpul di rumahnya dan termasuk di dalamnya mereka yang meninggalkan pasukan Usamah, padahal Nabi saw mencela mereka karena meninggalkan pasukan tersebut.

Tapi mereka berdalih dengan dalih yang dibuat-buat. Lalu Nabi saw berusaha menggunakan metode lain untuk melindungi umat dari kehancuran dan keterpurukan. Beliau berkata kepada mereka, "Berilah aku tinta dan selembar kertas karena aku hendak menuliskan suatu tulisan (wasiat) sehingga kalian tidak akan pernah sesat setelahnya.

Umar berkata, Penyakit Nabi telah menguasainya, sedangkan di antara kalian terdapat kitab Allah. Maka
cukuplah kitab Allah itu bagi kita. [2]

Akhirnya, terjadilah percekcokan dan silang pendapat Kaum wanita berkata dari balik tirai, Laksanakanlah hajat Rasulullah saw ! Umar berkata, Diamlah kalian, karena kalian seperti orang-orang yang berpura-pura menangisi Yusuf, yang bila beliau sakit maka kalian melinangkan air mata kalian dan bila beliau sehat maka kalian berusaha mencekik lehernya' Lalu Rasulullah saw menjawab, 'Mereka lebih baik daripada kalian. [3]

Kemudian beliau bersabda, 'Menyingkirlah dariku. Sangat tidak pantas terjadi percekcokan di hadapanku.'

Sebenarnya umat sangat memperhatikan wasiat Nabi saw ini. Bahkan Ibnu Abbas sangat menyayangkan hal itu Setiap kali mengingat masalah itu,  ia berkata, Sesungguhnya malapetaka yang paling besar adalah peristiwa yang menghalangi Rasulullah saw untuk menulis wasiat tersebut karena percekcokan dan pertengkaran mereka. [4]

Setelah pertengkaran mereka di hadapan Nabi saw, pembawa rahmat saw, beliau tidak bersikeras untuk tetap menuliskan wasiat tersebut. Sebab beliau khawatir akan perlakuan lebih buruk mereka dan pengingkaran mereka yang lebih besar, dan beliau mengetahui apa yang ada di dalam jiwa mereka. Dan ketika mereka meminta kepada Nabi saw untuk kedua kalinya berkaitan dengan masalah wasiat beliau bersabda, "Lebih jauh dari apa yang kalian kira." [5]

Lalu beliau menyampaikan tiga wasiat, namun buku buku sejarah hanya menyebutkan dua darinya, yaitu
ekstradisi musyrikin dari Jazirah Arab dan memberikan suaka kepada delegasi-delegasi sebagaimana beliau memberikan suaka perlindungan kepada mereka.

Sayid Muhsin Amin Amili mengomentari hal tersebut sambil berkata, "Dan pemerhati tidak akan ragu bahwa
yang ketiga adalah sesuatu yang didiamkan oleh ahli hadis secara sengaja, bukan karena lupa. Dan politik memaksa mereka untuk diam dan pura-pura melupakannya. Sesuatu yang dilupakan ini adalah kasus permintaan tinta dan usaha mereka agar Nabi saw jangan sampai menuliskannya untuk mereka."

[1] As-Sirah an-Nabawiyah, jil.2, hal.954; ath-Thabaqat al-Kubra, jil. 2, hal. 215.
[2] Shahih Bukhari, kitab al-'ilm, Bab kitabatul- 'ilm dan kitab al-Jihad, Bab jawaiz al-wafd.
[3] Ath-Thabaqat al-Kubra, jil.2, hal.244; Kanzul- Ummal, jil.3, hal. 138
[4] Shahih Bukhari, kitab al-'ilm, jil. 1, hal.22; jil.2, hal.14; al-Milal wan-Nihal, jil.1, hal.22; ath-Thabaqat al-Kubra, jil.2, hal.244.
[5] Biharul-Anwar, juz.22, hal.469

0 Comments


EmoticonEmoticon