Jumat, 24 November 2017

Syahadat syiah beda ?

SHARE
Ini adalah tuduhan yang cukup berat : syiah punya lafadz syahadat yang berbeda , syahadat adalah ikrar paling penting dalam agama islam seseorang yang masuk islam harus mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai sebagai ikrar agung dan tanda perubahan keyakinan.

benarkah orang syiah memiliki syahadat yang berbeda ? lalu apa yang beda dari syahadat sunni dan syiah ? disini ada dua isus , isu pertama , salah alias tidak valid dan isu kedua setengah benar.

isu pertama menyatakan bahwa syahadat orang syiah adalah aku bersaksi bahwa tiada tuhan selaian Allah dan aku bersaksi ali adalah utusan Allah ,isu ini dilontarkan oleh banyak pihak bahkan diantaranya oleh seorang artis sangat terkenal disebuah acara televisi nasional. isu ini tidak benar.

anda tidak akan menemukan kalimat ini dalam kitab syiah maupun (kitab yang valid , tentu saja karena cukup banyak juga kitab yang sengaja ditulis untuk menfitnah syiah )


Isu kedua, dikatakan bahwa Syiah memiliki tiga kalimat syahadat. Sunni hanya mengenal kalimat "Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Sedangkan Syiah, selain dua kalimat syahadat tadi, juga punya tambahan kalimat ketiga: "Aku bersaksi bahwa Ali adalah wali Allah (asyhadu anna Aliyyan waliyyullah)."

Isu ini disebut setengah benar. Artinya, ada sisi benarnya, dan ada sisi salahnya. Sisi benarnya, Syiah memang mengenal kesaksian ketiga ini. Sisi salahnya, kalimat tambahan "Aku bersaksi bahwa Ali adalah Wali Allah" itu sebenarnya bukanlah "syahadat". Itu adalah statemen biasa yang tidak dikategorikan sebagai "syahadat"

Ucapan "Ali adalah wali Allah" itu hanya diucapkan kaum Syiah pada azan dan iqamah (qomat). ltupun aturan fiqihnya: penambahan lafazh itu menjadi haram jika diniatkan oleh pembacanya (yaitu si pembaca azan) sebagai bagian dari azan atau iqamah. Keharaman atas hal ini sudah menjadi kesepakatan seluruh ulama Syiah.

Pertanyaannya: bolehkah kita mengucapkan kalimat asyhadu (aku bersaksi), di luar kalimat asyahdu yang ada pada syahadatain? Kalau kita merujuk kepada hadis-hadis Nabi, akan kita temukan bahwa lafazh kesaksian itu bisa saja dipakai untuk hal-hal lainnya selain persaksian kepada Allah dan kerasulan Muhammad. Benarkah? Berikut ini adalah hadis yang mencontohkan bagaimana Nabi pernah menambahkan kalimat syahadat menjadi beberapa kalimat, bukan hanya dua kalimat saja.

Rasulullah SAW bersabda, "Siapa saja mengucapkan: 'Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, dan aku bersaksi bahwa lsa adalah hamba Allah dan anak hamba-Nya; bahwa (Isa adalah) kalimat-Nya yang dibacakan kepada Maryam dan dengan tiupan ruh-Nya, dan aku bersaksi bahwa surga itu benar ada dan bahwa neraka itu benar ada, maka Allah akan memasukkannya melalui pintu dari delapan pintu surga mana saja yang ia inginkan." (Shahih Muslim)

Jadi, kalimat persaksian (asyhadu) tidak selamanya harus diartikan sebagai syahadat. Berdasarkan hadis di atas, ucapan asyhadu annal-jannata haqqun (aku bersaksi bahwa surga itu memang ada), sama sekali tidak bisa disebut syahadat walaupun di dalamnya ada kata asyhadu. Inilah pula yang terjadi dengan kalimat persaksian bahwa Ali adalah wali Allah.

Lalu, bolehkah menyatakan persaksian bahwa Ali adalah Wali Allah? Apakah Ali adalah seorang wali? Memangnya, apa makna wali?

Dalam bahasa Arab, wali punya banyak arti. Pertama, wali artinya penanggung jawab atau penguasa. Karena itulah kita mengenal istilah walimurid dan walikota. Kedua, wali juga bermakna sahabat atau kekasih. Inilah yang menyebabkan para penyebar Islam di Nusantara dengan sebutan wali (Wali Songo), karena mereka adalah para kekasih Allah. Adapun makna ketiga wali adalah penolong atau pembantu.

Dari ketiga makna wali di atas, tak ada satupun orang Islam yang mengingkari Ali sebagai wali. Tentu dalam makna yang pertama, Ali bukanlah orang yang berkuasa atas Allah, melainkan orang yang memiliki kekuasaan (tanggung jawab) atas umat. Adapun pada makna kedua dan ketiga wali tidak ada yang mempermasalahkannya jika itu disematkan kepada Ali.

Tapi, pertanyaannya, mengapa ada penekanan soal kewalian Ali, sampai-sampai dikumandangkan dalam azan?

Hal ini tiada lain terkait dengan masa lalu yang kelam, yaitu ketika Dinasti Umayyah selama 90 tahun berkuasa, mentradisikan pelaknatan terhadap Ali di mimbar-mimbar. Tradisi ini sempat dihentikan oleh khalifah bijak Umar bin Abdul Aziz, tapi disambung lagi oleh para penguasa setelah Umar. Umar sendiri hanya berkuasa dua tahun. Nah, statemen "Ali adalah wali Allah" pada saat itu adalah slogan perlawanan kaum Syiah terhadap pembunuhan karakter atas Ali yang dilakukan Bani Umayyah.

Pertanyaan terakhir, mengapa sampai sekarang orang Syiah masih menyebut-nyebut kewalian Ali? Bukankah itu adalah kejadian di masa lalu? Memangnya sekarang ada yang melaknat Ali?

Tentu saja sekarang sudah tidak ada yang melaknat Ali. Statemen kewalian Ali ini lebih sebagai upaya untuk "melawan lupa? Ini karena cukup banyak ulama zaman sekarang yang cenderung menutup-nutupi masa lalu tersebut, dan bahkarn menuduh Syiah (pengikut Ali) sebagai 'bukan Islam.

Padahal sama sekali tidak ada salah nya menjadi jadi pengikut Ali. Bukankah mayoritas ulama Sunni dan Syiah sepakat atas keunggulan keunggulan Ali? Secara sederhana mungkin bisa dianalogikan mengikuti ajaran Wali Songo, atau di antara kita ada yang lebih patu pada petuah ustadz dari Muhammadiyah, sementara yang lain merasa lebih cocok dengan ustadz dari NU

sumber : Syiah antara fitnah dan fakta hal. 44-48 oleh tim ikmal




SHARE

Author: verified_user

0 komentar: