MENGAPA MENGENANG AL HUSAIN AS ?



imam Husain bin Ali bin Abi Thalib adalah cucunda Nabi Muhammad saw dari putrinya Fathimah Azzahra. Beliau lahir pada tahun keempat Hijriyah di kota Madinah. Kakaknya Hasan al Mujtaba setahun lebih dahulu dilahirkan di kota yang sama.[1] Keduanya sangat dicintai oleh Nabi Muhammad saw. Keutamaan kedua cucu nabi ini tidak diragukan di kalangan umat Islam. Mereka adalah penghulu pemuda syurga. Sebagaimana hadist mengatakan:
الحسن‏ و الحسين‏ سيدا شباب‏ أهل الجنة[2]
"Hasan dan Husain adalah pemimpin pemuda syurga.”

Karena itu Hasan dan Husain adalah sebaik – baik contoh bagi para pemuda muslim. Setiap pemuda yang merindukan surga maka hendaknya mereka berada di barisan al Hasan dan al Husain as dan berjalan mengikuti keduanya.

Mengenang perjalanan hidup al Husain as merupakan salah satu usaha untuk mengikuti jalan pemimpin pemuda surga ini. Karena tanpa mengingat dan mempelajari riwayat hidupnya kita tidak akan bisa meneladani pemikiran, akhlak dan perilakunya. Dan salah satu lembaran sejarah yang paling penting dalam kehidupan Husain as adalah Karbala. Karbala bukan sekedar mempertontonkan keberanian al Husain as, akan tetapi Karbala merupakan perjuangan mengembalikan cahaya Islam yang telah pudar. Jika tidak ada Karbala maka tamatlah agama kakeknya, Muhammad saw.

Mengapa demikian? Karena kita tahu bahwa Nabi Muhammad saw diutus Allah swt untuk merubah kehidupan jahiliyah menjadi kehidupan Ilahiyah. Kehidupan yang berasaskan tauhid dan keadilan. Akan tetapi setelah nabi wafat kebudayaan jahiliyah ini hidup kembali. Dan agama Islam sedikit demi sedikit perannya bergeser menjadi topeng, sedangkan esensinya telah berubah. Kehidupan dan budaya jahiliyah kembali hidup dan dijalankan akan tetapi berbalut agama Islam.
Untuk memperjelas hal ini, kita lihat beberapa contoh berikut ini. Pada zaman jahiliyah kehidupan berasaskan kabilah atau kesukuan. Siapa yang kuat dialah yang berkuasa. Kekuatan ini berdasarkan harta, pengikut yang banyak dan ta’ashub (fanatik) yang kuat terhadap kabilah. Akan tetapi Islam datang merubah asas ini dengan meletakkan takwa sebagai standar kemuliaan seseorang. Sebagaimana fiman Allah swt:
إِنَ‏ أَكْرَمَكُمْ‏ عِنْدَ اللَّهِ‏ أَتْقاكُم‏[3]
"Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian disisi Allah swt adalah orang yang paling bertakwa.”

Pemerintahan Islam pun dibangun berasaskan sistem ini. Siapa di antara umat yang paling bertakwa dialah yang berhak mendapatkan kedudukan sebagai pemimpin. Bukan orang yang lebih kaya atau yang berasal dari kabilah yang kuat dan terkenal. Dan ketakwaan ini walaupun masyarakat bisa melihat dari sisi lahiriah berupa ketaatan dan akhlak yang baik. Namun hakikat dan batin ketakwaan seseorang hanya Allah swt yang mengetahui. Oleh karena itu, hanya Allah swt yang berhak memilih pemimpin setelah Nabi saw sebagaimana Allah swt memilih Nabi sebagai utusannya untuk membimbing umat manusia. Dan Allah swt memilih dan menunjuk khalifah – Nya melalui lisan Nabi – Nya.[4]
 
Akan tetapi kita menyaksikan dalam sejarah, umat Islam bukan hanya membuang standar takwa dalam kepemimpinan bahkan tidak mengamalkan wasiat Nabi saw. Semua orang mengetahui bahwa Ali bin Abi Thalib adalah orang yang paling berilmu, yang paling bertakwa dan paling layak menjadi pemimpin. Dan semua orang mendengar wasiat Nabi dan bahkan telah berbaiat dan mengucapkan selamat kepada Ali bin Abi Thalib pada hari Ghadir Khum.[5] Hari dimana Nabi melantik Ali as menjadi Amirul Mukminin, pemimpinnya orang – orang beriman. Akan tetapi setelah Nabi meninggal umat meninggalkan Ali as.
Jika dikaji, salah satu faktor utama yang menyebabkan umat tidak mengamalkan wasiat Nabi adalah kesukuan dan ta’ashub. Tsaqifah terjadi karena kekhawatiran akan hal ini dan akhirnya menghasilkan keputusan yang salah. Pengalihan kepemimpinan dari tangan yang layak kepada tangan yang tidak layak.[6]
Pada masa khalifah ketiga, Utsman bin Affan, standar jahiliyah semakin menguat. Kita tidak melihat Ammar Yasir, Salman Farsi, Miqdad, Bilal dan sahabat – sahabat utama Nabi lainnya menduduki jabatan dalam pemerintahan. Padahal ilmu dan ketakwaan mereka tidak diragukan. Tapi sebaliknya kita melihat jabatan – jabatan negara dipenuhi oleh orang – orang Bani Umayyah. Artinya standar kesukuan telah dihidupkan kembali.

Dan puncak dari kesalahan ini adalah Karbala. Dimana Yazid bin Muawiyah yang terkenal dengan kefasikan dan kebejatan memegang kepemimpinan umat Islam. Pada saat itu Islam menjadi mandul. Islam hanya tinggal nama, sedangkan ajarannya tidak diamalkan dan dipakai dalam menata kehidupan. Budaya arak, judi, riba, musik dan zina dihidupkan di istana.[7] Kekhalifahan yang menjadi simbol wajah Islam telah berubah. Kini Islam yang dikenal di Syam sangat berbeda dengan Islam yang diperkenalkan Rasulallah saw.
Jika hal ini dibiarkan, maka generasi Islam seterusnya akan mewarisi Islam jahiliyah yang dihidupkan oleh Bani Umayyah. Dan akhirnya Islam Muhammadi akan terkubur bersama sejarah. Akibatnya begitu banyak umat Islam yang akan kehilangan haknya untuk mendapatkan kebenaran ajaran Islam yang sebenarnya.
Oleh karena itu, kebangkitan al Husain as sangat penting untuk membuka topeng agama yang membungkus kejahiliyah baru ini. Darah al Husain as telah menghidupkan kembali agama kakeknya. Revolusi al Husain adalah ledakan cahaya yang sinarnya sampai hari ini bisa kita rasakan. Al Husain as telah mengembalikan hak umat Islam untuk mendapatkan kebenaran. Dengan al Husain as kita mengenal mana jalan yang benar dan mana jalan yang salah.

Karena itu mengenang dan mengingat tragedi karbala sangat penting. Karena ini adalah bagian dari revolusi al Husain itu sendiri. Yaitu meneruskan perjuangan al Husain untuk menyebarkan cahaya kebenaran Islam. Membuka hakikat dan menyampaikan kepada dunia Islam yang telah lama terpenjara. Bahkan kebangkitan al Husain as bukan hanya untuk mengingatkan umat Islam, akan tetapi untuk semua manusia dipenjuru dunia. Karena pesan yang disampaikan pada revolusi ini lebih luas dari pesan agama, melainkan mencakup pesan kemanusiaan dan keadilan dalam menentang kezaliman.


[1] Simaye Phishvayan dar Ayeneh Tarikh, Hal 34 dan 37.
[2] Syarh Nahjul Balaghah Ibnu Abi Hadid, Jild 15, Hal 287; Al Amali, Hal 312.
[3] Q.s Hujurat : 13.
[4] Terdapat banyak argumen tentang kepemimpinan dalam Islam, baik argumen aqli (akal) maupun naqli (quran dan hadist) dan bisa dilihat pada buku – buku kalam seperti Andisheh Kalam Islami, bab Imamah penulis Saidi Mehr; Amuzesh Aqaid penulis Ayatullah Misbah Yazdi dan buku – buku kalam lainnya.
[5] Hadist Ghadir merupakan salah satu hadist yang sangat mashur yang menunjukkan kepemimpinan Ali as. Penggalan hadist itu adalah "من كنت مولاه فهذا علي مولاه” ; Barangsiapa yang menjadikan aku (nabi) adalah pemimpinnya, maka ali adalah pemimpinnya”. (Mustadrak ‘ala shahihain, jild 3, hal 118).
[6] Sejarah Tsaqifah, perdebatan, pertikaian hingga pengangkatan Abu Bakar sebagai khalifah bisa dilihat dalam buku Tarikh Thabari, Hild 3 Hal 201 – 201.
[7] Simaye Phishvayan, Hal 50.

sumber al-basair.com

0 Comments


EmoticonEmoticon