Kelahiran Rasulullah saw


Agama Kristen tidak dapat merealisasikan tujuan tujuannya di tengah masyarakat manusia dan tidak mempunyai suatu langkah efektif untuk menyelesaikan badai kesesatan dan penyimpangan yang melanda dunia. Kala itu, semua manusia berada dalam kesesatan fitnah dan kebingungan, sehingga mereka mudah diperdaya oleh kepandiran orang-orang yang dungu. Dan situasi Romawi tidak kalah buruknya dengan musuh mereka di Persia. Bahkan, keadaan semenanjung Arab tidak lebih baik dari keduanya. Alhasil, semua berada dalam tepi jurang api.


Al-Quran telah menggambarkan secara memukau tragedi yang dialami manusia saat itu. Demikian juga penghulu Ahlulbait, Ali bin Abi Thalib as-dalam beberapa khotbahnya-melukiskan tragedi yang mengenaskan saat itu engan suatu lukisan yang terukur sentimental dan aktual. diantaranya, penjelasan beliau tentang keadaan masyarakat sebelum diutusanya Nabi saw, "Allah mengutusnya saat terjadinya masa vakum dari para rasul, umat-umat terlelap dalam tidur panjang, dan fitnah semakin berkobar serta tersebarnya berbagai persoalan dan berkecamuknya berbagai peperangan. Dunia kala itu tampak tak bercahaya, kesombongan merajalela, dedaunan mulai layu, buahnya mulai tumbang, dan airnya mulai mengering. Menara-menara petunjuk telah lenyap dan agen-agen kejahatan bermunculan. Mereka bermuka masam di hadapan pendukung dan pencari kebenaran. Mereka mengobarkan fitnah. Makanan mereka bangkai, slogan mereka kecemasan dan selimut mereka adalah pedang. [ Nahjul-Balaghah, khotbah ke-89 ]


Dalam keadaan pelik yang dilalui oleh manusia itu, terbitlah cahaya Ilahi yang menerangi manusia dan negeri dan mengabarkan berita gembira tentang kehidupan yang mulia dan kebahagiaan yang abadi. Itu terjadi ketika bumi Hijaz diberkati oleh kelahiran seorang Nabi yang mulia, Muhammad bin Abdillah as pada Tahun Gajah (570 M) dan pada bulan Rabiul-Awwal, sebagaimana disepakati oleh mayoritas ahli hadis dan sejarawan.


Berkenaan dengan hari kelahirannya, Ahlulbait beliau telah menetapkannya, dan mereka lebih tahu tentang apa yang sesungguhnya terjadi di rumah. Mereka mengatakan, Beliau dilahirkan pada hari Jumat, tanggal tujuh belas Rabiul-Awwal setelah terbit fajar" Inilah pendapat yang masyhur di kalangan Imamiah. Sedangkan selain mereka berpendapat bahwa beliau dilahirkan pada hari Senin tanggal dua belas Rabiul Awwal." [ Silakan Anda merujuk Imta'ul-Asma, hal.3 di mana Anda akan temukan pelbagai pendapat seputar hari kelahiran Nabi saw. ]


Sumber-sumber sejarah mencatat beberapa peristiwa yang unik di hari kelahiran beliau. Misalnya, padamnya api kaum Persia, gempa yang dialami manusia hingga hancurnya berbagai gereja dan peribadatan kaum Yahudi, serta robohnya berbagai hal yang disembah selain Allah Azza Wajalla dari tempatnya, dan tumbangnya berbagai berhala yang diletakkan di Kabah. Peristiwa tersebut membuat para tukang sihir dan para dukun terbelalak dan tak berdaya untuk menafsirkannya. Serta terbitlah bintang-bintang yang tak terlihat sebelumnya.


Demikianlah Muhammad saw lahir dan berkata, "Allah Mahabesar Segala puji bagi Allah dengan suatu pujian yang banyak dan Mahasuci Allah di waktu pagi dan petang." [ Tarikh Ya'qubi, jil.2, hal.8; as-Sirah al-Halabiyyah, jil.1, hal.92. ]



Nabi terkenal memiliki dua nama, "Muhammad" dan Ahmad". Al-Quran menyebutkan kedua nama tersebut

Para sejarawan meriwayatkan bahwa kakeknya Abdul Muththalib menamakannya "Muhammad". Dan ketika beliau ditanya tentang sebab penamaan tersebut, beliau menjawab, "Aku ingin ia (Muhammad) dipuji di langit dan di bumi." [ As-Sirah al-Halabiyyah, jil.1, hal.128 ]


Sebagaimana ibunya-sebelum kakeknya menamakannya "Ahmad."


Melalui lisan Nabi Isa as, Injil pun telah memberitakan kabar gembira tentang kedatangan Nabi Muhammad saw sebagaimana hal ini dikemukakan oleh al-Quran dan dibenarkan oleh Ahlul kitab. Dalam hal ini, Allah Swt berfirman :


"Dan memberi kabar gemberi dengan (datangnya) seorang rasul yang akan datang sesudahku yang namanya Ahmad (Muhammad)." [ QS. ash-Shaff: 6. Silakan Anda merujuk as-Sirah al-Halabiyyah, jil.1, hal.79 ]


Dalam tradisi bangsa Arab dan selainnya, tidak ada masalah bila seseorang memiliki dua nama dan dua julukan.

0 Comments


EmoticonEmoticon