500 ayat untuk ali bin abi thalib as bagian 12



SURAT AL-RA'D

Allah menjadikan orang yang berpaling dari wiláyah Ali sebagai orang buta:

أَفَمَنْ يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَىٰ
Apakah orang yang mengetahui bahwa yang diturunkan kepadamu benar adanya,[1] berkenaan dengan wilâyah Ali, seperti orang yang buta, dari mencintainya.

أَعْمَىٰ ۚ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ الَّذِينَ يُوفُونَ بِعَهْدِ اللَّهِ وَلَا يَنْقُضُونَ الْمِيثَاقَ
Hanya orang-orang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran, yaitu orang-orang yang memenuhi janji Allah,[2] untuk mencintai Ali dan berwiláyah kepadanya saat mereka berada di alam Azal, dan tidak melanggar perjanjian, [3] yang diambil Allah dari mereka untuk menaati Dia, Rasul saw, dan wali-nya.

Firman Allah:
يحكم الله
Allah memberi keputusan, yakni bahwa al-Mahdi af akan berkuasa dan memberikan keputusan berdasarkan perintah dari Allah, karena hukum seorang wali adalah hukum Allah.

Karena itu, seseorang yang menggantikan kedudukan penguasa ketika tidak ada disebut dengan pemimpin. Kepada hamba yang memberikan keputusan dan hukum dengan benar, Allah berfirman:

ذلكم حكم الله
Ini adalah hukum dan keputusan Allah.

Dalam ayat ini, Allah memberikan kabar gembira kepada Nabi saw berkenaan dengan kekuasaan al-Mahdi di dunia dan akhirat, dan Ali sebagai hakim di hari kiamat.Allah berfirman:

"Wahai Muhammad, bila kaummu tidak menjadikan Ali sebagai hakim dan penguasa di dunia, maka Allah akan menjadikannya sebagai hakim atas mereka di hari kiamat. Allah sebaik-sebaik pemberi keputusan ketika menjadikan wali-Nya sebagai hakim. [4]

Kemudian, Allah memuji para pengikut Ali:

والذين صبروا
Orang-orang yang bersabar;

yakni, dalam menghadapi kezaliman dan kepahitan hidup, karena sifat seperti ini khusus dimiliki para nabi, kemudian para wali, kemudian orang-orang yang mendekati maqam mereka. Setiapkali terdapat keimanan dan kesabaran, maka pasti terdapat pula kemiskinan dan kemazluman.

و أقاموا الصلاة و أنفقوا مما رزقناهم
Dan menegakkan shalat, yaitu wiláyah keluarga Muhammad saw. Dan menginfakkan apa yang Kami berikan kepada mereka, berupa pengetahuan dari keluarga Muhammad saw.

وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ
Serta menolak kejahatan dengan kebaikan

أُولَٰئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا
maka mereka akan mendápatkan tempat kesudahan yang baik, yaitu surga Adn yang akan mereka masuki, berkat iman dan kesabaran mereka,

وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ ۖ وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ
bersama ayah-ayah, istri-istri dan anak-anak mereka yang saleh, dan para malaikat datang menemui mereka dari semua pintu.[5]

Lalu Allah menyebutkan keadaan musuh musuhnya yang telah melanggar Baiat mereka :

وَالَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ

Orang-orang yang melanggar janji dengan Allah, setelah meneguhkannya,

وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ
dan memutus apa yang telah diperintahkan Allah untuk disambung, yakni kecintaan kepada keturunan Muhammad, mereka bershalawat kepada Muhammad, namun tidak bershalawat kepada keluarganya, padahal Rasul saw bersabda, "Barangsiapa bershalawat kepadaku, tetapi tidak bershalawat kepada keluargaku, maka dia tidak mengacuhkanku," [6]

وَيُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ

dan berbuat kerusakan di muka bumi, dengan membuat bidah,

أُولَٰئِكَ لَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوءُ الدَّارِ
(maka) mereka akan mendapatkan laknat dari Allah dan malaikat, karena menentang kebenaran. Dan mereka akan mendapatkan tempat kembali yang terburuk. [7]

Kemudian, Allah menyebut keadaan orang yang beriman kepada Ali, setelah mengesakan Allah dan berserah diri kepada Nabi-Nya, dan orang yang bila diingat, akan membuat hati orang-orang beriman menjadi tenang:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ
Orang-orang yang beriman dan hati mereka tenang dengan zikir Allah, zikir Allah adalah Ali, karena orang yang mengingat Ali akan mengingat Allah dan Rasul-Nya:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Ketahuilah bahwa hati akan tenteram dengan mengingat Allah. [8]

Dia menyebutkan bahwa dengan mengingat Ali, maka hati yang bersih akan menjadi tenang, dan hati yang munafik akan gelisah. [9]

Kemudian Allah menjadikan Ali sebagai saksi bagi Rasul-Nya di hari kiamat atas umatnya, dan mengkhususkannya dengan ilmu Kitab:

قُلْ كَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ وَمَنْ عِنْدَهُ عِلْمُ الْكِتَابِ
Katakanlah " cukup bagiku Allah dan orang yang memiliki  ilmu kitab sebagai saksiku antara aku dengan kalian " [10]

Yang di maksud orang yang memiliki ilmu kitab adalah Ali,  sesuai dengan ijma' mufassirin. [11]

Catatan akhir

[1] al-Ra'd: 19
[2] al-Ra'd: 19.
[3] al-Ra'd: 20.
Dalam Masyariq Anwar al-Yaqin, penulis berkata, "Penjelasannya adalah bahwa kekuasaan, hukum, dan wilâyah terkadang bersifat mutlak dan kadangkala muqayyad. Penguasa dan pemilik hari kiamat secara mutlak adalah Allah Sedangkan hakim pada hari itu, dengan perintah Allah dan Rasul-Nya, adalah Amirul-Mukminin. Ini dikarenakan wilâyah-nya adalah perjanjian yang telah diambil semenjak alam Azal hingga kiamat. Ketika Ali adalah hakim dan penguasa di dunia, maka dia pun hakim di akhirat, karena wilâyah-nya tidak terputus. Ini ditunjukkan oleh firman Allah: maka dia telah berpegang kepada tali kukuh yang tidak terputus, yaitu wilâyah Ali. Dalilnya adalah firman Allah:

Bukankah Allah adalah hakim yang paling bijaksana.

Ali bin Ibrahim dalam tafsirnya menyatakan, 'Amirul Mukminin adalah hakim yang bijaksana.' Di sini, terdapat ithlaq dan taqyid.

Amirul Mukminin adalah hakim di hari kiamat, dengan perintah Allah dan Rasul- Nya. Dan Allah adalah Tuhan semesta, serta di dunia dan akhirat. Ini juga ditunjukkan oleh sabda Rasul saw, "Aku dan Ali diciptakan dari janbullah dan tidak ada (apapun) selain yang diciptakan darinya.' Janbullah adalah ilmu Allah
dan hak-Nya yang diperuntukkan baginya, seperti menghidupkan orang mati, memberitakan hal ghaib, mengembalikan matahari setelah terbenam, dan memunculkan mukjizat. Allah menyerahkan urusan hamba-hamba-Nya kepadanya dan menjadikannya hakim di hari kiamat. Tidak ada yang mengingkari hal ini kecuali orang yang tidak memiliki iman. (Masyariq Anwar al-Yaqin, hal. 230-233)
[5] al-Ra'd: 22-23.
[6] Sya'rani meriwayatkan hadis shalawat batra' (buntung) dari Rasul saw dengan redaksi, "Janganlah kalian bershalawat kepadaku dengan shalawat batra."

Para sahabat bertanya, "Apa makna shalawat batra itu'?"

"Yaitu, bila kalian mengatakan: Allahumma shali 'ala Muhammad kemudian kalian diam dan tidak meneruskannya. Kalian harus katakan: Allahumma shalli 'ala Muhammad wa ali Muhammad."

Mereka bertanya, "Lalu, siapakah keluargamu, wahai Rasulullah?"

Beliau bersabda, "Mereka adalah Ali, Fathimah, Hasan dan Husain." (al-Kasyf al-Ghummah, Sya'rani, jil. I, hal. 219 bab "Perintah Bershalawat kepada Nabi saw",
cet. Mesir 1327 H)
[7] al-Ra'd: 25.
[8] al-Ra'd: 28.
[9] Qummi meriwayatkannya dari Imam al-Shadiq (Tafsir Qummi, jil. I, hal. 365).

Furat al-Kufi meriwayatkan dari Rasul saw bahwa ayat ini turun berkenaan dengan orang yang membenarkan Nabi saw dan mencintai Ali. (Tafsir Furat, hal.207)

Imam al-Shadiq berkata, "Hati akan menjadi tenang dengan mengingat Muhammad, karena dia adalah zikir Allah dan hijab-Nya." (Tafsir Ayyasyi, jil. II,hal. 211)

Dalam sebuah riwayat,  Nabi saw bersabda tentang ayat ini " mereka adalah kamu dan pengikut kami " ( tafsir Ashfa, jil. I, hal.  604 )
[10] al-Ra'd: 43.
[11] lihat tafsir Abu Hamzah al-Tsumali hal 220: tafsir Ayyasyi jil ii hal. 220 hadis ke-77: tafsir Qummi jil. I, hal. 367: tafsir Majma' al-Bayan, jil. VI,  53: Syawahid al-Tanzil, jil. I,  hal. 400

0 Comments


EmoticonEmoticon