Selamat Jalan Benteng Trakhir Bani Hasyim


Perih di mata; debu-debu itu dilesatkan kuda-kuda perang, mengambang di sahara Karbala, membasuh leher-leher tak berkepala di Karbala. Hiruk pikuk di laga: ribuan kurcaci Kufah memenggal leher keluarga dan para pecinta Muhammad saw. Apa hendak dikata, agama Muhammad mereka anggap kadaluwarsa. Tak ada jalan menuju nirwana, kecuali titian cinta Husain putra Fathimah.

Parau suaranya. Sembab matanya. Perempuan-perempuan Ahlulbait meronta tanpa suara. Anak-anak dan bayi Imam Husain kehausan. Kemanakah gerangan Ali Akbar Sang Jawara. Mengapa Qasim putra Hasan tak lagi bernafas. Apa salah Muhammad dan Aun hingga tulang tulangnya diremuk kaki kuda. Para sahabat pecinta Husain kini telah tergeletak dengan tubuh terluka. Tinggal seorang "benteng pelindung" keluarga Rasulullah Muhammad saw.

Abul Fadl Abbas. Siapa yang tak kenal jawara itu "Rembulan Bani Hasyim," demikian keluarga Muhammad saw menyandangkan gelarnya. Dialah pijar penerang saat rumah keluarga Muhammad saw digelapkan para penjahat.

Kini, dia rangkul adik-adik dan keponakannya, seolah tak mau melepas mereka. Lalu, pemuda yang wajahnya bercahaya itu menghampiri kakaknya di luar tenda. Kepada Imam Husain, diutarakan niatnya menghalau kawanan serigala Kufah yang bertengger di punggung kuda.

"Abbas, engkaulah pemegang panji pasukan ini," ujar Imam Husain sambil menatap sayu adiknya.

Abul Fadhl Abbas menjawab, "Benar, tapi demi Allah, dadaku terasa sesak. Izinkan aku menuntut darah para syuhada."

Lalu Imam Husain mengingatkan Abbas bahwa perempuan-perempuan dan anak-anak dicekik dahaga setelah beberapa hari dikepung di Karbala. Husain berkata, "Wahai Abbas, pergilah dan ambillah air untuk perempuan dan anak-anak yang kehausan." 📓 Sadar Karbala, hal. 287. Idem

Tangis bocah-bocah Ahlulbait seolah menjelma sembilu menyayat hati Abbas. Tanpa berpikir panjang, dia segera mengambil girbah, kantong air. Lalu memacu kudanya menuju Furat. Hingga menjelang bibir sungai Furat, dihadang barikade prajurit Kufah yang menghunus pedang dan tombak.

Seperti petir melecut barisan pohon kurma, pasukan itu bertumbangan ditebas pedang putra Ali bin Abu Thalib itu. Melihat ketangkasan Abbas, gerombolan pasukan itu menghindar menjaga jarak. Abbas mengingatkan pasukan musuh akan murka Allah dan meminta mereka memberinya jalan untuk mengambil. Namun ujarannya tidak digubris pasukan Kufah.

Kembali Abbas menerjang pasukan tak bernurani itu. Seperti sekawanan srigala dihalau singa mereka kocar-kacir semburat melarikan diri. Puluhan tentara Kufah mati menggelepar-gelepar tertetak pedang rembulan Bani Hasyim itu. Setelah berhasil menghalau para pendusta agama itu, sampailah Abbas di bibir sungai. Setelah mengisi penuh girbahnya, dia raup air dengan tangan, tapi sebelum sampai mulutnya, Abbas teringat dahaga berhari-hari yang mencekik leher Imam Husain, bocah-bocah dan perempuan-perempuan. Mendadak dia urungkan niat  mencicip sedikit air untuk membasahi rongga lehernya.

Abbas segera naik kembali ke punggung kuda dan memacunya kembali ke perkemahan. Di tengah jalan, Abbas dihadang pasukan Kufah yang jumlahnya berkali lipat dari jumlah ketika dia menuju Furat. Tiada pilihan selain mencabut pedang dan mengusir mereka. Kembali itu porak-poranda. Puluhan penunggang kuda dikanvaskannya. Banyak yang mengerang sebelum akhirnya menggelepar-gelepar meregang nyawa.

Tiba-tiba tombak menghantam bagian belakang kepalanya. Abbas terhuyung kehilangan keseimbangan Ketika itu, panah-panah musuh tak bisa dia tangkis. Di punggungnya beberapa anak panah menancap bersusulan, Kemudian anak panah yang dilesatkan musuh dari depan merobek uluhatinya. Rembulan Bani Hasyim itu terjatuh dari punggung kudanya setelah sebilah pedang menebas tangan kanannya. Kini girbah airnya jatuh ke tanah bersama tangan dan pedangnya lalu disusul tubuhnya membentur bumi tandus Karbala. "Oh Husain kakakku..." teriaknya sambil mengerang kesakitan berusaha berdiri dan meraih pedangnya dengan tangan kiri.

Ketika itulah seekor serigala berwajah manusia bergegas menyabet tangan kiri Abbas. Kini dia buntung. Dua tangannya terpisah dari tubuh. Darah merah muncrat deras dari urat-urat yang tampak seperti pipa-pipa kecil di bahunya. Kembali Abbas jatuh tersungkur sambil berteriak, "Salam atasmu dariku, wahai Abu Abdillah." 📓 Nadhm azzahra, hal. 120. Idem

Mendengar jerit Abul Fadhl Abbas, Imam Husain segera memacu kudanya. Secepat kilat dia melesat menghampiri asal suara. Bagai singa, Imam Husain membabat setiap penghadangnya. Pasukan Kufah kocar- kacir. Beliau saksikan tubuh Abbas tanpa lengan. Setelah turun dari kuda, beliau raih adiknya yang dibuntungkan tangannya itu dengan lembut, lalu memangku kepala yang dahinya merekah itu. Melihat kondisi Abbas, Imam Husain menjerit berkali-kali, "Telah patah tulang punggungku. 📓 sugand Nameh Ali Muhammad, hal. 310. Idem

Di pangkuan Imam Husain, Abbas menghembus nafas terakhirnya. Imam Husain tak kuasa menggendong tubuh buntung adiknya itu. Tubuhnya hancur lumat hingga Imam Husain tak bisa membawanya kembali ke tenda.

"Benteng terakhir" Bani Hasyim itu telah berlalu."

Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.

Imam Husain kembali ke kemah tanpa Abbas. Dia usap air mata yang menggelinding di pipi. Di depan tenda, Sukainah, putri kesayangannya menghampiri beliau- dan bertanya, "Ayah, bagaimana nasib pamanku? Dia berjanji kepadaku untuk membawakan air. Bukankah dia tidak mungkin ingkar janji?"

Imam Husain tertunduk sesenggukan. Tanya itu sulit dijawabnya. Beliaupun menangis sebelum menjawab, "Putriku, pamanmu terbunuh. Tapi ketahuilah, ruhnya kini bersemayam di surga. 📓 Sugand Nameh Ali Muhammad, hal. 310. Idem


Kepada Zainab beliau ujarkan tragedi yang menimpa Abbas di medan tempur. Mendengar itu, lidah Zainab mendadak kelu. Tangisnya meledak sambil berseru terbatabata, "Oh Abbas, adikku."

Sukainah, Ummi Kulsum dan wanita-wanita lain menangis sambil berteriak, "Oh Abbas! Oh, saudaraku! Kini tiada lagi penolong kami! Setelah kepergianmu,
bencana nyata pedih menimpa kami!" 📓 Kibrit Al-Ahmar, hal. 162. Idem


Salam atasmu dariku wahai Babul-Hawaij
Salam atasmu Wahai Putra Abu turab salam atas mu saat engkau di lahirkan Saat kau syahid dan saat engkau di bangkitkan kelak.

Yaa wajihan Indallah Isyfa'lana Indallah...

0 Comments


EmoticonEmoticon