Munajat Imam Ali Zainal Abidin As Sajjad as



Thawus Yamani berkata, "Aku melihat Ali Bin Husein as bertawaf mengelilingi Ka'bah dari waktu isya' hingga hampir menjelang subuh. Ketika sebagian besar hujjaj sudah meninggalkan Ka'bah, dan suasana sekeliling Ka'bah sudah sepi, beliau menatap langit seraya berkata, "Ya Tuhan! Bintang-bintang sudah bersembunyi dan mata sudah terlelap tidur dan pintu rahmatMu terbuka lebar untuk orang-orang yang meminta hajat. Aku bersimpuh ke hadiratMu, dengan harapan Engkau berkenan mencurahkan rahmatMu dan mengam- puni dosa-dosaku. Dan kelak pada hari kiamat di padang mahsyar, tampakkanlah wajah kakekku Muhamad saw kepadaku!"

Kemudian sambil meneteskan air mata, beliau berdoa:

Demi kemuliaan dan keaguanganMu, perbuatan maksiatku tidaklah kumaksud untuk menentangMu, begitu pula bukan lantaran aku meragukan keberadaanMu atau tidak mengetahui siksaanMu dan juga bukan karena aku memprotes siksaMu melainkan aku telah termakan tipuan hawa nafsu dan keberadaan Mu yang tidak kasat mata sehingga menambah jauh antara diriku denganMu. Ya Allah! Kini siapakah yang dapat menyelamatkanku dari siksaMu, selain Engkau sendiri dan siapa yang dapat kuharapkan perlindungannya, sekiranya Engkau berkehendak memotong tanganku! Celaka diriku! Semakin usiaku bertambah, dosaku semakin menggunung. Di sisi lain, aku malas bertaubat. Adakah belum tiba masanya bagiku untuk merasa malu!"

Kemudian beliau menangis seraya berkata:

"Wahai akhir dari harapan dan angan-angan! Adakah engkau akan membakarku dengan api Mu, sementara hatiku dipenuhi dengan kerinduanMu? Aku telah berbuat sesuatu yang memalukan dan buruk? Akulah yang paling keji di antara makhlukMu!"

Kembali beliau menangis dan berkata:

"Oh Tuhan! Engkau suci dari segala keburukan dan cacat. Biarpun manusia bermaksiat kepadaMu seakan-akan mereka tidak melihatMu namun Engkau tetap bersabar. Sepertinya mereka tidak menentangMu dan Engkau begitu menyayangi makhlukMu seolah Engkaulah yang memerlukan mereka. Padahal Engkau sama sekali tidak memerlukan mereka!"

Selanjutnya beliau pingsan. Aku mendekati beliau dan meletakkan kepalanya di lututku. Tangisanku jatuh bagai air bah sehingga butiran butirannya menetes ke wajah Imam. Ketika siuman beliau bertanya, "Siapakah yang telah mengganggu munajatku?"

"Wahai putra Rasul! Aku adalah Thawus Yamani. Mengapa engkau menangis seperti itu? Kami yang banyak dosa ini yang sepatutnya menangis dan meratap seperti yang anda lakukan dan bukannya engkau! Padahal ayahmu adalah Husein, ibumu Fatimah dan kakekmu adalah Rasul saw", jelasku.

Beliau menatapku seraya berkata: "Kenapa engkau ngelantur jauh-jauh wahai Thawus Janganlah engkau berbicara perihal ayah, ibu serta kakekku. Allah swt menciptakan surga untuk setiap hambanya yang taat dan shalih, walaupun ia budak hitam (Habasy). Sementara  neraka, diciptakan untuk hambanya yang ahli maksiat, meskipun dia itu Sayyid Quraisyi. Tidakkah engkau mendengar firman Tuhan:

فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ فَلَا أَنْسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذٍ وَلَا يَتَسَاءَلُونَ
'Ketika sangkakala telah ditiup, maka tidak ada lagi kerabat di antara manusia dan tidak seorang pun yang ditanya, dari keluarga mana ia?"" (QS 23 ayat 101)

Demi Tuhan! [*] di akhirat hanya amalan shalih yang akan memberikan keuntungan kepada manusia."

Kedudukan manusia sama di sisi Tuhan. barang siapa bertakwa kepada Tuhan, dari keturunan siapapun dia, maka Tuhan akan memasukkannya ke dalam surga. Tuhan tidak seperti manusia yang suka membeda-bedakan antara sesama berdasarkan status sosial dan lain sebagainya.

[*] Sumber : Biharul Anwar, jilid. 46, halman. 65

0 Comments


EmoticonEmoticon