Selamat Berbahagia Atas lahirnya Sayidah Zainab sa

Lahirnya perempuan persembahan suwarga

Madinah, awal tahun 6 Hijriah. Ketika baru pulang dari sebuah perjalanan, Rasulullah Muhammad Saw dikabari bahwa Fathimah Zahra melahirkan bayi perempuan.

Rasulullah bergegas menuju rumah putrinya. Beliau bersyukur karena Allah Swt telah memberinya cucu ketiga.

Sebelumnya, Rasulullah memiliki dua orang cucu lelaki, Hasan dan Husain.

Rumah Fathimah berdempetan dengan rumah Rasulullah di sisi Masjid Nabawi. Di sisi lain berdiri rumah-rumah sahabat. Sebelum turun wahyu agar pintu-pintu rumah yang mengarah ke dalam Masjid ditutup, setiap rumah di pinggir Masjid memiliki pintu masuk ke dalam Masjid.

Sesampainya di rumah Fathimah, setelah mengucapkan salam, Rasulullah berkata kepada putrinya, "Wahai putriku, bawalah kemari cucuku.

Dengan hati-hati, Fathimah menyerahkan bayinya yang baru lahir kepada Sang ayah. Bayi mungil itu kini berada di pangkuan Rasulullah. Beliau dekap bayi merah  dengan wajah berseri-seri. Lalu pipi mulia Sang Nabi itu menempel di pipi bayi suci yang didekapnya.

Rasulullah bertanya, "Sudah kau beri nama putri-mu?"

"Belum ya Rasulullah. Kami belum memberinya nama."

Kebiasaan Ali dan Fathimah tidak memberikan nama bayi mereka hingga Rasulullah yang menyematkannya, sebagaimana Hasan dan Husain.

Ketika itulah malaikat Jibril mewahyukan titah Allah Swt, "Wahai utusan Allah, Allah Swt telah mengirim salam untukmu dan Dia berfirman, 'Namakan dia Zainab."

"Zainab" adalah kata majemuk atau gabungan dari dua kata, yaitu "Zain" dan "Ab. "Zain" berarti hiasan atau sesuatu yang indah. Sedangkan "Ab" berarti ayah. Jadi Zainab" berarti Hiasan Sang Ayah. Ada yang mengartikan "Zainab" sebagai nama sebuah pohon cantik beraroma harum. Kedua pendapat tersebut menunjukkan kata "Zainab" berarti baik dan mulia, semulia keluarga suci Nabi Muhammad saw. 📓 Muhammad Kadzim Qazwaini, Zainab Minal Mahdi ilal Lahdi, hal.25.

Ibunya, Fathimah Zahra bergelar Ummi Abiha (ibu dari ayahnya). Betapa predikat ini menunjukkan keterpesonaan Rasulullah saw kepada putrinya. Betapa sgelar itu menunjukkan kedekatan atau kemenyatuan putri dengan ayahnya. Zainab juga memiliki gelar Zain Abiha, hiasan ayahnya. 📓 Sayid Nuruddin Jazairi, Khashaishu Zainab, edisi Persia, hal.56. Lihat Euis Damayanti, 'Dan Dialah Zainab al-Kubro.

Kepada Fathimah, Nabi berkata, "Berilah dia nama Zainab."

Tak lama setelah nama Zainab' terujar dari mulut suci beliau saw, Rasulullah saw melihat Jibril menangis Menyaksikan itu, Rasulullah saw bertanya apa sebab Jibril menangis

Jibril menjawab, "Ketahuilah wahai kekasih Allah, sejak awal hingga akhir, kehidupan bayi ini penuh berbagai musibah dan cobaan." 📓 Muhammad Kazim Qazwini, Zainab al-Kubro minal Mahdi ilal Lahdi, hal.24

Mendengar kabar itu, Nabi Muhammad saw sedih. Beliau menangis. Air matanya bercucuran menyembabkan pipi suci itu. Tak dapat disembunyikan kesedihan itu.

Fathimah mendekat lalu bertanya,

"Wahai ayah, semoga Allah Swt tidak membuat matamu menangis. Mengapa engkau menangis?"

"Putriku, Fathimah, ketahuilah. Jibril telah mengabarkan kepadaku, bayi ini akan ditimpa berbagai musibah dan menghadapi berbagai cobaan. Wahai putriku, wahai belahan jiwaku, wahai cahaya mataku. Ketahuilah, sesiapa menangis untuknya karena segala musibah yang menimpanya, maka dia mendapat pahala seperti pahala orang yang menangis untuk kedua saudaranya," jawab Rasulullah Muhammad saw. 📓  Sayid Nuruddin Jazair, Khashaishu Zainab, edisi Persia hal: 52-53.

Ada komunikasi kalbu suci yang tak terujar. Ada haru yang menusuk sukma. Ada gejolak asamara lahut. Di sana. Di rumah Fathimah.

Fathimah mendengar berita duka untuk kesekian kalinya. Inilah musibah yang kelak dituai putra-putri-nya. Inilah kabar langit. Telah maktub kabar Rasulullah saw di lembar sanubarinya, saat Husain, kakak Zainab lahir. Ketika itulah Rasulullah saw menangis sesenggukan sambil menimang cucunya, Husain. Karena, Jibril mengabarkan berita duka pembantaian putra Fathimah di padang tandus, bumi nestapa, Karbala. Mereka para penjagal keluarga Rasulullah saw, ditegaskan Muhammad saw sebagai pendusta agama.

Zainab akan menghadapi musibah bersama kakak-nya, Husain. Fathimah, putri tunggal Sang Nabi itu menyaksikan keluarganya teramat istimewa di mata Allah swt. Musibah yang ditimpakan musuh Islam kepada rumah tangganya adalah kemuliaan yang tak dimiliki keluarga lainnya. Ketika turun ayat Thathir; ayat penegas kesucian keluarganya, sejatinya Nabi Muhammad saw dan seluruh keluarga sucinya tahu konsekwensi hidup yang harus mereka jalani. Karena, tak setiap muslim mengagungkan kesucian Ahlul Bait Rasulullah Muhammad saw, bahkan mereka cenderung memendam makna dan pesan ayat tersebut, maka niscaya ada orang yang berusaha pesan langit untuk keluarga Nabi Muhammad saw. Tapi, seperti janji beliau saw, niat musuh-musuh Islam itu mustahil terlaksana.

Keluarga Fathimah adalah keluarga pejuang kebenaran. Kebenaran yang mustahil diemban manusia biasa.

Fathimah mendengar kabar tragedi yang bakal menimpa putra-putrinya. Tapi dia memahami bahwa itulah konsekwensi yang harus diemban Ahlul Bait Nabi Muhammad saw.

Putri Rasuluilah Muhammad saw itu sadar total bahwa itulah "ongkos" yang harus dibayar sebagai keluarga Nabi Muhammad saw. Demi tegaknya agama Muhammad saw, Ablul Bait suci menjadi "tumbal" sejarah Islam yang dinodai musuh-musuh Bani Hasyim. Untuk apa? Untuk membumikan kalimat Asyhadu alla illaha ilallah wa asyhadu anna Muhammad ar-Rasulullah.

Setelah Zainab genap berusia setahun, Fathimah melahirkan seorang putri yang diberi nama Umi Kulsum Zainab dan Umi Kulsum diasuh langsung oleh Rasulullah saw, Ali dan Fathimah. Merekalah para penerima langsung kucuran deras wahyu Allah Swt yang disampaikan Rasulullah saw. Kecerdasan mereka adalah wujud suci firman-Nya. Kebijakan mereka telah maktub dalam kalam Allah Swt.

Di rumah tangga Nabi Muhammad saw, Zainab tumbuh seiring para malaikat lalu lalang menjaga rumah wakil Tuhan di muka bumi itu. Zainab dewasa seirama wahyu yang disampaikan Jibril kepada Nabi Muhammad saw. Di sanalah, Zainab menyatu dengan nama-nama suci Allah yang dikumandangkan kakeknya, Muhammad saw. Bersama kedua kakaknya, Hasan dan Husain, Zainab menjadi insan ilahiah, sempurna tanpa cacat.

Sejarah mencatat, Rasulullah saw selalu ditindas sejak awal hingga akhir hayatnya karena berusaha menegakkan kalimat tauhid itu. Kebanyakan manusia menolak kebenaran Nabi Muhammad saw. Kekerasan demi kekerasan tak henti dihamburkan musuh-musuh Islam
kepada Nabi Muhammad saw. Baik di Mekah maupun di Madinah, musuh musuh Islam berusaha sekuat tenaga memisahkan muslimin dari Rasulullah Muhammad saw dan keluarga sucinya.

Ketika Nabi Muhammad saw mengujarkan firman Allah: Di rumah-rumah yang telah Allah ijinkan untuk Ditinggikan dan disebut di dalamnya nama-Nya, di dalamnya bertasbih kepada-Nya pagi dan sore (QS 24 : 36),

sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, rumah-rumah manakah itu?"

Rasulullah menjawab, "Rumah-rumah para Nabi."

 Abu Bakar berdiri dan bertanya, "Wahai Rasul Allah, apakah rumah Ali dan fathimah termasuk di dalamnya?"

Rasulullah menjawab, "Ya. Rumah ini terbaik di antara rumah-rumah tersebut." 📓 Sayid Hasyim Al-Bahrayni, ketika menafsirkan Ayat tersebut dalam Al-Burhan fi Tafsir Al-Quran. Lihat, Muhammad Kadzim Qazwaini, Zainab Minal Mahdi ilal Lahdi, hal 30-31.


Di rumah suci itulah Zainab mendapat perhatian penuh dari kakek, ayah serta ibunya. Seperti kakaknya Hasan dan Husain, Zainab memiliki hubungan batin sangat dekat dengan Nabi. Zainab, Ummi Kulsum, sering digendong dan dicium Nabi. Nabi saw bangga karena telah lahir dari rahim putrinya, perempuan perempuan penyanggah peradaban Islam.

Setiap beliau saw mengunjungi mereka, atau mereka berkunjung ke rumah Nabi saw, maka beliau selalu memamerkan cintanya dengan memeluk dan menciumi mereka.

Pernah Zainab mengujar mimpinya kepada Rasulullah Muhammad saw, "Wahai kakek, semalam aku mimpi melihat angin berderu kencang. Dunia dan isinya serta langit gelap gulita. Angin itu mengombang-ambingku Saat kulihat di sana ada sebatang pohon besar, maka aku memegangnya erat-erat agar selamat dari terpaan angin. Tapi pohon itu roboh membentur tanah oleh terpaan angin. Lalu kupegang dua cabangnya yang kuat.Tapi angin yang bertiup kencang itu mematahkannya. Kemudian kupegang dua cabang lainnya tapi angin itu  mematahkannya. Kupegang lagi dua cabang lainnya, saat itulah aku terjaga dari tidurku."

Mendengar mimpi cucu perempuan kecilnya, Rasulullah saw menangis. Beliau berkata, "Pohon besar itu adalah kakekmu ini. Dua cabangnya yang besar adalah ibu dan ayahmu. Dua cabang pohon selanjutnya adalah dua saudaramu, al-Hasan dan al-Husain. Dunia dan langit menjadi gelap karena kematian mereka, dan engkau akan menghadapi kesedihan dan musibah setelah kepergian mereka. 📓 Muhammad Kazim Qazwini, Zainab al-Kubro minal Mahdi ilal Lahdi, edisi bhs Arab, hal 33-34

Zainab berusia lima tahun saat Rasulullah Muhammad saw wafat. Pada usia itulah Zainab merasakan hangatnya hubungan dengan Sang kakek. Zainab sangat kehilangan dan menanggung sedih saat kakeknya tercinta menghadap Allah Swt. Sepeninggal kakeknya, Zainab menyaksikan ujaran kakeknya menjadi nyata. Tragedi demi tragedi menimpa keluarganya.

Zainab menjadi saksi hidup ketika ayah dan ibu-nya, Ali bin Abu Thalib dan Fathimah Zahra ditindas musuh-musuh Islam. Dia dapati ayah dan ibunya "dirumahkan", sementara ayat-ayat Tuhan dilantunkan dan diterjemah-tafsirkan "bebas" di Masjid Nabi Muhammad saw tanpa Ahlulbait sucinya. Zainab menyaksikan ibunya mengetuk pintu-pintu rumah Muhajirin dan Anshar pada malam-malam hari untuk mengingatkan sumpah setia  yang mereka ujar di Ghadir Khum sebelum kakeknya meninggal.

Zainab-lah pelipur lara, saat ibunya, Fathimah, menanggung sedih akibat kepergian Rasulullah Muhammad saw. Zainab menjadi saksi hidup, ketika ibunya dan perempuan-perempuan Bani Hasyim menuju Masjid Nabi. Saat itu, setelah sepuluh hari kakeknya meninggal. Ketika itulah Fathimah Zahra memamerkan kefasihan lidah Nabi Muhammad saw di hadapan kaum Muhajirin dan Anshar. Ketika itulah gugatan putri Rasulullah Muhammad saw berkumandang dan diabadikan sejarah.

Zainab bersama wanita-wanita keluarga dan sahabat-sahabatnya duduk dibelakang Fathimah, ketika ibunya menutup tirai yang membatasi kelompok perempuan dan kelompok kaum lelaki di dalam Masjid. Dia menyaksikan ibunya terisak, sejenak, dan suasana di dalam mesjid yang penuh orang itu menjadi hening menunggu apa yang akan diucapkan oleh Fathimah.

Umat kakeknya berjejal di Masjid Nabi. Mereka saksikan ibunya berorasi. Setiap huruf, kata dan intonasi Fathimah di mimbar Rasulullah saw sublim di kesadaran Zainab. Di rumah Allah Swt ujaran Sang Ibu menjadi bekal hidup Zainab sepanjang hayat.

Ajaran Islam ditinggalkan. Al-Quran dan Ahlulbait dianggap berbeda. Umat Islam telah terpedaya oleh simbol-simbol agama tawaran penguasa zalim.

Perpecahan umat terjadi karenanya. Masa depan umat suram. Itulah serangkai peringatan Fathimah kepada umat kakeknya. Itulah jawaban bagi Zainab setelah melihat ibunya melalui hari dengan linang air mata.

Setelah orasi di Masjid Nabi Muhammad saw, Zainab melihat kesehatan ibunya makin lemah. Sakitnya makin parah. Suatu hari, istri Rasulullah, Ummul Mukminin, Ummi Salamah mengunjungi Fathimah. Dia bertanya, "Bagaimana keadaanmu pagi ini, wahai putri Rasulullah?"

Fathimah menjawab, "Pagi ini aku berada di antara kepedihan dan penderitaan. Nabi telah tiada, dan washinya dizalimi. Allah akan menjadi pelindung orang yang kepemimpinannya diambil dengan melanggar syariat Allah dalam kitab suci-Nya dan ketetapan Nabi dalam sunahnya. Sebenarnya, inilah warisan kebencian setelah perang Badar dan Uhud."  📓 Ibrahim amini Fathimah az zahra hal 160

Perempuan-perempuan Madinah pun menjenguk Fathimah. Mereka bertanya, "Bagaimana keadaanmu, wahai putri Rasulullah?"

"Aku Fathimah, putri paling dicinta Rasulullah. Aku sakit dan terbaring di atas tempat tidur. Rintihanku tak akan melemah karena pukulan-pukulan umat ini menyakitkan. Aku di ambang kematian dan segera mendapati pesan-pesan ayahku Rasulullah? ujar Fathimah, pasti.

Mendengar itu, putra-putri Fathimah sedih. Hasan, Husain dan Zainab mencoba menghibur Sang ibu. Tapi, adakah orang setegar Fathimah? Zainab menangis seiring tangis ibunya. Meski terbilang bocah, Zainab berusaha menghibur ibunya.

Zainab, putriku. Jangan abaikan Hasan dan Husain, rawatlah mereka dengan sungguh sungguh. Sepeninggalku Jadilah ibu mereka." Zainab hanya menangis. Di kecupnya kening hangat yang sering dicium Nabi saw itu. Zainab sadar, tak lama lagi ibunya meninggalkan dia dan seluruh keluarga menyusul Rasulullah Muhammad saw.

Buah cinta Rasulullah saw menghadap Tuhan ayah- nya. Merenda kasih, membuang sedih, di altar sahara, ditinggalkannya kepalsuan berbaur pasir, panas menyembur wajah-wajah munafik. Tiada lagi, suara melantun doa di rumah suci itu. Telah berlalu dari bumi Sang bidadari persembahan suwarga itu.

Hanya keluarga dan sahabat setia Ali bin Abu Thalib yang tahu letak makam Fathimah.

Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan (Qs. 3:185) (Yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka), "Salaamunialaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan." (16:32).

Sumber : The Heroic Grand Daughter of prophet Muhammad Saw, Zainab karya Muhamamad Amin

0 Comments


EmoticonEmoticon