Tafsir Surah Al-Fatihah bagian 6


AYAT 6

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
 Bimbinglah kami (Ya Rab) kepada jalan yang lurus 

📒 TAFSIR

Setelah mengakui ketaatan dan penghambaannya kepada Allah, hal pertama yang sang hamba pinta adalah bimbingan-Nya kepada jalan yang lurus, jalan kebenaran, jalan keadilan, dan jalan keimanan dan amal- amal yang baik. Oleh karenanya, dia memohon kepada Allah, yang telah mencurahkan kepadanya seluruh karunia ini untuk memberinya karunia berupa bimbingan juga.

Orang semacam ini, menurut keadaan yang disebutkan di atas, adalah seorang beriman yang mengetahui ketuhanan (rubûbiyyah) Tuhannya, namun mungkin saja, dia tiba-tiba berhenti menerima karunia ini karena beberapa kejahatan yang menyebabkan dia menyimpang dari jalan yang benar.

Oleh karena itu, ia mesti memohon kepada Tuhannya, paling
sedikit sepuluh kali sehari, untuk melindunginya dari segala jenis penyimpangan.

Selain itu, ‘jalan yang lurus ini’ yang merupakan ajaran Ilahiah itu sendiri memiliki beberapa tingkat. Semua orang tidaklah memiliki persiapan tingkat spiritual yang sama yang penting
untuk menggapai tingkat-tingkat ini. Tingkat apapun yang seseorang capai, tetap saja ada beberapa tingkatan yang lebih tinggi di atasnya sehingga seorang hamba mukmin mungkin meminta Allah untuk membimbingnya guna meraih tingkatan yang lebih tinggi tersebut.
Di sini muncullah sebuah pertanyaan: “Mengapa kita mesti meminta hidayah Allah pada ‘jalan yang lurus’, seolah-olah kita sedang tersesat?” Selain itu, anggaplah pernyataan itu benar untuk kita, orang mukmin biasa, namun bagaimana halnya dengan Nabi dan para imam maksum yang merupakan teladan sempurna bagi manusia? Untuk meresponnya, kita bisa mengatakan:

Pertama, secara faktual manusia mungkin menyimpang dari jalan yang benar dengan setiap langkah yang dia langkahkan tatkala dia sedang berjalan sepanjang jalan bimbingan. Oleh
karena itu, dia harus bersandar kepada Allah dan meminta-Nya menetapkannya dalam ‘jalan yang lurus’.

Kita tidak boleh alpa kepada eksistensi kita, keberadaan kita,  dan seluruh karunia yang selalu datang kepada kita bersumber dari-Nya. Untuk mengklarifi kasi persoalan tersebut, kita sebutkan sebuah contoh sederhana: Seluruh makhluk, termasuk umat manusia, (dari satu sudut pandang) sama dengan sebuah lampu listrik. Kita melihat cahaya lampu itu tatkala dinyalakan nampak konstan dan monoton.

Hal ini terjadi karena aliran listrik mengalir secara dawam dari sebuah generator ke lampu tersebut. Generator tersebut secara terus-menerus menghasilkan beberapa kekuatan listrik baru, sebagian darinya mencapai lampu tersebut setelah dikaitkan dengan beberapa kawat penyambung. Keadaan kita pun sama dengan lampu tersebut. Walaupun nampak sebagai makhluk yang sudah tua, secara faktual, kita secara berkelanjutan memperbaharui diri, terus mengalir tanpa henti dari Sumber Kehidupan, Pencipta Yang Penuh Rahmat.

Oleh karena itu, ketika mengalami keadaan yang baru, kita memerlukan hidayah baru yang konstan juga. Adalah hal yang alamiah apabila terjadi kesalahan atau beberapa rintangan pada diri kita dalam kawat-kawat penghubung spiritual dengan Allah: kejahatan, ketidakadilan, perlakuan yang salah dan lain sebagainya, akan mengganggu hubungan kita dengan Sumber bimbingan. Pada saat tersebut, kita mungkin menyimpang dari ‘jalan yang benar’.

Kita memohon kepada Allah agar rintangan-rintangan ini dihilangkan dan tidak menghalangi jalan kita dari keteguhan dalam ‘jalan yang benar’.

Kedua, menerima ‘bimbingan’ sama dengan bepergian di jalan “perkembangan’ yang dapat menaikkan manusia secara berangsur-angsur dari derajat lebih rendah ke derajat yang kian tinggi.

Kita juga mengetahui bahwa jalan perkembangan tidak kenal henti dan terus berjalan menuju 'ketidakterbatasan’. Oleh karena itu, tidaklah aneh apabila nabi-nabi dan para imam maksum pun—salam atas mereka—memohon Allah mem bimbing mereka ke ‘jalan yang lurus’, sebab kesempurnaan yang mutlak adalah milik Allah, sementara kita, tanpa kecuali, berada dalam jalan kesempurnaan. Oleh karena itu, amatlah logis apabila mereka pun memohon kedudukan yang lebih tinggi kepada-Nya.

Bukankah kita sering menyampaikan salam kepada Nabi suci saw dengan susunan ‘shalawat’ khusus? Bukankah ‘shalawat’ memiliki makna permohonan rahmat baru dari Allah bagi  Nabi Muhammad saw dan keturunannya—salam atas mereka semua)?

Bukankah al-Quran menyinggung Nabi saw dalam surah Thâhâ [20]:114, “…Ya Tuhanku tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan”? Bukankah al-Quran al-Karim mengabarkan dalam al-Quran surah Maryam [19]:19 bahwa, “Dan Allah menambah petunjuk kepada orang-orang yang memohon petunjuk…”? Bukankah surah Muhammad [47]:17 mengatakan: “dan orang-orang  yang mendapatkan petunjuk, Dia tambahkan petunjuk-Nya kepada  mereka, dan memberikan kepada mereka ketakwaan (penjagaan) mereka
(terhadap kejahatan)?”

Dengan keterangan di atas kian jelaslah jawaban atas pertanyaan menyangkut ucapan shalawat yang dibacakan bagi Nabi saw dan para imam maksum—salam atas mereka—yang dengannya kita memohon kepada Allah agar mereka mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi dan lebih baik.

Dua hadis berikut ini akan menambah kejelasan ide di atas:

Amirul Mukminin Ali as menafsirkan ayat ‘Bimbinglah kami (Ya Rab) kepada jalan yang lurus’ dalam arti: ‘(Ya Rab) teruskanlah curahan karunia-Mu kepada kami sebagaimana Engkau lakukan selama hari-hari yang lalu sehingga kami dapat menaati-Mu, maka kami bisa menaati-Mu di waktu-waktu mendatang juga.‘“ 📓 Bihâr al-Anwâr, jilid 92, h.254; Tafsir ash-Shâfî, jilid 1, h.72.

Imam ash-Shadiq as berkata dalam sebuah hadis mengenai ayat tersebut: “Makna dari ayat tersebut adalah : ‘(Ya Rab) bimbinglah kami ke jalan yang bermuara dalam cinta-Mu, bimbinglah kami kepada surga-Mu, dan lindungi kami dari mengikuti keinginan yang merusak atau keputusan kami yang salah dan merusak.‘“ 📓 Ma’ânî al-Akhbâr, h.484.

📒 Apakah Jalan Yang Lurus Itu?

Menurut apa yang kita pahami dari ayat-ayat al-Quran al-Karim, ‘jalan yang lurus’ sama dengan ajaran tauhid, agama kebenaran dan keimanan kepada perintah Allah, seperti dinyatakan dalam surah al-An’âm [6]:161, “Katakanlah: ‘Sesungguhnya Tuhanku telah membimbingku ke sebuah jalan yang lurus—sebuah agama kebaikan—jalannya (yang ditempuh) oleh Ibrahim yang lurus dan sesungguhnya dia bukan termasuk orang-orang yang musyrik.’”

Pada ayat tersebut disebutkan bahwa ‘sebuah agama yang benar (hanîf)’ dan ‘jalan keagamaan Ibrahim sebagai keimanan yang benar’, karena ia mengucapkan tidak ada Tuhan selain Allah, diperkenalkan sebagai “jalan yang lurus.” Hal ini menunjukkan aspek “keimanan”.

Dalam hal ini surah Yâsîn [36]: 60 dan 61 mengungkapkan, “Bukankah Aku telah memerintahkan kepada kalian, wahai anak-anak Adam, supaya kalian tidak menyembah setan, sebab setan adalah musuh yang nyata bagi kalian? Dan hendaklah kalian menyembah-Ku, (sebab) ini adalah jalan yang lurus?”

Ayat-ayat di sini menunjukkan aspek-aspek praktis agama kebenaran’. Mereka (ayat-ayat) memaksa kita untuk menjauhi perbuatan-perbuatn setan atau tindakan-tindakan buruk lainnya.

Bergantung kepada Allah, kata al-Quran, adalah kunci mencapai ‘jalan yang lurus’, “ ...Barangsiapa yang berpegang teguh kepada Allah akan ditunjukkan sebuah jalan yang lurus.” (QS Ali ‘Imrân [3]: 101).

Penting untuk diketahui bahwa ‘jalan yang lurus’ selalu satu, tidak lebih dari itu, karena jarak yang paling dekat antara dua titik hanya selalu satu garis lurus.

Karena itu, ketika al-Quran mengungkapkan bahwa ‘jalan yang benar’ adalah keyakinan yang benar itu sendiri kepada agama Ilahiah dengan aspek-aspek praktis dan moralnya, adalah karena ia ( agama Ilahiah—penerj.) merupakan rute terpendek kepada sebuah hubungan spiritual dengan Allah.

Dan dengan alasan yang sama ‘ agama yang benar’ tidak lebih dari satu, “Agama di sisi Allah adalah Islam (ketundukan pada kehendak-Nya).” (QS Ali Imrân [3]:19).

Kelak akan jelaslah bahwa ‘Islam’ mempunyai arti yang luas dan mencakup segenap agama tauhid yang dibenarkan pada zamannya masing-masing namun dihapuskan oleh agama tauhid yang baru. Oleh karena itu, seluruh aneka ragam tafsir yang para ahli tafsir telah utarakan pada persoalan tersebut, misalnya ‘jalan yang lurus’, sesungguhnya mengacu pada hal yang sama.

Islam, tauhid murni, al-Quran, Nabi, para penerusnya (wâshi’)—salam atas mereka semua—adalah acuan yang para ahli tafsir jadikan patokan dalam memaknai kata ‘jalan yang
lurus’. Semua acuan tersebut bermuara pada agama tauhid dalam aspek “keimanan” dan “praktik”.

Selain itu, semua pusparagam riwayat dan hadis yang disebutkan berkenaan dengan pembahasan yang ada dalam sumber-sumber Islam, masing-masing darinya membahas satu matra (dimension) pertanyaan terpisah, pada dasarnya, mengacu pada pokok yang sama. Perhatikanlah contoh-contoh berikut:

Diriwayatkan dari Nabi suci saw bahwasanya beliau berkata, “Jalan yang lurus’ adalah jalannya para nabi dan merekalah orang-orang yang dikaruniai kemuliaan-Nya.” 📓 Nûr ats-Tsaqalayn, jilid 1, h.20, hadis 86.

Tiga hadis berikut merupakan penafsiran Imam ash-Shadiq as menyangkut ayat ini: “Ini (jalan yang lurus) adalah ‘jalan’ dan ‘tanggung jawab’ Imamah.” 📓 Ibid., h.21, hadis 88.

Juga, dalam hadis lain, Imam as berkata, “Demi Allah, kami ( Ahlulbait) adalah ‘jalan yang lurus’ (shirâth al-mustaqîm).” 📓 Ibid., hadis 89.

Dalam hadis ketiga Imam as berkata, “Jalan yang lurus’ adalah Amirul Mukminin Ali as.” 📓 Ibid., hadis 94.

Ahmad bin Muhammad bin Ibrahim ats-Tsa’labi, seorang ulama Sunni, telah meriwayatkan dari Abu Buraidah al-Aslami, salah seorang sahabat Nabi suci saw bahwa dia berkata, “‘Jalan yang lurus’ adalah jalannya Muhammad dan para keturunannya.” 📓 Bihâr al-Anwâr, jilid 24, h.16; Manhaj ash-Shâdiqîn, jilid 1, h.116.

Hal ini berarti bahwa jalan mereka berdasarkan (lima) doktrin Islam (ushûl al-khamsah) yakni: keesaaan Allah (tawhîd),  keadilan (al-’adl al-ilâhi), kenabian (nubuwwah), imamah (imâmah), dan hari akhir (ma’âd). Tak syak lagi, jalan Ahlulbait—salam atas mereka semua—adalah jalan yang benar’. Taat pada mereka membuahkan kesejahteraan dan keselamatan, sedangkan mengekor pada yang lain akan membuahkan kebinasaan dan nestapa.

Ibn al-Maghazili telah meriwayatkan dari Nabi suci saw yang berkata: “Perumpamaan keluargaku ( Ahlulbait) laksana bahtera Nuh. Barangsiapa menaikinya maka ia selamat (dari tenggelam dan kehancuran), namun barangsiapa menolaknya akan tenggelam (dan binasa).” 📓 Bihâr al-Anwâr, jilid 23, h.124, hadis 50.

Hadis- hadis lain yang diriwayatkan dari Ahlulbait juga menegaskan konsep tersebut. Selain itu, hadis ats-tsaqalayn yang masyhur dari Nabi saw merupakan bukti yang jelas dan baik atas permasalahan tersebut. Hadis ini berbunyi: “Aku tinggalkan di belakangku dua perkara besar (ats-tsaqalayn). Seandainya kalian berpegang teguh kepada keduanya, maka kalian tidak akan tersesat: kitabullah (al-Quran) dan keturunanku, Ahlulbaitku.’” 📓 Ihqâq al-Haqq, jilid 9, h.309-375.

Seperti yang diungkapkan sebelumya, Nabi suci saw, Hadhrat Ali bin Abi Thalib as serta para imam maksum—salam atas mereka—mengajak umat manusia kepada agama Allah, ajakan pada keimanan dan amal saleh, yang mengangkat manusia pada puncak kemampuan, hidayah, martabat, dan keutamaan manusia.

Dan juga jangan dipungkiri bahwa ada dua jenis hidayah: hidayah Ilahiah dan hidayah agama.

Hidayah Ilahiah adalah kecerdasan yang dicurahkan pada manusia oleh Allah. Dengan kecerdasan ini, ia mengetahui perbedaan antara baik dan buruk, benar dan salah, untung dan rugi, senang dan sedih, kebaikan dan keburukan, dan lain-lain.

Hidayah agama artinya Allah mengutus para nabi, kitab- kitab samawi, dan peraturan untuk membimbing manusia kepada segenap manfaat yang ada dunia ini dan di akhirat, serta menyadarkannya akan kesusahan dan kepedihan yang ada dalam kedua dunia ini. Tentu saja, ketika manusia dibimbing oleh hidayah di atas dan berlaku sesuai dengannya, maka dia patut mendapatkan karunia-karunia yang ada di akhirat. Hal ini bisa diperoleh melalui perkembangan jiwa dengan cara menggali pengetahuan, kebiasaaan baik, dan kualitas moral yang patut dipuji. Dengan cara ini, niscaya dia akan memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat berikut rahmat Allah yang tak terbatas.

Akal disebut pemandu lantaran ia dapat menunjukkan perkara-perkara yang benar dan salah kepada manusia. Para nabi, imam ‘alaihim as-salam, serta para ulama disebut pembimbing juga karena  mereka membimbing manusia kepada keselamatan dan kebaikan di kedua dunia. Namun, sesungguhnya Allah adalah Pembimbing tertinggi. Semua ini merupakan sarana yang diberikan untuk membimbing umat manusia.

Sumber : Tafsir Nurul-Qur'an jil.1, halm.62-68 Oleh Allamah Kamal Faqih Imani

0 Comments


EmoticonEmoticon