Selamat berbahagia atas hari Wiladah Imam Ali Al Hadi as


📚 IMAM ALI AL-HADI DALAM SEJARAH

Imam Ali bin Muhammad bin Ali bin Musa bin Ja'far bin Muhamad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib as adalah imam kesepuluh dari Ahlulbait yang telah Allah sucikan sesuci-sucinya Beliau berasal dari benih risalah dan kenabian. Dia adalah ranting dari rumah Nabi yang suci.

Beliau adalah jelmaan dari nilai kemanusiaan yang telah digariskan oleh Muhammad saw, penghulu para nabi, yang telah mengumpulkan berbagai kemuliaan dan kebaikan yang merupakan karunia Allah yang pengaruhnya merambah dalam segala bidang kehidupan.

Imam al-Hadi Ali bin Muhammad as dilahirkan dalam  naungan anugerah Ilahi. Ayahnya seorang imam maksum Muhammad al-Jawad as, yang juga telah mendapatkan binaan dari Allah. Ibunya seorang wanita suci penuh takwa, Samanah al-Maghribiyah

Beliau dibesarkan di atas hidangan al -Quran dan akhlak nabi agung yang terjelmakan pada diri ayahnya dengan sebaik-baik jelmaan. Dalam dirinya tampak kejeniusan dan kepandaian yang luar biasa. Inı merupakan gambaran bahwa sejak kecil beliau telah mendapatkan perlindungan Ilahi yang diperuntukkan khusus bagi seorang imam.

Beliau memegang jabatan Imamah Ilahiah, setelah ayahnya, pada usia delapan tahun. Ini adalah bukti kebenaran jalan Ahlulbait sebagai wasi dan pemimpin agama bagi umat Islam, sebagai khalifah pengganti Rasulullah saw dalam semua kedudukan dan kepemimpinannya.

Kehidupan Imam yang satu ini dapat dibagi dalam dua periode. Periode pertama beliau lalui bersama ayahnya, al Jawad as, selama kurang dari sepuluh tahun. Periode kedua dijalaninya selama lebih dari tiga puluh tahun. Beliau hidup sezaman dengan enam penguasa pemerintahan Bani Abbas Muktasim, al-Wastiq, Mutawakkil, Munshir, Mustain, dan Muktaz.

Beliau syahid pada masa kekuasaan Muktaz ketika berusia empat puluh dua tahun. Dalam perjalanan hidupnya beliau menghadapi berbagai kekejaman Abbasiyah sebagaimana yang dialami ayah-ayahnya yang juga menjalani hidup mereka dalam cengkeraman para penguasa Cara seperti itu kerap dilakukan para penguasa waktu itu dalam upaya mereka memusnahkan Ahlulbait Nabi dan menjauhkan mereka dari medan politik dan agama.

Secara fisik, para penguasa berusaha tampil bersih dari kejahatannya, seperti yang dilakukan Harun ar-Rasyid terhadap Imam al-Kazim, Makmun terhadap Imam Ridha, dan Muktasim terhadap Imam Jawad as.

Perbedaan menonjol masa kehidupan Imam al-Hadi adalah dekatnya masa beliau dengan masa kegaiban. Oleh karena itu, tugas yang diembannya adalah mempersiapkan orang-orang saleh (al-jamaah ash-shalihah) untuk menyongsong zaman baru yang sebelumnya belum pernah dipersiapkan. Selama dua abad, orang-orang Syi'ah menjalani hidup dalam naungan langsung para Imam maksum. Karena itulah, peranan Imam Hadi sangat penting tetapi cukup sulit, meskipun kabar akan kegaiban Imam Kedua Belas dari Ahlulbait, al-Imam Mahdi al-Muntazhar yang Allah janjikan untuk umat, telah tersebar luas di kalangan kaum Muslimin secara umum dan di kalangan Syi'ah secara khusus.

Meskipun penguasa Abbasiyah mengisolasi Sang Imam di kota Samarra dengan pengawasan ketat, Imam tetap melaksanakan tugasnya memberikan pengarahan kepada pengikutnya secara hati-hati dan waspada. Dalam melaksanakan aktivitasnya, Imam memanfaatkan beberapa orang wakil yang telah dibina oleh Imam Shadiq dan diperkuat oleh ayahnya, Imam Jawad. Dalam kondisi yang sulit ini, Imam, melalui jaringannya, mampu memberikan sesuatu yang dibutuhkan pengikutnya.

Dengan cara ini, Imam mengarahkan pengikut Ahlulbait pada garis tegas untuk mandiri menyambut datangnya kegaiban besar (ghaybat al-kubra).

Oleh karena itu, Imam Ali Hadi berusaha keras mendidik ulama dan para fakih, di samping memberikan pencerahan pemikiran dan agama kepada kaum Muslimin, baik dalam bidang akidah, fikih maupun akhlak.

Salah satu contoh karya yang kita terima darinya adalah Musnad Imam al-Hadi as Kondisi yang beliau hadapi saat itu sangat keras; demikian pula yang dihadapi imam-imam suci berikutnya.

📓 Sang kritikus Imam Hadi halm. 3-6



📚 Nasab Imam Ali bin Muhammad al-Hadi as

ia adalah Abu al-Hasan Ali bin Muhammad al- Jawad bin Ali ar-Ridha bin Musa al-Kadzim bin Jafar Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain, cucu Nabi, putra Ali bin Abi Thalib as. Dia adalah imam kesepuluh dari Ahlulbait as.

Ibunya, Ummu Walad, dipanggil Samanah al-Maghribiyah 📓  Usul al-Kafi 497. Al Irsyad 367. Al-Misbah 523

yang dikenal dengan Ummu al-Fadl. 📓 Manaqib Ali Abi Thalib 4/433

Tempat lahir dan tempat dibesarkan

Beliau dilahirkan pada pertengahan Zulhijah atau tanggal dua bulan Rajab tahun dua ratus dua belas atau dua ratus empat belas. 📓 Uyun Akhbar ar-Ridha as 1/61

Beliau lahir di desa (Shirya) yang jaraknya sekitar tiga mil dari kota Madinah 📓 Kasyfu al-Gummah 2/374

📚 Berita Gembira Rasulullah saw akan kelahirannya

Rasulullah saw telah mengabarkan akan kelahirannyadalam hadis panjang tentang para imam as. Rasulullah bersabda, (... Dan sesungguhnya Allah telah menaikkan dalam sulbinya -isyarat kepada imam al-Jawad as , nuthfah yang tidak jahat dan tidak kejam, nuftah yang
baik, penuh berkat, indah, dan suci. Di sisi-Nya diberi nama Ali bin Muhammad. Lalu dipakaikan kepadanya ketenteraman dan ketenangan, dititipkan kepadanya ilmu dan setiap rahasia yang tersimpan dari kedua telapak tangannya. Di dalam dadanya dikabarkan sesuatu oleh-Nya dan diperingatkan akan musuh-musuhnya..). 📓 Al-Manaqib 4/432

📚 Julukan imam Ali Hadi dan Gelarnya

Beliau dijuluki Abu al-Hasan. Untuk membedakan antara Imam al-Kadzim dan Imam Ridha, beliau dijuluki Abu al-Hasan ats-Tsalits (Ketiga)

Adapun gelarnya adalah al-Hadi dan an-Naqi. Kedua gelar ini sangat popular Gelar lainnya adalah al-Murtadha al-Fattah, an-Nashih, dan al-Mutawakkil.

Beliau melarang para pengikutnya memanggil beliau dengan panggilan tersebut, karena Khalifah Bani Abbas menggunakan julukan yang sama. 📓 Istbat al-Wasiah 184

👉 sang kritikus Imam Hadi halm. 35-36


📚 Keutamaan Imam Ali Hadi as

كشف الغمّة : حدَّثَ جَماعَةٌ مِن أَهلِ إِصفانَ مِنهُم أبو العَبّاسِ أَحمدُ بنُ النَّصرِ ، وَأبو جَعفَرٍ مُحَمَّدُ بنُ عَلويَّةِ ، قالوا : كانَ بِإصفهانَ رَجلٌ يُقالُ لَهُ عَبدُ الرَّحمنِ وَكانَ شيعيّا فَقيلَ لَهُ : ما السَّبَبُ الَّذي أوجَبَ عَلَيكَ القَولُ بِإمامَةِ عَلِيًّ النَّقيّ دونَ غَيرِهِ مِن أهلِ الزَّمانِ ؟ ققالَ : شاهَدتُ ما يوجِبُ على ذلِك أنّي كُنتُ رَجُلًا فقيرا وَكانَ لي لسانٌ وَجُرأةٌ ،  فَأ خرَ جني أهلُ إصفهان سنةً مِنَ السَّنينَ مَعَ قَوم آخَرينَ، ( فجِئنا ) إلى بابِ المُتَوَ كَّلِ مُتَظَلّمينَ ، وَ كُنّا بِبابِ المُتَوَ كّلِ يَو ما إذ خَرَجَ الأمرُ بِإحضارِ علي بن محمد بن الرضا ،  فَقُلتُ لِبَعضِ مَن حَضَرَ : مَن هذا الرَّجُلُ الَّذي قَد أمِرَ بِإحضارِهِ ؟ فقيلَ : هذا رَجُلٌ عَلَويٌ تَقولُ الرافِضَةُ بِإمامَتِهِ ، ثُمَّ قال :  وَنقدِرُ أنَّ المُتَوَ كّلَ يُحضِرُهُ للقَتلِ ، فَقُلتُ : لا أبرَحُ مِن هيهُنا حَتَّى أنظُرَ إلى هذا الرَّجُلَ أيّ رَجُلٍ هُوَ ؟ قال : فَأقبَلَ راكِبا عَلى فَرَسٍ وَقَد قامَ النَّاسُ صَفَّينِ يُمنَةَ الطّريقِ وَيُسرَتَها يَنظُرونَ إَلَيهِ ، فَلَمّا رَأيتُهُ وَفتُ فَأبصَرتُهُ فَوَقَعَ حُبُّهُ في قَلبي ، فَجَعلتُ أدعو لَهُ في نَفسي بِأن يَدفَعَ اللّٰهُ عنه شَرَّ المُتَوَ كّلِ ، فأقبَلَ يَسيرُ بَينَ النَّاسِ وَهُوَ يَنظُرُ إلى عُرفِ دابَّتِهِ لا يَلتَفِتُ ، وَأنا دائمُ الدُّعاء لَهُ ، فَلَمّا صارَ إلَيّ أقبَلَ عليّ بِوَ جهِهِ وَقالَ : استَجابَ اللّٰهُ دُعاءكَ وَطَوَّلَ عُمرُكَ وَكَثَّرَ مالَكَ وَوَلَدَكَ ، فانصَرَ فنا بَعدَ ذلك إلى إصفهانَ ،فَفَتَحَ اللّٰهُ عليّ وُجوها مِنَ المالِ حَتًى إنّي أغلِقُ بابي عَلى ما قيمَتُهُ ألفَ ألفَ دِرهَم سِوى مالي خارِجَ داري ، وَرُزِقتُ عشَرَةً مِنَ الاولادِ وَقَد بَلَغتُ مِن عُمري نَيّفا وَسَبعينَ سَنَةً ، وأنا أقولُ بِإمامةِ عذا الّذي عَلِمَ  ما في قَلبي وَاستَجابَ اللّٰه دَعائَهُ لي


Sekelompok orang dari penduduk isfahan menceritakan kepada ku di anatara mereka adalah abul abbas ahmad bin nasr dan abu ja'far muhammad bin alawiyah . mereka berkata " dahulu di isfahan Ada seorang laki laki yang bernama Abdurrahman dan dia adalah seoranh Syiah. Ditanyakan kepadanya " apa sebab yang diwajibkan kamu meyakini kepemimpinan Ali Naqi ( Imam hadi as ) bukan selainnya dari kalanga. Kalangan orang orang yang satu masa dengannya ?

Dia menjawab " Aku telah meyakini apa yang mewajibkanku untuk meyakini hal itu , yaitu dahulu aku adalab orang fakir dan berani bicara kemudian penduduk isfahan mengusirku selama ebam tahun bersama sekelompok orang lainnya, kami datang ke pintu ( istana ) mutawakkil untuk menuntut keadilan. Dan waktu bertepatan dengan datang nya perintah untuk menghadirikan Ali bin Muhammad bin Ali aku bertanga kepada salah seorang yang hadir " siapakah orang itu yang telah diperintahkan agar dia dihadirkan ? "

Orang itu menjawab " Dia adalah seorang Alawi ( keturunan Imam Ali bin Abi Thalib as ) yang orang orang syiah meyakini keimamahannya ( yakni imam hadi as ) kemudian orang itu berkata " kami menduga bahwa mutawakkil menghadirkannya adalah untuk membunuhnya " maka aku berkata " aku tidak akan meninggalkan tempat ini sehingga aku melihat siapakah orang itu ?

kemudian orang itu ( imam hadi as ) datang dengan mengendaraj seekor kuda sementara orang orang telah berdiri dalam dua barisan yaitu berdiri disebelah kanan jalan dan sebelah kirk jalan untuk melihatnya. Takkala aku melihatnya aku berhenti dan memandanginya kecintaan kepadanya langsung masuk kedalam hatiku. aku pun mulai berdoa untuk nya di dalam hatiku agat Allah menghadirkan kejahatan al mutawakkil darinya.

Dia ( imam hadi as ) berjalan di antara orang orang sambil memandangi bulu tengkuk kudanhmya tanpa menoleh sementara akh terus menerus berdoa untuknya.

Kemudian ketika sampai kepadaku dia menghadapkan wajahnya kepadaku seraya berkata " Allah telab memperkenankan doamu dan semoga Dia memanjangkan umurmu dan memperbanyak harta dan anakmu "

Setelah itu kami pergi ke isfahan , tak lama semenjak kejadian itu Allah menganugerahkan harta melimpah kepadaku , aku dikaruniai sepuluh orang anak laki laki dan sekarang umurku telah mencapai lebih tujuh puluh tahun. Dan aku meyakini kepemimpinan orang yang mengetahui apa yang terlintas di hatiku dan Allah memperkenankan doanya untukku "

📓 Kasyf al-Ghummah, jil.3, hal.179. ; mizanul Hikmah bab.27, halm. 181-183, hadis ke 478

0 Comments


EmoticonEmoticon