Perayaan Kelahiran Para Imam Ahlulbait, Bidah atau Sunah?



Kantor Berita Shabestan melakukan wawancara dengan Hujjatul Islam wal Muslimin Muhammad Hadi Yusufi Gharawi salah seorang ahli sejarah Islam berikut ini. Selamat menyimak.

KBS: Selamat datang, Syaikh Gharawi. Terima kasih atas kesempatan yang telah Anda berikan untuk kami.

Gharawi: Sama-sama.

KBS: Kali ini kita akan mengupas tema perayaan hari ulang tahun atau wafat insan-insan suci. Wahabi selalu menggunakan banyak kesempatan untuk mengkritik Syiah lantaran masalah ini. Mereka menyatakan hal ini bidah dan lantaran ini, Syiah adalah musyrik. Sampai di mana tuduhan ini bisa dibenarkan?

Gharawi: Ya. Kelompok Wahabi memang selalu mengklaim demikian. Perayaan-perayaan seperti ini tidak pernah ada pada masa Rasulullah saw. Karena masalah ini masih berbau agama, maka mengadakan perayaan seperti ini berarti memasukkan sesuatu yang tidak terdapat dalam agama ke dalam agama. Menurut hadis yang mereka yakini, “Setiap sesuatu yang baru dan tidak ada dalam agama adalah bidah. Setiap bidah adalah kesesatan dan setiap kesesatan berada dalam api neraka.” Untuk itu, perayaan semacam ini adalah sebuah bidah dan haram.

KBS: Memang betul demikian? Apakah klaim Wahabi ini bisa dibenarkan?

Gharawi: Keharaman bidah tidak ada pertentangan di kalangan muslimin, baik Syiah maupun Ahli Sunah. Kita juga menerima hadis bidah ini. Yang terjadi perbedaan adalah bentuk dan contoh-contoh bidah di alam nyata. Dengan ungkapan lain, tidak ada perbedaan dalam premis mayor. Perbedaan yang ada terdapat dalam premis minor.

Sekarang harus kita lihat, apakah merayakan ultah seperti itu adalah sebuah masalah baru yang kita ciptakan dalam agama atau bukan. Kita asumsikan bahwa itu adalah suatu hal yang baru. Lalu apakah perayaan semacam ini, lantaran seseorang yang dirayakan memiliki dimensi agama, lantas memiliki predikat agama dan termasuk bidah?

Menurut pandangan Syiah, perayaan-perayaan semacam ini bukan termasuk contoh bidah diharamkan.

Sudah banyak buku yang pernah ditulis berkenaan dengan masalah ini. Salah satunya adalah al-Mawasim wa al-Marasim karya Sayid Ja‘far Murtadha ‘Amili.

Untuk menjawab masalah bidah ini, kita pertama kali harus menelaah ucapan, perilaku, dan pengesahan Ahlul Bait as. Dalam hadis Tsaqalain disebutkan, “Saya tinggalkan di tengah kalian dua pusaka yang sangat berharga. Selama kalian berpegang teguh kepada keduanya, maka kalian tidak akan pernah tersesat. Salah satu dari kedua pusaka ini lebih agung dibandingkan dengan yang lain. Kedua pusaka itu adalah kitab Allah sebagai tali terbentang dari langit ke bumi dan ‘Itrahku. Keduanya tidak akan pernah berpisah hingga berjumpa denganku di Telaga Haudh kelak. Maka perhatikanlah. Sepeninggalku kelak, bagaimanakah kalian memperlakukan kedua pusaka ini.”

Bedasarkan hadis ini, ucapan, perilaku, dan pengesahan Ahlul Bait as jelas hujah. Sirah mereka membuktikan bahwa mereka mengajak kita untuk mendirikan majelis demi mengagungkan Ahlul Bait as terutama Imam Husain as.

Dengan demikian, majelis-majelis semacam ini tidak termasuk bidah dalam agama. Tindakan Wahabi itu hanyalah lantaran mereka takut Syiah semakin tersebar luas di dunia. Tak seorang pun bisa mengingkari pengaruh perayaan dan majelis-majelis seperti ini.

KBS: Bisakah Anda sebutkan riwayat yang menyuruh kita untuk mendirikan majelis-majelis seperti ini?

Gharawi: Sangat banyak sekali. Dalam sebuah hadis, Imam Ja’far Shadiq as berkata kepada Fudhail bin Yasar (seorang pengikut Syiah dari Iraq), “Apakah kalian berkumpul dan membacakan hadis-hadis kami?” Fudhail menjawab, “Ya. Kami para pengikut Syiah berkumpul dan membacakan hadis-hadis Anda.” Imam Shadiq as berkata, “Hai Fudhail! Saya sangat suka perkumpulan seperti ini. Hai Fudhail! Hidupkanlah urusan kami. Semoga Allah merahmati orang yang menghidupkan urusan kami.”

Dari sisi lain, perayaan semacam itu bukanlah bidah dalam agama, tetapi sebuah sunah hasanah. Ayat 32 surah al-Hajj menekankan masalah ini.

Apakah mengagungkan sirah Ahlul Bait as sebagai peninggalan Rasulullah saw adalah sebuah bidah ataukah termasuk kategori syira-syiar Ilahi.

Dengan demikian, kelompok Wahabi hanyalah ingin mencari-cari alasan untuk meliburkan perayaan-perayaan yang mengagungkan sirah Ahlul Bait as, karena mereka merasa takut dengan perayaan-perayaan semacam ini.

KBS: Terima kasih Syaikh Gharawi atas penjelasannya. Semoga bermanfaat bagi seluruh pembaca.

Gharawi: Sama-sama.

Sumber : shabestan

0 Comments


EmoticonEmoticon