Kesyahidan Wahab dan Istrinya



Wahab, bersama ibunya Qamar. Istrinya Haniyah yang sebelumnya beragama Kristen dan penghuni kemah. Mereka berkemah di padang pasir Tsa'labiyah, berternak, dan menjalankan hidup yang tenang Biasanya, Wahab dengan kambing-kambingnya pergi ke padang pasir dan gunung. Dia baru saja menikah.

Pada saat Imam Husain as dan para penolongnya sedang bergerak menuju Karbala, mata mereka tertarik dengan kemah sederhana yang ditinggali Wahab dan keluarganya. Imam Husain as pergi ke dekat kemah itu.

Dilihatnya ada seorang wanita tua miskin tinggal di dalamnya. Wanita itu Qamar, ibu Wahab. Imam Husain as menanyakan keadaan wanita tua itu. Qamar menjawab, "Kami hidup dalam kekurangan.

Imam Husain as pergi ke samping kemah bersama wanita tua itu. Beliau mengangkat sebongkah batu dari tempatnya. Tiba-tiba air jernih memancar dari tempat itu. Qamar sangat gembira dan mengucapkan banyak terima kasih.

Imam Husain as berkata kepada Qamar, "Kami membutuhkan penolong. Katakan kepada putramu untuk bergabung bersama kami"

Kemudian Imam Husain as pergi. Qamar terkesima dengarn kewibawaan Imam Husain as.

Ketika menantu dan anaknya datang, mereka kaget melihat air , Qamar menceritakan kedatangan Imam Husain as, terpancarnya air dan pesan beliau kepada mereka. Akhirnya, ketiga orang itu pergi menyusul rombongan Imam Husain as.  Mereka bertemu beliau di
Karbala.

Pada hari Asyura, Qamar berkata kepada anaknya, "Anakku, bangkit dan tolonglah putra Rasulullah saw!"

Wahab menjawab, "Baiklah, ibu."

Qamar menyucurkan air mata lantaran kegembiraan begitu besar. Ia merasa bangga putranya maju membela Imam Husain as dan gugur sebagai syahid di hadapan beliau.

Haniyah istri Wahab, merasa berat untuk berpisah dengan suaminya. Namun begitu, ia berkata kepada suaminya, "Aku takut ketika engkau sudah masuk surga, engkau melupakanku. Sekarang, mari kita pergi sama-sama menghadap Imam Husain as Mereka datang menemui Imam Husain as. Lalu Haniyah berkata kepada Imam Husan as, "Aku punya dua permintaan: Pertama, jika Wahab terbunuh, gabungkan aku dengan Ahlulbaitmu. Kedua ketika Wahab gugur sebagai syahid dan dibangkitkan bersama Bidadari, engkau jadi saksi bahwa ia tidak akan melupakanku." 📓 Farsanul-Hayja, juz.2, hal.137.

Mendengar permintaan itu, Imam Husain as meneteskan air mata. Imam Husain as berjanji bahwa apa yang menjadi keinginannya akan terlaksana.

Wahab pergi ke medan perang. Ia berhasil membunuh beberapa orang musuh. Kemudian ia kembali kepada ibunya seraya bertanya, "Apakah engkau rida padaku, wahai ibu?"

Ibunya menjawab, "Belum."

Wahab kembali maju ke medan perang. Ia berhasil membunuh 19 orang pasukan berkuda dan 20 orang pasukan pejalan kaki. Kedua tangannya putus. Wahab dibawa ke hadapan Umar bin Sa'd. Umar bin Sa'd memerintahkan untuk memenggal lehernya dan melemparkan kepalanya ke arah pasukan Imam Husain as Ibu Wahab memungut kepala anaknya. Dia bersihkan darah yang mengotorinya.

Lalu ia berkata, "Engkau telah memutihkan wajahku dengan kematianmu.

Kemudian ia melemparkan kembali kepala anaknya ke arah musuh. Lalu dia cabut tiang kemah dan maju ke medan perang. Ia berhasil membunuh dua orang musuh. Imam Husain as berkata, "Hai ibu Wahab, 'kembalilah ke kemah! Engkau dan anakmu berada di samping Rasulullah saw di surga." 📓 Amali Syekh Shaduq, hal.137

Ibu Wahab kembali ke kemah sambil berkata, "Aku harap, engkau jangan memupus harapanku."

Imam Husain berkata kepadanya, "Harapanmu pasti terwujud."

Istri Wahab mendatangi tubuh suaminya. Ia membersihkan darah-darahnya yang menempel sambil berkata, "Selamat, bagimu surga."

Syimir mengirim budaknya yang bernama Rustam. Lalu budak itu membunuh istri Wahab. Ketika syahid, Wahab berumur 25 tahun. Ia baru menikah 17 hari. Pada hari Asyura, Wahab baru 10 hari masuk Islam

Sumber : megatragedi, hal 160-163

0 Comments


EmoticonEmoticon