Ucapkan belasungkawa atas Hari Syahadah Muslim Bin Aqil


πŸ““ Muslim bin Aqil dan Kepribadiannya yang Cemerlang

Imam Ali bertanya kepada Rasulullah saw, "Apakah engkau mencintai Aqil?

Rasulullah saw menjawab, "Ya, aku mencintainya karena dua hal ; Pertama, karena aku mencintai Abu Thalib. Kedua, karena Muslim putra Aqil akan terbunuh dalam kecintaannya kepada putramu, Husain. Air mata orang-orang beriman akan mengalir untuknya, dan para malaikat mengucapkan salam untuk Muslim."

Kemudian Rasulullah saw bersabda, "Aku mengadukan kepada Allah Swt tentang berbagai musibah yang akan menimpa keluargaku sepeninggalku."

Rasulullah saw menangis tersedu-sedu sampai air matanya menetes ke dadanya.πŸ‘‰ Syekh Shaduq, al-Amali, hal.111

Derajat Muslim tidak dapat dihitung! Muslim dididik oleh pamannya, Imam Ali bin Abi Thalib as. Berkenaan dengannya, Imam Husain as dalam suratnya kepada penduduk Kufah berkata, "Aku mengirim ke hadapanmu saudara sepupuku yang aku percaya." πŸ‘‰ Syekh Mufid, al-Irsyad juz.2, hal.39

Derajat Muslim mendekati derajat manusia suci. Hal itu dapat disimpulkan dari perkataan Imam Husain as mengenai dirinya. πŸ‘‰ Zendegani Karim-e Ahlebait, hal.34

Bukti lain adalah sabda Rasulullah saw jauh sebelum Muslim dilahirkan. Dari sabda Rasulullah saw tersebut dapat diambil kesimpulan berikut:

1. Menangis untuknya termasuk perintah agama.
2. Penduduk langit dan para malaikat menangis untuknya.

Kedudukan Muslim di sisi penghulu para syuhada, Imam Husain as sama seperti kedudukan Abul Fadhl, Ali Akbar, dan Qasim.

Muslim mempunyai buku ziarah yang serupa dengan buku ziarah Abul Fadhl.πŸ‘‰ Mazar-e Kabir, hal.53

Kawan dan lawan mengakui keberanian Muslim bin Aqil. Di Kufah, Muslim bin Aqil telah mengambil bait dari delapan belas ribu orang untuk Imam Husain as. Hal ini menunjukkan kecakapannya.

Ubaidillah bin Ziyad terpaksa harus masuk Kufah menghadirkan para pemimpin Kufah, dan mengancam orang-orang yang telah berbaiat kepada Muslim, sehingga mereka membatalkan baiat mereka.

Perlu diketahui, hari ketika Muslim keluar untuk berperang adalah hari Tarwiah, yaitu hari kedelapan Zulhijah, saat tersiar kabar bahwa Hani telah terbunuh di tangan Ubaidillah.

Muslim yang ketika itu tengah berada di rumah Hani, keluar bersama sekelompok orang dan berkumpul di seputar istana Ubaidillah. Para kaki tangan Ubaidillah menakut-nakuti mereka dengan mengatakan, pasukan dari Syam sebentar lagi memasuki kota. Mendengar itu, mereka tercerai-berai.

Perlahan-lahan kumpulan tercerai berai. Sebagian wanita datang menarik tangan anak-anak mereka dan membawanya pergi sambil mengatakan, "Apa hubungan kita dengan fitnah ini?"

Pada saat Muslim salat Magrib, hanya tersisa 30 orang yang salat bersamanya. Saat Muslim keluar dari mesjid, tidak ada seorang pun lagi yang tersisa. * πŸ‘‰ Tarikh Thabari, juz.4, hal.277.

Muslim berkeliling di jalan-jalan kota Kufah, tidak tahu harus ke mana. Akhirnya, langkahnya terhenti di depan pintu sebuah rumah di mana seorang wanita tua sedang duduk menunggu anak laki-lakinya. Muslim mengucapkan salam kepada wanita tua itu, dan meminta air kepadanya. Wanita tua yang bernama Thaw'ah itu memberinya air dan Muslim meminumnya, namun ia tidak beranjak dari tempat itu.

Thaw'ah bertanya, "Mengapa engkau tidak pergi?"

Pada pertanyaan pertama dan kedua Muslim diam tidak menjawab. Hingga ketika Thaw'ah berkata kepadanya, "Bangun dan pulanglah ke rumahmu. Jangan diam di sini."

Kemudian Muslim berkata kepadanya, "Saya orang asing di kota ini. Tidak mempunyai rumah.'"

Wanita tua itu bertanya, "Siapa Anda?"

Muslim menjawab, "Saya Muslim bin Aqil. Apakah engkau mau membantu saya, hingga nanti di akhirat engkau akan mendapat ganjarannya. Sekelompok orang telah berbaiat kepadaku namun kemudian mereka membatalkan baiat dan meninggalkanku sendirian.

Thaw'ah menyediakan sebuah kamar dan menyiapkan makan malam bagi Muslim, namun dia tidak memakannya.

Bilal, putra Thaw'ah masuk ke rumah dan bertanya kepada ibunya tentang siapa yang berada di dalam kamar. Thaw'ah meminta anaknya berjanji untuk tidak memberitahukan kepada siapa pun bahwa Muslim ada di sini. πŸ‘‰ Syekh Mufid, al-Irsyad, juz.2, hal.55

Selama semalam penuh hingga Subuh Muslim dalam keadaan berdiri, duduk, ruku dan sujud

Thaw'ah menuturkan " Aku mengambilkan air untuk Muslim supaya dia dapat berwudu dan mengerjakan salat Subuh

Muslim bercerita: Aku tertidur sejenak. Dalam tidur, aku bermimpi pamanku
Amirul Mukminin as berkata, "Cepat! Cepat!" Aku paham bahwa akhir kehidupanku akan segera tiba. πŸ‘‰ Mab 'utsul-Husain, hal.200

Bilal, putra Thaw'ah, sebelum azan Subuh telah memberitahu kaki tangan Ubaidillah bahwa Muslim berada di rumahnya. πŸ‘‰ Manaqib Ibnu Syahr Asyub, juz.4, hal.101

Muslim mengambil wudu dan mengerjakan salat Subuh. Ketika sedang sibuk berdoa, ia mendengar suara telapak kaki kuda. Thaw'ah berkata, "Sepertinya engkau telah siap untuk mati."

Muslim menjawab, "Benar. Engkau telah berbuat baik kepadaku. Pahalanya akan engkau peroleh dari syafaat Rasulullah saw"

Saat itu, tiga ratus pasukan sudah mengepung di depan pintu rumah Thaw'ah. Sebagian dari mereka masuk ke rumah. Lantaran khawatir rumah akan rusak, Muslim memaksa keluar beberapa orang yang telah masuk ke dalam rumah. Akhirnya, terjadi pertempuran yang sangat sengit. πŸ‘‰ Tarikh Thabari, juz.4, hal.279

 Muslim berhasil membunuh 41 orang dari mereka πŸ‘‰ Muntakhab Thuraiha, juz.2, hal.424

Muslim begitu kuatnya, sehingga ia dapat memegang salah seorang dari mereka dan melemparkannya ke atap rumah. πŸ‘‰ Maqtal Mugarram, hal. 159

Mereka juga menulis bahwa Muslim berhasil membunuh 180 orang.

Ibnu Asy'ats mengirim pesan kepada Ibnu Ziyad bahwa Muslim telah menimbulkan banyak korban sehingga diperlukan bantuan pasukan kavaleri dan infanteri.

Dalam jawabannya, Ibnu Ziyad mengatakn, "Semoga ibumu berduka lantaran kematianmu. Bagaimana seandainya aku mengirimmu ke medan perang melawan musuh yang lebih tangguh darinya (maksudnya Imam Husain as)?"

Ibnu Asy'ats menulis dalam surat jawabannya, "Kamu kira engkau mengirim aku kepada salah seorang pedagang sayur kota Kufah?! Muslim seorang pahlawan pemberani, mempunyai pedang yang tajam, dan singa yang tidak mempunyai rasa takut.

Ibnu Ziyad terpaksa mengirim pasukan tambahan untuk membantu Ibnu Asy'ats dan berkata, "Gunakan tipu daya dalam menghadapinya. Karena dengan cara lain engkau tidak akan bisa menang melawannya." πŸ‘‰ Biharul-Anwar, juz.44, hal.354

Pada saat berperang menghadapi Bukair bin Hamran, Muslim dapat memasukkan dua pukulan pedang kepadanya. Namun pedang Bukair berhasil melukai mulut Muslim, hingga bibir atas Muslim terbelah dan gigi-gigi depannya copot.

Muhammad bin Asy'ats berkata kepada Muslim, "Engkau aman dan tidak akan dibunuh.

Muslim menjawab, "Aman yang mana, wahai para penipu!" Muslim terus bertarung hingga tubuhnya penuh luka. πŸ‘‰  Al Kamil, juz.4, hal.33.

Almarhum Thuraiha menulis " Mereka membuat tipu daya dengan cara menggali lubang yang dalam, lalu permukaan lubang itu ditutup dan diberi tanah Kemudian mereka mundur perlahan ke arah lubang itu dan memancing Muslim ke sana. Akhirnya, Muslim terjatuh ke dalam lubang dan mereka segera mengepungnya. Ibnu Asy'ats menyabetkan pedangnya ke wajah Muslim, lalu menawannya, melucuti pedangnya dan mendudukkannya ke atas kuda." πŸ‘‰ Muntakhab Thuraiha, juz.2, hal.427.

 Muslim mengucapkan ayat, "Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami akan kembali,' dan air matanya bercucuran.

Ubaidillah bin Abbas berkata, "Untuk apa pemberani sepertimΔ±u menagis?"

Muslim menjawab, "Demi Allah! Aku menangis bukan untukku tetapi untuk Husain dan keluarga Husain." πŸ‘‰ Nafsul-Mahmum, hal.103.

Muslim dibawa ke istana Ubaidillah, di sana ia meminta air.

Muslim bin Amr Bahili berkata, "Demi Allah, engkau tidak akan minum air setetes pun hingga engkau masuk ke dalam api neraka dan meminum air neraka Jahanam.

Muslim bertanya, "Siapa kamu?"

Dia menjawab, "Aku adalah orang yang mengenal kebenaran ketika engkau melepaskannya, dan menghendaki kebaikan bagi pemimpin ketika engkau mengkhianatinya. Aku dengar dan aku patuh. Sedangkan engkau membangkanginya. Aku adalah Muslim bin Amr.

Muslim bin Aqil berdiri dan berkata, "Semoga ibumu berduka atas kematianmu. Betapa engkauorang yang celaka danberhati keras hai putra Bahili! Engkau lebih pantas dariku untuk meminum air neraka Jahanam dan engkau akan kekal di dalam api Jahanam." πŸ‘‰ Al-Kamil, juz.4, hal.34

Menurut riwayat Syekh Mufid, Amr bin Harits mengirim budaknya untuk mengambil segelas air, lalu ia berkata, "Minumlah!"

Ketika Muslim hendak minum, ia melihat gelas air penuh dengan darah. Terus begitu hingga sebanyak dua kali. Pada kali ketiga ketika Muslim hendak minum, gigi-gigi depannya jatuh ke dalam gelas.

Muslim berkata, "Jika minum air ditentukan bagiku, maka aku akan minum." Kemudian dia tidak meminumnya. πŸ‘‰ Syekh Mufid, al-Irsyad juz.2, hal.61.

Ketika Muslim dibawa menemui Ubaidillah, ia tidak mengucapkan salam.

Seorang petugas Ubaidillah berkata, "Ucapkan salam kepada pemimpin"

Muslim menjawab, "Celaka engkau, dia bukan pemimpinku.

Ibnu Ziyad berkata, "Tidak ada bedanya bagimu, engkau memberi salam atau tidak memberi salam engkau tetap akan terbunuh."

Muslim menjawab, "Jika engkau membunuhku, maka orang yang lebih buruk darimu akan membunuh orang yang lebih baik dariku." πŸ‘‰ Maqtal Muqarram, hal.161

Ibnu Ziyad berkata, "Engkau telah membangkang terhadap pemimpin. Engkau telah mematahkan tongkat kaum Muslim dan menyebarkan fitnah".

Muslim menjawab, "Engkau berkata dusta, hai putra Ziyad , Yang telah mematahkan tongkat kaum Muslim adalah Muawiyah dan Yazid, anaknya. Adapun yang telah menyebarkan fitnah adalah engkau dan ayahmu. Aku berharap mati syahid di tangan makhluk terburuk (seperti kalian ini)." πŸ‘‰ Ibid, juz.1, hal.211.

Ibnu Ziyad berkata, "Untuk apa engkau datang ke sini, selain tuk membuat perpecahan?!

Muslim bin Aqil menjawab, "Aku datang ke sini bukan untuk membuat perpecahan. Engkau telah menyebarkan kemungkaran, meninggalkan amar-makruf dan nahi-mungkar, dengan tanpa persetujuan rakyat engkau telah menjadi pemimpin, engkau telah memaksakan berbagai bidah kepada masyarakat, dan engkau telah berperilaku seperti Kaisar dan Kisra. Aku datang untuk amar makruf dan nahi-mungkar kepadamu, dan untuk mengajakmukembali kepada kitab Allah dan sunah Rasulullah saw." πŸ‘‰ Syekh Mufid, al-Irsyad juz.2, hal.62.

Ibnu Ziyad mulai mencaci maki Ali, Hasan dan Husain.

Muslim berkata, "Engkau dan ayahmu lebih pantas mendapatkan caci maki , Lakukan apa saja yang engkau kehendaki, hai Musuh Allah." πŸ‘‰ Al-Kamil, juz.4, hal.35

ketika Ibnu Ziyad mengancam akan membunuhnya, Musli berkata, "Beri aku waktu untuk menyampaikan pesan."

Kemudian Muslim mendatangi Umar bin Sa'd dan berkata, "Aku mempunyai hubungan kekerabatan denganmu. Aku ingin mengatakan sesuatu yang bersifat rahasia dan merupakan wasiat Bagimu.

Pada mulanya Ủmar bin Sa'd menolak. Namun Ibnu Ziyad berkata, "Penuhi keinginannya!"

Akhirnya keduanya pergi ke suatu sudut ruangan sementara Ibnu Ziyad memerhatikan dari kejauhan.

Muslim berkata, "Aku punya utang 700 dirham di kota Kufah tolong bayarkan dengan uang yang aku punya di Madinah. Kemudian, tolong ambil jenazahku dan kuburkan. Juga tolong kirim pesan kepada Imam Husain as supaya kembali"

Umar bin Sa'd membongkar pembicaraan rahasia itu. Seluruh isi pembicaraan ia beritahukan kepada Ibnu Ziyad

Ibnu Ziyad berkata, "Orang yang dapat dipercaya tidak akan khianat. Namun terkadang orang yang khianat dianggap orang yang dapat dipercaya."

Ibnu Ziyad berkata, "Hartamu adalah milikmu Jika Husain tidak datang kepada kami, maka kami tidak punya urusan dengannya. Namun jika ia menginginkan kami, maka kami tidak akan melepaskannya. Adapun pesanmu berkenaan dengan jenazahmu tidak dapat kami kabulkan." πŸ‘‰ Tarikh Thabari, juz.4, hal.282

Mas'udi menuturkarn "Muslim dibawa ke atas atap. Lalu kepada Ahmara yang dalam pertempuran dengan Muslim telah mendapat luka sabetan pedang diperintahkan untuk menebas leher Muslim bin Aqil

Ahmara bercerita, "Ketika Muslim dibawa ke atas atap gedung aku dengar ia membaca tasbih, beristigfar dan bersalawat kepada Rasulullah saw Kemudian, Ahmara memenggal leher Muslim. Setelah itu, dia berlari ketakutan dan jatuh di hadapan Ibnu Ziyad.

 Ubaidillah bin ziyad bertanya, "Apa yang terjadi denganmu?

Ahmara menjawab, "Ketika aku hendak membunuhnya, aku melihat ada seseorang bermuka hitam berdiri di sampingku, gigi-gigi taring keluar dari bibirnya. πŸ‘‰ Biharul-Anwar, juz.44, hal.357 , Aku belum pernah merasa ketakutan seperti ini sebelumnya.

Menurut kami (penulis), sebagaimana yang tertulis dalam kitab al-Irsyad yang telah kami singgung bahwa tubuh Muslim bin Aqil dilemparkan dari atas atap istana ke tanah. πŸ‘‰  Syekh Mufid, al-Irsyad, juz.2, hal.65

Dalam kitab lain disebutkan bahwa kepala Muslim dan Hani dikirim ke Damaskus Sementara tubuh kedua orang ini setelah diseret di gang-gang kota Kufah dilemparkan ke tempat sampah yang di dekat Mesjid Kufah. πŸ‘‰ Nafsul-Mahmum, hal.108

Kemudian, istri Maitsam Tammar secara sembunyi-sembunyi menguburkan kedua tubuh tersebut pada malam hari di sudut mesjid

Sumber : Mega Tragedi, karya Syekh ibn Rais kermani halaman 92-101

0 Comments


EmoticonEmoticon