Tafsir Surah Al-Fatihah bagian 4


AYAT 4
مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
 Penguasa Hari Pembalasan

👉 TAFSIR

📓 Prinsip Kedua: Iman kepada Hari Kebangkitan 

Dalam ayat ini, perhatian diarahkan pada prinsip penting yang kedua dalam Islam, yaitu hari kebangkitan dan hari kiamat ketika al-Quran berkata, “Penguasa Hari Pembalasan.” Oleh karena itu, fokus pemikiran tentang asal-usul dan tujuan akhir, yang merupakan asas utama dari seluruh peningkatan akhlak dan hubungan kemasyarakatan pada manusia, mencapai puncak kesempurnaannya.

Penting untuk dicatat di sini bahwa ketuhanan (rububiyyah) Allah atau kepenguasaan-Nya (mulkiyyah) ditunjukkan—yang menggambarkan kekuasaan dan kedaulatan-Nya atas setiap manusia dan segala sesuatu pada hari tersebut (hari kiamat) dimana seluruh manusia akan menghadiri pengadilan agung untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka di depan Tuan yang sebenarnya dan sejati.

Mereka akan melihat semua amal dan bahkan pikiran pun akan hadir tanpa kurang dari yang aslinya atau ada yang terlupakan. Bahkan mereka harus menerima bagian tanggung jawabnya atas segala kebiasaan yang mereka rintis, walaupun mereka tidak menerapkannya.

Kepenguasaan Allah pada Hari itu tidaklah sama dengan imajinasi kepenguasaan kita atas apa-apa yang kita miliki di dunia ini.

Kepenguasaannya, menyangkut dunia keberadaan, adalah kepenguasaan hakiki. Ini (kepenguasaan Allah) merupakan kebergantungan khusus makhluk-makhluk kepada Tuhan dan eksistensi mereka yang bergantung kepada-Nya. Apabila aliran karunia-Nya berhenti walaupun sebentar saja, maka akan menyebabkan kematian mereka semua.

Dengan kata lain, kepenguasaan ini merupakan konsekuensi kepenciptaan dan ketuhanan-Nya. Dia, yang menciptakan makhluk-makhluk, memberi mereka kehidupan setiap saat dan memelihara mereka, melindungi dan membimbing mereka, adalah tuan sejati seluruh makhluk. Secara faktual, Dialah satu-satunya Penguasa dari seluruh kekuatan yang ada di dunia keberadaan.

Tak syak lagi bahwa Allah adalah “Tuhan semesta alam”.

Pertanyaan yang muncul di sini adalah: ‘Bukankah Allah Pen-guasa Mutlak dunia ini?’ berlawanan dengan pernyataan kita berkenaan dengan masalah ini bahwa ‘Dia adalah Penguasa Hari Pembalasan.’ Jawaban atas pertanyaan ini terletak pada fakta bahwa ‘kepenguasaan Allah’ walaupun mencakup kedua dunia, memiliki manifestasi lebih jauh di akhirat.

Hal disebab-kan semua hubungan materi dan kepenguasaan imaginatif dihilangkan (di akhirat kelak) dan tak seorang pun memiliki kepenguasaan seperti itu pada hari tersebut. Bahkan syafaat, bila benar-benar diperoleh, adalah atas perintah Allah, seperti yang al-Quran katakan berkenaan dengan hari pembalasan, “Hari di mana tidak seorang jiwa pun memiliki jiwa (yang lain) , dan kekuasaan Hari itu (secara keseluruhan) hanya akan dimiliki Allah saja.” (QS al-Infi thâr [82]:19)

Dengan kata lain, di dunia ini seseorang bisa menolong orang lain melalui lisan, uang, kekuatan, nasihat, rencana, desainnya, dan lain sebagainya. Akan tetapi, pada hari itu ( akhirat) tentu tidak ada perkara seperti itu lagi. Oleh karenanya, ketika manusia ditanya: “Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini?”

Mereka menjawab, “Kepunyaan Allah Yang Mahaesa lagi Maha Mengalahkan.” (Lihat surah al-Mukmin [40]: 16). Ayat ini sebagai jawaban atas orang-orang yang menolak gagasan bahwa kalau Allah Penguasa segala sesuatu, mengapa Dia (masih) disebut  ‘Penguasa Hari Pembalasan’.

Manusia, yang mengingkari hari akhir dan hari pembalasan, memiliki potensi menjadi makhluk yang paling tidak bermoral, penjahat yang paling besar, pelaku kejahatan terburuk dan paling mengerikan, karena dalam pandangannya tidak ada seorang pun yang akan mempertanyakan atau menghukumnya kalau dia cukup pintar menghindari tangkapan. Dengan karakter-karakter seperti itu, terkadang akan sangat mengerikan dan tidak memungkinkan orang lain terus hidup di dunia ini. Oleh karena itu, keimanan kepada kehidupan setelah mati dan hari pembalasan, yang merupakan bagian yang penting dalam Islam, seperti shalat, sangat bermanfaat dalam mengendalikan manusia dari perlakuan jahat.

Penegasan akan kepenguasaan Allah atas hari pembalasan memiliki efek seperti itu juga. Ia (kepenguasaan Allah—penerj.) akan berhadapan dengan kekufuran orang-orang kafir di akhirat. Hal ini bisa dimengerti dari ayat-ayat al-Quran al-Karim yang menyatakan bahwa keimanan kepada Allah telah menjadi satu keyakinan umum bahkan di antara orang-orang kafir di zaman jahiliah. Surah Luqman [31]:25 membahas mengenai mereka,
“Bila engkau bertanya kepada mereka, siapa yang menciptakan langit dan bumi, mereka tentu akan menjawab: ‘Allah’, padahal mereka tidak menerima tuturan Nabi saw mengenai hari kebangkitan, “Orang-orang kafir berkata (kepada teman-temannya dengan mengejek): ‘Maukah kamu kami tunjukkan kepadamu seorang lelaki yang akan mengatakan kepadamu bahwa apabila badanmu tercerai-berai menjadi potongan-potongan yang berserakan, sesungguhnya engkau benar-benar (akan dibangkitkan kembali pada saat itu) dalam ciptaan yang  baru?’ Apakah dia telah mengada-adakan kebohongan terhadap Allah, ataukah adakah jin padanya (merasukinya)?” (QS Saba [34]:7-8).

Sebuah hadis menyebutkan perihal Imam as-Sajjad as, “Ketika Ali bin al- Husain as (as-Sajjad) mulai membaca Maliki yaumiddîn (Penguasa hari pembalasan), ia mengulang-ulangnya berkali-kali sehingga ia sampai pada titik kehilangan jiwanya (pingsan).” 👉 Nûr ats-Tsaqalayn, tafsir, jilid 1, h.19

Bacaan yaumiddîn, dibaca berulang-ulang lebih dari sepuluh  kali dalam al-Quran, semata-mata dengan makna ‘hari akhir’, “Tahukah kamu apakah Hari pembalasan itu? “Sekali lagi, tahukah  kamu apakah Hari Pembalasan itu?” (Yaitu)”Hari ketika tak seseorang tidak berdaya sedikit pun untuk menolong orang lain. Dan kekuasaan
hari itu (seluruhnya) milik Allah.” (QS al-Infi thâr [82]:17-19).

 Bacaan yaumiddîn digunakan dalam makna ‘hari pembalasan‘, karena ‘hari itu’ adalah hari pahala; sedangkan dîn dalam ilmu bahasa Arab berarti ‘ pahala, tebusan’. Prosedur yang paling nyata di akhirat adalah prosedur pemberian pahala atau pemberian hukuman. Pada hari itu, hijab- hijab akan dibuang dan amalan-amalan semuanya akan dipertanggungjawabkan secara benar. Pada hari itu, setiap orang akan menuai buah amalan-amalannya sendiri, entah tercela ataupun terpuji.

Imam ash-Shadiq as berkata dalam sebuah hadis bahwa hari pembalasan adalah ‘hari perhitungan’. 👉 Majma’ al-Bayân, jilid 1, h.24; Manhaj ash-Shâdiqîn, jilid 1, h.24.

Perlu disebutkan di sini, sebagian mufasir percaya bahwa ‘hari pembalasan’ disebut yaumiddîn karena pada hari tersebut, setiap orang diganjar atas agamanya sendiri, seandainya dia telah menganutnya secara benar.

Sumber : Tafsir Nurul Qur'an jilid 1 halaman 53-56 oleh Allamah Kamal Faqih Imani

0 Comments


EmoticonEmoticon