Tafsir Surah Al-Fatihah bagian 1


AYAT 1
بسم اللّه الرحمن الرحيم
Dengan Nama Allah Yang Maia Pengasih lagi Maha Penyayang

👉 TAFSIR

Mayoritas manusia di dunia memiliki kebiasaan menyebutkan nama salah seorang pribadi besar yang sangat mereka cintai sehingga nilai kerja mereka mungkin dapat terangkat.

Dengan kata lain, mereka menghubungkan aktivitas yang mereka lakukan dengan pribadi tersebut dari awal usaha keras mereka Di antara segala keberadaan, Zat Yang Abadi hanyalah Allah semata; karena itu segala sesuatu dan segala aktivitas harus dimulai dengan (menyebut) nama-Nya yang suci.

Semuanya harus dikemas dalam Cahaya-Nya, dan pertolongan pun harus selalu diajukan kepada-Nya. Maka, dalam ayat pertama al-Quran, kita membaca 'Bismillâhirrahmânirrahîm' (Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang).

Bacaan ini semestinya tidak hanya dilakukan dengan lisan belaka, tapi mesti dilakukan dengan benar dan bermakna, sebab jenis hubungan bersama dengan-Nya ini mengharuskan beramal di arah yang benar dan jauh dari segala penyimpangan.

 Dengan alasan seperti inilah, pekerjaan semacam itu pasti akan berhasil dan diberkati.

Nabi suci saw, dalam sebuah hadis, bersabda: "Pekerjaan penting apa saja apabila dimulai tanpa membaca bismillâh, maka akan tetap tak sah (terputus kebaikannya)." 👉 Bihâr al-Anwar, jilid 76, pasal 58, h.305 (menurut tafsir al-Bayân, jilid 1, h.461)

Setelah menyampaikan hadis ini, Hadhrat Amirul Mukminin Ali as menambahkan: "Bagi setiap amal yang seseorang ingin lakukan, hendaknya ia membaca bismillahirrahmânirrahîn terlebih dulu, yang berarti bahwa dia memulai amal tersebut dengan nama Allah, dan setiap amal yang dimulai dengan nama Allah akan diberkati." 👉 Bihâr al-Anwâr, jilid 76, pasal 58

Berkenaan dengan keutamaan dan pentingnya bismillâh, diriwayatkan dari Ali bin Musa ar-Ridha as yang mengatakan demikian: "(Ungkapan suci) Bismilláhirralhmânirrahinm lebih dekat pada nama Allah Yang Mahatinggi daripada biji mata pada putih matanya
." 👉 Majma' al-Bayân, jilid 1, h.18

Ibnu Abbas pun meriwayatkan dari Nabi suci saw seperti berikut: "Begitu seorang guru menyuruh seorang siswa mengu capkan bismillåhirrahmânirrahim dan anak tersebut mebacanya maka Allah menetapkan kekebalan (dari api) bagi anak tersebut, kedua orang tuanya dan guru tersebut". 👉 Majma' al-Bayân, jilid 1, h.18

Imam ash-Shadiq as berkata: "Tidak ada kitab suci yang pernah diturunkan dari surga kecuali dimulai dengan bismillâhirrahmânirrahim." 👉 Al-Mahasin oleh Barghi, h.40; Biar al-Anwâr, jilid 92, h.234

Dalam Khishal karya Syaikh Shaduq, disebutkan bahwa Imam al-Baqir as pernah berkata "apa bila kita memulai suatu perbuatan, besar atau kecil, maka sepatutnya membaca bismillâhirrahmânirralim agar perbuatan tersebut diberkati." 👉 Tafsir ash-Shafi, jilid 1, h.70; al-Mizân, jilid 1, h.26 (versi bahasa Persia)


Apabila kita memulai Singkatnya, stabilitas dan kepermanenan suatu amal disebabkan hubungannya dengan Allah. Bacaan bismillâh di awal surah tersebut, mengajarkan kepada kita untuk meminta pertolongan kepada Allah dari Zat-Nya yang sempurna lagi suci ketika memulai perbuatan apapun Karena itu, Allah Ta'ala dalam ayat-ayat pertama tersebut mewahyukan kepada Nabi suci saw untuk- mengawali syiar dan dakwah Islam- melaksanakan tugas agung ini dengan nama Allah: "Bacalah dengan nama Tuhanmu" (QS al-'Alaq [96]:1) dan ucapan Nabi Nuh as kepada para pengikutnya ketika banjir melanda: "Lalu dia berkata: ‘Naiklah kalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya! ..." (QS Hûd [11] 41). Juga, surah Nabi Sulaiman as kepada Ratu Saba dimulai dengan ucapan: "Sesungguhnya surah itu dari Sulaiman, dan sesungguınya (isinya): Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang" (QS an-Naml [27]:30)

Berdasarkan prinsip yang sama, semua surah-surah dalam al-Quran (kecuali surah at-Taubah) dimulai dengan bismillâh' untuk menggapai tujuan mendasar yaitu membimbing dan mengarahkan manusia pada kemakmuran, jauh dari kekalahan.

Dalam peristiwa apapun, apabila kita memulai pekerjaan kita dengan bergantung pada kekuatan Allah Yang Mahaagung, yang kekuatan-Nya di atas segala kekuatan, maka secara psikologis kita akan merasa jauh lebih mantap.

Oleh karenanya, kita mungkin merasa lebih percaya diri. Kita mungkin akan berusaha lebih tekun, berani dan tegar dalam mengatasi segala kesulitan, lebih berharap, dan begitu pula niat dan esensi perbuatan-perbuatan kita mungkin akan lebih suci. Pada saat memulai urusan apapun, membaca nama Allah menjadi kunci
kesuksesannya.

Sampai sejauh apapun kita menjelaskan ayat ini tetap tidak akan cukup sebab menurut sebuah riwayat Imam Ali as menjelaskan tafsir ayat tersebut kepada Ibnu Abbas dari awal malam sampai pagi berikutnya hanya untuk membahas tafsir ba, huruf pertama dalam bismillâhirrahmânirrahím. 👉 Makhzan al-'irfân, jilid 1, h.28

PENJELASAN

 Apakah Bacaan Bismillâh Termasuk Bagian dari Setiap surah

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, hampir seluruh ulama secara sepakat menyatakan bahwa bismillâhirralmânirrahîm termasuk bagian dari al-Fatihah dan juga bagi surah-surah lainnya (kecuali surah at-Taubah). Sejatinya, pencantuman bismillâlh pada awal seluruh surah al-Quran al-Karim, kecuali yang disebutkan diatas, merupakan sebuah bukti yang vital atas kenyataan ini dan keyakinan tersebut begitu kuat sehingga tidak ada perubahan yang terjadi dalam al-Quran dan tidak ada satupun yang ditambahkan padanya sejak ia diwahyukan kepada Nabiyullah saww

Mu'awiyyah bin 'Ammar, salah seorang sahabat Imam ash-Shadiq as, berkata bahwa suatu saat dia bertanya kepada Imam as apakah ia harus membaca bismilâhirrahmânirrahîm pada awal surah al-Fatihah ketika berdiri untuk mendirikan shalat, maka beliau mengiakan petanyaan tersebut. Dia bertanya kembali mengenai keharusan membaca bismillâh ketika bacaan surah al-Fatihah usai dan sebelum membaca surah berikutnya, maka Imam ash-Shadiq as mengiakan kembali". 👉 Al-Kafi, jilid 3, h.312.

Daruquthni, seorang ilmuwan dan peneliti Muslim, menurut sebuah dokumen yang dapat dipercaya, meriwayatkan dari Amirul Mukminin Ali as bahwa seseorang bertanya kepada be-
liau as: "Apakah as-Sab'al-Matsani itu (tujuh ayat) itu?"

"Surah al-Hamd", katanya.

Orang tersebut lagi berkata: "Surah al-Hamd terdiri dari enam ayat."

 Imam as menjawab: "Bismillâhirralhmânirrahim juga (terhitung) satu ayat." 👉 Al-Itqân, jilid 1, h.136.

Selain itu, umat Islam selalu menjaga praktik pembacaan bismillâhirrahmânirrahîm pada awal surah setiap surah (kecuali surah 9) ketika membaca al-Quran, dan ini telah terbukti, pada beberapa kisah bahwa Nabi suci saw biasa membacanya juga.

Diriwayatkan bahwa Amirul Muminin Ali as ditanya mengenai kebenaran bismillâhirrahmânirram sebagai bagian dari surah al-Fatihah. Imam as menjawab: "Benar, Rasulullah biasa membacanya dan menganggapnya sebagai satu ayat (dari ayat-ayat)
dalam surah dan beliau berkata bahwa Fatihat al-Kitab (Pembuka) sama dengan Sab'al-Matsânî (tujuh ayat)." 👉 Athyab al-Bayân, jilid 1, h.92

📓 Allah, Nama Rabb (Tuhan) Yang Serba-Mencakup

Istilah ism dalam frase bismillâh, seperti yang dikatakan para sastrawan dalam bidang bahasa Arab, berasal dari kata sumuww yang berarti 'ketinggian, peninggian'. Alasan tentang penamaan' pada sebuah kata 'benda' adalah karena setelah menentukan (ism) yang khusus, maka makna ungkapan yang tersembunyi akan muncul, dan pengertian 'nama' tersebut menanjak, karenanya menjauhkan dari kesia-siaan

Dalam frase bismilláh, kata Allah adalah nama Tuhan yang paling lengkap dan komprehensif di antara nama-nama Tuhan yang lainnya. Ini disebabkan masing-masing nama-nama Allah, yang ditorehkan dalam al-Quran al-Karim juga dalam referensi-referensi Islam lainnya, merefleksikan satu aspek khusus dari sifat-sifat Allah.

 Dengan kata lain, satu-satunya nama yang mengacu pada seluruh sifat-Nya yang mulia dan baik adalah Allah. Oleh  karena itu, nama-nama yang lainnya sering digunakan sebagai kata sifat bagi kata Allah.

Misalnya, "Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang," (QS al-Baqarah [2]:226) mengacu pada ampunan Allah; "Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui segala sesuatu", (QS al-Baqarah [2]: 227)

menunjukkan kemudah dikenalan-Nya dengan apa-apa yang dapat didengar dan apa-apa yang terjadi, secara berturut turut; "Dan Allah Maha Melihat semua yang kamu lakukan", (QS al-Hujurât [49]:18) menyatakan bahwa Dia memiliki informasi atas segala hal yang dilakukan oleh siapa saja; "Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kukuh" (QS adz-Dzâriyyat [51]:58) mengarah pada pemberian rezeki-Nya ke seluruh makhluk dan, pada saat yang sama, mengungkapkan bahwa Dia perkasa dan kukuh dalam tindakan-tindakan-Nya. Dan, akhirnya surah al-Hasyr [59] ayat 23 dan 24 menunjukkan beberapa sifat Allah. Istilah 'Pencipta' dan 'Yang Mengada-kan' menunjukkan daya kreatif dan kemampuan-Nya dalam menciptakan, dan 'Pemberi Bentuk' mengarah pada pemberian bentuk yang dilakukan-Nya: "Dialah Allah, Tiada Tuhan Selain Dia; Maharaja, Yang Mahasuci, Maha sejahtera, Yang Maha Mengaruniakan Keamanan, Maha Memelihara (segala sesuatu), Mahaperkasa, Mahakuasa, Maha Memiliki Segala Keagungan! Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dialah Allah Yang Maha Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Memiliki Nama-
Nama yang paling indah.

Satu bukti lagi yang menjadi sebuah petunjuk yang jelas bahwa nama ini, Allah, serba-mencakup menyeluruh dapat dilihat dalam pengakuan keimanan.

 Dalam Islam, keimanan hanya bisa diterima dengan kalimat: lâ ilâha illallah (tidak ada Tuhan selain Allah), sedangkan masing-masing frase lainnya seperti
Maha Mengetahui, Maha Pencipta atau Maha Pemberi Rezeki dan lain-lain saja tidaklah mencukupi untuk menyatakan bukti ketauhidan dalam Islam.

 Oleh karena itu, dalam agama selain Islam Tuhan kaum Muslim disebut Allah, karena hanya umat Islamlah yang menggunakan Allah' untuk mengacu pada apa yang mereka sembah.

📓 Rahmat Allah Yang Umum dan Khusus

Kata-kata ar-Rahmân (Maha Pengasih) dan ar-Rahim (Maha Penyayang) adalah kata sifat. Keduanya berasal dari ar-Rahmah (rahmat). Kata yang pertama, Maha Pengasih, seperti yang diketahui secara populer oleh beberapa ahli tafsir mengacu pada rahmat umum Allah yang dianugrahkan kepada segenap makhluk, di antaranya adalah orang-orang yang beriman dan tidak beriman, orang-orang saleh dan para pendosa. Dan, seperti
yang kita saksikan, rahmat kehidupan dari Allah disebarkan ke mana-mana dan seluruh manusia menikmati manfaatnya yang tak habis-habis. Itulah rezeki mereka. Mereka memperoleh rahmat yang melimpah ruah dari segala yang ada di dunia ini.

Kata ar-Rahîm (Maha Penyayang) mengacu pada rahmat khusus Allah yang dicurahkan kepada orang-orang yang beriman, hamba-Nya yang taat saja. Orang-orang yang beriman, karen keyakinannya yang sejati, amal-amal yang baik, dan ketakwaan yang aktif, layak mendapatkan rahmat khusus ini, yang tidak akan didapatkan oleh orang-orang yang tidak beriman.

Bukti khusus yang membenarkan topik ini dapat dilihat dari kata Rahmân yang selalu digunakan dalam al-Quran dalam bentuk yang tidak tertentu, yang merupakan satu tanda keumuman, sedangkan makna Rahîm kadang-kadang digunakan dengan makna yang tertentu, yang merupakan tanda kekhususannya seperti:“ Dan Dia adalah Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman", (QS al-Ahzab [33]:43). Terkadang pula ia digunakan dalam bentuk yang tidak tentu dalam surah al-Fatihah.

Dalam sebuah riwayat Imam ash-Shadiq as bersabda: "Allah adalah Rab (Tuhan) segala sesuatu dan Maha Pengasih pada semua makhluk-Nya, dan Dia Maha Penyayang, khususnya pada orang-orang yang beriman." 👉 Al-Kafi, Tauhid karya Syaikh Shaduq, dan Ma'anial-Akhbir, (berdasarkan tafsir al-Mizân)

Oleh karena itu, pada saat kita hendak memulai amal apa pun, kita mesti memulainya dengan nama Allah dan memohon rahmat-Nya, baik rahmat umum maupun khusus.

 Yang perlu diperhatikan di sini bahwa kekuatan ini karena ia memiliki konsep yang luas dan amat mirip dengan tarikan gravitasi serta memiliki kemampuan untuk mendekatkan hati merupakan sifat rahmat itu sendiri. Selain itu, sifat rahmat adalah sarana yang memudahkan manusia mendapatkan satu hubungan yang erat dengan Penciptanya.

Sebab itu, kaum mukmin sejati, ketika membaca ayat suci bismillâhirralimânirrahîm di awal setiap urusan mereka, membebaskan hati mereka dari segala sesuatu yang lain dan hanya bergantung pada Allah semata dan mereka meminta pertolongan hanya kepada-Nya, lantaran Dia sajalah yang rahmat-Nya serba-mencakup (all-inclucive). Tidak ada satupun makhluk yang lepas darinya Bukti lain yang juga dapat dimengerti dari bismillâh adalah tindakan-tindakan Allah yang selalu berdasarkan rahmat, sementara hukuman memiliki aspek-aspek perkecualian yang tidak akan terpenuhi kecuali ada beberapa alasan yang jelas
dan tepat.

Apabila kita membaca doa Jausyan al-Kabir, pasal ke-20 yaitu: "Wahai Rab (Tuhan), yang rahmat-Nya mendahului murka-Nya ..." maka butir di atas kian menjadi jelas.

Umat manusia seyogianya memperhatikan rahmat dan kasih sayang serta berperilaku menurutnya dalam kehidupan sehari-hari serta menerapkan kekerasan dan ketegasan apabila jelas-jelas diperlukan.

Kita akhiri pembahasan ini dengan sebuah hadis yang sarat makna dari Nabi suci saw yang, sewaktu menjelaskan mengenai keluasan rahmat Allah, berkata: "Sesungguhnya Allah memiliki seratus rahmat, satu di antaranya Dia turunkan ke dunia dan menyebarkan yang satu tersebut kepada makhluk-makhluk-Nya. Segala rahmat dan kasih sayang yang mereka miliki berasal darinya. Dia, Yang Maha Penyayang, menahan sembilan puluh sembilan bagi-Nya sendiri hamba-Nya di hari kebangkitan kelak."  👉 Majma' al-Bayan, jilid 1, h.21

Sumber : Tafsir Nurul Qur'an jilid 1 halaman 37-44 oleh Allamah Kamal Faqih Imani

0 Comments


EmoticonEmoticon