Esensi Iedul Adha dan Imam Husein As


Iedul Adha dari satu sisi adalah kebahagiaan, karena Ismail tidak jadi disembelih, namun juga kesedihan karena ditebus dengan Sang Tebusan Agung Imam Husein as.


Menjelang hari raya Iedul Adha, kaum muslimin berbondong-bondong menyambutnya dengan sambutan meriah. Walaupun memiliki kedudukan kedua setelah Iedul Fitri, namun untuk kaum faqir-miskin sebuah anugerah tak terkira dengan kiriman daging-daging segar yang mereka selama ini idamkan. Jangankan membeli daging, untuk makan sehari-hari saja mereka kebingungan.

Iedul Adha hari raya tanpa memberikan tekanan moral dan sosial, tidak seperti kakaknya Iedul Fitri. Tak perlu baju baru, bagi-bagi uang, memasak opor, bikin kue, THR, arus mudik atau arus balik.

Namun dibalik itu semua, Iedul Adha memiliki rahasia terpendam didalamnya. Rahasia sejarah, Tafsir, hadist dan falsafah kenapa terjadi setiap tahun Iedul Adha dengan mengorbankan Kambing , Sapi, Unta dan sejenisnya.

Allah Swt berfirman,
وفدیناه بذبح عظیم

Dan Kami tebus Hamba Shaleh itu dengan seekor sembelihan yang agung.

Beberapa Ahli tafsir, menafsirkan ayat diatas dengan Kambing atau Domba. Namun ada beberapa kejanggalan didalamnya, yaitu Allah swt memakai kata “Adhim” yang bermakna besar dan agung. Padahal Allah Swt mensifati dunia beserta isinya termasuk kambing, domba, gugusan bintang dan hal-hal bersifat kemateri-an lainnya dengan “Mata’un qalil”.

Allah Swt berfirman surat Al-Imran ayat 197 :

مَتَاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۚ وَبِئْسَ الْمِهَادُ

Itu (Dunia) hanyalah kesenangan Kecil (sementara), kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam; dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya.

Allah Swt berfirman surat Al-Nisa ayat 77:

قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيلٌ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ لِمَنِ اتَّقَىٰ

Katakanlah: "Kesenangan di dunia ini hanya sedikit dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun.
Allah swt berfirman Surat Al-Taubah ayat 38:

فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ
Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) diakhirat hanyalah sedikit.

Logika Al-Quran mengatakan bahwa Dunia dengan segala gemerlapnya adalah kenikmatan sedikit. Termasuk didalamnya Kambing dan hewan ternak lainnya, karena mereka adalah bagian dari dunia itu sendiri.

Untuk itu tidak sepadan jika Tafsiran Tebusan agung itu dengan kambing yang notabene-nya lebih kecil dari dunia itu sendiri. Bahkan Manusia lebih mulia dari dunia beserta isinya, karena Allah Swt menciptakan dunia beserta isinya untuk Manusia semata; Agar manusia sampai kepada tujuan peciptaan.

Kemudian aktor yang mengatakan”Tebusan Agung “ disini adalah Allah swt sendiri. Sang maha agung menyifati dunia dengan kecil, dan mensifati kambing sebagai bagian dari gemerlap dunia dengan “Agung”. Maka, jika ahli tafsir ngotot bahwa “tebusan agung” itu adalah kambing, maka mereka harus menerima kontradiksi yang terjadi antara Dunia yang “kecil” dan Kambing bagian dari dunia tersebut sebagai “Agung”. Hingga, dari sisi manapun tebusan agung itu tidak bisa ditafsirkan dengan SEEKOR KAMBING.

Tebusan Agung itu adalah Imam Husein as

Syeikh Shaduq meriwayatkan dari Imam Ridha sebuah Hadist yang panjang menjelaskan Kronologis sesungguhnya dari penyembelihan Ismail oleh Ibrahim as.

Sebelum Allah Swt mengirim seekor kambing kepada Ibrahim as, Kekasih Allah Swt tersebut berharap benar-benar menyembelih putranya, sehingga mendapatkan pahala Ahli musibah dan dinaikan derajatnya oleh Allah swt.

Allah Swt bertanya kepada Ibrahim, “Wahai Ibrahim! Dari seluruh makhluk ciptaan-Ku, siapa yang engkau cintai? Ibrahim menjawab, Kekasihmu Muhammad saww makhluk yang paling aku cintai.”

Allah swt bertanya, “Engkau lebih mencintai siapa, dirimu atau Kekasihku Muhammad saww? Ibrahim as menjawab, Tentu saja aku lebih mencintai Muhammad saww, ketimbang diriku.”

Allah Swt kembali bertanya, “Anaknya lebih engkau cintai, ataukah anakmu? Ibrahim menjawab, Anaknya lebih aku cintai dari anaku.”

Allah Swt kembali bertanya, “Putranya terbunuh ditangan Musuh dengan disembelih lebih menyakitkan hatimu, ataukah kematian putramu disembelih oleh musuh-musuhnya?”
Ibrahim as menangis seraya menjawab,” Kematian Putranya ditangan Musuhnya dengan disembelih lebih menyakitkan hatiku.”

Allah Swt dengan lantang berkata, “Wahai Ibrahim, Sesungguhnya kelak Al-Husein putra kekasihku Muhammad saww akan disembelih oleh kaum yang mengaku umat dari Muhammad. “

Ibrahim pun ketika mendengar itu tidak kuasa menahan tangisan dan meratap Wa Huseinah…

(Khisal Syeikh Shaduq juz.1 hal.58-89/Kanzul Daqaiq, Muhammad Ridha Qummi juz.11 hal.171-172)

Telaah sanad dan penjelasan Hadist diatas:

1. Hadist diatas dari sisi sanad tidak memiliki masalah (cacat), perawinya tergolong terpecaya seperti: Abdul Wahid ibn Muhammad Ibn Abdu Naisyaburi (Ustadz dari Syeikh Shaduq ), Ali ibn Muhammad Qutaibah Naisyaburi (Sahabat Imam Ridha as), Fadhl Bin Syadzan (Sahabat Para Imam Maksum). Mereka semua tidak memiliki kecacatan sama sekali. (Thabaqat A’lamu Syia juz.1 hal.205)

2. Sepanjang sejarah kemanusiaan, sembelihan paling agung hanyalah Imam Husein as Putra dari Rasulullah saww, Ali as dan Sayidah Fatimah as, penghulu pemuda surga, ketika kecilnya ditimang oleh jibril as.

Iedul Adha dari satu sisi adalah kebahagiaan, karena Ismail tidak jadi disembelih, namun juga kesedihan karena ditebus dengan Sang Tebusan Agung Imam Husein as.

Untuk itu ketika kita hendak menyembelih kambing, sunnahnya memberikan si kambing air minum.
Sejarah mencatat, ketika Imam Sajjad datang ketempat penyembelihan binatang kurban, beliau selalu mengulang-ulang kepada tukang jagal, sebelum disembelih, untuk memberikan air minum kepada hewan kurban tesebut.

Seraya menangis, "Ayahku Al-Husein disembelih dalam keadaan haus dengan mata kepalaku sendiri. Perlakukan mereka dengan baik, karena ayahku diperlakukan lebih buruk dari hewan ternak."

Ya Aba Abdillah Syafaatilah kami dan kedua orang tua kami.

یا وجیها عند الله اشفع لنا عند الله

Abu syirin Al-Hasan

0 Comments


EmoticonEmoticon