Kamis, 14 Juni 2018

Amalan dan Doa Malam Idul Fitri



Oleh: Ust Taufiq Ali Yahya

1. Mandi disaat matahari terbenam

2. Menghidupkan malam dengan doa, istiqfar, memohon kepada Allah dan bermalam dimasjid

3. Mengeluarkan zakat fitrah sebelum shalat Idul Fitri

4. Membaca takbir berikut sesusai sholat magrib, isya, subuh  dan sesueh shalat Hari Raya idul Fitri

اللَّهُ اَكْبَرُ اَللَّهُ اَكْبَرُ لااِلهَ إلاّ اللَّهُ وَاللَّهُ اَكْبَرُ، اللَّهُ اَكْبَرُ وَللَّهِ الْحَمْدُ، الْحَمْدُ للَِّهِ عَلَى ما هَدانَا وَلَهُ الشُّكْرُ عَلى

Allah Maha besar, Allah Maha besar, Allah Maha besar, tiada tuhan kecuali Allah, Allah Maha besar, segala puji milik Allah; Alhamdulillah kami panjatkan puji pada-Nya yang telah menunjuki kami, kami sampaikan rasa syukur pada Nya yang telah menyayangi kami.

5. Membaca doa berikut ini sesudah shalat Magrib dan sesudah shalat sunnahnya sambil mengangkat tangan ke langit:

يَاذَا الْمَنِّ وَالطَّوْلِ ياذَا الْجُودِ، يامُصْطَفِيَ مُحَمَّد وَناصِرَهُ، صَلِّ عَلَى مُحَمَّد وَآلِ مُحَمَّد، وَاغْفِرْلِي كُلَّ ذَنْب اَحْصَيْتَهُ اوَهُوَ عِنْدَكَ فِي كِتاب مُبِيْن.

Wahai Pemilik Anugerah dan Karunia, Wahai Pemilik Kedermawanan, Wahai Pemilih Muhammad dan penolongnya, curahkan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, dan ampuni setiap dosaku yang telah Kau hitung, sedangkan dosa itu di sisi-Mu berada didalam Kitab yang jelas.

Kemudian sujud sambil membaca (100x)

اَتُوبُ اِلَى اللَّه
Aku bertaubat kepada Allah

Kemudian memohon kepada Allah segala yang diinginkan, insyaallah dikabulkan.

Jumat, 08 Juni 2018

Tak Terbakar Berkat Salawat

Seorang laki-laki membeli seekor ikan di pasar dan membawanya pulang ke rumah lalu menyerahkan ikan tersebut pada istrinya. Sang istri menyalakan api untuk memanggang ikan tersebut. Ketika ikan diletakkan di atas api, api tidak bisa membakar ikan. Suami-istri itu terheran-heran.Akhirnya, sang suami membawa ikan itu ke hadapan Rasulullah saw. dan menceritakan apa yang baru saja ia dan istrinya saksikan.

Rasulullah saw. berbicara pada ikan itu dan bertanya, "Mengapa api tidak membekas dan membakar dirimu?"

Dengan kebesaran Allah dan kekuasaan-Nya, ikan tersebut dapat berbicara, "Wahai Rasulullah, ini semua atas berkahmu dan keluargamu sehingga api tidak dapat membakar tubuhku. Begini, suatu hari aku berada dilautan, sebuah perahu melintas, di atas perahu tersebut ada seorang laki-laki yang membaca salawat atasmu dan keluargamu. Aku meniru laki-laki tersebut membaca salawat atasmu dan keluargamu. Terdengar seruan, 'Wahai ikan, api telah diharamkan bagimu. Berkat Muhammad dan ahlulbaitnya, api tidak akan pernah bisa membakar tubuhmu"

Sumber: Khazinatul Jawahir, hal.588

Dikutip dari buku Allah pun bersalawat kepada Nabi, Abbas Azizi, hal.80

Selasa, 05 Juni 2018

Mengapa Imam Ali as yang terbunuh dan syahid di Kufah, namun dikuburkan jenazahnya yang mulia di Najaf ?

Oleh: Ust Abdullah Ali Assegaf

Masih dalam rangka memperingati syahadah Imam Ali as, ada satu pertanyaan, "Mengapa Imam Ali as yang terbunuh dan syahid di Kufah, namun dikuburkan jenazahnya yang mulia di Najaf, yang berjarak kurang lebih 15 km dari Kufah?"

Dan hal itu dijadikan landasan dr para pembenci Ahlulbait Nabi untuk meragukan makam Imam Ali as benar2 berada di Najaf.

Maka jawabannya dapat kita telusuri dr peristiwa sejarah itu sendiri, khususnya dr karakter musuh2 Ahlulbait Nabi dan terutama dr dinasti Umayyah.

Telah kita ketahui bahwa Umayyah dikenal kedengkiannya dan permusuhannya terhadap Hasyim, maka keturunan Umayyah juga bersikap serupa dengki dan memusuhi keturunan Hasyim, seperti Abu Sufyan yg dengki dan memusuhi Nabi Muhammad saww, Muawiyah yg dengki dan memusuhi Imam Ali as dan Imam Hasan as, Yazid yg dengki dan memusuhi Imam Husain as, Hisyam bin Abdul Malik yg dengki dan memusuhi Imam Ali Zainal Abidin as dan Imam Muhammad Al-Baqir as serta Usman bin Anbasah (Sufyani) yg dengki dan memusuhi Imam Mahdi as.

Begitu juga para Takfiri pengikut bani Umayyah hingga saat ini terus menyimpan kebencian dan permusuhan terhadap Ahlulbait Nabi, dan diantaranya salah satu bentuk kebencian dan permusuhan mereka adalah menuduh bahwa makam Imam Ali as yg ada di Najaf, Irak adalah bukan makam Imam Ali as yg sebenarnya, dan menurut mereka bahwa makam Imam Ali as tidak ada dan tidak diketahui keberadaannya.

Benarkah tuduhan mereka Takfiri tersebut?

Didalam kitab Muntakhab al-Tawarikh disebutkan bahwa Imam Ali as telah berwasiat kepada putra-putranya agar beliau dikuburkan pada malam hari, bukan siang hari dan secara sembunyi2, tidak terang2an. Dan para Ahlulbait Nabi menyembunyikannya dan merahasiakannya dr khalayak. Hal itu berlangsung hingga ke khalifahan Harun Al-Rasyid atau pada masa Imam Musa Al-Kadzim as.

Dan wasiat Imam Ali as tersebut memang terbukti kebenarannya, karena dinasti zalim Umayyah musuh Ahlulbait Nabi ingin membongkar makam Imam Ali as, maka pada masa kerajaan bani Umayyah Abdul Malik bin Marwan bin Hakam memerintahkan gubernur Basrah dan Kufah si Nashibi Al-Hajjaj bin Yusuf Al-Tsaqafi yg sangat kejam terhadap Ahlulbait dan dzuriyah Nabi Muhammad saww untuk mencari kuburan Imam Ali as, maka Al-Hajjaj menggali ribuan kuburan di sekitar Kufah untuk mencari jasad Imam Ali as dan tidak berhasil menemukan kuburan Imam Ali as.

Pada suatu hari, Harun Al-Rasyid pergi berburu ke lembah Najaf di pinggiran Kufah, disana terdapat belukar dan sarang hewan.

Abdullah bin Hazim berkata : Ketika kami berjalan menuju tepi belukar itu, kami melihat seekor rusa betina. Kemudian kami melepaskan burung elang dan anjing untuk memburunya. Segera hewan2 pemburu itu mengejarnya. Tetapi rusa itu lari ke sebuah bukit dan berlindung disitu. Burung elang dan anjing pun kembali. Melihat peristiwa itu, Harun Al-Rasyid merasa heran.

Kemudian rusa betina itu turun dr bukit. Karena itu burung elang dan anjing segera mengejarnya. Maka rusa itu pun kembali lagi. Hal itu berlangsung terus menerus sebanyak tiga kali.

Harun berkata, "Pergilah ke kampung terdekat. Siapa saja yg engkau temui disana, bawalah dia kesini."

Maka kami bertemu dengan seorang tua dr bani Asad dan membawanya ke tempat itu.

Kepada orang tua itu, Harun Al-Rasyid bertanya, "Bukit apa ini?"

"Jika anda memberikan keamanan kepadaku, aku akan memberitahukannya kepada anda" ,ujar orang tua itu.

Harun menjawab, "Engkau berada dalam jaminan Allah. Aku tidak akan menyakiti dan mencelakakanmu."

Orang tua itu berkata, "Aku pernah datang kesini bersama ayahku. Disini kami berziarah dan shalat. Kemudian aku bertanya kepada ayahku tentang tempat ini. Ayahku menjawab, 'Ketika aku berziarah ke tempat ini bersama Imam Ja'far Ash-Shadiq as, beliau as berkata, 'Ini adalah kuburan kakekku, Ali bin Abi Thalib as, tidak lama lagi Allah akan menampakkannya."'

Harun Al-Rasyid turun dr kudanya, lalu meminta diambilkan air. Kemudian dia berwudhu dan shalat diatas bukit itu dan dia pun mulai menangis. Setelah itu Harun memerintahkan agar dibangun Kubah diatas kuburan tersebut. Sejak hari itu, bangunan tersebut terus menerus direnovasi. Sungguh hari itu merupakan hari terindah yg keindahannya tak dapat lagi diungkapkan.

Di dalam kitab-kitab sunni seperti Ibnu Sabth Al-Jauzi dalam Tadzkirah Al-Khawas 163, Khatib Al-Khawarizmi dalam Manaqibnya, Khatib Baghdadi dalam Tarikhnya, Muhammad bin Thalhah Asy-Syafi'i dalam Mathalib al-Su'ul, Al-Firuzabadi dalam Al-Qamus dan Ibnu Abi Al-Hadid Al-Mu'tazili dalam Syarh Nahjul Balaghah menuliskan bahwa kuburan Imam Ali as terletak di Najaf ditempat yg telah dikenal dan diziarahi hingga sekarang.
Orasi Ghaib 21 Ramadhan


DALAM kitab “Umdah Al-Zair“ yang ditulis oleh Sayyid Haidar (Guddasa Sirruh) diriwayatkan oleh salah seorang sahabat Rasul SAW yaitu Usaid bin Sofwan, dia berkata: “Ketika sang Imam pewaris dan pemegang wasiat Nabi yaitu sayyidina Ali bin Abi Talib meninggal dunia, pada saat itu tempat kediaman beliau as di goyahkan dengan suara tangisan dan rintihan dari para hadirin yang menjerit merintih histeris menyaksikan pemandangan dihadapan mereka.
Pemandangan dan suasana yang penuh tangis dan haru seperti inipun, dahulu pernah terjadi yaitu tatkala Nabi Muhammad SAW meninggalkan dunia ini dan disaksikan oleh para pengikutnya.
Nampak dari arah sana, tiba-tiba muncul seseorang yang berjalan sambil menangis, merintih sedih. Dia menjerit bergumam dan menyeru berulang-ulang pada halayak ramai yang saat itu sedang kalut dan panik mendengar kabar kematian Imamnya, dia berteriak ”Hari ini putuslas sudah ke khalifahan Rasulallah“.
Kata-demi kata dia ucapkan hingga dia mendekati rumah “Duka” dimana jasad yang suci kini terkujur bersimbahkan kesyahidan. Orang tersebut mulai memasuki halaman rumah duka itu, langkah demi langkah dia ayunkan hingga dia berdiri didepan pintu. Dia menyaksikan pemandangan yang memilukan hatinya, dimana sang Imam alaihissalam kini telah pergi meninggalkan ummat untuk selamanya. Lalu orang tersebut dihadapan para hadirin berkata dan berorasi:
رَحِمَكَ اللهُ يَا أَبَا الْحَسَنِ
Semoga Allah mengasihani engkau wahai ayahnya Hasan
كُنْتَ أَوَّلَ اْلقَوْمِ إِسْلاَمـًا, وَ أَخْلَصَهُمْ إِيْمَانًـا, وَ أَشَـدَّهُمْ يَقِيْنًـا
Sungguh engkaulah orang pertama memeluk Agama Islam, paling ikhlas dalam keimanan, paling mapan dalam keyakinan,
وَ أَخْوَفَهُمْ لِلَّهِ عَزَّ وَ جَلَّ, وَ أَعْظَمَهُمْ عَـنَاءً
Paling takut pada Allah Yang Maha Mulia, dan yang paling besar cobaannya
وَ أَحْوَطَهُمْ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَ آلِهِ
Paling hormat terhadap Rasulallah SAW
وَ آمَـنَهُمْ عَلَى أَصْحَـابِهِ, وَ أَفْضَلَهُمْ مَنَاقِبَ, وَ أَكْرَمَهُمْ سَوَابِقَ
Pengayom pada sahabat-sahabatnya, paling utama kedudukannya, paling mulia posisinya
وَ أَرْفَعَـهُمْ دَرَجَةً وَ أَقْرَبَـهُمْ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَ آلِهِ
Paling tinggi martabatnya, paling dekat hubungannya dengan Rasulallah SAW
وَ أَشْـبَهَهُمْ بِهِ هَدْيـًا وَ خُلْـقًا وَ سَمْـتًا وَ فِعْـلاً
Paling menyerupai Rasulallah SAW dalam perangai, budi pekerti, gerak dan diam.
وَ أَشْرَفَـهُمْ مَنْـزِلَةً, وَ أَكْرَمَهُمْ عَلَيْهِ.
Paling mulia kedudukannya dimata Nabi dan paling dihormati
فَجَزَاكَ اللهُ عَنِ اْلإِسْلاَمِ وَ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَ آلِهِ
وَ عَنِ الْمُسْلِمِيْنَ خَيْرًا.
Semoga Allah SWT beserta Rasulallah SAW dan Agama Islam serta seluruh kaum muslimin membalas segala amal kebajikanmu
قَوَيْتَ حِيْنَ ضَعُفَ أَصْحَـابُهُ , وَ بَرَزْتَ حِيْنَ اسْتَكَـانُوْا
Engkau tetap kokoh disaat para sahabat mulai melemah, kau pertaruhkan nyawa disaat mereka diam dan pasrah
وَ نَهَـضْتَ حِيْنَ وَهَـنُوْا
Engkau bangkit tegak disaat mereka lunglay melayu
وَ لَزِمْتَ مِنْـهَاجَ رَسُوْلِ اللهِ إِذْ هَمَّ أَصْحَابُهُ , وَ كُنْتَ خَلِيْفَتَـهُ حَقًّا
Engkau tetap consist pada metode Nabi disaat para sahabat mulai goyah,
sungguh hanya engkaulah pengganti Nabi yang paling layak
لَمْ تُنَـازَعْ وَ لَمْ تُضْرَعْ بِرَغْمِ الْمُنَافِقِيْنَ , وَ غَيْظِ الْكَافِرِيْنَ
Tak ada yang dapat menolak kenyataan (Imamah) ini walaupun harus berbenturan dengan orang-orang munafik serta angkara murka kaum kafir
وَ كُرْهِ الْحَاسِدِيْنَ , وَ صِغَرِ الْـفَاسِقِيْنَ
Kedengkian orang-orang Sirik, dan pelecehan orang-orang Fasik
فَـقُمْتَ بِاْلأَمْرِ حِيْنَ فَشِـلُوْا , وَ نَـطَقْتَ حِيْنَ تَـتَـعْـتَـعُوْا
Engkau tegakkan (Imamah) ketika mereka gagal dan kandas,
Engkau kumandangkan suara (keadilan) ketika mereka diam seribu bahasa
وَ مَضَيْتَ بِـنُوْرِ اللهِ إِذْ وقَـفُوْا , فَاتَّـبَعُوْكَ (فَلَوْ إِتَبَعُوْكَ)فَـهُدُوْا
Engkau tetap konsist melaju dalam cahaya Ilahi disaat semua kaki enggan melangkah, andai mereka mengikutimu mereka pasti sukses dan selamat
وَكُنْتَ أَحْفَـظَهُمْ صَوْتًـا, وَ أَعْلاَهُمْ قُنُـوْتًا, وَ أَقَـلَّهُمْ كَلاَمًا
Engkau paling lembut suaranya, paling tinggi ketaatannya, paling ringkas tutur katanya
وَ أَصْوَبَهُمْ نُـطْقًا , وَ أَكْبَرَهُمْ رَأْيـًا, وَ أَشْجَـعَهُمْ قَلْـبًا
Paling absah ucapanna, paling piaway pendapatnya, paling berani jiwanya
وَ أَشَـدَّهُمْ يَقِيْـنًا, وَ أَحْسَنَهُمْ عَمَلاً , وَ أَعْرَفَهُمْ بِاْلأَمُوْرِ
Paling mapan keyakinannya, paling baik amalnya, paling mengerti dalam kepemimpinan
كُنْتَ وَ اللهِ يَـعْسُوْبًا لِلدِّيْنِ أَوَّلاً وَ آخِرًا
Demi Allah… engkaulah pelindung Agama ini pada setiap tahapan
الأَوَّلُ حِيْنَ تَفَرَّقَ النَّاسُ , وَ اْلآخِرُ حِيْنَ فَشِـلُوْا
Disaat mereka pecah akibat saling beda pendapat, dan disaat mereka gagal dan kandas
كُنْتَ لِلْمُؤْمِنِيْنَ أَبـًا رَحِيْمًا, إِذْ صَارُوْا عَلَيْكَ عِـيَالاً
Engkau terhadap kaum mukminin seperti ayah pengayom,
disisimu mereka seolah-olah anak didikmu
فَحَمَلْتَ أَثْقَالَ مَا عَنْـهُ ضَعَـفُوْا , وَ حَفِظْتَ مَا أَضَـاعُوْا
وَ رَعَيْتَ مَا أَهْمَـلُوْا
Kau pikul beban yang mereka tak mampu mengangkatnya, kau jaga segala yang mereka hilangkan, engkau simpan apa-apa yang mereka telah lantarkan
وَ شَمَّرْتَ إِذَا اجْـتَمَعُوْا , وَ عَلَوْتَ إِذْ هَلَـعُوْا , وَ صَبَرْتَ إِذْ أَسْرَعُوْا
Kau ceriakan suasana dalam kesatuan, kau lindungi ketika mereka takut, kau bijaksana ketika mereka lepas kontrol
وَ أَدْرَكْتَ أَوْتَـارَ مَا طَلَبُـوْا , وَ نَـالُوْا بِكَ مَا لَمْ يَـحْتَـسِبُـوْا
Kau gapai segala yang terlintas pada angan-angan mereka, sehingga mereka meraih kesuksesan diluar perhitungan
كُنْتَ لِلْكَافِرِيْنَ عَذَابًـا صَبًّـا وَ نَهْبًـا , وَ لِلْمُؤْمِنِيْنَ عَمَدًا وَ حِصْنًا
Engkau dimata orang kafir bagai azab yang keras nan pedih, Namun di mata kaum mukminin engkau ibarat tiang penyangga, benteng pelindung
فَطِرْتَ وَ اللهِ بِنِعْمَـائِهـَا , وَ فُزْتَ بِحِبَـائِهَا
Maka demi Allah…, engkau telah meraih semua lencana, dan engkau sukses memenangkannya
وَ أَحْرَزْتَ سَـوَابِقَهَـا , وَ ذَهَبْتَ بِفَضَـائِلِـهَا
Engkau selamatkan Agama dari (kehancuran) pendahulu-pendahulu nya, dan engkau berlalu dengan keberhasilan gemilang
لَمْ تُفْلَـلْ حُجَّـتُكَ , وَلَمْ يَزِغْ قَلْبُـكَ , وَ لَمْ تَـضْعُفْ بَـصِيْرَتُكَ
Argumenmu tak tersangkal, tak pernah hatimu tergelincir, wawasanmu tak pernah dangkal
وَ لَمْ تَجْـبُنْ نَـفْسُكَ , وَ لَمْ تَـخُنْ
Jiwamu tak pernah gentar dan khianat
كُنْتَ كَالْجَبَلِ لاَ تُحَرِّكُهُ الْعَوَاصِفُ
Engkau bak gunung kokoh yang tak dapat digoncang oleh Badai dan Taufan
وَ كُنْتَ كَمَا قَالَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ ” آمَنَ النَّاسُ فِيْ صُحْبَتِكَ وَ ذَاتِ يَدِكَ ”
Engkau sebagaimana terucap dalam sabda Nabi alaihissalam ”Orang-orang akan merasa aman sentosa dalam menjalin persahabatan dengan mu“
وَ كُنْتَ كَمَا قَالَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ ” ضَعِيْفًا فِيْ بَدَنِكَ قَوِيًّـا فِيْ أَمْرِ اللهِ”
Engkau sebagaimana tertutur dalam sabda Nabi alaihissalam “Lemah dalam raga, namun kuat dalam menjalankan perintah Allah“
مُتَوَاضِعًا فِيْ نَفْسِكَ , عَظِيْـمًا عِنْدَ اللهِ
Sangat rendah diri pada manusia namun sangat besar dalam pandangan Allah
كَبِيْرًا فِي اْلأَرْضِ , جَلِيْـلاً عِنْـدَ الْمُؤْمِنِيْنَ
Disegani dimuka bumi, dihormati oleh setiap mukmin
لَمْ يَكُنْ ِلأَحَدٍ فِيْكَ مَـهْمَزٌ , وَ لاَ لِقَائِلٍ فِيْكَ مَـغْمَزٌ
Tak ada jalan unuk melecehkan atau mencela mu
وَ لاَ ِلأَحَدٍٍٍٍ فِيْكَ مَـطْمَعٌ , وَلاَ ِلأَحَدٍ عِنْدَكَ هَـوَادَةٌ
Tak ada yang dapat mengelabuimu, disisimu tak ada orang yang engkau spesialkan
اَلضَّعِيْفُ الذَّلِيْلُ عِنْدَكَ قَوِيٌّ عَزِيْزٌ , حَتَّى تَأْخُذَ لَهُ بِـحَقِّـهِ
Disisimu, Orang yang lemah dan hina akan mulia dan kuat dalam ketentuan acuan hukum
وَ اْلقَـوِيُّ اْلـعَزِيْزُ عِنْدَكَ ضَعِيْفٌ ذَلِيْـلٌ , حَتَّى تَأْخُذَ مِنْهُ الْحَـقَّ
Orang yang kuat dan mulia akan menjadi lemah dan rendah disisimu, hingga ketentuan Kebenaran dihadapan “Hukum”
وَاْلقَـرِيْبُ وَ الْـبَعِيْـدُ عِنْـدَكَ فِيْ ذَلِكَ سَوَاءٌ
Orang yang dekat dan yang jauh sama sepadan dihadapanmu
شَأْنُكَ الْحَـقُّ وَالصِّـدْقُ وَ الْرِّفْـقُ
Sepak terjangmu adalah “kebenaran, kejujuran, dan kesetia-kawanan”
وَ قَـوْلُكَ حُـكْمٌ وَ حَتْـمٌ
Ucapanmu adalah Hukum dan Ketetapan
وَ أَمْـرُكَ حِـلْمٌ وَ حَـزْمٌ
Perangaimu adalah kemuliaan dan keyakinan
وَ رَأْيُكَ عِـلْمٌ وَ عَـزْمٌ فِيْمَـا فَعَـلْتَ
Pendapatmu adalah pengetahuan, ketetapan terhadap segala yang kau lakukan
وَقَدْ نَهَـجَ بِـكَ السَّبِيْلُ , وَ سَـهُلَ بِكَ الْعَسِيْرُ
Engkau telah merancang Sistim, dan meringankan jalan yang berat
وَ أُطـْفِـئَتْ بِكَ النِّـيْرَانُ وَ اعْتَـدَلَ بِكَ الـدِّيْنُ
Engkau padamkan api (fitnah), dan denganmu tegaklah Agama ini
وَ قََوِيَ بِكَ اْلإِسْـلاَمُ وَالْمُؤْمِنُوْنَ
Kokohlah Islam dan seluruh pemeluknya
وَ سَبَقْتَ سَبْـقًا بَعِيْـدًا , وَ أَتْـعَبْتَ مَنْ بَعْـدَكَ تَعَـبًا شَدِيْـدًا
Kau telah jauh mendahului kami dalam segala hal, dan ummat yang (ingin) mengikuti jejakmu akan sangat kepayahan
فَجَلَلْتَ عَنِ الْبُكَاءِ , وَ عَظُمَتْ رَزِيَّـتُـكَ فِي السَّمَـاءِ
Engkau lebih besar dari sekedar tangisan, dan sungguh besar rasa kepedihan yang dirasakan oleh para penghuni Langit
وَهَدَّتْ مُصِـيْـبَـتُكَ اْلأَنَـامَ
Petaka kini melanda alam semesta
فَإِنَّا لِلَّهِ وَ إِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ…..
“Sesungguhnya kita dari Allah, dan sungguh kita akan kembali kepada-Nya”
رَضِيْنـَا عَنِ اللهِ قَضَـاءَهُ , وَ سَلَّمْنَـا ِللهِ أَمْرَهُ
Kami rela atas ketetapan Alah, dan kami serahkan segala sesuatu pada-Nya
فَـوَ اللهِ لَنْ يُصَـابَ الْمُسْلِمُوْنَ بِمِثْـلِكَ أَبَـدًا
Demi Allah…, umat Islam tidak akan mendapatkan penganti seperti dirimu lagi
كُنْتَ لِلْمُؤْمِنِيْنَ كَهْفـًا وَ حِصْنًـا وَ قُـنَّـةً رَاسِيًا
Engkau laksana Benteng pelindung bagi kaum mukminin
و عَلَى الْكَافِرِيْنَ غِلْظَـةً وَ غَيْـظًا
Dan terhadap orang kafir laksana angkara dan siksa
فَأَلْحَقَكَ اللهُ بِـنَـبِـيِّـهِ
Kini Allah telah menyatukan engkau dengan Nabi (Muhammad)-Nya
وَ لاَ حُـرِمْنَـا أَجْـرَكَ , وَ لاَ أَضَـلَّنَـا بَـعْـدَكَ
Maka janganlah kami diharamkan dalam menggapai (pahala) kebaikanmu, dan janganlah pula kami tersesat sepeninggalanmu.
Setelah orang tersebut menyampaikan “orasi” nya dihadapan para hadirin yang terlarut dalam ucapan-ucapannya, terlena akan kata-katanya yang penuh dengan kebenaran dan fakta yang tersusun rapih dan tertata indah, maka mulailah terdengar kembali isak tagis serta ratapan dari para sahabat Nabi dan pula para sahabat serta pengikut Sayyidina Ali as yang hadir disaat itu yang sempat terputus oleh orasi yang memukau mereka.
Lalu ketika para hadirin saat itu ingin mencari tahu siapa gerangan orang yang menyampaikan Orasi tadi, sayang sekali mereka tidak mendapatkannya. Orang tersebut “Raib” dari pandangan mata para hadirin yang ada dan ikut menyimak orasinya tadi. Dia pergi hilang tanpa jejak, tak ada yang tahu siapakah gerangan dia, dari mana asalnya dan kemana orang tersebut pergi berlalu.[1]
“Salamun Alaika Ya Aba Al-Hasan Wa Al-Husein”
___________________
[1] Dari kitab Dhiya’ Al-Sholihin hal: 74 – 76, Al-Muntakhab Al-Hasany hal: 829-831. Pada Bab “Ziarah Amiril Mukminin Sayyidina Ali bin Abi Tholib Alaihimassalam di hari ke 21 Bulan Suci Romadhon
Sources: dikutip dari situs resmi Syiah menjawab
Salam atas syahadah Imam Ali bin Abi Thalib as pada tanggal 21 Ramadhan 40 H.

Oleh: Ust Abdullah Ali Assegaf

Telah diketahui Abdurrahman bin Muljam la memukulkan pedang beracunnya ke kepala Imam Ali as hingga membelah tengkorak kepala dan mengenai otak beliau as pada tanggal 19 Ramadhan.

Disebutkan untuk ukuran manusia biasa, pedang beracun yg membelah tengkorak kepala, akan menyebabkan kematian dalam waktu seketika atau tidak lama kemudian, dan otak yg tergores pedang beracun tersebut akan menyebabkan hilangnya memori manusia tersebut.

Namun hal itu tidak berlaku untuk Wali Allah dan Hujjah Allah Imam Ali bin Abi Thalib as, beliau as bisa bertahan hingga 3 hari semenjak pedang beracun itu menebas kepala beliau as, dan memori beliau as tetap utuh tidak hilang sama sekali.

Berikut kutipan wasiat Imam Ali as dr wasiat beliau as yg panjang menjelang syahidnya beliau as....

Imam Ali as berwasiat kepada keluarga beliau atas perlakuan Ibnu Muljam terhadap diri beliau as, ”Wahai, putra2 Abdul Muthalib, sesungguhnya aku tidak ingin melihat kalian menumpahkan darah kaum Muslimin sambil berteriak, 'Amirul Mukminin telah dibunuh!' Ingatlah, jangan membunuh dengan alasan kematianku, kecuali atas pembunuhku. Tunggulah hingga aku mati oleh pukulannya ini. Kemudian pukullah dia dengan satu pukulan dan jangan rusakkan anggota2 badannya, karena aku telah mendengar Rasulullah saww berkata, 'Jauhkan memotong2 anggota badan sekalipun terhadap anjing gila."'

Lalu Imam Ali as menengok kepada Imam Hasan as dan Imam Husain as sembari berkata, “Duhai Hasan, engkau akan terbunuh dalam keadaan madzlum (terzalimi) dan diracun. Adapun engkau duhai Husain akan menjadi syahid umat ini. Engkau akan disembelih seperti hewan, lalu jasadmu akan diikat dan diseret2 dengan kuda. Kepalamu akan diusung untuk dibawa ke raja bani Umayyah. Putri2 keturunan Rasulullah saww akan ditawan, digelandang dan dipertontonkan. Sungguh kelak aku akan mengambil sikap khusus terhadap mereka di hari kiamat."

Kemudian Imam Ali as melihat sekelilingnya dan bertutur, "Aku kini melihat Kakek kalian Rasulullah saww bersama Nenek kalian Khadijah as dan Ibu kalian Fatimah as memanggil2 dan memintaku bergegas datang kepada mereka.”

Imam Ali as kembali mengedarkan pandangannya ke seluruh Ahlulbait dan menatap satu persatu dan berkata: “Aku memohon pamit kepada kalian semua. Semoga Allah menjaga kalian semua.”

Beliau as lalu memejamkan matanya perlahan2, memanjangkan kedua tangannya, dan meluruskan kedua kakinya. Dan dengan suara syahdu mengucapkan Asyhaduallah ila illAllah wahdahu la syarikalah wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa Rasuluh.

Demikianlah nafas beliau as terhenti dan ruhnya melesat menembus angkasa menuju tingkat wujud tertinggi, kehadirat Dzat Kudus Ilahi, bersatu dengan Kekasih Mutlak yang Maha Sempurna dalam keadaan syahid, suci, bersih, penuh cahaya.

إِنَّا لِلّهِ وَ إِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ
اعظم اللّٰه اجركم و احسن عزاكم

Salam atas Imam ketika Imam dilahirkan, disaat Imam menjemput kesyahidan dan disaat Imam dibangkitkan kelak.

Senin, 04 Juni 2018

Sejarah singkat Imam Ali bersama nabi hingga kesyahidannya

Imam Ali as dimasa hidupnya sang Nabi saw

Oleh: Ust Ali Ash Shofie

Siapakah Ali?
Ali  sosok pemberani, hingga Rasulullah menugaskannya tidur di rumah beliau saat hijrah ke Madinah, di tengah kepungan pemuda-pemuda Quraisy yang siap dengan pedang-pedang tajam yang terhunus lalu Allah memujinya dihadapan para malaikat dan menurunkan ayat pujian untuk beliau as

2.Al-Baqarah : 207


وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ

Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridaan Allah. Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.

Siapakah Ali?
Dialah Ali yang membunuh pendekar kafir Quraisy yang ditakuti, sehingga  Rasulullah Saw memujinya dengan sabdanya

ضربة علي يوم خندق خير من عبادة الثقلين

Pukulan Ali pada perang Khandaq lebih baik dari ibadahnya jin dan manusia

Siapakah Ali? 
Dia adalah manusia yang dicintai Allah dan Rasul-Nya sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi pada perang Khaibar

لَأُعْطِيَنَّ الرَّايَةَ غَدًا رَجُلًا يُحِبُّ اللهَ وَرَسُولَهُ وَيُحِبُّهُ اللهُ وَرَسُولُهُ، يَفْتَحُ اللهُ عَلَى يَدَيْهِ

“Sungguh aku akan berikan esok hari bendera perang pada seorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya dan Allah serta Rasul-Nya mencintainya, melalui tangannya Allah  akan memberikan kemenangan.”

Ali bin Abi Thalib menyertai Rasulullah dalam semua peperangan, kecuali perang Tabuk. Beliau tidak mengajaknya karena Rasulullah memberi kepercayaan mengganti posisi Rasulullah di Madinah ketika beliau tidak ada, satu amanah yang besar tentunya. Sempat Imam Ali as bersedih karena tidak bisa menyertai Rasul dalam perang tersebut. Namun sekali lagi justru Rasul memberikan berita yang menyejukkan, sabda yang menunjukkan keutamaan beliau. Rasul bersabda:

يا علي انت مني بمنزلة هارون من موسى إلا أنه لا نبي بعدي

“Engkau denganku seperti kedudukan Harun dari Musa, hanya saja tidak ada nabi sesudahku.”

profil pembunuh Khalifah Ali bin Abi Thalib

Pernahkah terbayang bahwa manusia yang telah begitu banyak menuai pujian dari Allah dan Rasulnya dibunuh bukan oleh seorang peminum khomer atau pezinah tapi oleh seorang ahli ibadah dan penghapal al-Quran dan dia adalah abdurahman bin muljam seorang pengikut khowarij, tentang khowarij ini Rasulullah Saw telah mengabarkan tentang mereka

يَخْرُجُ قَوْمٌ مِنْ أُمَّتِي يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَيْسَ قِرَاءُتُكُمْ إِلَى قِرَاءَتِهِمْ بِشَيْءٍ وَلاَ صَلاَتُكُمْ إِلَى صَلاَتِهِمْ بِشَيْءٍ وَلاَ صِيَامُكُمْ إِلَى صِيَامِهِمْ بِشَيْءٍ

“Akan keluar satu kaum dari umatku yang membaca Al-Qur’an, dimana bacaan kalian tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan bacaan mereka, demikian pula sholat kalian tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan sholat mereka, juga puasa kalian tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan puasa mereka.”(HR. Muslim no 2516)

Perhatikanlah bagaimana hebatnya ibadah mereka, namun bersamaan dengan itu, Rasulullah menyatakan mereka adalah anjing-anjing neraka, sebagaimana dalam hadits berikut ini:

كِلاَبُ النَّارِ شَرُّ قَتْلًى تَحْتَ أَدِيْمِ السَّمَاءِ خَيْرُ قَتْلَى مَنْ قَتَلُوهُ

“Mereka adalah anjing-anjing neraka. seburuk-buruknya makhluk yang terbunuh di bawah kolong langit, sedang sebaik-baiknya makhluk yang terbunuh adalah yang dibunuh oleh mereka.” HR. At-Tirmidzi, (no. 3000), dari Abu Umamah Al-Bahili -radhiyallahu’anhu-, dihasankan dalam Al-Misykah, (no. 3554)

Dan semua sifat-sifat itu ada pada orang-orang khawarij yang memerangi dan membunuh Imam Ali as, beliau as berkata


أَنَّ الْحَرُوْرِيَّة لَمَّا خَرَجَتْ عَلَى عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ وَهُوَ مَعَهُ فَقَالُوا ” لاَ حُكْمَ إِلاَّ لِلَّهِ ” قَالَ عَلِيٌّ : كَلِمَةُ حَقٍّ أُرِيْدَ بِهَا بَاطِلٌ, إِنَّ رَسُولَ اللهِ {صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ} وَصَفَ لَنَا نَاسًا إِنِّي لَأَعْرِفُ صِفَتَهُمْ فِي هَؤُلاَءِ يَقُوْلُونَ الَحَقُّ بِأَلْسِنَتِهِمْ لاَ يُجَاوِزُ هَذَا مِنْهُمْ وَأَشَارَ إِلَى حَلَقِهِ . (رواه مسلم )

“Ketika kaum Khawarij Haruriyah memberontak kepada pemerintahan Ali bin Abi Thalib mereka mengatakan, “Tidak ada hukum kecuali milik Allah”. Maka Ali berkata,”Perkataan yang benar, namun yang diinginkan dengannya adalah kebatilan. Sesungguhnya Rasulullah pernah menjelaskan kepadaku tentang ciri-ciri sekelompok orang yang telah aku tahu sekarang bahwa ciri-ciri tersebut ada pada mereka (Khawarij),yaitu mereka mengucapkan perkataan yang benar hanya dengan lisan-lisan mereka, namun tidak melewati kerongkongan mereka. (HR. Muslim)

Khawarij akan terus berlanjut dalam berbagai bentuknya, sebagaimana  Rasulullah saw bersabda:

يَنْشَأُ نَشْءٌ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ كُلَّمَا خَرَجَ قَرْنٌ قُطِعَ –قَالَ ابْنُ عُمَرَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ يَقُولُ: (( كُلَّمَا خَرَجَ قَرْنٌ قُطِعَ )) أَكْثَرَ مِنْ عِشْرِينَ مَرَّةً –حَتَّى يَخْرُجَ فِي عِرَاضِهِمْ الدَّجَّال

“Akan muncul sekelompok pemuda yang (pandai) membaca Al-Qur‘an namun bacaan tersebut tidak melewati kerongkongannya. Setiap kali muncul sekelompok dari mereka pasti tertumpas.” Ibnu ’Umar berkata: ‘Saya mendengar Rasulullah mengulang kalimat: “Setiap kali muncul sekelompok dari mereka pasti tertumpas” lebih dari 20 x.’ Kemudian beliau berkata: “Hingga muncullah Ad-Dajjal dalam barisan pasukan mereka.” [HR. Ibnu Majah]

Pembunuh Ali bin Abi Thalib as adalah manusia yang paling terkutuk


وقال: يا رسول الله ما أفضل الأعمال في هذا الشهر؟

فقال: يا أبا الحسن، أفضل الأعمال في هذا الشهر الورع عن محارم الله عز وجل، ثم بكى (صلى الله عليه وآله).

قال له أمير المؤمنين: يا رسول الله ما يبكيك؟

قال: يا علي أبكي لما يستحل منك في هذا الشهر، كأني بك وأنت تصلي لربك، وقد انبعث أشقى الأولين والآخرين شقيق عاقر ناقة صالح فيضربك ضربة على مفرق رأسك، ويشقه نصفين ويخضّب لحيتك من دم رأسك

فقال له أمير المؤمنين (عليه السلام): يا رسول الله وذلك في سلامة من ديني؟

فقال (صلى الله عليه وآله): في سلامة دينك

Pada suatu hari dalam bulan ramadhan, Imam Ali as bertanha kepada Rasulullah Saw,, ya Rasulullah apakah  amal terbaik pada bulan ini?

Rasulullah Saw menjawab,”Ya Abal Hasan, sebaik-baiknya amal pada bulan ini adalah menjauhi segala yang diharamkan Allah, beliau mengucapkan itu sambil berlinangan air mata.

Imam Ali as bertanya,”Apa yang membuatmu menangis Ya Rasulullah?

Nabi SAW berkata kepadanya, "Ya Ali, sesudahku nanti engkau akan ditimpa kemalangan yang amat sangat." Ia lantas bertanya, "Ya Rasulullah, apakah agamaku akan selamat?" Nabi Muhammad SAW menjawab, "Ya, agamamu akan selamat." Ia berkata lagi, "Kalau begitu, aku tak peduli."

Pada suatu hari, Nabi Muhaammad SAW bertanya kepadanya, "Wahai Ali, tahukah kamu siapa orang yang paling celaka?" Ia berujar, "Wahai Rasulullah, orang yang paling celaka adalah orang yang menyembelih Unta Shalih." Nabi Muhammad SAW kemudian berkata, "Itu adalah orang-orang terdahulu. Tahukah kamu siapa orang paling celaka dari orang-orang yang hidup saat ini?" Ali RA. menjawab, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui." Beliau Rasulullah SAW bersabda, "Ia adalah orang yang membunuhmu."

أشْقَى الْأَوَّلِينَ عَاقِرُ النَّاقَةِ وَأَشْقَى الْآخِرِينَ الَّذِي يَطْعَنُكَ يَا عَلِيُّ-وَأَشَارَ حَيْثُ يُطْعَنُ

“Orang yang paling binasa dari umat terdahulu adalah penyembelih unta (dari kaum Nabi Shalih). Dan manusia paling celaka dari umat ini adalah orang yang membunuhmu, wahai ‘Ali!seraya Rasulullah menunjuk letak tubuh mana Ali ditikam.

Imam Ali as mengetahui sebelum kematiannya

Pada hari-hari terakhir sebelum syahidnya Imam Ali as beliau berkata kepada para sahabatnya,

ألا وأنكم حاجوا العام صفا واحدا وآية ذلك أني لست فيكم

Kalian akan berhaji pada tahun ini dalam satu barisan, dan pada saat itu aku tidak akan lagi berada di tengah-tengah kalian.

Pada saat itu semua sahabatnya sudah merasa bahwa Imamnya yg tercinta sedang mengabarkan dekatnya ajalnya.

Beliau juga telah bermimpi bertemu Rasulullah Saw, di mimpinya Rasulullah mengusapkan wajahnya dengan debu seraya berkata:

يا علي لا عليك، قضيت ما عليك

“Tak usah gusar ya Ali, kau telah menunaikan tugasmu”.

Syahidnya sang washi

19 ramadhan adalah waktu yang direncanakan Ibnu Muljam untuk membunuh Ali as. Keluarlah orang yang paling celaka ini untuk mewujudkan kebinasaanya.

Di tengah keheningan akhir malam, dia dapati Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib sedang berjalan dengan penuh ketawadhu’an kepada Allah san penuh kecintaan pada Rabbul ‘alamin, Ali bin Abi Thalib keluar menuju llq saat Imam Ali as sujud,  tiba-tiba Ibnu Muljam menebaskan pedangnya dengan penuh kekuatan ke arah Ali bin Abi Thalib  tepat mengenai kening yang diisyaratkan Rasulullah  dengan telunjuk beliau yang mulia.

Pedang beracun tepat mengenai kening Ali bin Abi Thalib. Bukan sekadar goresan, namun luka yang demikian dalam. Kening yang senantiasa bersujud kepada Allah, kening yang dipandang Rasulullah n dengan penuh cinta dan kasih sayang, kening yang telah penuh dengan debu jihad bersama Rasul, kening yang telah dijamin selamat dari api neraka, kini disambar pedang Ibnu Muljam.

Namun Imam Ali as masih sempat menyelesaikan sholatnya sambil duduk. Badannya menggigil. Setelah salam, dia mengusapkan tanah sujud ke dahinya yang merekah sembari mengucapkan firman Allah


20.Ṭāhā : 55

مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَىٰ

Darinya (tanah) itulah Kami menciptakan kamu dan kepadanyalah Kami akan mengembalikan kamu dan dari sanalah Kami akan mengeluarkan kamu pada waktu yang lain.

Darah pun bersimbah. Awan kelabu meliputi Kufah, menorehkan kesedihan dalam catatan sejarah.


Imam Ali as masih sempat bertahan selama tiga hari namun pada tanggal 21 ramadhan beliau as menghembuskan nafasnya yang terakhir.


Ali lahir di tempat termulia yaitu Ka'bah, syahid di tempat termulia yaitu mihrob untuk sholat, pada saat mengamalkan ibadah termulia yaitu sholat dan pada kondisi termulia yaitu sujud….


Innalillahi wa inna ilaihi raji’un!

Minggu, 03 Juni 2018

Ramadhan Bersama Al-Qur'an, Menata Diri Menuju Yang Maha Suci Bag 19

Mencintai Ahlulbait

Upah Risalah

Allah SWT berfirman:

 قُلْ لَّاۤ اَسْئَـــلُـكُمْ عَلَيْهِ اَجْرًا اِلَّا الْمَوَدَّةَ فِى الْقُرْبٰى ۗ  وَمَنْ يَّقْتَرِفْ حَسَنَةً نَّزِدْ لَهٗ فِيْهَا حُسْنًا   ۗ  اِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ شَكُوْرٌ


"Katakanlah (Muhammad), Aku tidak meminta kepadamu sesuatu imbalan pun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan. Dan barang siapa mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan kebaikan baginya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Mensyukuri." (QS. Asy-Syura [42]: 23)

Berulang kali di dalam al-Quran disebutkan bahwa para nabi tidak meminta upah kepada masyarakat. Dalam surah al-Syu'ara, ayat 100 hingga 180 perkataan itu disebut berulang-ulang dari mulut para nabi yang berbeda. Rasulullah saw juga tidak meminta upah materi kepada masyarakat, tetapi dua kali disisi Allah dengan kata qul (katakanlah) diperintahkan untuk meminta upah maknawi kepada masyarakat, yang manfaatnya kembali kepada mereka.

Upah maknawi ini dinyatakan dengan menggunakan dua ungkapan. Sekali waktu dengan mengatakan, aku tidak meminta upah apa pun , kecuali aku ingin setiap orang memilih jalan Allah, Aku tidak meminta upah apa pun atas risalah yang aku sampaikan kecuali mengharapkan agar orang-orang mengambil jalan kepada Tuhan (QS. al-Furqan [25]: 57). Di waktu lain dengan mengatakan, Aku tidak meminta kepadamu upah apa pun atas risalahku kecuali kecintaan kalian kepada keluarga dekatku. Sementara di dalam surah Saba, ayat 47 dikatakan bahwa manfaat permintaan Nabi saw untuk mencintai keluarganya adalah untuk kepentingan ma-syarakat sendiri,


قُلْ مَا سَاَ لْـتُكُمْ مِّنْ اَجْرٍ فَهُوَ لَـكُمْ  ۗ  اِنْ اَجْرِيَ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ   ۚ  وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيْدٌ

"Katakanlah (Muhammad), upah apa pun yang aku minta kepadamu, maka itu untuk kamu. Upahku hanyalah dari Allah, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. Saba' 34: Ayat 47)

Karena itu, Nabi Muhammad saw mengumumkan, aku meminta upah kepada kalian dan mengatakan bahwa kalian harus mencintai keluargaku, sesungguhnya keuntungan upah itu kembali kepada kalian, fahuwa lakum (maka itu untuk kalian). Penyebabnya yaitu bahwa ketika orang yang mencintai Ahlulbait Nabi saw tentu dia akan mengikutinya dan orang yang mengikuti Ahlulbait Nabi maka dia mengikuti jalan Allah Swt, illa man sya'a ayyat takhidza ila rabbihi sabila (kecuali mengharapkan agar orang-orang mengambil jalan kepada Tuhan). Seperti guru yang berkata kepada murid-muridnya, saya tidak meminta upah kepada kalian, kecuali kalian benar-benar belajar. Artinya, manfaatnya kembali kepada murid-murid tersebut. Karena itu, upah risalah ada dua hal, yaitu pertama mengikuti jalan Allah dan kedua mencintai keluarga Nabi saw. Yang menarik pada dua ungkapan di atas sama-sama menggunakan kata illa (kecuali), yang berarti upah saya hanya ini.

Dengan sedikit berpikir saja kita dapat memahami bahwa jalan Allah dan mencintai Ahlulbait itu satu. Mengapa demikian? Jika dua, maka akan terjadi tanaqudh (pertentangan). Artinya, kita tidak mungkin mengatakan, "Saya hanya belajar pada musim panas" sementara di lain waktu kita mengatakan, "Saya hanya
belajar pada musim dingin." Pembatasan dengan kata 'hanya' itu, harus satu.

Rasulullah saw suatu waktu mendapat perintah dari Allah Swt untuk mengatakan kepada masyarakat, "Upahku adalah hanya memilih jalan Allah." Sementara itu, di lain waktu Rasulullah saw diperintahkan untuk mengatakan kepada masyarakat, "Upah-ku adalah hanya mencintai keluarga dekatku." Pada kenyataannya, dua permintaan ini harus satu, yakni jalan Allah adalah mencintai keluarga Nabi saw.

Di sisi lain, mencintai menuntut dua hal, yaitu mengenal dan menaati. Kita perlu mengenal karena sebelum manusia mengenal tidak mungkin dia dapat mencintai. Begitu juga dengan menaati karena mencintai tanpa menaati adalah dusta. Karena itu, orang yang mengambil hukum Allah dari selain Ahlulbait, pada hakikatnya dia tidak meniti jalan Allah Swt. Hal itu menurut pandangan al-Quran.

Sehubungan dengan hal di atas, menurut pandangan akal, upah harus seimbang dengan pekerjaan. Risalah hanya seimbang dengan imamah yang merupakan kelanjutannya. Upah dari risalah adalah berlanjutnya hidayah, upah seorang manusia maksum adalah dilanjutkannya pekerjaan oleh orang maksum lainnya. Upah seorang yang adil adalah usahanya dilanjutkan oleh orang adil lainnya.

Akal mengatakan, selama karunia ada maka wajib di-syukuri. Jika hari ini karunia Nabi saw meliputi kita sehingga kita mendapat petunjuk menjadi seorang muslim, kita wajib membayar upah risalahnya. Jika yang menjadi upah risalah adalah mencintai keluarga Nabi saw, hari ini kita harus mencintai dan mengikuti keluarga Nabi saw. Karena itu, masa sekarang ini kita harus mencintai Imam Zaman as dan menaatinya. Kita tidak dapat mengatakan

bahwa kaum muslim pada masa awal Islam diperintahkan untuk membayar upah risalah, sementara kaum muslim pada masa sekarang tidak mempunyai kewajiban itu, atau tidak harus mencintai keluarga Nabi saw yang merupakan upah risalah. Adapun mencintai Imam Zaman as pada masa gaib adalah mengamalkan pesan-pesannya dan mengikuti jalan orang-orang yang menyampaikan kita kepada Imam Zaman as, yaitu para fukaha yang adil dan tidak mengikuti hawa nafsu.

Ketika mencintai keluarga Nabi saw menjadi upah Rasulullah saw yang telah mengantarkan berjuta-juta manusia kepada petunjuk, kebahagiaan dan karunia besar Ilahi, maka akal memahami bahwa keluarga Nabi saw (al-qurba) adalah manusia terbaik dan maksum. Tidak mungkin mencintai orang yang berdosa menjadi upah Rasulullah saw. Dan tidak mungkin mencintai orang-orang yang berdosa diwajibkan atas seiuruh kaum muslim sepanjang masa. Tidak ada satu pun dari kelompok Islam (kecuali, Syi'ah) yang me-ngatakan bahwa pemirnpin mereka adalah harus maksum. Dan tidak ada seeorang pun atau satu kelompok pun hingga saat ini yang meriwayatkan bahwa para Imam maksum as pernah melakukan dosa atau menyebutkan bahwa mereka telah berguru kepada seseorang.

Akal mengatakan bahwa berbaiat kepada orang yang tidak maksum bukan hanya zalim kepada kemanusiaan, tetapi juga zalim kepada seluruh alam. Karena alam diciptakan untuk manusia (seluruh ayat yang berbunyi khalaqa lakum (menciptakan bagimu) atau sakhkhara lakum (menundukkan untukmu) adalah petunjuk bahwa alam diciptakan untuk manusia). Dan manusia diciptakan untuk mencapai kesempurnaan hakiki dan maknawi. Lantas, apakah menyerahkan manusia yang mempunyai tujuan yang begitu mulia kepada orang yang tidak maksum, bukan sebuah kezaliman kepadanya dan kepada alam?

Jika dalam hadis dikatakan bahwa Imam maksum as dan keimamahannya merupakan pondasi agama, "Islam dibangun atas lima perkara... yang kelima adalah imamah." [1] Jika Imam Ali as dikatakan sebagai pembagi antara manusia ahli surga dan manusia ahli neraka, "Ali adalah pembagi surga dan neraka." [2] Jika salat tidak diterima tanpa penerimaan imamah. [3] Jika mencintai Ahlulbait itu sebuah kebaikan." [4] Jika ziarah dan tawasul kepada Ahlulbait as dianjurkan, semua itu disebabkan esensi kimiawi cinta kepada mereka."

Zamakhsyari dan Fakhrurrazi, dua tokoh besar Ahlusunah meriwayatkan di dalam kitab tafsirnya bahwa Rasulullah saw bersabda, "Barangsiapa yang mati dalam keadaan mencintai keluarga Muhammad saw, dia mati syahid. Barangsiapa yang mati dalam keadaan mencintai keluarga Muhammad saw, dia mati dalam keadaan bertobat. Barangsiapa yang mati dalam keadaan mencintai keluarga Muhammad saw, dia mati dalam keadaan sempurna imannya. Barangsiapa yang mati dalam keadaan mencintai keluarga Muhammad saw, dia mati di atas sunnah dan jamaah." Lalu timbul pertanyaan, apakah cinta yang tidak disertai dengan ketaatan dapat sebanding dengan syahadah, ampunan dan iman yang sempurna?

Masih dalam kitab-kitab tafsir yang sama, pada pembahasan ayat di atas disebutkan hadis dari Rasulullah saw, "Ingat-lah! Barangsiapa yang mati dalam keadaan membenci keluarga Muhammad saw, dia akan dibangkitkan pada Hari Kiamat dalam keadaan tertulis di antara dua mata, orang yang putus asa dari rahmat Allah Swt. Ingatlah! Barangsiapa yang mati dalam keadaan membenci keluarga Muhammad saw, dia mati dalam keadaan kafir. Ingatlah! Barangsiapa yang mati dalam keadaan membenci keluarga Muhammad, ia tidak akan dapat mencium bau harum surga."

Fakhrurrazi  meriwayatkan di dalam  kitab tafsirnya, bahwa ketika ayat al-Mawaddah ini turun, orang-orang bertanya kepada Rasulullah saw, "Siapakah orang-orang yang kami diwajibkan mencintainya itu?' Rasulullah saw menjawab, 'Ali, Fathimah dan kedua orang putranya.' Kemudian Rasulullah saw menambah-kan, 'Fathimah bagian dariku, siapa yang menyakitinya, dia menyakitiku.

Di dalam al-Quran dikatakan,

اِنَّ الَّذِيْنَ يُؤْذُوْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ لَعَنَهُمُ اللّٰهُ فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِ وَاَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُّهِيْنًا

"Sesungguhnya (terhadap) orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah akan melaknatnya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan azab yang menghinakan bagi mereka." (QS. Al-Ahzab [33]: 57)

Dalam hadis kita menemukan bahwa di bawah ayat yang berbunyi, Dan barangsiapa mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan kebaikan baginya (QS. al-Syura [42): 23), Imam Hasan as berkata, "Yang dimaksud mengerjakan kebaikan adalah mencintai kami, Ahlulbait." [5]

Catatan Akhir

[1] Al-Kafi, jil.2, hal.18
[2] Bihar al-Anwar, jil.7, hal.186
[3] ibid. Jil.27, hal.167
[4] ibid. Jil.43, hal.362
[5] Tafsir-e Namuneh dan Tafsir al-Shafi

Sumber: dikutip dari buku Ramadan bersama Al-Qur'an menata diri menuju yang maha suci, Mohsen Qira'ati, hal.121-126